
"Ini kayaknya malah semakin jauh dari arah rumah saya, Pak ...." Setelah menghabiskan makanannya, Gita kembali fokus memperhatikan jalanan yang dilewati oleh mobil mereka.
"Kamu sendiri yang meminta untuk putar kota dulu. Mana saya tahu dimana rumahmu." Rei tidak mau disalahkan. Ia hanya menyusuri jalanan sejak tadi karena Gita belum memberitahu arah rumahnya.
"Saya tinggal di Rusun Mayapada, Pak."
"Oh, oke. Aku putar balik di depan, ya! Atau kamu mau makan lagi di restoran terdekat? Siapa tahu belum kenyang."
"Tidak usah, Pak. Sudah diantar dan diberi makanan yang tadi saja saya sudah sangat berterima kasih."
Malam semakin larut. Lalu lalang kendaraan di jalanan justru semakin padat. Seolah kehidupan yang sebenarnya baru saja dimulai. Kota besar memang tak pernah ada matinya. Ketika rutinitas siang hari telah berakhir, maka kehidupan malam baru saja dimulai.
"Gita ...."
"Iya, Pak?" Gita menoleh ke arah Rei.
"Apa kamu mau membantuku?"
"Membantu apa, Pak? Jangan yang aneh-aneh, ya ... soalnya saya hobi memukul orang aneh."
"Temani saya datang ke pesta pernikahan. Sebagai seorang pacar."
Gita sampai tercengang memandangi Rei. Matanya berkedip-kedip seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Pacar, Pak?" tanyanya memastikan.
"Iya. Kamu bisa?"
"Kenapa harus saya?"
"Waktu itu saya sudah mengaku sebagai pacar di depan mantan kamu. Saya juga mau kamu melakukan hal yang sama."
"Mantan pacar Bapak mau menikah, ya?"
"Iya," jawab Rei datar.
Rei belum sepenuhnya melupakan Livy. Akan tetapi, ia harus memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja setelah menikah. Ia tidak ingin Livy merasa bersalah karena telah mengakhiri hubungan mereka yang tak mungkin bersatu.
__ADS_1
"Boleh nggak sih, saya tertawa? Bapak yang sesempurna ini saja bisa dicampakan wanita ya, Pak! Wanita seperti apa yang berani meninggalkan lelaki tampan, cerdas dan kaya raya seperti Bapak? Saya jadi penasaran."
"Kenapa membahas hal lain? Jawab saja pertanyaan saya." Rei seakan tak mau membahas lebih jauh tentang Livy. Gita bisa membaca dari cara bicara Rei.
"Iya, Pak. Saya bisa." Gita seketika terdiam tidak berani meledek bosnya.
"Bagaimana kalau kita mampir sebentar ke mall untuk membeli pakaian untukmu?" Rei tetap berbicara dengan nada datar.
"Tidak usah, Pak. Kalau hanya pakaian, saya punya banyak."
"Baiklah, saya langsung antar kamu pulang saja."
*****
"Kita makan bareng, yuk!" Indra masuk ke kelas Elen setelah perkuliahan selesai.
"Maaf, aku tidak bisa!" Elen mencoba mengabaikan lelaki yang hampir setiap hari mengganggunya. Ia memasukkan buku serta alat tulis ke dalam tas.
"Kenapa sih, kamu selalu ketus padaku, padahal aku selalu berusaha bersikap baik padamu."
Sebenarnya Elen sudah sangat jengah menghadapi Indra. Mau dijelaskan berapa kalipun lelaki itu tak akan pernah mau mengerti. Elen sangat takut berhubungan dengan lelaki yang memiliki status sosial jauh lebih tinggi daripada dirinya. Beberapa kali ia memiliki pengalaman gagal menjalin hubungan dengan lelaki karena kondisi keluarganya yang kini terpuruk.
Elen mundur teratur karena yang melarangnya adalah ibu Indra sendiri. Namun, Indra terus mendesaknya agar mau menjadi pacarnya. Bagi Elen, percuma berpacaran jika tidak ada kejelasan tentang masa depan. Ia tetap menolak Indra.
Indra yang marah sampai menghubungi pihak kampus untuk mencabut beasiswa Elen. Tujuannya agar Elen meminta bantuannya. Bukannya menghubungi Indra, Elen justru menikah dengan Ardi agar bisa meneruskan kuliahnya.
