
Ruby berbaring di atas ranjang mengenakan pakaian pasien berwarna biru sebelum operasi dimulai. Kepalanya diberi penutup supaya rambutnya tidak keluar-keluar. Melvin berada di sampingnya telah mengenakan pakaian khusus dari rumah sakit dengan kepala yang dipakaikan penutup serta masker. Tujuannya untuk mengurangi resiko kontaminasi dari luar ke dalam ruang operasi. Seorang perawat sedang memasangkan kateter yang berfungsi mengalirkan urine pasien selama proses operasi berlangsung sehingga tidak mengganggu jalannya operasi.
Selesai pemasangan kateter, Ruby dibawa masuk ke dalam ruang operasi. Tempat itu begitu dingin seakan mereka masuk ke dalam kulkas. Tiba-tiba rasa takut muncul begitu saja dalam hati Ruby. Ia memegang erat tangan Melvin yang berada di sisinya.
"Tenang, aku tidak akan pergi dari sisimu." Melvin berusaha menenangkan sang istri.
Para dokter yang bertugas dalam operasi telah memasuki ruangan dengan memakai pakaian lengkap operasi. Salah satunya tentu ada Dokter Ester yang selama ini menangani kehamilan Ruby. Seluruh tenaga medis yang terlibat merupakan wanita, sesuai dengan permintaan Ruby.
Dokter anastesi menyuruh Ruby dalam posisi duduk di atas ranjang. Ia mengambil sebuah suntikan berukuran cukup besar, membuat Ruby mengeratkan genggaman tangannya pada Melvin. Saat jarum itu mulai menembus area tulang belakangnya, ia hanya bisa memejamkan mata menahan rasa sakit.
Setelah mendapatkan suntikan epidural, Ruby kembali dibaringkan. Jarum infus mulai dipasang pada tangannya serta hidung yang dipasangi alat bantu pernapasan. Ia tidak pernah menyangka bahwa proses melahirkan sesulit itu, bahkan ia sendiri merasa takut. Padahal, selama hamil ia merasa sangat bahagia dan tidak sabar berjumpa dengan anak-anaknya.
Ruby merasakan bagian bawah tubuhnya terasa lemas akibat obat anastesi lokal yang mulai bereaksi. Kedua tangannya diikat pada kayu yang ada di tepi ranjang. Ia hanya pasrah saja dengan apa yang para dokter itu lakukan.
Saat operasi telah siap dimulai, tirai kecil dipasang di bagian dada Ruby. Tujuannya agar dia tidak melihat proses pembedahan yang dilakukan pada perutnya. Bisa jadi ia akan berteriak atau membuat kegaduhan, karena selama operasi ia akan tersadar.
Melvin setia menemani Ruby di sebelahnya. Ia juga tidak berani melihat proses pembedahan yang sedang dilakukan. Rapalan doa terucap dari bibir keduanya, berharap semua akan segera berakhir dengan baik.
"Kak, kira-kira perutku sedang diapakan, ya?" tanya Ruby dengan nada lirih.
"Sepertinya hanya sedang dielus-elus saja oleh dokternya," jawab Melvin. Ia sendiri tidak berani mengintip apa yang sedang dokter-dokter itu lakukan di balik tirai.
"Hahaha ... memangnya bayi kita bisa keluar hanya dengan mengelus-elus perut? Aku merasakan perutku seperti sedang digores-gores pisau, tapi tidak terasa sakit sama sekali."
"Jangan katakan itu, Sayang. Aku sendiri tidak berani melihat."
Ruby tersenyum. Ternyata sang suami juga sama takut seperti dirinya. Mereka terus bercakap-cakap membahas banyak hal sembari menunggu proses operasi selesai. Lebih baik mereka menyibukkan diri dengan percakapan daripada harus fokus mendengarkan bunyi alat-alat medis yang digunakan dokter.
"Oek ... oek ... oek ...." Suara bayi yang baru saja berhasil diangkat dari perut Ruby membuat perasaan kedua pasangan itu lega. Akhirnya dua jagoan yang telah dinanti-nantikan terlahir dengan selamat.
Kedua bayi laki-laki yang baru saja Ruby lahirkan dibawa oleh perawat dan bidan untuk dibersihkan. Bayi-bayi itu lalu dipakaikan selimut untuk menghangatkan tubuhnya.
