PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
HUBUNGAN YANG HALAL


__ADS_3

21+


Rei baru saja menyelesaikan mandinya. Ia melilitkan handuk di pinggang serta menggunakan handuk kecil lainnya untuk mengeringkan rambut. Saat membuka pintu kamar mandi, dia tertegun melihat Gita yang sedang duduk di tepi ranjang sambil tersenyum padanya.


Wanita itu tampak cantik mengenakan lingerie berwarna merah yang sangat menerawang. Ia masih belum terbiasa dengan tingkah wanita yang baru saja sah menjadi istrinya. Gita penuh percaya diri dan berani. Bahkan di malam pertama yang kebanyakan wanita akan cemas dan takut menghadapinya, Gita berbeda dengan mereka.


"Kamu belum tidur?" tanya Rei. Ia mencoba bersikap biasa saja memasuki kamar. Tempat yang ditujunya adalah meja rias untuk mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


"Belum. Aku menunggu Mas Rei untuk bobo bareng." Gita berjalan menghampiri Rei.


"Kalau sudah mengantuk, tidur saja lebih dulu." Rei berbicara sembari mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


"Aku belum mengantuk, Mas. Biar aku bantu mengeringkan rambutmu." Gita mengambil alat pengering rambut dari tangan Rei.


Rei menurut. Ia diam saja membiarkan Gita membelai-belai rambutnya yang masih basah. Lewat kaca besar yang terpampang di hadapannya, diam-diam Rei memperhatikan istrinya.


Sentuhan tangan lembut di kepalanya membuat jantung Rei serasa berdesir-desir. Apalagi saat melihat belahan dadanya yang terekspose setiap kali wanita itu menunduk. Seakan kedua gundukan yang tersembunyi di dalamnya hendak mencuat keluar. Rei sampai menghela napas panjang untuk menenangkan hatinya.


Ia tahu bahwa dengan berpakaian seperti itu Gita sudah memberi kode bahwa dirinya siap diajak menikmati malam pertama mereka. Namun, Rei masih terlalu ragu untuk memulai pembicaraan yang menjurus ke arah sana. Ia tidak ingin dicap sebagai lelaki yang tidak sabaran.


"Mas, rambutnya sudah kering." Gita mematikan alat pengering rambut lalu meletakkannya di atas meja.


"Terima kasih, Gita. Aku mau mengambil baju ganti dulu."


Rei beranjak dari tempat duduknya. Gita menahan lengan Rei agar ia tidak pergi. Ia juga terlihat canggung untuk memulai pembicaraan dengan suaminya.

__ADS_1


"Mas ...." Gita memanggil suaminya dengan nada merajuk. Ia berharap kode yang diberikan bisa membuat lelaki itu peka. "Aku bantu lepaskan handuknya, ya ... boleh, kan?" pintanya.


Rei justru yang merasa malu. Melihat istrinya sudah berinisiatif lebih dulu, mau menolak juga tidak pantas. Tapi, kalau membiarkannya, terasa tidak pantas seorang lelaki dilucuti pakaiannya oleh seorang wanita.


Gita menurunkan tangannya berusaha membuka lilitan handuk di pinggang Rei. Merasakan gerakan tangan itu, Rei menahan tangannya. Ia berbalik badan seraya merapatkan tubuh Gita padanya. Dalam hitungan detik, bibirnya sudah mendarat pada permukaan bibir Gita dalam waktu singkat. Membuat wanita itu membulatkan mata mendapatkan ciuman mendadak.


Ia turut menikmati ciuman intens yang Rei lakukan. Mulut mereka saling terbuka, membirkan lidah keduanya bersentuhan, sehingga menciptakan sengatan-sengatan gai*rah yang menjalar di sekujur tubuh.


Perlahan Rei membawa Gita berjalan mundur tanpa melepaskan ciumannya. Setibannya di tepi ranjang, mereka menjatuhkan diri di atas kasur yang empuk. Bibir mereka masih menyatu sementara tangan keduanya sudah tak bisa diam.


Gita melepaskan handuk yang melilit di pinggang Rei. Sontak hal itu cukup membuat Rei terkejut dan melepaskan ciumannya. Tubuhnya tak tertutupi sama sekali oleh apapun. Ia melihat ke arah Gita yang pandangannya justru terpaku pada bagian bawah dirinya. Rei ikut melirik ke bawah. Ia menutup wajahnya sendiri menyadari miliknya yang sudah tegak dan masih jadi pusat perhatian Gita.


