
PUKUL 19:30 MALAM.
"Ma?Sebenarnya kita ini mau ketemuan sama siapa sih, kenapa juga Mama memaksaku agar berpakaian yang rapi seperti ini?" tanya Gibran pada Mamanya.
"Sudahlah sayang kamu jangan banyak bertanya, nanti kamu juga akan tahu kita ini mau kemana. Dan dengan siapa kita akan makan malam ini?" balas Mamanya yang hanya menunjukkan senyumannya.
"Iya Gibran yang dikatakan Mama kamu memang benar, lebih baik kamu jangan banyak bertanya nanti kamu juga akan tahu kita ini akan bertemu dengan siapa?"balas Papanya kemudian.
"Baiklah kalau kalian tidak mau mengatakan yang sejujurnya pada Gibran,"balas Gibran yang kemudian ia pun memalingkan pandangannya dari mereka.
Tidak menunggu waktu lebih lama lagi, dan hanya menempuh perjalanan waktu sekitar 30 menit. Akhirnya Gibran dan juga kedua orang tuanya pun telah sampai juga ditempat pertemuan yang telah mereka atur sedari tadi dan tempat itu yang tak lain adalah RESTORAN CITRA ABADI dimana Restoran ini adalah Restoran mewah yang sering dikunjungi orang-orang penting.
"Ma, Pa?Kenapa kita datang ke Restoran ini, ini kan Restoran mewah? Siapa orang yang kalian ajak makan malam bersama sekarang?"
"Sudahlah Gibran kamu jangan banyak bertanya, kita ini sudah sampai jadi ayo cepat kita masuk kedalam Restoran ini, pasti mereka sudah menunggu kita?"
"Ayo Gibran cepatlah jalan!"perintah Papanya.
"Baiklah Pa..Ma!"
"Sebenarnya apa sih yang inggin dibicarakan sama mereka?" batin Gibran yang merasa sangat penasaran.
"Maaf ya jeng kita datangnya agak telat?" ucap Mamanya Gibran pada seorang wanita yang berdiri dihadapannya.
"Iya gak Papa kok jeng, kita juga baru aja sampai kok disini?" balas Wanita tersebut.
"Jadi ini Putra kamu yang bernama Gibran itu, dia ternyata sangat tampan ya?" tanya wanita tersebut.
"Iya ini Putraku yang sering aku ceritakan ke kamu jeng?"
"Gibran cium telapak tangan tante serly sekarang?" perintah Mamanya.
"Baiklah Ma!"balas Gibran yang kemudian ia pun mencium telapak tangan wanita tersebut.
"Oh iya mana Putri kamu yang inggin kamu kenalkan pada Putraku ini, apa dia tidak bisa menghadiri acara makan malam ini?" tanya Mamanya Gibran.
"Kamu tenang saja dia ikut kok, tadi dia ijin ke toilet nanti juga akan kembali?"jawab Serly.
"Ya sudah kalau gitu sekarang kalian tunggu apa lagi silahkan duduklah, kita sudah memesankan makanan sedari tadi?" ajak Herland suami dari Serly.
"Baiklah!"
"Maaf Ma! Aku lama tadi agak antri soalnya?" ucap seorang gadis yang tiba-tiba menghampiri Serly. Dan gadis itu ternyata yang tak lain adalah Revi.
"Revi?" sahut Gibran yang begitu terkejut ketika melihat Revi yang ada di hadapannya saat ini.
"Gibran?"balas Revi yang ikut terkejut juga.
"Tunggu! Kalian sudah saling kenal?" tanya Mamanya Gibran.
"Iya tante aku kenal dengan Gibran, dia kan temanku sejak aku masuk SMA sampai sekarang ini?"
"Iya Ma, kita ini satu sekolah Makanya kita bisa saling kenal!"
"Astaga jeng rupanya rencana kita untuk menjodohkan Putra, Putri kita ini tidaklah sia-sia, ternyata mereka sudah sama-sama saling mengenal satu sama lain?" ucap Mamanya Revi yang terlihat bahagia.
"Iya jeng aku juga tidak menyangka?"
"Tunggu! Maksud Mama, kita mau dijodohkan?" tanya Gibran yang agak tidak percaya.
