PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
PENJELASAN JIMMY 2


__ADS_3

"Kamu boleh mencoba tidur dengan lelaki lain sesukamu. Setelah itu, kembalilah padaku. Kita mulai semuanya dari awal."


Gita benar-benar tidak menyangka Jimmy bisa berkata seperti itu kepadanya. Mana ada pasangan yang merelakan kekasihnya bercinta dengan orang lain kalau otaknya masih waras. Sepertinya Jimmy memang mengalami gangguan jiwa.


"Kamu gila ...." Gita tersenyum getir.


"Aku memang gila. Semua karena dirimu, Gita. Jangan tinggalkan aku." Jimmy mempererat genggaman tangannya. Ia memohon-mohon agar Gita bisa menerimanya kembali.


"Tidak ada lagi alasan untukku tetap bersamamu. Aku mau menjalanin kehidupanku sendiri. Tolong, jangan perberat langkahmu lagi." Gita hendak pergi, namun Jimmy masih enggan melepaskan cekalan tangannya. "Perbaiki hidupmu, Jim. Jangan jadi pengecut! Kamu sudah memilih Glenka, jadi, bertanggungjawablah!" ucap Gita setengah berteriak.


"Aku akan memutuskannya."


"Itu tidak akan merubah keputusanku. Aku sudah muak denganmu!"


Bukannya melepaskan Gita, Jimmy justru menarik kasar tubuh Gita hingga terjatuh ke atas ranjang. Secepat kilat dia sudah mengungkung tubuh Gita di bawahnya serta menahan kedua tangannya agar tidak memberontak. Tatapan matanya sulit untuk diartikan, antara sedih, marah, dan menyesal.


"Jimmy, lepaskan aku!" Gita berusaha memberontak.


"Aku tidak bisa melakukannya, Gita. Aku sangat mencintaimu."


"Itu bukan kata-kata yang bisa diucapkan oleh seorang yang pernah tidur beberapa kali dengan wanita lain."


Jimmy melabuhkan ciuman paksa di atas bibir Gita. Sekalipun telah berusaha meronta, Gita tak bisa mengatasinya. Tenaga Jimmy jauh lebih kuat darinya. Dengan agresif ia terus menciumi wanita di bawahnya, memberikan luma*tan kasar yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan. Perbuatannya sangat kasar, sama sekali tak mencerminkan keromantisan.


Gita terus berusaha mengelak, meskipun usahanya tidak berhasil. Jimmy semakin semaunya sendiri, melabuhkan ciumannya ke area telinga serta leher yang membuat Gita mau tak mau merasa meremang, hampir membuatnya lupa diri. Ketika tangan nakal Jimmy mulai menyusuri area dadanya, Gita sekuat tenaga mendorong tubuh Jimmy hingga terjengkang ke belakang.


Jimmy lelaki yang sangat kurang ajar. Hubungan mereka sudah berakhir dan kini ia berusaha untuk melecehkan dirinya. "Baji*ngan!" umpat Gita.

__ADS_1


Jimmy kembali hendak menyergal Gita. Akan tetapi, wanita itu menunjukkan perlawanannya. Ia leluasa mengeluarkan tinju dan tendangan berusaha melumpuhkan Jimmy.


"Aku kurang apa, Gita! Aku sudah memberimu kesempatan kalau mau balas dendam padaku, kamu boleh tidur dengan lelaki lain. Bahkan dengan bosmu kalau kamu mau! Setelah kamu puas, kembalilah padaku, Gita ... jangan seperti ini." Jimmy masih berusaha membujuk Gita.


"Kamu pikir aku wanita murahan? Untuk apa juga aku kembali padamu jika harus tidur dengan lelaki lain? Apa lagi kalau orang itu Pak Reino. Dia lebih kaya darimu, aku mungkin akan memintanya menikahiku. Daripada harus memilih lelaki bang*sat sepertimu!"


Hinaan Gita kembali membuat Jimmy naik pitam. Ia kembali berusaha mencegah Gita keluar dari sana. Gita yang sudah sangat emosi, memiliki kekuatan seouluh kali lipat dari biasanya. Ia bisa melepaskan dirinya dari kekangan Jimmy. Terpaksa ia layangkan satu tendangan tepat mengenai alat vital Jimmy.


"Aagghh!" Jimmy tersungkur sembari memegangi miliknya. Ia tidak menyangka Gita akan bertindak sejauh itu. Rasanya benar-benar ngilu sampai ia mau mati.


