PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
TAMU TAK DIUNDANG


__ADS_3

"Mama tidak mungkin salah lihat ... jantung mama rasanya mau copot melihat mereka seperti orang sedang pacaran."


Ardi terdiam mendengar keteguhan pendapat ibunya. "Waktu Mama bertemu mereka, Melvin dan ruby sedang membantu menjagakan anak .... " Ardi tak berani melanjutkan ceritanya. Mamanya belum tahu tentang Meka yang sekarang sudah memiliki seorang anak.


"Anak siapa? Apa anak mereka? Ruby sudah punya anak?" Sukma mencecar Ardi dengan banyak pertanyaan.


"Bukan, Ma ... itu anak teman sekantor Ruby. Orang tuanya sedang lembur mengerjakan proyek, makanya mereka membantu mengasuh anaknya."


"Kenapa Ruby harus dengan Melvin? Bukan denganmu?"


"Ardi kan kerja di luar kota, Ma ... sebenarnya Ardi juga yang meminta Melvin menjaga Ruby."


"Kamu jangan sembarangan meminta bantuan orang, sekalipun itu Melvin sendiri. Mama tidak terlalu percaya padanya. Nanti kalau calon menantu mama direbut Melvin, mama tidak rela, Ardi."


Ardi tertawa mendengar nada bicara kesal ibunya. Raut wajahnya saat kesal membahas hal itu juga membuat ibunya terlihat lucu.


"Ruby pasti jadi menantu Mama, kok ... jangan khawatir lagi, ya, Ma .... " Ardi berusaha untuk menenangkan perasaan ibunya.


"Mama sangat menyukai Ruby."


"Iya, Ma. Ardi tahu. Ardi juga sangat menyukainya sama seperti Mama."


Entah sampai kapan Ardi akan terus menyembunyikan kebenaran dari ibunya. Senyuman yang merekah di wajahnya adalah sesuatu yang ingin ia jaga. Meskipun hanya kesemuan yang bisa ia berikan saat ini.


Seandainya saja mencari orang yang seperti Ruby itu mudah, ia ingin mendapatkannya. Ia ingin membahagiakan ibunya tanpa harus membuat Ruby terbebani. Sudah cukup lama mereka bertahan dalam kepura-puraan.


"Mama yakin kamu akan bahagia bersama dia." mata Sukma berbinar-binar setiap membahas tentang Ruby.


"Mama jangan mengkhawatirkan apapun, aku dan Ruby akan menikah seperti yang Mama inginkan." Ardi mencium pipi ibunya. "Mama harus sehat ya, supaya bisa melihat Ardi menikah."


Sukma menyunggingkan senyum, "Pasti, Nak. Mama akan berusaha menjadi sehat untuk menyaksikan kebahagiaanmu."


"Kalau kamu sudah menikah nanti, kamu bisa ikut mendapatkan saham dari perusahaan keluarga besar papamu, seperti kakak-kakakmu."


"Ma, jangan bahas itu lagi."

__ADS_1


Ardi sangat malas untuk membahas tentang perebutan warisan keluarga. Namanya belum masuk dalam daftar penerima warisan seperti kakak-kakaknya.


Memang, dari pihak keluarga besar ayahnya belum sepenuhnya mengakui dirinya sebagai bagian dari Keluarga Besar Bramasta.


Pernikahan kedua antara ayah dan ibunya tidak mendapat restu dari keluarga besar. Itu karena ibu Ardi berasal dari keluarga biasa-biasa saja yang dianggap menikahi ayah Ardi, duda beranak dua, hanya karena harta.


Akan tetapi, ayah Ardi merasa tidak salah memilih Sukma menjadi istrinya. Dia wanita yang baik, bisa merawat kedua anak tirinya dengan kasih sayang yang sama seperti yang ia berikan kepada Ardi. Meskipun belakangan ini hubungan Ardi dan kakak-kakaknya menjadi kurang baik, akibat provokasi dari pihak keluarga mendiang istri pertama ayah Ardi dan sebagian dari Keluarga Bramasta.


Kabar perjodohan antara Ruby dan Ardi menjadi awal yang baik dalam penerimaan keluarga besar. Setelah mereka menikah, secara otomatis Ardi akan memiliki tempat di dalam keluarga besar yang selama ini memandangnya sebelah mata. Ruby merupakan putri dari pengusaha ternama, Haidar Wijaya. Keluarga besar pasti akan menyetujui pernikahan mereka.


