
"Ini semua sudah diteliti, kan?"
"Sudah, Bu."
"Terima kasih ya, Tom. Aku sudah banyak merepotkanmu."
"Tidak apa-apa, Bu. Pak Melvin sudah memberikan bonus yang besar. Katanya bulan depan juga saya bisa cuti 2 minggu."
"Hahaha ... jangan terlalu percaya kalau dia mengatakan akan memberikan cuti."
"Bu Ruby ...."
Tiba-tiba Ruby mendapat kejutan dengan kedatangan anak-anak dari divisi pemasaran. Mereka membawa banyak makanan dan tentunya bingkisan hadiah ke ruangannya.
"Selamat atas pernikahannya ya, Bu ... tidak disangka ternyata Ibu menikah dengan Pak Presdir," ucap Imel.
"Terima kasih, Mel."
"Bu Ruby, ayo kita makan bersama untuk merayakan kebahagiaan Ibu .... " Dewi dengan semangat menarik Ruby untuk duduk di sofa seperti di ruangannya sendiri. Mereka duduk berjajar mengelilingi Ruby dan menata makanan serta hadiah yang dibawa memenuhi meja.
"Pak Tomi, ayo ikut gabung!" Ryan menarik tangan Tomi agar ikut bersama mereka.
"Kalian apa-apaan sih, aku malah jadi malu."
"Kenapa malu, Bu. Ibu Ruby sudah banyak membantu kami juga sering mentraktir kami. Sekarang, giliran kami yang memberikan kejutan untuk Ibu," sahut Arif.
"Ibu Ruby, kenapa nikah tidak bilang-bilang? Apa takut kami akan seperti netizen yang lain? Kami selalu mendukung ibu, loh!" seru Ryan paling semangat.
"Hahaha ... iya, Ryan. Pernikahannya memang hanya untuk keluarga saja yang tahu. Nanti kalau kami mengadakan resepsi, kalian pasti diundang."
"Yeay!"
Ruby sangat senang mendapat kejutan dari orang-orang yang dulu menjadi anak buahnya. Mereka masih terlihat kompak, ia merasa lega hubungan mereka terjalin dengan baik. Mereka menikmati makanan yang telah dibeli dengan cara patungan. Sesekali humor dan banyolan yang keluar dari mulut Ryan memnuat semua orang tertawa terpingkal-pingkal.
Sayangnya, kebersamaan mereka tidak dihadiri oleh Meka. Wanita kini telah pindah perjuangan di rumah suaminya. Menjadi Meka yang tiba-tiba menjadi kesayangan suami dan mertua tak selamanya menyenangkan. Akhir-akhir ini juga dia sering mendapat pesan dari nomor tidak dikenal yang terus mencacinya. Meka yakin itu pesan dari salah satu pihak keluarga Renata.
__ADS_1
Terbukti hari ini ibunya Renata datang ke rumah mencaci maki dirinya yang sedang menyusui Callista.
"Dasar wanita paling tidak tahu diri! Sudah tahu Ferdian memiliki istri masih saja kamu goda! Berani-beraninya juga kamu menyusui cucuku! Kalau tahu begini, aku tidak akan mengizinkan Ferdian merawat putri dan cucuku." Tere, ibunda Renata merebut Callista dari gendongan Meka.
"Aku kira kamu teman baik Renata. Dulu kalian sering main bersama. Tidak disangka kamu mengkhianati Renata saat dia sedang koma. Keterlaluan sekali!"
Meka hanya bisa terdiam mendengarkan makian Tante Tere.
"Ada apa ini?" Ferdian yang baru saja pulang ke rumah saat jam makan siang terlihat emosi mendengar keributan di rumahnya. Ternyata ada ibu mertuanya di sana. "Mama Tere kenapa ada di sini?"
Tere melirik tajam ke arah Ferdian sembari menggoyang-goyang Callista yang terus menangis. "Memangnya kenapa? Tidak boleh aku mengunjungi anak dan cucuku sendiri? Kurang ajar kamu Ferdian, diam-diam menikah lagi hanya karena Renata tidak bisa apa-apa!"
"Meka, kamu tidak apa-apa?" Ferdian mendekati Meka yang tampak pucat wajahnya. Ia memeluknya seakan memberi tahu bahwa ia tak perlu khawatir.
Tere semakin murka melihat Ferdian menunjukkan perhatiannya kepada Meka. "Ferdian!" bentaknya.
