
Malam ini Ruby berdandan sangat rapi. Mengenakan gaun berwarna baby pink selutut dengan model kerah rebah. Tatanan rambut serta make up-nya terlihat sederhana. Ia membantu para pelayan di dapur mempersiapkan makan malam. Ardi bilang ia akan datang ke rumah bersama ayahnya, Pak Raharja.
"Ruby, ikut aku!" seru Rei yang baru saja datang dan langsung menyuruh Ruby menghampirinya.
Rei mengajaknya berjalan naik menuju lantai atas ke arah kamar Rei.
Wajah Rei terlihat cemas, sepertinya dia punya masalah. Rei bukan tipe yang suka mengumbar urusan pribadinya. Ketika ia ingin berbagi cerita, artinya dia sedang mendapat masalah yang menurutnya cukup pelik.
"Aku di suruh apa sekarang?" tanya Ruby yabg bingung sejak tadi Rei hanya terdiam duduk di tepi ranjang.
"Apa Livy menghubungimu?" tanyanya.
Ruby mengernyitkan dahi. Sudah lama Livy tidak menghubunginya atau datang menemuinya di kantor. Mengingat masalahnya sendiri sudah banyak, ia tidak ada waktu untuk menanyakan perkembangan hubungan Rei dan Livy
"Dia tidak menghubungiku. Memangnya kenapa?"
"Keluarganya menanyakan Livy kepadaku. Tapi, aku juga sudah sekitar satu bulan ini tidak menghubunginya."
Ruby terkejut, "Satu bulan!? Kalian putus?" matanya melebar saking kagetnya.
Rei menbangguk.
Ruby tidak menyangka kalau hubungan mereka akan bermasalah. Setiap kali melihat kedekatan mereka, terkadang ia sendiri merasa iri. Livy wanita muda yang sangat ceria, tipe yang mampu menghidupkan suasana. Bisa mengimbangi sifat Rei yang cenderung pendiam dan tertutup. Bahkan, setelah berhubungan dengan Livy, Rei menjadi pribadi yang lebih terbuka.
"Tapi kenapa?"
"Kamu pasti sudah tahu alasannya." Rei terlihat lemas.
Tanpa Rei menjelaskan, Ruby tahu kalau alasan mereka adalah perbedaan agama. Suatu perbedaan yang memang sangat sulit ditembus karena penghalangnya berupa tembok tinggi yang sampai ke langit. Akan tetapi, Ruby kira mereka bisa memutuskan masa depan yang akan diambil keduanya.
"Kakak yang meminta putus?"
"Bukan. Tapi Livy." nada bicara Rei yang lemah seperti orang yang sudah bosan hidup.
"Lalu, kenapa dia yang kabur?"
"Mana aku tahu ... kalau aku tahu juga tidak akan bertanya padamu."
__ADS_1
Ruby masih tidak percaya Livy bisa mengambil keputusan seperti itu. Menurutnya, Livy terlihat sebagai pihak yang lebih dulu menyukai Rei. Segala tingkahnya juga menyiratkan bahwa ia menginginkan perhatian dari Rei. Dia wanita yang sangat inisiatif, suka memulai sesuatu lebih dulu, apalagi kepada manusia kurang peka seperti Rei.
"Waktu dia minta putus, apa yang kamu lakukan?"
Rei terdiam sejenak, mengingat kembali momen saat ia diputuskan. "Ya memangnya aku harus apa? Setelah diputuskan, tentu saja aku mempersilahkannya untuk pergi. Mungkin memang dia sudah merasa tidak ada barapan dengan hubungan kami."
Ruby menepuk dahinya, "Jadi kamu tidak ada usaha untuk meminta penjelasan atau berusaha mencari jalan keluar?" ingin rasanya Ruby mengacak-acak kepala Rei.
"Penjelasan apa? Semuanya kan sudah jelas. Perbedaan yang ada di depan mata itu nyata, mau penjelasan apa lagi," kata Rei dengan wajah datarnya.
"Wanita itu terkadang mau diajak bicara, Rei. Ucapannya terkadang hanya pendapat, bukan keputusan. Kamu tega sekali membiarkan dia pergi."
"Dia yang ingin pergi, bukan aku yang memaksa."
"Aku rasa dia mau dikejar, Rei. Dia mau kamu perjuangkan."
"Diperjuangkan bagaimana?"
