
Memandang serius sebuah kotak yang barusan diberikan pada Bimo untuknya. Putri sehabis membukanya kotak tersebut, dirinya nampak tak percaya dengan jenis gaun apa yang barusan diberikannya.
"Bimo ini aku tidak salah lihat apa aku harus mengenakan pakaian terbuka ini? Maksudnya kamu kan tau sendiri aku paling tidak suka sama pakaian seksi seperti ini jadi kamu tau kan apa maksudku?"
"Put! Sudahlah apa yang aku minta kamu tinggal jalankan saja. Ini juga hanya sehari kamu mengenakan pakaian seksi ini, bahkan dibilang tidak sampai seharian juga jadi kamu jangan banyak membangkang pakai saja!"
"Ada apa dengan Bimo? Aku tau betul ini bukan sifat aslinya, bahkan dia tau sendiri kalau aku paling tidak suka mengenakan pakaian seksi seperti ini, tapi kenapa hari ini dia malah semakin memaksaku seakan-akan tidak perduli jika aku tidak suka dengan semua ini?"batinnya.
"Put! Apa permintaan yang barusan aku katakan masih tidak kamu tanggap serius? Aku barusan menyuruhmu untuk cepat berganti apa sesusah ini aku memerintahkan mu? Sebenarnya kamu itu mencintai ku atau tidak sih sama aku kenapa aku hanya minta permintaan sepele ini kamu langsung menolak?"
"Bim! Ini bukan soal suka atau tidak, kamu tau sendiri kita tidak dianjurkan untuk berpakaian seksi seperti ini apalagi didepan banyak orang teman-teman kamu nanti, aku sama sekali tidak terbiasa apa kamu sungguh ingin memaksaku juga?"
"Baiklah jadi kamu mau bilang kalau kamu tidak jadi menemaniku? Itukan alasan yang paling jelas untuk kamu katakan saat ini?"
"Baiklah aku paling malas untuk masalah berdebat, aku akan memakai pakaian haram ini apa kamu puas!"
Beranjak pergi dari pandangan Bimo dan segera kembali kedalam rumahnya untuk berganti pakaian seksi ini, Bimo yang terlihat tanpa diselimuti rasa berdosa ia terlihat bersikap biasa seolah-olah tidak ada sesuatu yang terjadi.
Setibanya Bimo mau pun Putri ditempat mewah salah satu gedung besar yang telah dipakai untuk penyelenggara acara ini. Keduanya nampak sudah siap berbalut gaun hitam yang dipakai Putri dan juga jas putih yang dipakai Bimo membuat keduanya nampak seperti pasangan yang harmonis.
"Ayo kita masuk!"pinta Bimo dengan menggenggam erat tangan Putri.
Karena ruangan yang sudah penuh dengan para tamu, ditambah lagi beberapa laki-laki yang mulai menggodanya dengan lirikan matanya ia pun memutuskan untuk mengalihkan pandangannya. Tak lama kedatangan seseorang yang melirik dari ujung kaki sampai ujung kepala Putri tiba-tiba langsung mendatanginya dan ngobrol dengan Bimo sendiri.
__ADS_1
"Bimo ini sungguh-sungguh kekasih kamu? Kamu sungguh-sungguh beruntung bisa memiliki kekasih secantik dan seseksi ini kamu sungguh beruntung, oh iya siapa nama kamu?"ucap Pria itu dengan meminta jabat tangan.
"Namaku Putri,"balas Putri yang menerima jabat tangan itu, tapi tangan dari pria itu terlihat mengelus-elus tangan Putri, sadar Putri sigap langsung melepaskannya.
"Ya sudah Put kamu alangkah baiknya duduk disini, aku dan juga teman-temanku akan kesana untuk ngobrol-ngobrol sebentar kamu tidak masalah kan?"
"Kamu tidak akan lama kan? Maksudnya habis ngobrol kamu akan kesini lagi?"
"Iya aku akan secepatnya kesini jadi tenanglah ya sudah aku cabut dulu!" Beranjak dari hadapan Putri, Bimo yang menarik kedua temannya ketiganya ngobrol ditempat yang lain, sedangkan terlihat pandangan para lelaki terlihat hanya fokus pada arahnya. Bahkan tatapannya melihat dari ujung kaki sampai ujung kepalanya.
"Apa pakaikan yang aku kenakan ini sungguh-sungguh sudah kelewat batas? Kenapa mereka terus saja menatapku? Aku tidak tau lagi kamu sebenarnya kenapa Bim, jujur aku sangat riso ketika dipandang seperti ini?"batinnya yang hanya mampu menundukkan kepalanya.
"Ternyata sedari dulu Bimo tidak pernah berubah ya? Dia selalu saja mendapatkan kekasih yang sungguh-sungguh sangat sempurna? Wanita itu sangat seksi, bahkan Putri kekasih barunya ini aku rasa dia lebih menggoda dan menantang dari yang lain bukan?"ucap salah satu pria yang terus saja memandangnya.