__ADS_1
"Iya sayang. Mama dan Papa sengaja mengatur pertemuan ini. Karena Mama inggin mengenalkan kamu dengan Revi ini, tapi ternyata tuhan sudah mengatur cara yang terbaik, mendekatkan hubungan kalian ini agar lebih dekat lagi, jadi sekarang Mama lega?"
"Astaga ini aku tidak lagi sedang bermimpi kan, aku dan juga Gibran kita dijodohkan?" batin Revi yang sangat tidak percaya. Dan sesekali dia pun tersenyum lantaran apa yang dia inginkan ternyata akan segera dia dapatkan.
"Apa-apaan ini, kenapa Mama dan Papa tidak mengatakan hal ini sejak awal. Kenapa juga aku harus dijodohkan dengan Revi sih?" batin Gibran yang terlihat kesal.
"Herland saya bener-bener tidak menyangka kalau kita sebentar lagi akan jadi besan?" ucap Papanya Gibran.
"Iya Betran aku sendiri juga tidak akan menyangka, jika rencana kita untuk menjodohkan mereka tidaklah sia-sia?" balas Papanya Revi.
"Maaf aku tiba-tiba inggin ke toilet, jadi aku ijin sebentar ya Ma? Ijin Gibran yang Mamanya belum mengatakan apa-apa tapi Gibran tiba-tiba langsung bergegas pergi.
"Ada apa dengan Gibran jeng?" tanya Mamanya Revi.
"Gibran. Anak itu dia pasti sudah tidak tahan makanya dia sampai terburu-buru seperti itu?" balas Mamanya Gibran yang mencoba mengalihkan perhatian Mamanya Revi.
"Iya mungkin kayaknya jeng, ya sudah tunggu apa lagi ayo kita makan-makan sekarang?" Ajak Mamanya Revi.
"Baiklah!"
"Ada apa dengan Gibran, kenapa terlihat dari raut wajahnya dia seperti tidak menyukai kabar perjodohan ini?"batin Revi yang terlihat agak sedih.
30 MENIT KEMUDIAN.
"Jeng Gibran kok lama sekali pergi ke toiletnya?" tanya Mamanya Revi.
"Iya jeng aku juga bingung sedang apa anak itu berlama-lama di Toilet? Pa, mendingan sekarang Papa cek ke toilet apa Gibran masih ada disana?"
"Baiklah Ma, Papa akan cek kesana dulu?"
"Baiklah!"
"Kemana anak itu pergi? Apa dia senekat itu kabur dari Restoran ini? Memang itu anak gak pernah berubah dari dulu dan harus di kasih pelajaran!"kesal Papanya Gibran yang terlihat marah.
"Gimana Pa? Apa Gibran masih ada didalam sana?"
"Tidak ada Ma? Papa baru sadar kalau Gibran telah mengirimkan sebuah pesan ke Papa, tapi Papa baru sadar sekarang. Dan dia mengatakan jika ada hal yang harus dia lakukan sekarang, jadi karena sudah tidak ada waktu lagi dia langsung pergi meninggalkan acara malam ini, Herlan maafkan Putra saya kalau dia se'lancang ini?"
"Tidak apa-apa kok Betran kan yang namanya seseorang juga pasti ada kesibukan jadi itu sudah jadi hal yang lumrah, gak papa kok!" balas Papanya Revi.
"Sekali lagi maaf ya?"
"Iya gak papa ya sudah kita lanjutkan lagi makannya."
"Baiklah!"balas Papanya Gibran yang kemudian menatap kearah Istrinya.
Mendengar dengan kepala, mata dia sendiri jika dirinya telah dijodohkan dengan Revi yang tak lain adalah teman sekelasnya sendiri. Gibran yang dari awal tidak pernah mencintainya, secara diam-diam Gibran pun pergi meninggalkan acara makan malam itu tanpa sepengetahuan Mama dan Papanya.
Berhasil kabur dari Restoran itu dengan cara menyelinap di pintu belakang Restoran, Gibran yang jalan kaki menulusuri anak jalan ia pun merasa sangat kesal. Segan-segan ia pun melepas jas hitam yang tadinya dia kenakan dalam menghadiri acara makan malam keluarganya.
