
"Tuan Muda." Markus memberi hormat ketika bertemu dengan Rei. Dia telah datang membawa 3 mobil yang berisi 30 anggota sesuai kemauan Rei.
Keluarga Wijaya hampir tak pernah datang ke kediaman keluarga lain dengan membawa banyak orang. Meskipun ia merasa heran dengan perintah dari putra Haidar Wijaya itu, Markus tetap menurutinya. Mereka berkumpul di tempat yang tak jauh dari kediaman keluarga Pradita Kusuma.
Rei memandangi kumpulan anak buah Markus yang sudah berjajar rapi di sana. Meskipun tanpa membawa senjata, melihat kekarnya badan mereka, orang sudah pasti akan bernyali ciut menghadapi jumlah mereka yang banyak. Ia tak bermaksud untuk membuat keributan di sana. Tujuan membawa mereka hanya untuk menegaskan kepada pemilik rumah itu bahwa ia tidak bisa disepelekan.
"Tuan Muda, pemilik rumah ini sudah berganti. Seorang wanita yang ...."!!!
"Aku sudah tahu, Markus." Rei memotong perkataan Markus.
"Pemilik rumah ini sedang menahan calon istriku di dalam. Aku ingin kita bisa berhasil membawa dia pulang bersama kita."
Markus melebarkan matanya. Ia tidak menyangka Putra Tuannya sudah memiliki calon istri lagi setelah hubungan sebelumnya kandas dan tidak disetujui oleh Pak Wijaya. Sementara, Rei sengaja melabeli Gita sebagai calon istri agar Markus lebih semangat membelanya. Kalau Rei bilang Gita hanya karyawan biasa di kantornya, mungkin Markus akan langsung balik badan sambil menariknya pulang. Salah satu tugas Markus selain menjaga keamanan keluarga Wijaya, juga menghindarkan mereka dari masalah.
Rei mengajak Markus masuk ke dalam mobilnya. Mereka lebih dulu melajukan mobil disusul kemudian oleh anggotanya yang lain. Penjaga gerbang yang berjaga membukakan pintu setelah Markus turun dan mengatakan mereka dari keluarga Wijaya ingin menemui Nyonya Teresa.
Penjaga pintu utama agak curiga dengan kehadiran mereka. Tampaknya ia menghubungi seseorang lewat HT mengabarkan kedatangan mereka. Beberapa saat kemudian, mereka diizinkan masuk.
"Ada apa ini kita kedatangan tamu terhormat dari keluarga Wijaya. Selamat datang, silakan masuk." Teresa menjumpai Rei di ruang tamu. Beberapa bodyguard juga berjaga di sana mengingat tamu yang datang membawa banyak orang.
"Dimana Gita?" Rei tak mau berbasa-basi. Ia datang ke sana memang untuk menemui Gita.
Teresa mengernyitkan dahi, mendengar nama Gita disebut-sebut. "Apa putriku yang nakal membuat masalah denganmu? Apa yang dia lakukan di luar?" Teresa khawatir Gita membuat masalah yang akan membuatnya repot.
"Anda yang sedang membuat masalah dengan saya," tegas Rei. Raut wajahnya menunjukkan keseriusan yang memprovokasi lawan bicaranya.
"Apa maksudnya? Bahkan kita baru pertama kali bertemu dan bicara secara langsung." Teresa kebingungan. Ia merasa diintimidasi oleh lelaki muda itu.
__ADS_1
"Dimana Anda mengurung Gita?"
"Mengurung?" Teresa tertawa. "Mana ada orang tua yang mengurung anaknya sendiri. Kamu sungguh mengada-ada. Kalau memang tidak ada hal penting yang ingin dibicarakan, silakan pergi dari sini."
"Saya tidak ingin bicara dengan Anda, tapi dengan Gita."
"Dia sedang sibuk, tidak bisa menemui siapapun."
"Dia tidak pernah sibuk jika saya yang memintanya untuk bertemu."
Teresa tertawa. Lelaki muda di depannya berlagak sepenting itu sampai Gita mau menurutinya. Padahal, Gita adalah tipe pembangkang yang tidak pernah mau menurut kepada siapapun, termasuk ayah kandungnya sendiri. "Bukan maksudku tidak sopan mengusirmu, tapi Gita tidak bisa ditemui."
"Pak Rei ...." terdengar seruan dari arah atas. Tampak Gita berdiri di belakang pagar lantai atas melihat apa yang terjadi di bawah.
Bodyguard Teresa maju, berusaha mendekati Rei. Namun, anak buah Markus juga ikut maju mengamankan tuan mereka. Suasanya seketika berubah tegang.
Wanita itu lari terbirit-birit dari lantai atas menuruni tangga ketika ada kesempatan meloloskan diri. Beberapa bodyguard di bawah berusaha menghalangi, namun Rei lebih dulu maju menarik Gita dan melindunginya dengan bantuan pengawal yang dibawanya.
