PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
MENJADI ISTRI?


__ADS_3

Bagi yang puasa dihimbau untuk membaca saat malam hari, ditakutkan akan membuat emosi dan darah tinggi naik.


____


Ferdian menarik tangan Meka keluar dari kamar Renata. Perlakuannya cukup kasar, membuat Meka ingin memberontak, tapi sayang tenaganya tak sebanding dengan Ferdian.


Memasuki salah satu kamar lain di rumah itu, terdengar suara bayi yang cukup keras. Tangisannya membuat siapa saja yang mendengar akan tergerak ingin menenangkannya.


Seorang pengasuh sedang menggendong bayi tersebut yang terus menerus menangis.


"Berikan padaku." Ferdian mengambil bayi itu dari gendongan pengasuhnya.


Tangisan bayi itu belum berhenti meskipun sudah beralih dalam gendongan Ferdian. Meka memperhatikan dengan seksama bayi mungil yang cantik itu. Sepertinya usia bayi itu masih 3 atau 4 bulanan.


"Ini anakku dan Renata. Namanya Callista," ucap Ferdian.


Ada rasa sakit yang dirasakan oleh Meka di dalam hatinya. Ia iri melihat anak Renata digendong oleh Ferdian. Seharusnya dulu Davin bisa merasakan hal yang sama seperti bayi kecil itu.


Davin, semenjak lahir, hanya mengenal ibunya. Hanya Meka yang menggendong dan memberikan kasih sayang kepadanya. Ferdian tak mau bertanggung jawab atas Davin.


Mata Meka berkaca-kaca. "Sejak tadi kamu terus membahas tentang keluarga kecilmu. Meskipun aku tidak mengharapkan apa-apa darimu, aku jadi semakin membencimu." Ia berusaha mengalihkan pandangan ke tempat lain agar air matanya tidak jatuh.


"Saat aku bilang bahwa aku sedang hamil, kamu dengan santainya mengatakan untuk menggugurkan kandunganku. Kamu juga bilang tidak akan bertanggung jawab dan menikahiku." Meka tertawa mengingat kejadian di masa lalu.


Ferdian menggoyangkan gendongannya agar bayinya menjadi tenang sembari mendengarkan keluh kesah yang keluar dari mulut Meka.


"Sebenarnya apa yang kamu mau? Kamu sudah menikah, sudah punya anak, untuk apa lagi menggangguku? Sampai mengatakan ingin menikahiku segala!"


"Bukankah kamu sudah melihat sendiri kondisi Renata?"


Meka masih belum paham apa maksud Ferdian, "Maksudmu, kamu mau menikah lagi karena istrimu sedang sakit? Menikahiku?"


"Iya." Seperti biasa, Ferdian selalu menjawab dengan yakin.


Meka tidak habis pikir Ferdian bisa berniat seperti itu. "Aku rasa kamu memang benar-benar lelaki gila dan bejat! Bisa-bisanya berpikir ingin menikah lagi saat kondisi istrimu seperti itu!?"


"Aku melakukannya demi Renata dan anak ini. Juga untuk kebaikanmu dan Davin."


"Hahaha ... kebaikan!" Meka merasa semakin emosi dengan Ferdian. "Kalau kamu ingin melakukan sesuatu demi kebaikan aku dan Davin, seharusnya kamu tidak perlu menemui kami seumur hidupmu!"


"Seharusnya kamu berterima kasih karena aku telah mencarimu lagi. Aku bilang akan bertanggung jawab kepada Davin."


"Kami sudah tidak butuh tanggung jawabmu!"


Ferdian menatap tajam ke arah Meka. "Kalau begitu, aku akan merebut Davin darimu. Kamu tahu kan, seperti apa kekuasaanku? Silakan pergi dari sini jika tidak menurut padaku. Tapi, jangan harap bisa membawa Davin pergi bersamamu."


Meka mengepalkan tangannya. Ia sangat kesal jika lelaki itu sudah bermain dengan ancaman.

__ADS_1


"Berhentilah bertindak pengecut! Kembalikan Davin!" Meka berkata dengan nada yang tegas.


"Kamu yang seharusnya berhenti menjadi orang yang keras kepala!"


Meka terdiam sejenak. "Aku harus melakukan apa supaya kamu berhenti membuat hidupku sengsara, hah!?"


"Menikah denganku."


"Kamu gila!" Meka tak habis pikir dengan kemauan Ferdian.


"Renata tidak bisa menjalankan perannya sebagai seorang istri dan ibu. Sementara, aku seorang lelaki yang kamu tahu ... lelaki punya kebutuhan khusus yang hanya bisa dipenuhi oleh seorang wanita."


Ingin rasanya Meka tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban dari Ferdian yang kelewat jujur. "Ternyata hanya ada se*ks di dalam otakmu! Benar-benar gila .... " Meka memijit keningnya. "Kalau itu tujuanmu, bukankah uangmu cukup banyak untuk membayar wanita ja*lang mana saja?"


"Aku hanya pernah tidur dengan kamu dan Renata. Makanya aku sengaja mencarimu."