__ADS_1
"Pak Melvin, tolong kesini sebentar," panggil dokter anak yang menangani kedua bayi itu.
"Sebentar ya, Sayang. Aku mau melihat bayi-bayi kita dulu," ucapnya kepada Melvin. Ruby mengangguk. Ada tetesan air mata kebahagiaan yang mengalir di pipinya.
Melvin mendekati kedua bayi yang tampak sedang menjulur-julurkan lidah seperti sedang mencari susu. Ia terkesima melihat dua makhluk kecil dan lucu yang kini membuat statusnya resmi berubah menjadi seorang ayah.
"Pak, putranya diadzani dulu, ya!" ujar sang dokter.
Melvin mengangkat salah satu anaknya. Ia mengumandangkan adzan pada telinga kanan dan iqamah di telinga kiri si bayi. Hal yang sama juga ia lakukan pada anaknya yang lain.
"Dok, ini yang lahir duluan yang mana?" tanya Melvin.
Sang dokter agak terkejut mendengar pertanyaan dari Melvin. Karena keduanya lelaki dan kembar, ia jadi lupa mana bayi yang lahir lebih dulu.
"Em, maaf, Pak. Saya lupa."
"Kok bisa lupa, Dok? Nanti saya bingung menentukan kakaknya yang mana." Melvin menyampaikan protesnya.
"Begini saja, Pak. Bayi yang ini tubuhnya lebih besar, jadi pantas jadi kakaknya," usul perawat yang menggendong salah satu anaknya.
"Ah, iya, benar. Bisa juga seperti itu. Namanya Regan Andrea Adinata. Kalau yang Ini Regis Andrea Adinata. Tolong kalian catat karena aku juga pelupa."
"Baik, Pak."
"Apa Pak Melvin mau memperlihatkan bayi-bayi ini kepada Ibu Ruby?"
Melvin menoleh ke belakang. Istrinya masih terbaring di ranjang operasi. Dokter masih menyelesaikan untuk menutup kembali bagian perut yang telah disayat demi melahirkan dua bayi mungil itu, Regan dan Regis.
"Iya, tentu saja. Istriku harus melihat anak-anaknya."
Melvin dan perawat itu berjalan menghampiri Ruby. Wanita itu tampak tersenyum haru melihat buah hati yang baru saja ia lahirkan.
__ADS_1
"Sayang, lihat anak-anak kita. Mereka tampan sekali dan sangat mirip denganku. Hidungnya mancung, rambutnya purang, kulitnya putih." Melvin mengatakannya dengan penuh kebahagiaan.
"Menyebalkan!" gumam Ruby.
"Loh, kok menyebalkan ...." Melvin kaget dengan ucapan Ruby.
"Iya, menyebalkan. Aku yang susah payah mengandung dan melahirkan mereka, kenapa waktu keluar malah mirip kamu!" Ruby gemas kepada suaminya.
"Hahaha ... mungkin karena aku rajin menabung. Wajar kalau mereka mirip denganku." Melvin mendekatkan putranya agar Ruby bisa mencium Regis. Perawat juga melakukan hal yang sama agar Regan bisa dicium oleh ibunya.
"Sayang, bayi yang aku gendong adiknya, namanya Regis. Kalau yang besar kakaknya, namanya Regan."
"Jadi kamu setuju dengan usul nama dariku? Katanya kemarin mau menamai mereka Paijo dan Paimin ...." Ruby memanyunkan bibirnya. Ia tetap kesal jika mengingat perdebatan permberian nama yang pernah mereka lakukan.
"Hahaha ... aku hanya bercanda, Sayang. Mana pantas anak berwajah bule seperti ini dinamai Paijo dan Paimin."
"Aku bawa mereka keluar dulu, ya. Kakek nenek mereka pasti sudah tidak sabar menunggu."
Ruby tersenyum dan mengangguk.
Dari ruangan operasi, Melvin bersama perawat membawa kedua bayi itu keluar. Mereka menunjukkannya pada Pak Wijaya, Pak Kennedy, dan Ibu Kania. Ketiga orang tua itu begitu bahagia melihat cucu-cucu mereka yang terlahir dengan sehat. Bahkan Pak Wijaya sampai menitihkan air mata saking terharunya.
*****
Sambil menunggu update, bisa mampir sini nih seru deh karyanya si pecinta baso aci 😘
Judul: Beauty Clouds
Author: Ocybasoacy
__ADS_1