"Sebenarnya kamu suka apa tidak dengan Livy? Gampang banget menyerah." Ruby jadi ragu dengan perasan yang dimiliki Rei kepada Livy. "Coba jujur, apa kamu masih menginginkannya?"
Rei tertunduk. Menurut yang ia yakini, sebuah rumah tangga yang baik memang harus memiliki tujuan yang sama dan searah. Jika iman mereka saja sudah berbeda, bagaimana mereka akan menjalani kehidupan selanjutnya?
"Mungkin mengakhiri lebih cepat adalah keputusan yang terbaik. Aku tidak mau selamanya hanya berpacaran saja dengannya tanpa rencana masa depan."
"Kamu sadar kan saat kalian pertama kali menjalin hubungan?"
Rei terkekeh, "Mana ada yang sadar ketika jatuh cinta. Kami hanya fokus tentang perasaan yang sama satu sama lain tanpa memikirkan sisi lain."
"Semakin kesini aku semakin menyadari bahwa hubungan kami akan semakin sulit. Apalagi papa juga mulai tidak menyukai hubungan kami."
"Sebenarnya maksud papa tidak buruk. Dia hanya mau kamu bisa menjalani kehidupan yang baik. Jika salah satu di antara kalian yang memutuskan pindah agama, tentu akan ada kebencian yang dilontarkan dari salah satu pihak keluarga. Papa tidak akan mau anak-anaknya mendapatkan hujatan."
"Papa juga sebenarnya tidak mempermasalahkan pekerjaan ayah sambung Livy."
Rei kembali merenung. Otaknya benar-benar mati tak bisa digunakan untuk berpikir. Ia tak tahu harus mengambil keputusan apa.
"Aku hanya bingung kira-kira Livy ada di mana. Keluarganya sampai tidak tahu dimana keberadaannya. Kak Daniel beberapa kali menghubungiku karena khawatir dengan Livy."
__ADS_1
"Coba kamu ingat-ingat lagi dimana tempat favorit biasa ia menghabiskan waktu. Atau apa dia pernah bercerita untuk mengunjungi suatu tempat?"
Rei memijat keningnya. Ia tak begitu tahu apa yang Livy sukai. Selama berpacaran, Rei hampir tidak pernah menanyakan apapun tentang Livy. Pacarnya itu yang lebih banyak bicara sampai kadang ia bosan mendengarkannya.
"Neng Ruby, Den Reino, Bapak sudah menunggu di ruang makan. Den Ardi sudah datang bersama ayahnya, " lapor Bi Minah.
"Iya, Bi. Sebentar lagi kami turun."
Setelah mendengar sahutan Ruby, Bi Minah segera pergi.
"Ayo, ikut aku turun menamui Ardi." ajak Ruby.
"Aku malas terlibat dalam masalah kalian. Bilang saja kepada papa kalau aku sedang tidak enak badan."
Rei merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ruby mencebikkan bibirnya. "Ck! Ya sudah, aku pergi dulu!" ucap Ruby dengan nada sedikit kesal.
"Semoga harimu suram!" Ruby sempat mengumpat dari balik pintu sembari menjulurkan lidahnya meledek Rei.
Buru-buru ia berlari ke bawah sebelum Rei mengejarnya dan menjewer telinganya.
Sesampainya di ruang makan, Ardi dan Om Raharja sudah ada di sana. Ia mencium tangan Om Raharja lalu mencium pipi kanan dan kiri Ardi. Ruby masih berakting di hadapan kedua orang tua mereka.
Acara makan malam dimulai. Pelayan menghidangkan makanan yang telah disiapkan. Mereka menyantap makanan dalam kondisi hening, hanya sesekali saja mereka berbicara tentang hal-hal ringan.
Selesai makan malam, mereka berpindah ke ruang tengah. Di sanalah sepertinya pembahasan yang lebih serius akan dimulai.
"Om Wijaya, sebelumnya saya ingin berterima kasih atas jamuan makan malamnya. Semua masakannya enak sekali." Ardi mencoba memulai pembicaraan serius.
"Maksud dari kedatangan saya kemari adalah ingin membatalkan rencana pernikahan saya dan Ruby."
Semua orang terlihat kaget dengan perkataan Rei termasuk juga Ruby. Pak Raharja dan Pak Wijaya saling berpandangan. Mereka tak percaya dengan apa yang barusaja mereka dengar.
*****
Sambil menunggu update selanjutnya, bisa mampir ke sini 😘
__ADS_1