PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
AKANKAH MEREKA BERHASIL KELUAR


__ADS_3

Terdengar suara seseorang yang sedang memangilnya, langkah Putri pun tiba-tiba terhenti jika tadinya ia berteriak kini pun teriakannya berubah menjadi rasa cemas yang tiba-tiba menghantuinya. Dan perasaan takut yang menyerangnya secara tiba-tiba.


"Su...suara siapa itu tadi, ini kan gudang dan tidak mungkin jika ada orang disini, apa jangan-jangan itu suara?"batin Putri yang terlihat takut bahkan bulu kuduk pun mulai menyerangnya.


Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan tak terkecuali hanya satu cara yaitu


"A.....hantu?"teriak Putri yang sejadi-jadinya kemudian iya pun terduduk dan menyembunyikan wajahnya dari kedua lipatan lengan tangannya.


Akan tetapi semua hanyalah halusinasi Putri yang mengira jika suara itu adalah hantu yang mengganggunya. Tapi pada kenyataannya suara itu bukanlah suara hantu melainkan laki-laki tampan yang tak lain ia adalah Gibran.


Melihat Putri yang terlihat ketakutan ia pun lantas langsung menghampiri nya.


"Putri...putri...kamu kenapa, ini aku Gibran bukan hantu!"ucap Gibran yang sembari menepuk pundak Putri yang memejamkan kedua matanya.


Mendengar suara itu, Putri pun lantas langsung membuka mata dan melihat.


"Kamu?"jawab Putri yang kemudian ia pun spontan langsung berdiri, dan menjauhi langkah Gibran.


"Kamu? Apa yang kamu lakukan disini?"


"Harusnya aku yang tanya sama kamu? Apa yang kamu lakukan disini, kenapa aku tadi mendengar kamu berteriak-teriak tadi, ada apa?" tanya Gibran yang agak bingung.


"Aku tahu sekarang semua ini pasti ulah kamu kan. Pasti kamu kan orang yang sudah bersekongkol sama mereka tadi untuk mengurungku disini bersama kamu ayo ngaku?"


"Apa? Maksud kamu apa? Aku tidak mengerti!"bela Gibran.


"Sudahlah kamu itu jangan banyak ngeles kamu kan yang sudah mengunciku disini?"


"Mengunci, maksud kamu ada seseorang yang mengunci kita didalam sini?" bergegas Gibran pun berlari kearah pintu, dan benar jika pintu ini memang sudah terkunci.


"Brak...brak...brak...pintunya beneran terkunci, heyy buka pintunya siapa pun yang diluar tolong buka pintunya..tolong...Brak...brak...brak."


Dengan berusaha Gibran pun mendobrak-ndobrak pintu tersebut tapi hasilnya sia-sia saja.


"Kenapa kamu malah mendobraknya, bukannya semua ini rencana kamu?"


"Jika semua ini rencanaku, ngapain juga aku berusaha mendobraknya,"sewot Gibran.


"Heyy tolong buka pintunya...buka!"teriak Putri yang mencoba menggedor-gedor.


"Sudahlah percuma juga kamu mendobraknya, tidak akan ada orang yang bakal membukanya. Gudang ini berada dilantai dua dan letaknya juga paling pojok kanan, jadi mustahil kalau bakalan ada orang yang bakal membuka pintu ini, tak terkecuali kalau kita memberi pesan pada teman kita!"


"Sekarang apa yang harus kita lakukan, sekarang sudah pukul 13:00 siang jadi hanya kurang waktu sekitar 4 jam kalau kita gak bisa keluar dari sini, maka kita harus berpasrah diri akan terkunci disini sampai besok.


Mendengar ucapan Gibran, Putri pun akhirnya langsung terduduk dan bingung mau melakukan apa sekarang.


"Apa! Astaga sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Putri dengan muka lesunya.


"Apa kamu bawa ponsel?" tanya Gibran pada Putri.


" Aku menaruhnya didalam tasku, aku juga lupa tidak menyalakannya. Terus apa kamu sendiri apa membawa ponsel?"


