PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
BERTEMU MANTAN 2


__ADS_3

Yang bilang bab kemarin kependekan, coba dibaca ulang, ya ... kemarin sudah aku revisi.


*****


"Waktu perkenalan yang lama bukankah tidak menjamin bisa menikah? Buktinya kalian putus setelah tiga tahun pacaran." Ucapan Rei memukul telak Jimmy. Ia tak bisa berkata-kata.


Dalam hati sebenarnya Jimmy tidak rela melepaskan Gita dari kehidupannya. Tidur dengan wanita lain adalah sebuah kesalahan terbesarnya. Akan tetapi, cintanya kepada Gita bukanlah sesuatu yang palsu. Jimmy masih mencintai mantan pacarnya.


Ia sengaja mempersulit kehidupan Gita agar wanita itu tergantung padanya. Setelah dipergoki sedang bermesraan dengan Glenka, Jimmy begitu panik akan kehilangan Gita dari sisinya. Bukannya meminta maaf, justru dirinya balik menyalahkan Gita atas perbuatannya. Ia hanya mencari-cari alasan agar Gita memaklumi apa yang dilakukannya.


Setelah usahanya gagal untuk mendapatkan maaf, terpaksa ia mengambil alih tabungan dan apartemen milik Gita yang dulu ia pinjam untuk jaminan modal investasi. Saking percayanya Gita, seluruh hartanya ia pasrahkan kepada Jimmy. Niatnya, mereka akan sesegera mungkin menikah menunggu Jimmy kembali mendapatkan pekerjaannya.


Meskipun semua telah ia ambil dari Gita, wanita itu ternyata tetap memilih untuk meninggalkannya. Ia bahkan rela bekerja menjadi seorang karyawan rendahan hanya untuk menyambung hidup. Jimmy mengharapkan Gita mengiba dan meminta bantuannya serta memaafkannya. Hal yang sampai sekarang tidak Gita lakukan. Rencananya tak berjalan sesuai keinginannya.


"Kalau tidak salah, Anda Pak Reino Ahmad, kan? CEO di perusahaan ini?" tanya Glenka memastikan. Ia sepertinya pernah bertemu dengan Rei di suatu tempat.


"Benar sekali. Anda pasti putri dari pemilik perusahaan XXX." Rei menyunggingkan senyum.


"Iya. Wajah Anda tidak asing untuk saya. Sepertinya kita pernah bertemu."


"Benarkah? Aku hanya mengenalmu karena ayahmu sering memamerkan fotomu kepada rekan bisnisnya. Salah satunya kepadaku." Rei pernah ingin dijodohkan oleh ayah Glenka.


"Oh, hahaha ... ayahku memang suka menjodoh-jodohkan anaknya. Tapi, aku punya pilihanku sendiri." Glenka mempererat pelukannya pada Jimmy.


"Aku turut senang. Semoga kalian langgeng dan aku tidak perlu cemas ada lelaki yang masih mencintai calon istriku." Rei mengusap lembut puncak kepala Gita. Gita hanya bisa terbengong-bengong dengan akting yang dilakukan oleh bosnya.


"Apa Anda serius sedang menjalin hubungan dengan dia?" Glenka memandang ragu pada keduanya. Rei dan Gita tidak terlihat sebagai pasangan yang serasi.


"Memangnya kenapa, ada yang salah? Kami sama-sama single, tidak merebut siapa dari siapa." Rei sedikit memberi sindiran.


"Yah, tidak apa-apa. Hanya aneh saja, Anda CEO dan dia hanya cleaning service." Glenka tersenyum canggung.


"Ah, Gita memang kadang suka aneh. Katanya mau mencoba jadi petugas kebersihan yang kerjanya tidak perlu pakai otak."

__ADS_1


"Hahaha ... iya, benar. Aku sedang malas memakai otak untuk kerja maupun berbicara dengan orang. Apalagi kalau lawan bicaranya juga tidak punya otak," sahut Gita. Rei membelanya, tapi ucapannya tetap saja bertujuan untuk meledeknya.


"Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi, apa boleh aku membawa Gita pergi? Dia harus kembali bekerja." Rei memberi kode kepada Gita mengajaknya pergi.


Sebelum sempat mereka melangkah, gangan Gita ditahan oleh Jimmy. Pegangannya begitu erat sampai Gita tak bisa melepaskannya. Glenka terlihat geram melihat kelakuan Jimmy.


"Bisa lepaskan tanganmu dari Gita?" pinta Rei.


"Git, ikut aku sebentar, kita harus bicara." Jimmy menatap Gita dengan tatapan serius.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku tidak ingin bicara denganmu." Gita menolak permintaannya.


"Kamu sudah dengar sendiri, kan? Gita tidak mau denganmu." Rei melepaskan genggaman tangan Jimmy dari Gita lalu buru-buru membawanya pergi.