"Meka juga istriku, sama seperti Renata. Jangan berani memakinya terutama di hadapanku!" Ferdian ikut menunjukkan kemarahannya. Mekamemegangi tangan Ferdian agar dia tidak kelewat emosi menghadapi orang tua. Ferdian tipe yang suka melawan sekalipun itu orang tuanya sendiri.
"Kembalikan Callista, dia terus menangis karena masih kehausan." Ferdian berusaha meminta kembali Callista.
"Mau Callista juga sakit seperti Renata, hah! Dia masih bayi dan membutuhkan ASI! Apa Mama bisa memberikannya?" bentakan Ferdian membuat Tere membisu. Terpaksa ia merelakan Callista kepada Ferdian.
Ferdian memberikan Callista kepada Meka. "Sayang, susui dia di dalam kamar. Aku akan menyelesaikan masalah ini." Ia mencium kening istrinya.
Setelah Meka membawa pergi anak perempuannya, Ferdian mengajak Tere duduk. Keduanya masih sama-sama emosi.
"Aku akan membawa Renata dan Callista pergi dari sini!" Tere membuang muka, tak mau menatap wajah Ferdian.
"Tidak ada yang bisa membawa Renata pergi kecuali aku menceraikannya. Callists juga putriku, dia tetap harus bersamaku."
"Hah! Baru kali ini ada lelaki bejat yang tega membawa wanita lain saat istrinya koma bahkan sampai dijadikan sebagai istri kedua."
"Aku melakukannya demi Renata dan Callista."
"Jangan menjadikan mereka sebagai alasan! Aku tahu itu kamu lakukan hanya untuk kesenanganmu sendiri." Tere menertawakan alasan yang dikemukakan oleh Ferdian. "Apa yang sudah kamu lakukan benar-benar telah menghina keluarga kami."
__ADS_1
"Kalau aku tidak peduli dengan Renata, mungkin ku sudah mengembalikan Renata ke keluarga kalian. Aku masih merawatnya dengan baik, memberikan dokter terhebat sebagai usaha agar dia bisa bangun kembali."
"Callista masih bayi, perlu asupan ASI yang cukup. Meka orang yang tepat untuk menjadi ibu sambungnya. Aku tahu yang terbaik untuk istri dan anakku. Mama jangan terlalu ikut campur."
"Jangan terlalu ikut campur? Maksudmu apa? Renata itu anakku! Wajar kalau aku mengkhawatirkannya, apalagi suaminya sudah memiliki teman tidur baru yang akan membuat lupa kepada putriku."
"Kalau Mama sok peduli dengan Renata? Kenapa baru sekarang? Dia jadi begini juga karena trauma masa lalunya. Siapa yang membuat dia stres dan depresi?"
"Kamu menyalahkan orang tua!" Nada bicara Tere meninggi.
"Memangnya Mama tidak pernah merasa bersalah? Sejak dulu Renata juga sudah sering mengeluh kalau dia lelah mengikuti banyak les privat, tapi Mama tetap memaksanya."
Tere kian emosi. Meskipun ucapan Ferdian ada benarnya, ia tetap tidak mau disalahkan dengan kondisi putrinya.
"Besok, Mama akan membawa Renata pergi dari rumah kamu. Mama akan mengembalikannya setelah dia sembuh. Saat itu, kamu harus meninggalkan Meka. Mama tidak percaya dengan perawatan yang kamu berikan padanya di sini."
Tere memilih langsung pergi setelah mengungkapkan keinginannya. Ferdian masih tertegun di tempatnya. Ia melirik ke arah kamar tempat Renata beristirahat.
"Di .... " Meka memanggilnya.
Ferdian menoleh. "Callista sudah tidur?"
"Sudah."
"Baguslah kalau begitu."
"Kalau Tante Tere keberatan aku tinggal di sini, aku bisa tinggal di luar atau kembali ke rumahku bersama Davin."
"Siapa yang menyuruhmu seperti itu?" Ferdian tidak suka dengan perkataan Meka.
"Aku tidak ingin ada keributan. Kita sudah sama-sama dewasa."
"Kamu istriku, ini rumahku. Kamu bisa tinggal si sini selama menjadi istriku."
Ferdian pergi meninggalkan Meka. Ia berjalan masuk ke dalam kamar Renata. Meka jadi merasa serba salah. Apapun yang ia lakukan meskipun tujuannya sebenarnya baik, orang lain belum tentu menerimanya dengan baik.
__ADS_1