"Aku bawa tapi nasib sial menghampiri kita, lantaran baterai ponselku yang tinggal tersisa 5 persen jadi untuk menghubungi seseorang itu tidaklah mungkin lantaran baterainya tidak akan cukup, jadi salah satunya cara yang harus kita lakukan sekarang kita harus mengirim pesan salah satu teman kita. Dengan begitu pasti mereka bakal bisa menolong kita!"

__ADS_1


"Ya sudah tunggu apa lagi, cepat kirimkan sekarang!"


"Baiklah!"


Waktu yang tidak memungkinkan, baterei ponsel yang hanya tinggal lima persen yang artinya dalam hitungan menit jumlah sisa baterai tersebut pun bisa lenyap dengan cepat. Dengan bergegas Gibran pun mengirimkan pesan lewat WA menuju ke no seluler Verrel karena dia yakin Verrel pasti bisa di andalkan sekarang.


Dan belum juga pesan terkirim ke Verrel, lagi-lagi baterai pun berkurang satu menjadi empat persen.


"Ais..kenapa cepat sekali angka baterainya, kamu lebih cepat sedikit kenapa ngetiknya!.


"Astaga jangan bawel-bawel kenapa, ini juga lagi diusahakan cepat!"sewot Gibran.


@ VERREL TOLONGGIN AKU SEKARANG, AKU LAGI TERJEBAK DIDALAM GUDANG LANTAI DUA CEPAT KEMARILAH...CEPAT....


Pesan itulah yang telah Gibran tulis, akan tetapi nasib apes lagi-lagi menghampiri mereka sisa baterai yang lagi-lagi menurun menjadi 3 persen, sedangkan jaringannya yang tiba-tiba lemot yang akhirnya pesan pun belum juga berhasil terkirim.


"Yah...yah...ayo dong sayang berbaik hati ya sama abang , jangan ngambek kaya gini cepat..kembali seperti semula..ayolah...ayolah!"ujar Gibran yang berusaha merayu-rayu ponselnya.


"Ayo dong jaringannya jangan ngambek, cepat terkirim...cepat!"


KLING...


SATU PESAN BERHASIL MASUK.


"Akhirnya masuk juga..lega...


Dan sesaat pesan itu masuk, baterai Gibran pun akhirnya seketika langsung ma*i.


"Sekarang ponselku sudah ma*i, jadi berdoalah semoga Verrel membaca pesan yang aku kirim tadi. Dan ini yang paling penting, berdoalah semoga Verrel punya kuota, jika dia gak ada kuota percuma saja kita kirimkan pesan itu tadi!"


Bel kedua yang telah berbunyi yang artinya jam pelajaran kedua telah dimulai, tapi didalam kelas hanya ada dua orang yang belum berkumpul didalam kelasnya yaitu Gibran dan juga Putri.


Sedangkan untuk menghilangkan jejak, Sally pun menyimpan tas Putri yang ia masukkan kedalam laci mejanya yang paling dalam agar tidak diketahui oleh seseorang.


Sedangkan Verrel yang baru aja memasuki kelas, ia baru aja tersadar kalau sedari tadi Gibran tidak muncul.


"Kemana ya si Gibran kenapa sedari tadi aku tidak melihatnya, aku harus meneleponnya!"


Bergegas Verrel pun menggeluarkan benda pipih dari dalam sakunya, dan tak lama ia berusaha inggin meneleponnya tapi belum juga tersambung ke ponsel Gibran pesan pun terlebih dulu masuk


@ Maaf pulsa anda tidak cukup, sedang dalam masa tenggang segeralah isi pulsa anda terlebih dahulu.


Pesan itulah yang akhirnya membuat Verrel merasa kesal dan sesekali ia pun mengacak-acak rambutnya.


"Hais...paling kesal kalau dapat kiriman pesan kaya gini, sudahlah nanti aku isi pulsa dulu tapi ngomong-ngomong dimana Gibran sekarang.


"Heyy Dav, gue pinjam ponsel lo dong Gibran ngilang nih, gue mau menelfon tapi pulsa gue lagi kritis nih, boleh kan?"


