
"Mas ...."
Gita memeluk manja lelaki yang akhirnya mau datang ke apartemen. Saking girangnya, ia tak mau melepaskan pelukannya. Sementara, Rei terlihat pasrah saja dengan kelakuan Gita. Ia merinding dengan panggilan baru Gita kepadanya. Harapan Rei, Gita mau menyebut namanya saja, bukan dengan sebutan yang membuatnya kikuk dan merasa aneh.
"Cepat tidur, ada banyak hal yang harus kita lakukan besok."
"Bobo bareng, yuk!" ajak Gita tak mau melepaskan pelukannya. Ia seperti seekor kucing yang baru saja menemukan kembali majikannya. Tingkahnya begitu manja seakan tak mau berpisah dengan pemiliknya.
"Ini hari terakhir kita pacaran, masa kamu tidak bisa tahan? Besok juga kita sudah menikah." Rei lama-lama bisa goyah juga pertahanannya kalau punya pacar seperti Gita.
"Janji nggak ngapa-ngapain ... cuma mau tidur bareng aja, Mas. Supaya besok nggak kaget lagi kalau ada yang bobo di sebelah." Gita menunjukkan senyuman sok imutnya kepada Rei.
"Omongan kamu susah dipercaya."
"Kali ini bisa kok, beneran, deh ...." Gita terus berusaha merayu.
Rei memandangi Gita selama beberapa saat. "Boleh aku tanya sesuatu?"
"Tanya apa?" Gita jadi penasaran.
"Apa kamu juga selalu semanja ini dengan mantan pacarmu?" tanyanya.
Senyuman di bibir Gita perlahan memudar. Ia tak begitu suka mengingat lagi hubungannya yang telah lalu dengan lelaki brengsek seperti Jimmy. Bahkan belum lama ini Jimmy kembali menemuinya dan berusaha berbaikan lagi meskipun ia tolak.
"Kamu bilang pernah tinggal satu apartemen dengannya, kan?" lanjut Rei.
"Cie ... Mas Rei cemburu, ya .... " goda Gita.
Rei tampaknya tak mengikuti candaan Gita. Ia menatap wanita itu dengan tatapan serius, membuat Gita kikuk. "Mas Rei masih ingat dengan pertemuan pertama kita?" tanya Gita.
"Mana mungkin aku lupa dengan wanita aneh yang tiba-tiba mengajakku kencan semalam." Kesan pertama yang Gita berikan sangat buruk di mata Rei. Ia pikir wanita itu sudah gila. Tapi, semakin lama semakin ia penasaran dengan wanita itu. Ternyata Gita orang yang menyenangkan meskipun terkadang kelakuannya membuat ia repot sendiri.
__ADS_1
"Sepertinya sejak saat itu aku jadi gila." Gita berbicara dengan raut wajah kecewa mengenang kejadian yang pernah menimpanya. "Aku penasaran saja bagaimana rasanya berhubungan lawan jenis, apa seenak itu sampai Jimmy melakukannya dengan wanita lain. Kita pernah berkomitmen tidak akan melakukan hal seperti itu sampai menikah. Kenyataannya, dia mengingkari komitmen itu."
"Jadi kamu mau balas dendam?" Rei memicingkan sebelah matanya.
"Awalnya memang begitu, kan?" Gita mengedip-ngedipkan mata genit. "Seperti yang sering aku bilang, aku sebenarnya belum terlalu ingin menikah. Tapi kata Mas Rei kalau mau tidur bareng harus nikah dulu. Aku kan sudah terlanjur melihat punya Mas, gimana dong?" Ia memanyunkan bibirnya minta dicium. Rei yang geli dengan kelakuan Gita memilih melepaskan pelukan mereka.
"Sudah, jangan diteruskan. Obrolanmu semakin nyeleneh lama-lama."
"Halah ... besok juga halal, Mas ... nempel sedikit nggak apa-apa, lah .... " Gita kembali memeluk Rei. "Cium ...." Gita kembali memanyunkan bibirnya.
Tidak mau meladeni Gita, Rei lebih memilih menggendong wanita itu agar masuk ke dalam kamarnya. "Sudah, tidur!" perintah Rei.
"Mas Rei nggak mau bobo di sini?" Gita memasang pose menantang di atas ranjang. Calon istrinya itu sedang kumat lagi.
Rei menyunggingkan senyum. "Sabar, ya. Besok malam aku tidak akan membuatmu tidur sampai pagi. Jadi, malam ini istirahat yang cukup."