"Teman yang lain juga bersikap baik padaku, Ndra. Tapi, tidak ada yang seperti dirimu. Aku juga sudah menikah, tolong dimengerti bahwa wanita ataupun lelaki yang sudah menikah harus membatasi hubungan dengan lawan jenis."
Elen bangkit dari bangkunya. Indra masih mengikuti saat Elen berjalan keluar dari ruangan. Lelaki itu sangat sulit diberi pengertian. Ingin rasanya Elen pindah kampus agar tidak lagi diganggu olehnya.
"Aku yakin kamu menikah karena terpaksa, kan? Pasti hanya karena uang kuliah. Apa kalian melakukan pernikahan kontrak? Berapa lama aku harus menunggu?"
Indra memberikan banyak pertanyaan kepada Elen. Anehnya, semua pertanyaan yang diberikan memang benar. "Kamu apa-apaan sih, Ndra ... bisa-bisanya kamu mengira kalau pernikahanku hanya main-main." Elen mempercepat langkahnya. Indra turut mengimbangi langkah Elen seakan tidak rela jika wanita itu menghilang dari sisinya.
"Aku bisa menunggu asalkan kamu memberi kepastian."
__ADS_1
"Ada banyak wanita yang bisa kamu ajak pacaran atau menikah, Indra. Tidak harus aku."
"Tapi, aku maunya kamu."
"Aku tidak bisa. Aku sudah menikah dan pernikahan kami bukan main-main. Kami menikah karena saling cinta," kilah Elen.
"Aku sudah lebih jauh mengenalmu daripada dia. Aku masih tidak percaya. Pernikahan kalian terkesan buru-buru."
"Terserah apa katamu. Aku sudah pusing menjelaskannya." Elen menyerah untuk berbicara. Indra terlalu keras kepala.
Indra memegangi lengannya, menghentikan langkahnya. "Elen, aku benar-benar mencintaimu. Apa kamu tidak bisa melihat kesungguhanku?"
Elen juga tahu itu. Entah mengapa Indra sangat ambisius untuk memilikinya. Bisa jadi dia benar-benar cinta atau sekedar terobsesi. Secinta apapun Indra padanya, jika ibunya sudah mengatakan agar dia menjauhi putranya, maka Elen tak akan meladeni perasaan Indra.
"Elen ...." Suara lembut Ardi mengagetkan Elen. Reflek ia melepaskan paksa tangan Indra dari lengannya.bIanjadi gugup seakan baru saja ketahuan sedang selingkuh.
"Mas Ardi kok ada di sini?" Elen tidak menyangka Ardi akan datang ke kampusnya.
"Aku selesai kerja lebih awal, makanya ingin menjemputmu pulang. Dia siapa?" tanya Ardi.
"Ah, dia Indra, kakak tingkatku." Elen menjawabnya dengan canggung.
"Apa kamu suaminya Elen?" tanya Indra dengan berani.
"Benar. Apa ada masalah?" Ardi heran lelaki yang bersama istrinya bisa menanyakan hal seperti itu.
"Aku menyukai Elen." Indra mengatakannya dengan tegas, bahkan sampai membuat Ardi tercengang. Tidak bisa dibayangkan ada lelaki lain yang menyatakan cinta kepada seorang wanita bersuami tepat di depan sang suami.
"Apa kamu sudah gila?" tanya Ardi keheranan. Elen tak bisa berkata-kata lagi. Indra mengucapkan apa yang ada di otaknya tanpa berpikir.
"Aku yakin pernikahan kalian hanya sementara. Setelah kamu menceraikan Elen, aku akan mengambil Elen darimu."
"Apa!?" Ardi kaget dengan perkataan Indra. Ia melirik tajam ke arah Elen.
"Mas, tolong jangan dengarkan dia. Ucapan Indra memang suka aneh-aneh." Elen sudah sangat tidak enak hati menjelaskan kepada Ardi.
__ADS_1
"Apanya yang aneh, Elen? Kamu jangan mau dimanfaatkan oleh lelaki seperti dia. Jangan mau terlibat pernikahan tanpa rasa cinta!" Indra masih ngotot dengan pendapatnya.
"Mas, kita pergi saja. Aku bisa menjelaskan semuanya." Elen menarik paksa tangan Ardi agar pergi menjauh dari Indra. Ia tak ingin situasinya semakin rumit. Ardi pasti akan salah paham setelah mendengar perkataan Indra.