"Baiklah, ambilah!"balas David yang kemudian ia pun mengulurkan benda pipih itu pada Verrel.


Dengan berusaha Verrel pun mencoba menelfon Gibran tapi apa daya ponsel Gibran yang tidak lagi aktif, membuat sambungannya pun tidak bisa tercapai.


"Yah malah gak aktif lagi itu orang. Lagi ada dimana sih dia, kenapa tiba-tiba ngilang tanpa ngasih tahu kabar seperti ini, tidak kaya biasanya.

__ADS_1


"Eh..bu guru datang?"


"Yahh Bu guru datang, nih Dav gue balikin!"


"Kenapa gak nyambung?"


"Iya tidak tahu juga nih, itu anak ada dimana kenapa ponselnya gak nyambung


"Maaf anak-anak berhubung hari senin nanti ujian akhir semester akan segera dimulai, jadi sekarang kalian dapat kesempatan pulang cepat agar kalian bisa tambah giat belajarnya, jadi sekarang pulanglah.


"Yeah..akhirnya kita bisa pulang cepat hari ini.


"Ingat atur waktu kalian yang banyak buat belajar ya. Dan ingat tinggalkan hobi kalian yang suka main game. Karena itu yang ada hanya akan mempengaruhi cara kerja ot*k kalian, apa kalian mengerti.


"Baik buk kita mengerti. Dan kita juga akan menggambil nasihat yang ibu katakan tadi," balas anak didiknya.


"Baiklah kalau gitu, sekarang pulanglah!"


"Baik, buk!"


"Yahh sekarang pulang cepat, sedangkan Gibran ngilang tidak jelas ia kemana, jadi mendingan aku bawa aja tasnya?"ujar Verrel yang kemudian ia pun menggambil tas hitam tersebut.


****


"Sudah satu jam kita terdiam didalam disini, tapi mana teman kamu itu, aku rasa dia gak bakal datang!"


"Sudahlah tunggu saja, nanti dia juga akan datang?"


"Yah kesel!"


"Putri...Putri...lihat kamu manyun kaya gitu, kenapa aku jadi gemes banget ya?"batin Gibran sambil tersenyum sembari memandangi Putri yang sedang terduduk lesehan dilantai.


Hingga kemudian pandangan Gibran pun teralihkan setelah ia melihat dibelakang Putri yang lebih tepatnya, didekat barang-barang ada sesosok hewan berwarna putih mungil yang berniat inggin menghampiri tangan Putri.


Melihat hal itu Gibran pun menahan tawanya, memergoki Gibran yang lagi memandanginya sembari tersenyum-senyum tidak jelas, rasa kesal pun akhirnya menghampiri Putri.


"Kenapa kamu tertawa seperti itu, apa yang sedang kamu pandangan, jangan mikir biarpun aku pendiam aku akan nurut sama kamu. Dan coba-coba memandangiku seperti itu, jujur aku risih kali ngelihatnya.


"Terserah kamu, kamu mau ngomong apa. Tapi apa aku boleh tanya sesuatu sama kamu?"


"Tanya, tanya soal apa?"


"Apa sih hewan yang paling kamu takutkan, apa kamu itu takut ama Cicak?"


"Cicak, enggak aku gak takut!"


"Terus apa yang kamu takutkan, apa kamu takut sama tikus?"


Mendengar ucapan yang baru aja dikatakan Gibran mengenai Tikus, seketika pandangan Putri pun berubah. Dan dari raut wajahnya juga kelihatan jika ia sedang menyembunyikan sesuatu.


"Ti...tikus, enggak, aku gak takut sama tikus untuk apa aku takut kalau pun ada, sini biar aku injak sekarang, kan aku sama si tikus kan lebih besar aku jadi untuk apa harus takut dengannya?"sahut Putri yang dengan perasaan percaya diri. Dan sesekali ia pun melihat kanan, kini untuk melihat suasana.


"Oh...baiklah kalau gitu,"timpal Gibran yang mencoba menahan tawanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2