
Sepanjang perjalanan dari kampus hingga sampai rumah, Ardi terus diam. Lelaki itu seolah tak peduli dengan istrinya. Ia tak mengajak Elen bicara sedikitpun setelah pertemuan dengan Indra. Sepertinya dia sangat marah.
Bahkan, saat mobil telah terparkir di garasi, ia lebih dulu turun tanpa membukakan pintu untuk Elen. Terpaksa Elen turun sendiri dan memburu langkah mengejar suaminya. Elen juga tak berani untuk memulai bicara. Ia hanya mengikuti suaminya sampai ke dalam kamar.
"Mas, biar aku bantu." Elen memberanikan diri menawarkan bantuan kepada Ardi yang tampak kesulitan melepaskan dasinya.
"Tidak usah! Aku bisa sendiri." Penolakan yang dilontarkan Ardi membuat nyali Elen ciut. Seketika hatinya terasa sakit. Belum lama ia merasakan sebagai pasangan baru yang bahagia, hubungan mereka jadi merenggang karena Indra.
"Mas, sepertinya kamu marah karena ucapan Indra di kampus."
Akhirnya dasi yang melilit di leher Ardi bisa terlepas. "Bisa-bisanya kamu memberitahukan kesepakatan pernikahan kita kepada orang lain. Aku kecewa padamu." Ia masih tidak sudi untuk melirik ke arah istrinya.
"Aku tidak mengatakan apapun padanya, Mas ... dia hanya berasumsi saja." Elen mencoba meluruskan duduk permasalahan yang mereka hadapi.
"Hah! Mana mungkin dia berani berpendapat seperti itu kalau bukan kamu yang memberitahunya? Apa kamu sudah tidak sabar untuk berpisah dariku dan berlari ke pelukannya?"
Ardi menyingkir dari hadapan Elen. Ia melepaskan kemejanya dan mengambil baju santai dari dalam lemari.
"Aku berkata jujur, Mas! Indra memang selalu mendekatiku, tapi aku tak pernah meresponnya." Ardi tampak masih tak menggubris ucapan Elen. Setelah mengganti baju atasnya, dia juga melepaskan celana kerjanya dan menggantinya dengan celana santai miliknya.
"Dia juga yang membuat beasiswaku dicabut sampai aku berniat menjadi seorang pela*cur sebelum akhirnya bertemu denganmu. Demi tetap bisa kuliah," lanjut Elen.
Mendengar penjelasan dari Elen, Ardi baru mau mendengarkannya. "Kenapa dia sampai melakukan hal itu? Bukankah dia sangat menyukaimu?" tanya Ardi penasaran.
"Karena aku menolaknya. Dia kesal."
Ardi terdiam sejenak memandangi wajah Elen yang tampak khawatir dan takut. "Yakin, kamu tidak sedang mengkhianatiku? Kita sudah sepakat bahwa selama kita menikah, tidak boleh memiliki hubungan spesial dengan orang lain." Ardi mengingatkan kesepakatan mereka terdahulu.
"Aku masih ingat, Kak. Aku berani sumpah tidak menjalin hubungan dengan siapapun termasuk Indra." Elen takut sekali Ardi marah padanya.
__ADS_1
"Aku membiayai kuliahmu agar kamu bisa belajar dengan sungguh-sungguh, bukan untuk mencari lelaki lain. Kalau butuh uang, aku akan memberikan sebanyak yang kamu minta. Jadi, pegang kesetiaanmu selama kita masih terikat dalam pernikahan."
Elen mengangguk. Ia merasa sedang dicurigai oleh suaminya sendiri. Mana mungkin ia bisa berpaling ke lain hati sementara ia sungguh-sungguh mencintai suaminya tanpa lelaki itu tahu perasaannya yang sebenarnya.
"Mas ...." Elen memeluk tubuh Ardi setelah perasaannya menjadi lega. Perbuatannya membuat Ardi terkejut. "Aku minta maaf sudah membuatmu kesal hari ini," ucapnya.
Nada yang keluar dari bibir Elen serta pelukan lembutnya membuat hati Ardi serasa berdesir. Padahal ia baru saja marah besar, tapi dengan sebuah pelukan saja amarahnya seakan memeleh begitu saja.
"Aku tidak tahu cara mengatasi satu orang bernama Indra itu. Tapi, aku janji akan berusaha menghindarinya di kampus."
"Kenapa kamu malah memelukku?"
