
"Bagaimana dengan penampilanku? Apa kelihatannya berlebihan?" tanya Gita.
Rei memandangi Gita dari atas hingga bawah. Pakaiannya masih terhitung sopan namun tetap elegan. "Jaga sikap di dalam, ya. Takutnya kalau nanti kamu bertingkah konyol, Papa akan menolak pernikahan kita."
Gita tersenyum kaku. "Jangan khawatir, Pak. Saya bisa bertingkah manis, kok."
"Apa kamu akan tetap memanggilku Pak Rei? Kedengarannya aneh untuk dua orang yang mau meminta restu menikah."
Gita memutar matanya malas. "Saya pernah memanggil Bapak 'Honey' katanya menggelikan. Terus, saya harus panggil Bapak apa?"
"Panggil nama saja, panggil Rei."
"Tidak mau, Pak. Kedengarannya tidak sopan."
Rei memijit keningnya. Sudah sampai di halaman rumah saja, mereka tinggal turun dan masuk, tapi malah berdebat hanya karena masalah panggilan supaya terdengar akrab di telinga orang-orang. "Kira-kira apa yang cocok? Jangan panggilan yang berlebihan yang membuatku ingin muntah."
"Sayang?" Gita meninta pendapat Rei. Lelaki itu menggeleng tidak mau dipanggil begitu. "Beb?" Rei masih tampak tidak suka. "Darling? Oppa?"
"Sepertinya tidak ada panggilan yang kedengarannya enak didengar."
Gita menghela napas. Ia berpikir sejenak. Otaknya mencari-cari panggilan yang sekiranya bisa diterima oleh Rei namun kedengarannya mesra. "Saya panggil 'Mas' saja lah! Sepertinya itu yang paling Indonesia. Bapak kasih beban pikiran aja bikin saya pusing!" gerutu Gita.
Tok tok tok
Pintu kaca sebelah Gita diketuk dari luar. Rei menurunkan kaca jendelannya. Ternyata yang mengetuk adalah Ruby.
"Kalian kenapa tidak turun? Sejak tadi aku perhatikan terus di dalam mobil." Ruby memandang aneh kepada dua orang itu. Dia baru saja pulang dengan Melvin karena ayahnya mengatakan malam ini akan ada makan malam bersama Rei.
Gita tersenyum kaku kepada Ruby. Rasanya sangat aneh bertemu dengan wanita itu lagi tapi sebagai calon istri Rei. Setelah mereka menikah, mereka akan menjadi saudara ipar. Gita belum bisa membayangkan bagaimana rasanya memiliki saudara ipar.
"Gita, turun, yuk!" ajak Ruby.
"Ah, iya. Aku mau turun."
Gita membuka pintu sampingnya. Padahal pembahasan dengan Rei belum selesai tapi Gita lebih memilih turun lebih dulu dan masuk ke dalam bersama Ruby.
__ADS_1
"Sudah berapa bulan kandungannya?" tanya Gita melihat perut Ruby yang semakin membuncit.
"Ini mau masuk bulan ke enam. Sudah kelihatan besar, kan?"
"Iya, mungkin karena kehamilan kembar. Tapi badanmu tetap kelihatan kecil, hanya bagian perut saja yang membuncit."
"Hahaha ... benarkah? Padahal aku selalu merasa pipiku bertambah tembem."
"Menurutku tidak, kamu masih sangat kelihatan cantik meskipun hamil."
Melvin yang membuntuti istrinya dari belakang bersama Rei hanya bisa menghela napas. Setiap hari dia berusaha untuk memuji istrinya, mengatakan dia sangat cantik setiap kali Ruby bertanya karena minder merasa jelek selama hamil. Ucapan Melvin tidak dipercaya, katanya dia pembohong saat mengatakan dirinya cantik. Dia menjadi sasaran pukulan kalau Ruby sedang kesal. Melihat istrinya tersenyum senang ketika Gita memujinya, Melvin jadi sedikit kesal. Istrinya lebih percaya omongan orang daripada ucapan suaminya sendiri.
"Yakin, mau menikah dengan dia?" tanya Melvin dengan nada lirih.
"Kalau aku tidak yakin, tidak mungkin aku membawanya menemui Papa."
Pak Wijaya menyambut kedatangan Gita dengan hangat. Mereka berkumpul di ruang tengah dalam suasana kekeluargaan. Sebelumnya Rei sudah menceritakan tentang Gita kepada ayahnya. Ia mengatakan ingin menikah dengan wanita itu. Tentu saja Pak Wijaya cukup terkejut namun juga senang. Rei yang seakan tidak lagi tertarik untuk menikah sejak putus dengan Livy, kini kembali membawa wanita pilihannya ke hadapan Pak Wijaya.
