PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
PERTOLONGAN ARDI


__ADS_3

"Kamu sudah siap?" Ardi mengintip ke dalam kamarnya. Dilihatnya Elen sedang duduk di depan meja rias sembari menyapukan bedak dan make up sederhana ke wajahnya.


Elen tersenyum. Ia sengaja berdandan dan mengenakan pakaian bagus karena Ardi ingin mengajaknya ke bioskop. Jarang ada kesempatan pergi berdua karena kesibukkan masing-masing.


"Ya, aku sudah siap." Elen menyudahi aktivitasnya. Ia bangkit dari tempat duduk, menyambar tas tangan yang ada. Ia menggandeng lengan Ardi dengan bahagia.


"Kamu kelihatannya sangat senang?"


"Tentu, ini kan pertama kali Mas Ardi mengajak aku jalan." Elen mulai bisa nemunjukkan rasa cintanya kepada sang suami. Entah mengapa sejak kejadian di kampus dengan Indra, Ardi jadi lebih perhatian padanya. Rasa cemburu Ardi membuat Elen merasa lebih dicintai.


Drrtt drrtt


Baru saja mereka menaiki mobil, ponsel Ardi sudah berbunyi. Ardi segera mengecek orang yang menghubunginya. Dahinya mengkerut ketika melihat nama Ruby tampil di layar ponselnya. Tidak biasanya Ruby menghubungi dirinya.


"Halo?" Ardi mengangkat telepon dari Ruby. Elen yang baru selesai memasang sabuk pengamannya, memandangi sang suami dengan heran.


"Kak, aku butuh bantuanmu!" ucap Ruby dari seberang telepon.


"Bantuan apa? Apa yang terjadi?" Ardi mulai khawatir.


"Panjang kalau aku ceritakan. Pak Ben sudah menahan Kak Melvin bersamanya."


"Apa!" Ardi terkejut mendengar nama Ben diucapkan oleh Ruby. Mantan dosen di kampusnya yang selalu membuat masalah.


"Dia menyuruhku untuk datang ke apartemen XXX. Sepertinya dia hanya menjadikan Kak Melvin sebagai umpan."


"Kamu jangan terpancing, aku rasa sebaiknya kamu tidak usah meladeninya. Jangan pergi menemui dia!" Ardi jadi mengkhawatirkan Ruby jika wanita itu tetap nekad memenuhi kemauan Ben.


Elen yang merasa dicueki karena telepon itu jadi sedih. Baru saja mereka akan memamerkan kemesraan di publik, tapi sudah diganggu oleh kehadiran telepon tak dikenal. Ia sangat penasaran dengan sosok yang tengah menelepon suaminya sampai ia dicueki sebagai istri.


"Kalau terjadi apa-apa padaku, tolong Kak Ardi bawa polisi ke sana. Aku akan pergi lebih dulu."

__ADS_1


"Jangan nekad kamu!" Ardi melarang Ruby pergi sendirian. "Kamu tidak mengerti siapa sebenarnya Alben. Bahaya kalau kamu pergi sendiri."


"Maaf, Kak. Aku harus menyelamatkan suamiku."


"Ruby ...."


"Sampai bertemu di sana."


"Ruby ... Ruby .... dengarkan aku!" Ternyata Ruby sudah lebih dulu mematikan teleponnya. Ardi hanya bisa mendengus kesal.


Elen yang mendengar Ardi menyebut nama Ruby langsung berubah mood. Ia kecewa sekali ternyata orang yang sudah merusak momen kebersamaan mereka adalah Ruby. Seharusnya ia sadar diri kalau suaminya memang belum bisa berpaling dari Ruby.


"Ruby kenapa?" tanya Elen dengan raut wajah tak bersemangat.


"Dia sedang ada masalah." Ardi menjawabnya dengan perasaan khawatir, membuat perasaan Elen serasa tersakiti.


"Oh ...."


"Sepertinya kita harus membatalkan agenda nonton film malam ini. Kita ganti jadi minggu depan saja, ya?" rayu Ardi.


"Ini masalah genting yang tidak bisa ditunda. Ruby bilang Melvin disekap oleh mantan dosen kami. Ia nekad pergi menjumpainya sendiri. Aku tidak bisa membiarkannya dalam bahaya."


"Kenapa dia lapor kepada Mas Ardi? Bukankah seharusnya ia lapor polisi langsung?" Elen benar-benar kesal. Ia sampai membuang muka saking kesalnya.