Sedangkan tanpa dugaan dalam acara itu ada juga Gibran yang ikut menghadiri acara itu, mendengar seseorang menyebutkan nama Putri dan juga Bimo dalam benak pikirannya sekejab langsung ingat akan seseorang yang juga ia kenal.
"Putri ... Bimo ... Apa ini hanya kesamaan nama? Aku tau betul Putri paling tidak suka berpakaian seksi jadi aku rasa seseorang yang mereka sebut tidaklah Putri yang aku kenal tapi kenapa aku malah penasaran seperti apa wajah dari Putri yang ia kira?"
Mencoba mencari kebenaran dari ucapan yang barusan diucapkan kedua pria tadi, Gibran terlihat menyisir kerumunan orang, disaat pandangannya fokus pada langkah setiap orang kini fokusnya tertuju pada salah satu wanita yang berdiri secara tegak.
Berusaha untuk menarik gaun hitamnya yang seksi tapi berusaha apa ia menurunkan agar bisa sampai dibawah lutut nyatanya tidak membuahkan hasil. Kakinya terlihat pegal, ingin duduk tapi ia lupa tidak membawa jaket untuk ia kenakan sebagai penutupnya.
Sedangkan pandangan Pria yang tak lain adalah Gibran, wajahnya seketika terkejut bahkan dirinya terlihat tidak berkedip setelah tau siapa seseorang yang ia pandang sampai seperti ini.
"Putri? Apa aku tidak salah lihat ini sungguh-sungguh Putri tapi bagaimana mungkin bisa?"
__ADS_1
Melihat wanita yang dicintainya berniat duduk lantaran kakinya sudah merasa pegal setelah berdiri hampir lama. Akan Tetapi disaat ia memutuskan untuk duduk, pakaian yang dikenakannya tambah semakin membuatnya tidak nyaman yang tambah terlihat semakin pendek, dipandang banyak pria membuatnya ingin sekali menangis, bahkan dibilang air matanya itu sudah mulai terlihat dan terjatuh dari kedua sudut matanya.
Sedangkan Gibran yang sedari tadi memperhatikannya, dengan spontan ia melepaskan jas hitam yang dikenakannya berjalan kearah Putri yang langsung menutupi pakaian bawahan yang dikenakan Putri, Putri yang sadar ia pun sekejap langsung memandang seseorang itu yang tak lain Gibran sendiri.
"Gibran kamu?"tanya Putri dengan air matanya yang masih menjatuhi pipinya.
"Usaplah air mata kamu?"ucap Gibran yang langsung mengusap air mata Putri dengan jarinya tangannya.
"Gibran kamu kenapa bisa ada disini?"tanyanya lagi.
"Haruskah kamu memakai pakaian seksi seperti ini? Siapa yang menyuruhmu apa kamu sengaja ingin jadi tontonan semua orang di pesta ini? Mana Bimo?"tanyanya dengan wajah datar.
" Bimo yang menyuruhku! Aku berusaha menolak tapi dia tetap memaksaku? Dia pergi bersama dengan temannya tadi,"balas Putri.
"Gila! Apa maksud dia mempermalukan kamu seperti ini? Jika dia ingin memintamu untuk menemaninya kenapa juga dia malah lebih fokus ke sahabatnya?"tanyanya dengan tegas.
"Tuan Gibran kamu juga disini?"timpal seseorang yang seketika menimpali pembicaraannya.
"Apa anda sungguh-sungguh tidak bisa berfikir secara jernih? Pacar anda butuh jas anda untuk menutupi tubuhnya ini tapi kenapa anda malah membiarkannya kedinginan seperti ini mana tangung jawab anda? Apa ngobrol dengan sahabat anda dan mengorbankan kekasih anda jadi tontonan banyak orang itu kemauan anda?"tegas Gibran yang memberikan tatapan tajamnya.
"Maaf tuan tapi ini urusanku pribadiku dia juga kekasihku jadi tidak seharusnya anda ikut campur urusan kita! Mau aku meminta dia untuk berpakaian seperti apa itu sudah jadi urusan kami ayo kita pergi!"ajak Bimo yang langsung menarik tangan Putri dengan kasarnya.
Menarik tangan Putri secara kasar dan membawanya pergi dari hadapan Gibran. Putri mau pun Gibran yang sama-sama bingung akan perilaku Bimo, Gibran yang berniat ingin menghalanginya tapi ia lupa tidak seharusnya dirinya ikut campur sama urusanku orang lain, sedangkan Putri sendiri dirinya tidak bisa berbuat banyak kecuali hanya mampu menuruti.
BERSAMBUNG
__ADS_1