"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" Rei mencium kening Gita dengan mesra. Ia perlakukan Gita secara manis di depan Teresa. Gita hanya mematung, kaget dengan kelakuan bosnya.
"Pak ...."
"Aku sangat merindukanmu." Belum sempat Gita menyelesaikan kata-katanya, Rei sudah menarik wanita itu ke dalam pelukannya. "Saya bisa menuntut Anda dengan tuduhan melakukan penculikan kepada calon istri saya." Rei melotot ke arah Teresa.
Tentu saja Teresa terkejut. Ia sangat tidak percaya jika Gita adalah calon istrinya. "Apa putriku sudah membohongimu? Dia baru saja putus dengan pacarnya yang bernama Jimmy."
"Dia putus dengan lelaki sampah itu karena aku. Apa ada yang salah? Apartemen dan uangnya sudah dirampok olehnya. Bukankah dia sama seperti Anda yang juga sedang berusaha merampok harta kekayaan keluarga Pradita Kusuma?"
__ADS_1
Kata-kata Rei sangat menusuk hati Teresa. Wanita itu tampak geram sampai urat-urat dilehernya tampak jelas. Gita tidak boleh pergi dari sana. Jika dia pergi, Tuan Hendrick pasti akan sangat murka padanya. Kesepakatan bisnis yang sudah mereka sepakati, akan dibatalkan dan dia harus menanggung ganti rugi yang sangat besar.
Teresa berusaha menahan emosinya. Ia tersenyum. "Aku rasa ini hanya kesalahpahaman saja. Gita, tolong jelaskan kepadanya bahwa hubungan kita baik-baik saja. Kamu masih ingat dengan apa yang aku katakan semalam, kan?"
Gita mendorong sedikit tubuh Rei. Ia tahu maksud ucapan ibu tirinya adalah tentang ancamannya semalam bahwa anak buah setia ayahnya akan kehilangan pekerjaan dan akan difitnah agar masuk penjara jika ia menolak untuk dinikahkan dengan Tuan Hendrick.
Tadi, Gita baru saja keluar dari ruang baca menuju kamarnya di lantai atas ketika mendengar suara ribut-ribut di bawah. Ia sangat senang melihat kehadiran bosnya di sana. Gita sama sekali tidak menyangka jika orang yang akan menjemputnya dari rumah itu adalah Rei yang hubungannya hanya sebatas atasan dan bawahan dengannya.
"Pak, sebenarnya aku dikurung di rumah karena mau dinikahkan dengan om-om. Kalau aku tidak mau, katanya karyawan setia Papa akan dimasukkan ke dalam penjara."
Teresa tercengang. Anak tirinya ternyata begitu mudah bicara ceplas-ceplos kepada tamu mereka. Ia tidak menyangka jika Gita akan mengatakan semua dengan polosnya seperti anak kecil.
"Aku takut menikah dengan om-om, Pak ... tolong aku ...." Gita mengeluarkan jurus akting memanjanya. Ia tanpa sungkan memeluk Rei sembari pura-pura sedih.
"Hah! Putriku memang suka mengada-ada. Tidak ada yang memaksanya menikah. Itu memang sudah menjadi kesepakatan perjodohan saat ayahnya masih hidup." Teresa sudah berencana akan memukuli Gita habis-habisan setelah tamu mereka pergi.
"Anda berani mau menikahkan calon istriku dengan lelaki lain? Apa Anda tidak sadar posisi? Anda hanya ibu tiri." Rei kembali mengucapkan kata-kata yang membuat Teresa semakin marah.
"Iya, Pak. Ibu tiriku memang aneh. Saya kan hanya mau menikah dengan Bapak yang ganteng, kaya, dan masih muda. Masa dia mau menikahkan aku dengan lelaki tua. Harusnya dia saja yang menikah dengan Tuan Hendrick itu. Keduanya cocok, sama-sama gila." Gita merasa aman berbicara sesuka hati karena tahu Rei membelanya.
"Gita ...." Teresa geram.
"Berani sekali Anda mengusik kehidupan Gita. Saya tidak akan tinggal diam setelah mengetahui ini. Anda tidak akan bisa tidur nyenyak mulai malam ini," ancam Rei.
"Maksudmu apa? Berani-beraninya datang ke rumah orang lain dan mencampuri urusan kami."
"Sebentar lagi Gita juga akan menjadi tanggung jawabku karena kami akan segera menikah."
__ADS_1
Rei membawa Gita berjalan pergi. Bodyguard Teresa berusaha menghalangi, namun dihadang oleh anak buah Markus. Karena tidak ingin terjadi keributan, Teresa menyuruh anak buahnya membiarkan mereka pergi.