Elen tertegun. Ia segera melepaskan pelukannya karena merasa suaminya tidak nyaman. Ia tak mau melihat Ardi semakin marah padanya. "Maaf, Mas. Aku hanya reflek ingin memeluk saja." Ia jadi salah tingkah.
"Kenapa dilepaskan?" Giliran Ardi yang memeluk pinggang Elen.
"Siapa yang bilang begitu?"
Elen jadi bingung sendiri. Tadi, suaminya terlihat sangat kesal dan benci padanya. "Mas Ardi seram kalau marah. Aku jadi takut."
"Makanya jangan dekat-dekat dengan lelaki lain. Kita sudah punya kesepakatan." Ardi semakin mempererat pelukannya, seolah menegaskan bahwa yang berhak memiliki Elen hanya dirinya.
"Aku tidak bermaksud begitu, Mas. Indra yang menggangguku terus. Mauku juga kehidupan perkuliahan berjalan lancar tanpa gangguan."
"Sebagai suamimu, aku merasa cemburu. Melepaskanmu di kampus, aku tidak tahu ada siapa saja lelaki yang mendekatimu."
Mata Elen berbinar-binar mendengar Ardi mengatakan cemburu padanya.
"Kamu harus bertanggung jawab," pinta Ardi.
__ADS_1
"Tanggung jawab apa?"
"Kasih obat kesal!" godanya.
"Hah?"
Melihat istrinya yang tidak juga peka, terpaksa Ardi mengambil inisiatif sendiri. Ia memberikan ciuman mendadak yang membuat Elen sampai membelalakkan mata saking kagetnya. Bukan ciuman biasa, tapi ciuman yang mendalam dan agresif. Elen sampai harus terengah-engah mencuri napas. Ardi tak memberinya celah untuk berhenti maupun melarikan diri.
Tangannya sudah mulai berkelana menyusup ke dalam baju, mencari titik rang*sang yang bisa membuat istrinya semakin menggila.
"Mas, aku mau mandi dulu." Elen tak nyaman ketika pakaiannya mulai dilucuti oleh suaminya.
"Nanti saja." Ardi menjadi orang yang tidak sabaran. Ia ingin secepatnya melepaskan seluruh pakaian yang menutupi tubuh istrinya.
"Sebentar saja. Tubuhku sangat lengket," rengek Elen.
Ardi berpikir sejenak. Ia tak bisa lagi menunggu. Hasratnya sedang menggebu-gebu. "Kalau begitu, kita mandi sama-sama supaya cepat!" Ardi membopong tubuh Elen yang masih mengenakan pakaian dalamnya menuju kamar mandi. Lelaki itu tak mau rugi. Jika bisa melakukan dua hal dalam waktu bersamaan, maka akan lebih menyenangkan.
Elen diturunkan di bawah guyuran shower. Ketika tombol ditekan, tetesan air jatuh membasahi tubuh mereka. Kucuran air membuat tubuh Elen terlihat lebih sek*si. Tanpa menunggu aba-aba, ia lepaskan kaitan br*a yang istrinya kenakan. Lalu, ikatan tali pakaian dalam ikut ia tarik hingga tubuh istrinya polos sempurnya.
"Kamu cantik sekali," pujinya sembari memandangi tubuh indah di hadapannya. Elen hanya pasrah membiarkan tubuhnya terus dipandangi sambil sesekali menyeka air yang membasahi wajahnya.
Ardi menyusul melepaskan pakaiannya yang telah basah hingga tubuhnya sama-sama polos dengan istrinya. Mereka berpelukan di bawah tetesan air saling menghangatkan tubuh satu sama lain.
"Sepertinya ucapan orang memang benar. Cara terbaik mengobati kekesalan adalah bermesraan seperti ini," gumam Ardi sembari menciumi ceruk leher istrinya.
"Tapi jangan dijadikan alasan untuk kesal setiap hari, Mas. Jantungku bisa copot kalau Mas Ardi marah-marah." Elen ikut lega suaminya tidak jadi marah. "Mas Ardi minta baik-baik juga aku mau, jangan menunggu kesal dulu ...."
Perasaan Ardi kembali meleleh. Ia semakin tidak tahan untuk menyentuh istrinya. Dipagutnya kembali bibir mungil itu dengan lembut sementara tangannya telah berlabuh di area dada yang sintal. Selain mengejar kepuasan batinnya, Ardi tak lupa untuk memuaskan istrinya. Acara mandi sore mereka menjadi aktivitas yang sangat romantis. Suara tetesan air yang teratur diselingi erangan-erangan mesra dari keduanya.
__ADS_1