"Dia juga memintaku untuk menghubungi polisi. Mungkin dia terlalu panik sampai tidak tahu apa yang harus ia lakukan."


"Aku minta maaf karena agenda kita hari ini terganggu. Aku akan menghubungi polisi dan menyelesaikan masalah Ruby secepatnya. Setelah itu, aku akan mengikuti kemauanmu ingin jalan-jalan kemanapun."


Ardi menyalakan mesin mobilnya. Ia berusaha mengabaikan sikap istrinya yang sedang marah kepadanya. Fokus utama di pikirannya saat ini adalah keselamatan Melvin dan Ruby.


*****

__ADS_1


"Dasar wanita kurang ajar! Seharunya kamu merasa beruntung sudah aku beri kesempatan untuk hidup tenang mengikuti kemauanku! Berani-beraninya kamu memukulku, hah!" Ben menjambak kasar rambut Ruby. Setelah menerima beberapa pukulan kasar, amarahnya meningkat dan mengamuk. Ia bisa menyerang balik Ruby.


Plak! Plak! Plak!


Beberapa kali Ben menampar wajah Ruby. Melvin yang melihatnya semakin berusaha memberontak melepaskan ikatan di tangan, kaki, dan tubuhnya. Ben yang licik itu mengikatnya dengan kencang sampai susah untuk dilepaskan.


"Sepertinya aku memang harus membunuh Melvin di hadapanmu supaya kamu sadar kalau dirimu hanyalah milikku." Sekali lagi Ben menjambak rambut Ruby, mendongakkan kepalanya agar menatap lekat sorot matanya yang penuh amarah.


Ben melepaskan Ruby. Ia beralih ke arah Melvin yang masih terbaring di ranjang. Ruby berusaha bangkit. Ia harap kondisi kandungannya tetap terjaga setelah didorong Ben sampai tersungkur ke lantai.


Ben mengacungkan sebilah pisau di leher Melvin. Lelaki itu semakin gila dan tidak memikirkan jika perbuatannya telah melanggar hukum. "Ayo kita lihat sama-sama, bagaimana jika aku menusukkan belati ke leher Melvin." Ben semakin mendekatkan pisaunya pada permukaan kulit Melvin.


"Pak, jangan! Saya mohon jangan! Saya minta maaf, Pak!" seru Ruby.


"Hahaha ... menyenangkan sekali melihatmu sampai memohon seperti itu." Ben si psikopat tanpa belas kasihan memperdalam tusukkan belatinya. Darah segar mulai mengucur dari sela pisau yang Ben hunuskan. Melvin hanya bisa menahan kesakitan di lehernya.


"Pak! Jangan!" teriak Ruby. Air matanya menetes melihat suaminya akan dibunuh oleh Ben.


"Hahaha ...." dosen gila itu tertawa-tawa sebelum kerja dokter tidak terlalu berat.


"Pak, bawa saya kemana saja Bapak mau asalkan berhenti melukai Kak Melvin." Ucapan Ruby bergetar saking takutnya.


"Benarkah? Apa kamu nanti tidak akan mengkhianatiku seperti tadi?" Ben semakin memperdalam tusukkan pisaunya.


"Saya janji. Anda boleh mengikat kedua tangan saya." Dengan pasrah Ruby mengangkat kedua tangannya.


Ben menyunggingkan senyum. Ia mencabut kembali pisau dari leher Melvin lalu mendorong kasar tubuh berlumuran itu. Ia kembali mendekat ke arah Ruby yang tampak sangat frustasi karena kelakuannya. Ia peluk wanita yang sedang menangis sesenggukkan itu.


"Sayang, ayo kita pergi sebelum mood ku kembali hilang." Ben membantu Ruby berdiri. Ia sudah mengumpulkan persiapan untuk membawa Ruby kabur bersamanya malam itu juga. Melvin hanya bisa menitihkan air mata melihat istrinya dibawa pergi lelaki lain.


Brak!

__ADS_1


Saat Ben dan Ruby sampai di depan pintu, mereka terkejut ketika pintu apartemen didobrak paksa oleh seseorang. Ternyata yang membuka paksa adalah pegawai atau staff hotel dan juga ... Gita. Ruby sampai tidak menyangka wanita itu ternyata ada di sana.


"Apa-apaan kalian!" bentak Ben. Ia sangat marah ada sekelompok orang yang mengganggu kesenangannya bersama Ruby. Belati yang ia selipkan di pinggang kembali ia ambil lalu ia arahkan ke leher Ruby. "Berani kalian mendekat, aku akan membunuh wanita ini."


__ADS_2