PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
AKHIR KISAH HARUN


__ADS_3

"Tolong ... tolong ... tolong .... !" Meka berteriak dengan nada putus asa. Air matanya jatuh meratapi betapa miris kehidupan yang harus dijalaninya.


Brak! Brak! Brak! Bam!


Di saat ia hampir putus asa, ada seseorang yang berhasil merusak pintu gudang tersebut. Ketika pintu terbuka, muncullah seorang lelaki dari balik pintu itu. Tomi, sekertaris Melvin datang menolongnya.


Tanpa basa-basi, lelaki itu meringsak masuk, menarik dan mendorong Harun hingga tersungkur ke lantai. Belum puas sampai di sana, dia pukuli habis-habisan bandot tua yang hendak berbuat jahat kepada karyawan.


Setelah melihat Harun tidak berdaya, ia menyeretnya keluar.


"Kamu juga cepat keluar dari sini!" perintah Tomi kepada Meka.


Meka segera merapikan pakaiannya dan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia mengikuti Tomi keluar dari dalam gudang itu.


Tomi terus menyeret kaki Harun menelusuri koridor kantor. Para karyawan yang melintas bertanya-tanya tentang hal yang sedang terjadi. Harun tak berdaya. Ia pasrah menjadi bahan tontonan banyak orang.


Tok tok tok!


Tomi mengetuk pintu ruangan Melvin dengan keras. Ia tak peduli akan dimarahi karena mengganggu orang yang sedang bermesraan di dalam sana. Menurutnya, sampah harus segera dibersihkan sebelum mengeluarkan bau busuk.


Orang-orang semakin banyak yang berkerumun. Sekali lagi Tomi mengetuk pintu ruangan itu, hingga akhirnya terbuka juga.


"Ada apa!?" bentak Melvin yang baru memunculkan kepalanya dari balik pintu.


Saat melihat di luar ada kerumunan banyak orang dan Tomi yang datang dengan menyeret Harun dalam kondisi babak belur, ia mematung seketika.


"Ada apa, Kak?" Ruby yang turut khawatir dengan kebisingan di luar ikut muncul. Ia memperlebar pintu agar bisa melihat apa yang terjadi.


Melihat banyak orang berkumpul di sana, ia ikut bengong. Fokus orang-orang justru beralih kepada Ruby yang sedang berada di salam ruangan CEO. Apalagi dia tadi dia berbicara pada atasannya dengan bahasa non formal. Perlahan ia bergerak mundur masuk kembali ke dalam.


"Boleh saya masuk, Pak?" tanya Tomi.


Melvin kembali menatap Harun lalu beralih memandangi Meka yang ada di belakangnya. "Ya, masuk saja!" Melvin melebarkan pintu agar Tomi mudah masuk membawa Harun.


"Kamu juga ikut masuk!" ucap Tomi kepada Meka.

__ADS_1


"Kalian silakan kembali bekerja." Melvin menyuruh orang-orang untuk membubarkan diri, lalu ia kembali menutup pintu ruangannya.


"Jadi, ada apa sebenarnya?" tanya Melvin.


Ruby masih tercengang melihat kondisi orang yang menggantikannya sebagai manajer. Wajahnya babak belur habis dihajar oleh Tomi. Sementara, ia heran Meka ikut bersama mereka di sana.


"Dia hampir memperkosa salah satu karyawan di dalam gudang," jawab Tomi.


Melvin dan Ruby baget. Mereka langsung melirik ke arah Meka.


"Apa benar yang dikatakan Tomi?" tanya Melvin kepada Meka.


Meka hanya mengangguk.


"Bohong, Pak! Dia yang merayu saya!" dalam kondisi terluka parah, Harun masih berusaha membela diri.


"Ada satu rahasia besar yang dia sembunyikan! Sebenarnya dia telah memiliki anak, bahkan tanpa menikah! Dia sudah membohongi perusahaan, mencemarkan nama baik perusahaan! Anda harus memecatnya!" Harun berusaha bangkit berdiri sembari menunjuk-nunjuk ke arah Meka.


"Wanita ini berusaha menggoda saya agar tidak membocorkan rahasianya, Pak! Dia mau menjebak saya, pura-pura mau diperkosa!"