"Kalau aku tahu niat Papa dan Mama hanya untuk menghadiri acara makan malam yang tidak penting ini, lebih baik dari tadi aku tidak mengikutinya, lebih baik aku berdiam diri di rumah saja?" kesal Gibran yang langsung melepas jas dan dasi yang dia kenakan.
" Sebenarnya apa sih yang ada dipikiran Papa dan Mama sekarang? Apa mereka akan terus menerus mengatur hidupku dengan cara seperti ini, apa belum puas mereka mengatur-ngatur hidupku selama ini, sampai-sampai soal pasangan saja mereka juga harus mengaturnya?"gerutu Gibran yang merasa sangat geram.
Dalam perjalanannya yang menulusuri anak jalan, Gibran yang pada saat itu sudah dalam keadaan kesal ia pun dibuat tambah kesal lantaran ada seseorang yang menabrak dirinya dari arah belakang, yang dimana seseorang itu yang tak lain adalah seorang wanita yang sedang berlari dalam kondisi menangis.
"Ini tidak mungkin Papa tidak mungkin melakukan hal seperti itu, itu tidak mungkin?"
Batin gadis itu yang tidak terhenti-hentinya menangis, bahkan air matanya yang terus mengalir dan tidak sanggup untuk dia bendung setelah ia mendengar pernyataan pahit mengenai Papanya yang disebut dengan sebutan seorang pembunuh.
__ADS_1
BRUK...
"Astaga kamu itu kalau jalan punya mata gak sih, apa kamu gak lihat jalan disini lebar banget, kenapa kamu sampai menabrak ku? Kamu gak punya mata ya?"bentak Gibran yang terus menerus memarahi wanita itu, yang tanpa ia sadari jika Putri lah orang yang tidak sengaja menabraknya barusan.
Akan tetapi mendengar Gibran yang terus menerus memarahinya, tangisan Putri malah tambah semakin menjadi, melihat jika Putri seseorang yang sedang dia marahi barusan, spontan Gibran pun terkejut dan merasa cemas lantaran melihat Putri yang menangis tanpa henti.
"Astaga Putri?"ucap Gibran yang begitu terkejut setelah Putri menatap kearahnya.
"Putri? Apa yang terjadi sama kamu sekarang, kenapa kamu malam-malam gini masih berkeliaran disini. Maafkan aku -aku tidak tahu kalau itu kamu, jadi maafkan aku ya..maafkan aku!"ucap Gibran yang terlihat cemas.
"Putri. Kamu jangan menangis seperti ini, aku kan tidak menyakiti kamu maupun membuatmu terluka?Aku hanya memarahi kamu tadi, kenapa tangisan kamu tambah semakin menjadi seperti ini, aku mohon berhentilah kamu jangan menangis nanti kalau orang-orang lihat gimana, Putri berhentilah!"
Cemas Gibran yang takut jika ada orang yang melihat situasi ini. Berfikir tentang hal yang bukan-bukan, Gibran yang tidak ada cara lain lagi ia pun lantas memberikan satu pelukan.
"Maafkan aku?Aku tidak tahu masalah apa yang membuatmu jadi bisa menangis sejadi ini, tapi mungkin dengan pelukan yang aku lakukan ini aku bisa membuat hati kamu sedikit merasa lega. Jadi menangislah dan keluarkan semua luka yang kamu rasakan saat ini, aku siap pinjamkan bahuku ini untuk sandaran kamu jadi menangislah!"perintah Gibran yang perlahan-lahan ia pun mendekap punggung Putri dari belakang.
30 MENIT KEMUDIAN.
"Dimana apa perasaan kamu sudah cukup lega sekarang?" tanya Gibran sambil memperhatikan Putri yang dengan lahapnya menyantap Bakso kesukaannya setelah Gibran yang tadinya mengajak Putri untuk pergi.
"Iya aku sekarang sudah bisa cukup lega, terima kasih ya atas traktirannya ini?"
"Iya sama-sama? Oh iya tadi aku melihat kamu menangis sejadi-jadinya, tapi aku tidak tahu apa yang membuatmu bisa menangis seperti itu, apa kamu sedang lagi ada masalah?Cerita padaku?"