Setelah mengucapkan hal itu, Rei keluar dari kamar Gita dan menutupnya sebelum wanita itu kembali keluar mengejarnya. Rei menghela napas. Ia duduk di tepi ranjang sembari termenung. Ada banyak hal yang ia pikirkan, salah satunya tentang pernikahannya.
Mempelajari perjalanan hidup Gita seperti yang diceritakan oleh pengacaranya, mantan pembantu di rumah Gita, dan beberapa orang yang mengetahui tentang kehidupan Gita, ia jadi kasihan dengan calon istrinya. Hidup yang dijalaninya terasa sangat berat, sementara keseharian Gita selalu tampak ceria dan penuh tawa. Ia ingin tahu apakah Gita benar-benar bahagia atau hanya menyembunyikan luka dan kesedihannya lewat tawa.
*****
Suasana di kediaman Pak Wijaya kembali ramai. Para pelayan sibuk mempersiapkan pesta kecil-kecilan untuk merayakan hari pernikahan Rei dan Gita. Sementara, tamu yang hadir ada sekitar 20 orang. Ponsel yang mereka bawa disita oleh penerima tamu, mereka dilarang mendokumentasikan apapun.
Gita hanya mengundang Ririn dan suaminya. Sementara, Rei mengundang cukup banyak orang. Ada Ardi, Fero, dan Rafa yang membawa pasangan masing-masing ke sana. Orang tua Melvin juga turut hadir menjadi saksi pernikahan anak angkat mereka sekaligus menjenguk anak dan menantu kesayangannya.
"Kalau bayinya sudah lahir, kamu pindah ke rumah Ibu ya, Sayang," rayu ibunda Melvin sembari mengelus-elus perut buncit Ruby.
"Ruby akan tetap tinggal di sini. Dia akan melahirkan cucu pertamaku," sahut Pak Wijaya tak mau kalah.
"Rei kan juga mau menikah, kamu jangan serakah, Haidar ... Rei dan istrinya nanti juga akan melahirkan cucu untukmu. Melvin itu anak tunggal kami, hanya dia harapan satu-satunya agar rumah kami bisa ramai oleh suara bayi." Kennedy membela istrinya.
__ADS_1
"Salah sendiri punya anak hanya satu," ejek Wijaya.
"Wah, jangan jadi besan jahat kamu, Haidar ...."
Ruby dan Melvin hanya saling pandang melihat orang tua mereka sedang berselisih masalah dimana mereka akan tinggal.
"Ruby anakku, terserah aku kalau dia tetap tinggal di rumah ini."
"Ayah, kita beli tanah sebelah dan bangun rumah. Kalau Haidar sedang pergi, kita bisa ajak cucu main." Kania memberikan idenya.
"Pemiliknya galak, tidak mungkin mau menjual kepada kalian."
"Oh, jangan remehkan kemampuan keluarga Adinata untuk masalah pembebasan lahan. Rumahmu saja bisa aku gusur kalau aku mau."
"Dilakan saja coba kalau bisa."
"Sudah, sudah ... Papa dan Ayah sedang meributkan apa? Anak yang dikandung Ruby itu anak kami, kenapa kalian yang ribut?" sahut Melvin. "Lagipula aku tidak ada niatan untuk tinggal dengan salah satu dari kalian."
Pak Wijaya dan Kennedy langsung menatap tajam ke arah Melvin. Ruby yang tidak mau masalah menjadi semakin rumit akhirnya maju sebagai penengah. Ia mengulaskan senyuman termanisnya.
"Kalian tidak perlu bertengkar, anak yang aku kandung ini kembar laki-laki. Kami pasti akan sangat kerepotan dan membutuhkan bantuan kalian. Papa, Ayah, dan Ibu, tolong kerjasamanya nanti ikut menjaga anak-anakku." Ruby berbicara seperti seorang malaikat, kata-katanya mampu membuat mereka meleleh.
"Tentu saja, Ruby. Kami akan selalu siap memberikan yang terbaik untukmu dan calon anak-anakmu. Ibu tidak menyangka kalau bayi yang kamu kandung kembar cowok." Kania tampak sangat girang.
"Sayang, kenapa kamu memberitahu mereka jenis kelamin bayi kita?" protes Melvin. Sebenarnya ia hany ingin dirinya dan Ruby saja yang tahu, biar orang lain tahu belakangan. Karena Ruby sudah lebih dulu membuka kartu, ia sedikit sedih karena bukan hanya dia yang tahu.
*****
Sambil menunggu update selanjutnya, jangan lupa mampir ke sini 😘
__ADS_1