Melvin terlihat marah nama Ruby disebut-sebut. Tua bangka itu bukannya menyadari kesalahannya tapi malah menyalahkan orang lain.


"Tutup mulutmu!" bentak Melvin.


"Maafkan saya." Harun menunduk, tak berani bicara.


"Perbuatanmu sendiri yang sesungguhnya bisa mencemarkan nama baik perusahaan. Sebagai seorang pimpinan, seharusnya Anda bisa memberikan perlindungan dan bimbingan kepada karyawan, bukan malah melecehkan mereka!" Melvin berbicara dengan nada tinggi sampai urat-urat lehernya terlihat tegang.


"Saya berjanji kejadian ini tidak akan terulang lagi, Pak." Nyali Harun seakan hilang ketika berhadapan dengan Melvin.


"Tidak ada yang namanya lain kali. Aku ingin besok pagi surat pengunduran dirimu sudah ada di mejaku."


"Pak ....!" Harun tidak terima dengab keputusan Melvin.


"Aku masih berbaik hati karena tidak melaporkanmu ke kantor polisi. Juga tidak akan menuliskan catatan kerja yang buruk untukmu. Jadi, lakukan apa yang aku minta!" tatapan mata Melvin sangat tajam menyiratkan keseriusannya. "Silakan mengundurkan diri dengan tenang dan lupakan semua yang kamu ketahui di sini."

__ADS_1


"Jangan berani-berani menyebut nama Ruby, Meka, atau Tomi lagi. Kalau sampai nama mereka terkena masalah setelah kamu keluar, aku akan mencarimu!" ancamnya.


Harun hanya bisa diam tak membantah.


"Pergi dari ruangan ini sekarang juga!" Melvin mengusir Harun dengan kasar.


Lelaki paruh baya itu terpaksa pergi meninggalkan ruangan membawa rasa malunya.


Ruby langsung berlari memeluk Meka. Dia pasti sangat syok dengan kejadian yang baru menimpanya.


"Meka, ayo duduk dulu." Ruby menuntunnya untuk duduk di sofa. Sementara Tomi dengan cekatan mengambilkan minuman dari dalam kulkas yang tersedia di ruangan itu.


"Minum dulu!" Tomi menyodorkan minuman kaleng dingin kepada Meka.


Meka menerimanya, membuka penutup lalu meminum isinya. Perasaannya sudah sedikit lega. Sejak tadi degup jantungnya sangat tak beraturan.


"Bagaimana kamu bisa menemukan mereka, Tom?" tanya Melvin penasaran. Hari ini Tomi sudah seperti seorang pahlawan di kantornya.


"Saya terpaksa pergi ke toilet ujung karena ruangan Anda tutup setelah Ibu GM masuk."


Ruby dan Melvin merasa tersindir. Tomi pasti merasa terusir setiap kali Melvin memanggil Ruby untuk datang ke ruangannya. Dalam sehari mereka bisa beberapa kali menghabiskan waktu di dalam ruang kerja CEO. Alasannya untuk pekerjaan, tapi sebenarnya hanya untuk bermesraan.


Setiap mereka butuh waktu berdua, Tomi yang dikorbankan untuk menjadi satpam di luar.


"Setelah keluar dari toilet, ada suara-suara berisik dari arah gudang. Karena pintunya terkunci makanya saya dobrak. Ternyata manajer tua itu mau berbuat yang tidak-tidak di kantor ini. Jadi saya hajar habis-habisan lalu menyeretnya ke ruangan Anda. Bukankah sampah harus segera dibereskan sebelum menimbulkan bau busuk?"


Melvin hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan Tomi. "Menghajar orang juga bisa kena pindana, Tom! Hati-hati sekalipun untuk membela diri."


"Saya memiliki Anda yang punya banyak uang, jadi saya tidak akan khawatir. Kalau Ibu GM ada di posisi Meka, saya yakin Anda juga akan melakukan hal yang sama."


Melvin menyunggingkan senyum. "Tentu saja tidaj sama, Tom. Aku akan melemparkan orang itu keluar dari jendela."


"Orang itu bisa mati, Pak. Ini lantai 25."


"Tentu dia harus mati kalau berani mencelakai orang yang aku sukai." Melvin melirik ke arah Ruby.

__ADS_1


__ADS_2