"Tidak. Aku tidak ada masalah kok, tadi aku hanya kelilipan saja dan kamu salah jika mengganggap ku tadi sedang menangis?" balas Putri yang mencoba mengalihkan pembicaraan Gibran.
"Oh...kamu sedang kelilipan rupanya, kamu pikir aku bodoh apa? Aku bisa bedain lagi mana yang menangis dan mana yang lagi kelilipan jadi kamu gak bisa berbohong padaku seperti ini? Sudahlah jujur saja padaku kamu pasti sedang lagi ada masalah kan?Jujur saja aku siap kok jadi teman curhatan kamu? ceritakan padaku sekarang!"suruh Gibran.
"Gibran udah terlalu baik padaku dan aku tidak mau membuatnya dalam masalah hanya karena aku. Apalagi Sally itu bukanlah orang yang bisa diajak berdamai, belum lagi dia juga orang nekat yang bisa melakukan segala cara, jika aku katakan mengenai masalahku ini kepada Gibran, pasti Gibran tidak akan tinggal diam dan yang ada dia yang akan mendapat masalah nantinya, jadi mendingan aku pendam saja masalahku ini?" batin Putri yang kemudian dia malah melamun.
"Heyy sadarlah aku ini bertanya kepadamu? Kenapa kamu malah melamun sih?"
"Iya maaf-maaf!"
"Ada apa?"Apa kamu memutuskan inggin bercerita kepadaku?"tanya Gibran.
"Mmm tidak!"balas Putri sambil menggelengkan kepalanya.
"Mmm baiklah kalau gitu? Aku tidak akan memaksamu untuk mau mengatakannya, jadi cepat habiskan bakso kamu itu nanti kalau keburu dingin tidak enak nanti?"
"Baiklah aku akan menghabiskannya, tapi apa aku boleh minta satu permintaan lagi padamu?" pinta Putri.
"Permintaan. Baiklah aku akan kabulkannya, apa permintaan kamu itu?"tanya balik Gibran.
"Mmm apa aku boleh menambah satu porsi lagi?"perintah Putri sambil tersenyum malu.
"Astaga ini anak... sekarang aku sudah mengetahui alasannya kenapa kamu itu sangatlah berat pada saat aku gendong tadi, ternyata ini alasannya, kamu itu sangatlah rakus ini makan aja punyaku ini, aku sudah tidak selera makan sekarang!"balas Gibran yang kemudian memberikan mangkok berisi bakso kepada Putri.
"Kenapa?Apa kamu tidak suka Bakso?"tanya Putri yang kemudian langsung menyantapnya.
"Bukannya aku tidak suka bakso. Aku sudah tidak ada selera makan. Karena melihatmu yang menghabiskan dua mangkok sekaligus ini sudah membuatku bisa merasa kenyang sendiri, jadi cepat makanlah!"perintah Gibran sambil terus memandang Putri yang lagi asyiknya makan.
"Mmm baiklah kalau gitu!"
"Aku tahu ada masalah yang masih menggangu pikiran kamu Putri, tapi kamu berusaha untuk menyembunyikan masalah itu dariku. Aku akui kamu itu gadis yang sangat kuat walaupun hati kamu sedang lagi ada masalah yang mengganggumu?Kamu tetap berusaha sebisa mungkin untuk menyembunyikan luka itu dengan tetap tersenyum dihadapan orang, walaupun orang-orang tidak tahu seberat apa penderitaan yang kamu rasakan sekarang ini." Batin Gibran yang secara diam-diam dia pun memandang wajah Putri.
"Aku yakin lo pasti bisa menghadapi masalah yang lo hadapi ini, jadi tetap semangat lah dan jangan mudah putus asa aku yakin lo pasti bisa!" ucap Gibran yang seketika langsung memegang ujung kepala Putri dengan menunjukkan senyuman manisnya itu pada Putri.
Putri yang melihat tindakan yang dilakukan Gibran saat ini, seketika Putri pun malah ikut terdiam tanpa mengatakan apapun.
__ADS_1
BERSAMBUNG...