"Untuk menjadikan aku sebagai pela*curmu?"


"Aku mengatakan ingin menjadikanmu istri. Tapi, kalau kamu merasa nyaman dijadikan sebagai seorang pela*cur, aku juga tidak keberatan."


Meka semakin gregetan. Ferdian memang lelaki yang sangat menyebalkan.


"Davin akan tetat tinggal di sini. Terserah kalau kamu mau pulang." Ferdian kembali mengatakan ancamannya.


Tidak mungkin Meka pergi tanpa anaknya. Tapi, ia juga tidak mau lagi terjebak dengan Ferdian.


"Beri aku waktu untuk berpikir."


Meka menghela nafas. Ferdian sudah tahu apa yang akan ia lakukan. Kalau bisa, ia akan pergi sejauh mungkin dari lelaki itu. Hampir lima tahun hidupnya terasa damai jauh dari Ferdian, kini ia harus masuk lagi ke dalam kehidupannya.


Ferdian mengambil dot susu dari atas meja. Callista sepertinya mengantuk. Meskipun tidak terlalu rewel selama ia gendong, tapi kelihatannya bayi itu gelisah. Saat ujung dot menyentuh bibir mungilnya, Callista menyedot susu di dalamnya dengan semangat.


"Apa yang harus aku lakukan selama menjadi istrimu?" tanya Meka.


"Paling penting kamu harus menjadi teman tidurku. Kamu harus mau kapanpun aku menginginkannya."


"Ck!" Meka berdecak kesal. "Aku tidak mau kalau kamu kasar seperti dulu."


"Oke, aku akan memperlakukanmu dengan lembut." Ferdian meletakkan Callista di tempat tidurnya secara perlahan. Setelah menghabiskan susunya, bayi itu tertidur.


"Apa hanya itu?"


"Kamu juga harus tampil mendampingiku setiap ada acara."


"Yakin, kamu mau mengenalkanku di depan rekan-rekan bisnismu?" sesuatu yang mustahil jika Ferdian mau melakukannya. Dulu saja dia tak mau menganggapnya pacar.


"Iya. Kamu senang, kan?" Ferdian menyunggingkan senyum kepadanya. "Lalu ... jadilah ibu susu untuk Callista."

__ADS_1


Meka tertegun. "Aku tidak bisa. ASI-ku sudah berhenti keluar setahun lebih. Davin sudah tidak aku susui."


"Itu gampang. Aku aku sudah berbicara dengan dokter dan katanya bisa melancarkan kembali ASI yang sudah tidak keluar."


Meka memijit keningnya, "Aku tidak tahu lagi jalan pikiranmu, Di. Kenapa harus aku?"


"Karena kamu yang akan menjadi istriku. Selama Renata belum pulih, kamu yang akan menggantikan perannya, termasuk menjadi ibu untuk Callista."


"Jadi, maksudmu, aku hanya akan kamu jadikan cadangan seperti dulu?"


"Siapa yang berkata seperti itu? Aku ingin menjadikanmu sebagai seorang istri. Jangan selalu merendahkan dirimu sendiri."


Dulu, susah payah Meka memaksakan diri untuk bisa mengimbangi Ferdian. Segala keinginannya ia coba ikuti, ia juga berusaha mencintainya. Tapi, yang ada, Ferdian tetap mencampakannya. Ia takut hal itu akan terulang kembali. Ia tak ingin hanya sekedar dijadikan boneka yang kapan saja bisa dibuang saat pemiliknya sudah bosan.


"Bagaimana kalau Renata bangun?" tanya Meka.


"Kamu tetap akan menjadi istriku."


"Kalau dia memintamu untuk menceraikanku?"


Ferdian terdiam tak bisa menjawab.


"Kamu tidak bisa menjawabnya, kan?"


"Kenapa kita harus berandai-andai dengan sesuatu yang belum tentu terjadi?"


"Baiklah, terserah kamu saja. Tapi ... aku rasa permintaanmu terlalu banyak. Apa keuntungannya jika aku menyetujui kemauanmu?"


"Kamu akan menjadi istriku. Bukankah itu sesuatu yang membanggakan? Kamu akan selalu berdiri di sampingku."


"Itu belum cukup meyakinkanku."


"Aku akan bersikap baik padamu dan Davin."


"Itu juga belum cukup."


Ferdian berpikir sejenak, "Aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan."


"Aku ingin kamu memberikan aset-aset berharga yang cukup banyak sehingga aku tidak akan sengsara saat kamu meninggalkanku lagi!"


Ferdian terkesima mendengar perkataan Meka, ia seperti mendengar seseorang yang bukan Meka sedang bicara.


"Siapa yang mengajarimu untuk serakah?"


Meka menatap tajam ke arah Ferdian. "Kamu. Gara-gara kamu aku jadi banyak belajar. Kamu harus ingat, aku sepenuhnya seperti Meka yang dulu."


*****

__ADS_1


Sambil menunggu update bab selanjutnya, bisa mampir dulu, ya 😘



__ADS_2