"Kamu itu anak kandung ayahmu, Ardi ... kamu juga saudara kandung dengan kakak-kakakmu, meskipun kalian berbeda ibu. Sudah seharusnya kamu mendapatkan hak yang sama."


"Selama ini ayahmu hanya mau mempercayakan perusahaan-perusahaan kecilnya, tidak mau melibatkanmu dalam perusahaan keluarga. Mama sedikit tidak suka dengan itu."


"Aku yang minta sendiri, Ma." jawab Ardi. Dia memang sengaja menghindari konflik. Sebagai anak yang jarang dilibatkan dalam acara keluarga, sejak dulu dia sudah mengerti kalau keberadaannya memang tidak diinginkan. Ardi sudah merasa cukup dengan apa yang telah dicapainya sejauh ini.


"Mama tidak bisa tenang sebelum kamu mendaparkan hakmu."


"Aku sudah bahagia dengan apa yang sudah aku dapatkan, Ma. Percayalah, Ardi bisa sukses dan bahagia sekalipun tidak mendapatkan bantuan dari keluarga papa."


"Mama percaya padamu, tapi, apa yang menjadi hakmu, tetap harus kamu perjuangkan."


"Malas aku kalau Mama terus membahasnya."


"Sebenarnya keluarga besar banyak yang protes karena kamu ingin menikah secara sederhana. Mereka ingin pesta yang besar."


"Sudah aku bilang jangan mengurusi mereka, Ma. Aku tidak peduli dengan kemauan mereka. Apa mereka masih menghubungi Mama?" tanya Ardi kesal.


Sukma hanya tersenyum kecil. Artinya memang ada pihak yang rajin menghubungi ibunya yang turut membuat beban pikiran baginya.


"Mulai sekarang, jangan lagi berhubungan dengan mereka! Mama harus ingat dengan perlakuan mereka terhadap kita."


*****


Meka tampak sibuk di ruang tengah berkutat dengan donat-donat yang sedang dibuatnya. Ia berniat esok hari akan membawa donat itu ke kantor dan membagikan kepada teman satu divisinya.

__ADS_1


Semua donat sudah selesai digoreng, tinggal diberi lelehan coklat warna warni dan aneka toping di atasnya.


Agar Davin tidak rewel, ia sengaja membuatkan donat versi kecil dan memberikannya beberapa toping serta lelehan coklat tersendiri. Alhasil, anak itu sibuk menirukan apa yang dilakukan mamanya.


Meskipun pakaiannya kotor dan dan berantakan, setidaknya Meka bisa meneruskan pekerjaannya dengan tenang. Davin dengan telaten mencelupkan donatnya ke dalam lelehan coklat lalu menaburinya dengan butiran meises.


"Mama ... ini bagus?" tanya Davin sembari memperlihatkan hasil kreasi donatnya dengan tangan yang belepotan.


Meka tersenyum. "Bagus, Sayang," pujinya.


"Tante Ruby mana?" Sejak diajak jalan-jalan oleh Ruby, Davin hampir setiap hari menanyakannya.


"Tante Ruby sibuk, Sayang. Kalau tidak sibuk pasti juga main ke sini."


"Davin mau main ke rumah Tante Ruby."


"Iya, Sayang. Kapan-kapan, ya!" Meka memilih mengiyakan supaya Davin cepat diam. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya memasukkan donat-donat kreasinya ke dalam kardus yang telah disiapkan. Setiap kardus muat untuk diisi 3 donat yang berukuran cukup besar itu.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu. Meka agak ragu untuk membuka pintu. Tidak biasanya ada orang yang bertamu malam-malam ke rumahnya. Sekalipun itu Ruby, biasanya dia akan mengabari dulu sebelum datang.


Tok tok tok


"Mama ... ada tamu." Davin bereaksi karena pintu luar terus diketuk tapi ibunya tetap diam.


"Biar mama yang bukakan, Davin di sini saja."


Meka menghentikan pekerjaannya sebentar, ia bangkit dari duduk dan berjalan ke arah pintu.


Klek!


"Siapa, ya .... " Baru saja ingin bertanya, mata Meka membelalak dan tubuhnya membeku seketika melihat tamu yang datang ke rumahnya malam-malam.


Sambil menunggu update selanjutnya, boleh mampir dulu ke sini 😘

__ADS_1



__ADS_2