"Rei, kenapa kamu ingin cepat-cepat menikah? Setidaknya pernikahanmu harus dirayakan dengan meriah, tidak seperti Ruby." Pak Wijaya menghela napas saat putranya mengatakan bahwa menikah secara sederhana saja cukup. Mungkin ia terinspirasi dari pernikahan yang Ruby dan Melvin lakukan.
"Mungkin mereka sudah tidur bersama, Pa!" sahut Melvin.
Rei melirik tajam ke arah iparnya yang bicara sembarangan.
"Hah! Papa tidak tahu lagi dengan gaya pacaran anak sekarang." Pak Wijaya geleng-geleng kepala. "Ya sudahlah, kalau itu mau kalian, besok kita ke KUA untuk mengurus pernikahannya."
Dulu Ruby ia nikahkan karena ketahuan ciuman dengan Melvin. Daripada kebablasan, akhirnya dinikahkan secara sederhana. Belum sempat melakukan pesta, putrinya sudah lebih dulu hamil dan perutnya membesar. Tapi, pesta yang sudah direncanakan tetap akan dilaksanakan.
Rei juga sama. Daripada menunggu lama tapi calon istri Rei malah terlanjur hamil, lebih baik menikah dulu meskipun hanya sah secara agama dan negara.
"Gita, apa benar kamu sudah tidak memiliki keluarga?" tanya Pak Wijaya.
"Benar, Om. Sejak kecil orang tua saya tidak pernah mengenalkan pada saudara manapun. Papa dan mama saya sama-sama anak tunggal yatim piatu yang merantau dari daerah. Saat papa dan mama saya meninggal juga tidak ada sanak keluarga yang datang untuk mengucapkan melayat."
Kalau Gita memiliki saudara, ia tak mungkin kebingungan saat ada masalah dengan ibu tirinya. Selama ini ia bertahan hidup sendiri sebagai anak sebatangkara. Hanya belas kasihan dari Ririn yang membuatnya masih sanggup bertahan.
__ADS_1
Pak Wijaya mangguk-mangguk. Ia hanya memastikan tentang perwalian Gita saat menikah karena dalam kepercayaan mereka hal itu sangat penting untuk menentukan sah atau tidaknya pernikahan.
"Gita, Rei tidak memaksamu menikah, kan?" tanya Pak Wijaya lagi.
Pipi Gita bersemu merah. Kalau harus bicara jujur, Rei memang memaksanya cepat menikah. Namun, ia sendiri juga sudah tidak sabar tinggal bersama lelaki yang jadi pelit disentuh itu. "Tidak, Om. Itu sudah menjadi kesepakatan kami."
"Baiklah, kalau itu memang sudah kesepakatan kalian, tidak ada lagi yang perlu dipermasalahkan. Besok Papa akan membawa kalian untuk dinikahkan di KUA."
"Nanti heboh lagi beritanya, Pa. Aku yang di rumah saja infonya bisa bocor," sahut Ruby.
Pak Wijaya kembali memikirkan hal itu lagi. Apa yang dikatakan Ruby benar, dia tidak terlalu suka kehidupan keluarganya terekspose di media. Berita heboh tentang Ruby yang pernah terjadi ia harap jadi yang terakhir kali.
"Ruby ada benarnya. Kalau begitu, pernikahan kalian juga akan dilaksanakan di rumah ini. Papa akan menghubungi pihak KUA, ketua RT, ketua RW, dan lurah daerah ini."
"Dokumentasi cukup dari pihak kita saja, Pa ... dulu gara-gara Pak RT ikut-ikutan ambil foto jadi tersebar beritanya. Untung Kak Ardi orang baik bisa meredam berita yang beredar." Gita masih kesal dengan Ketua RT kompleks.
"Iya, kali ini Papa akan lebih ketat lagi menyeleksi tamu yang datang. Gita juga boleh mengundang teman, tapi sekiranya yang bisa menjaga rahasia."
"Baik, Om."
"Oh, iya, Pa. Bagaimana kalau resepsi pernikahan aku dan Ruby sekalian untuk Rei dan Gita?" usul Melvin.
"Tanya dulu pendapat ayah dan ibumu, Vin."
"Mereka pasti tidak masalah, Pa. Soalnya Rei juga pernah jadi adikku. Besok mereka juga mau ikut datang ke pernikahan Rei. Iya kan, Rei?"
Rei mengangguk membenarkan ucapan Melvin. Sebagai anak yang pernah dirawat dengan baik oleh keluarga Melvin, ia juga tidak lupa memberi kabar tentang rencana pernikahannya.
*****
Sambil menunggu update selanjutnya, mampir dulu ke sini ya 😘
Judul: Terjerat Cinta Berondong Kaya
Author: Liana Kiezia
__ADS_1