Gita kesal. Melihat kondisi Jimmy, bukannya kasihan tapi malah semakin kesal. Bagian itu yang sudah nakal masuk ke sembarang lobang. Gita berharap milik Jimmy tidak bisa berdiri lagi atau kalau bisa patah dan harus diamputasi. Maka, rasa kekecewaannya telah diselingkuhi akan sedikit terobati.


"Hidupmu tidak akan berjalan lancar, Gita. Hanya aku yang bisa memahamimu. Sekalipun presdir itu menyukaimu, dia akan langsung meninggalkanmu saat tahu siapa kamu yang sebenarnya. Aku yakin kamu akan kembali padaku," ucap Jimmy sembari menahan sakit.


Gita sudah tak mau mendengar ocehan Jimmy. Ia memilih pergi begitu saja meninggalkan Jimmy yang masih kesakitan karena burungnya ia tendang.


Gita sudah mengenal Jimmy sejak zaman SMA. Mereka juga satu kampus meskipun berbesa jurusan. Tiga tahun mereka pacaran, ternyata masih belum memahami satu sama lain.


Gita jadi ingat makanan pemberian bosnya. Kopi di dalam gelas sudah hampir dingin karena tidak langsung diminum. Akan tetapi, rasanya tetap enak untuk sekedar membasahi tenggorokan. Ia juga membuka bungkusan makanan yang diterimanya, ternyata isinya roti isi daging. Ia senyum-senyum sendiri. Bosnya seakan sangat tahu kalau di perjalanan dia akan sangat kelaparan apalagi setelah bertengkar dengan mantan pacarnya.


Gita memakan makanan yang diberikan Rei sesuap demi sesuap sembari memandangi lalu lalang kendaraan. Tak berapa lama, ada sebuah mobil berhenti di depannya. Ketika kaca diturunkan, ternyata ada bosnya yang sudah berganti dengan dandanan santainya.


"Kenapa masih di sini? Sejak tadi belum pulang? Apa kamu memang sedang mangkal?" tanya Rei.


Ingin rasanya Gita tertawa. Baru saja ia bertemu dengan lelaki baji*ngan yang telah menghancurkan hidupnya. Kini, ia bertemu lagi dengan bosnya yang baik tapi menyebalkan. Dia dibilang sedang mangkal di pinggir jalan. Tapi, bukannya ia tersinggung malah jadi ingin tertawa.


"Kenapa Bapak ada di sini?"

__ADS_1


"Saya sedang mencari wanita mangkal yang bisa dibawa pulang. Apa kira-kira kamu termasuk salah satu orangnya?" ledek Rei.


"Tidak ada!" tolak Gita lagi.


"Ini sudah malam, loh. Kalau terlalu pilih-pilih, keburu pagi nanti kamu tidak dapat uang." ledek Rei lagi.


Gita jadi takut kalau Jimmy akan mengejarnya lagi. "Saya mau ikut Bapak!" serunya.


Gita berjalan ke arah mobil Rei. Ia membuka pintu depan lalu duduk di sana. "Tidak apa-apa kan, kalau orang miskin numpang di kursi mobil mewah." Ia tersenyum meringis sembari memasangkan sabuk pengamannya.


"Kamu tenang saja, mobilku berbeda. Orang miskin yang duduk di dalamnya biasanya akan jadi orang kaya." Rei kembali menutup pintu kaca jendela mobil lalu menjalankan mobilnya lagi.


Saat mobil sudah mulai berjalan perlahan, dari spion mobil Gita bisa melihat Jimmy sedang kebingungan mencarinya. Ia beruntung bisa kabur dari Jimmy dengan cara yang sangat elegan.


"Rumahmu dimana?" tanya Rei.


"Putar-putar kota saja dulu, Pak. Saya mau sambil menghabiskan makanan yang Bapak berikan," jawab Gita santai sembari terus menikmati makanannya.


Rei hanya bisa menuruti kemauan Gita.


"Bapak sebenarnya mau kemana? Kok malah jadi bersama saya ... Bapak mau dugem juga, ya?" celetuk Gita.


"Tidak, aku hanya sedang malas saja di rumah jadi sengaja jalan-jalan dan kebetulan melihatmu duduk di pinggir jalan seperti orang hilang."


"Pak, kalau bicara yang lembut sedikit. Senang sekali menyebutku gelandangan, gembel, orang hilang." Gita mencebikkan bibirnya.


"Aku tidak mengatakan kalau kamu lebih mirip pengemis daripada wanita malam. Penampilanmu sangat menjiwai, ya!" Rei menahan tawanya sembari fokus pada kemudinya.

__ADS_1


Gita memperhatikan penampilannya sendiri. Memang, dirinya terlihat berantakan dan acak-acakan. Semua karena lelaki bernama Jimmy.


__ADS_2