"Mas, tolong bantu aku melepaskan pakaian ini," pinta Gita dengan wajah memerah malu. Malam ini ia jadi lebih pendiam dari biasanya. Namun, keberaniannya untuk melakukan inisiatif lebih dulu patut diapresiasi.


"Kamu yakin sudah siap?" Rei sejak tadi sudah menahan diri untuk tetap bersabar. Ia ingin Gita juga bisa benar-benar menikmati malam ini dengan bahagia.


Tanpa menunggu lama lagi, Rei meloloskan pakaian tipis yang Gita kenakan dalam sekali tarikan. Istrinya tak memakai br4. Bukit indah yang tadi sempat mencuri perhatiannya kini telah terpampang secara jelas di hadapannya dengan puncak yang mencuat.


Pandangannya beralih pada kain segitiga yang menutupi kepemilikan Gita. Ada tali kecil yang terikat di sisi-sisinya. Tali-tali itu ia lepaskan hingga menampakkan area paling pribadi milik istrinya. Gita benar-benar mempersiapkan dirinya dengan baik sampai area paling tertutup itu terlihat bersih untuk merayakan malam pertama mereka.


Rei kembali menindih tubuh polos istrinya. Ia pagutkan kembali kedua bibir mereka seraya merapatkan tubuh. Kulit mereka saling bertemu, menimbulkan sensasi hangat.


Rei memindahkan ciumannya ke arah leher sembari memainkan dua gundukan indah yang telah mengencang. Suara lengkuhan yang keluar dari mulut Gita seakan menjadi pemacu dirinya untuk lebih semangat mencumbunya.


Saat mulut Rei singgah di salah satu dadanya, menghisap puncaknya, Gita mengeluarkan des4han tertahan. Apa yang Rei lakukan pada tubuhnya seakan membuat ia mabuk kepayang. Sentuhannya begitu dirindukan, tak pernah membuatnya puas dan ingin mengulang.

__ADS_1


"Uh ... Mas!" Gita berteriak saat Rei membenamkan kepalanya pada kepemilikannya. Des4hannya tak berhenti kali bibir suaminya menghisap miliknya. Lidah yang bermain di sana menegangkan seluruh sendi di tubuhnya. Begitu nikmat sampai ia tak bisa melukiskan dengan kata-kata.


Saking nikmatnya, ia ingin menangis agar suaminya berhenti memberikan sensasi rasa yang membuatnya ingin meledak. Tubuhnya menegang sempurna, tangannya menggenggam erat kain sprei yang menutupi kasurnya. Gita mengerang keras saat merasakan sesuatu terdorong keluar dari dalam tubuhnya.


Napasnya tersengal-sengal, keringat bercucuran membasahi, serta tubuhnya terasa melemas setelah mencapai pelepasan pertamanya. Rei tersenyum menatapnya. Disibakkannya rambut yang menutupi wajah lalu mengecup mesra keningnya. Ia memberikan pelukan kepada wanita yang baru saja mencapai puncak kenikmatan.


"Enak, ya?" goda Rei.


"Mas nakal ...." Gita memukul manja dada suaminya. Ia baru tahu bahwa aktivitas bercinta antara pasangan suami istri bisa semenyenangkan itu. Apalagi Rei yang melakukan hal di luar ekspektasinya. Lelaki itu biaa dengan mudah membuatnya serasa jatuh dan mabuk kepayang.


"Kok tumben tidak pegang-pegang? Biasanya paling suka pegang." sindir Rei.


Pikiran Gita sedikit tidak connect setelah dibuat gila oleh suaminya.


"Kalau dilarang curi-curi kesempatan mau pegang. Sekarang sudah diperlihatkan malah tidak diapa-apakan. Aku pakai celana saja, ya!"


Gita langsung paham saat Rei menyebutkan tentang celana. "Jangan, Mas!" serunya. Ia langsung menjulurkan tangannya ke arah bawah, memegang benda yang menegang milik suaminya.


Rei tampak memejamkan mata saat tangan Gita mulai menyentuh miliknya. Ia rasa mulai malam ini akan kecanduan dengan sentuhan tangan itu. Gita harus bertanggung jawab dengan apa yang telah dilakukannya.


*****


Sambil menunggu update selanjutnya, bisa mampir ke sini ya 😘


Judul: My Crazy Lady

__ADS_1


Author: R. Angela



__ADS_2