Mereka berdua tidak lantas kembali bekerja , melainkan duduk di area tangga darurat yang biasa mereka gunakan sebagai tempat bertemu. Gita tampak terduduk lesu tak bersemangat bersandar pada dinding tangga.


"Kenapa, masih menyesal meninggalkan lelaki seperti dia? Kamu belum bisa move on?" Rei mencoba mengajak bicara.


"Bukan seperti itu. Saya hanya menyesal karen tidak bisa membunuhnya. Saya ingin sekali memukulinya hingga mati."


"Terima kasih, Pak. Anda sudah menyelamatkan saya hari ini. Tolong jangan minta imbalan, ya. Saya kan tidak punya uang."


Rei memandangi lekat-lekat wajah wanita yang tampak tidak bersemangat itu. "Kalau mau menangis, tidak usah ditahan. Mumpung di sini tidak ada orang lain selain saya."


"Hahaha ... untuk apa saya menangisi lelaki seperti dia."


"Matamu tidak bisa berbohong kalau kamu sedang sedih."


Gita terus tertawa menertawakan apa yang terjadi padanya. Sampai air matanya tiba-tiba mengalir dan tawanya berubah menjadi tangisan. Rasanya segala beban di hatinya ingin ia luapkan lewat air mata. Jiwanya seakan terguncang. Meskipun ia sudah mengikhlaskan, kadang kala rasa sedih itu tiba-tiba muncul. Apalagi hubungan yang ia bangun dengan Jimmy bukan hitungan hari, melainkan tahunan. Sulit untuk begitu saja melupakan segala yang pernah mereka lalui.


Baru kali ini air matanya tumpah di depan orang lain. Sekalipun itu di depan Ririn, ia tak pernah mengekspresikan kesedihannya. Orang selalu menganggapnya sebagai wanita ceria yang hidupnya dinaungi pelangi. Sebesar apapun masalah bisa ia lewati dengan mudah tanpa tahu sebenarnya ia memendam luka di setiap senyumannya.


Rei membiarkan Gita menangis sepuasnya. Tak ada sepatah katapun yang ia ucapkan untuk menenangkannya.

__ADS_1


"Jadi, apa karena wanita itu kamu dikeluarkan dari perusahaan tanpa alasan yang jelas?" Rei mulai berani membuka suara saat Gita sudah tenang.


Wanita itu diam tak menjawab pertanyaan Rei.


"Dia putri dari pemilik perusahaan tempatmu bekerja yang memakai kekuasaan ayahnya untuk menyingkirkanmu dari sana."


"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Tidak ada gunanya juga membahas." Gita terlihat tak bersemangat membicarakan tentang masalahnya.


"Terkadang bercerita bisa meringankan beban pikiran kita. Kamu juga pernah melakukannya saat kita pertama bertemu."


Gita tersenyum. Ia merasa lucu dengan pertemuan mereka di klab malam itu. Ia dengan percaya dirinya mengajak Rei tidur dengannya. Ia juga dengan mudah menceritakan masalah yang menimpanya.


"Dulu kita tidak saling kenal, Pak. Makanya saya tidak sungkan bercerita. Kalau sekarang sudah beda."


"Memangnya sekarang kita sudah kenal, ya?"


Gita mencebikkan bibirnya kepada orang yang menyebalkan itu.


"Kalau mau balas dendan, lakukan dengan benar. Buat hidupmu bahagia tanpa dia. Saya rasa itu akan menjadi beban paling berat untuknya. Apalagi kalau kamu menjadi lebih sukses setelah berpisah dengannya."


Gita menatap ke arah Rei. Ucapannya memang sangat tepat. Ia harus bahagia dan membuktikan hidupnya baik-baik saja kepada Jimmy. "Bagaimana kalau kita pacaran, Pak? Sepertinya Jimmy kesal saat melihat Bapak. Dia pasti merasa kalah saing dari segi harta dan ketampanan," celetuk Gita.


"Saya tidak tertarik."


"Ayolah, Pak ... Bapak kan baik hati dan suka menolong. Hanya pura-pura, kok ...."


"Memangnya kamu punya apa sampai berani menyuruh saya?" tanya Rei.


"Tidak punya apa-apa sih, Pak. Bapak kan sudah kaya, apa masih kekurangan uang?"


"Waktu saya terlalu berharga kalau hanya untuk itu."


"Hah! Terserah Bapak saja lah! Saya jadi bingung Anda sebenarnya mau membantu apa tidak!" Gita sangat kesal. Ia bangkit dari duduknya dan berniat pergi dari sana.

__ADS_1


"Kapan saja kamu butuh, saya siap jadi pacar pura-puramu untuk menghadapi mantanmu itu," ucap Rei ketika Gita hendak pergi.


__ADS_2