PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
KEBAHAGIAAN UNTUK MEKA


__ADS_3

Ferdian kembali datang berkunjung ke rumah Meka. Kali ini, ia membawa surat yang membuatnya begitu terkejut. Gugatan cerai dari Renata untuk Ferdian. Lelaki itu meminta Meka agar mau kembali lagi ke rumah. Renata sudah memilih untuk pergi.


"Kamu memaksa Renata, Di?" tanya Meka dengan tatapan serius.


Ferdian menggelengkan kepala. "Tidak, itu kemauannya."


"Aku tidak percaya kalau Renata mengambil keputusan seperti ini. Apalagi dia rela melepaskan Callista juga. Aku tidak bisa kembali padamu kalau Renata terpaksa karena ancamanmu."


"Tidak pernah aku mengancamnya. Dia sadar dengan penyakitnya sendiri, takut membahayakan Callista. Makanya, dia ingin menata kembali hidupnya di luar negeri."


Meka masih belum bisa percaya jika Renata telah menjadi orang yang bijak. Tentu saja ia lega karena Renata tak akan mengganggu hidupnya lagi. Akan tetapi, rasa peduli terhadap orang yang dianggapnya teman itu masih ada. Ia tahu betapa beratnya menjalani kehidupan sebagai seorang Renata yang harus memenuhi ekspektasi dari orang tuanya.


Seringkali Renata menangis di depannya, merasa tidak kuat menjalani hidupnya. Penyimpangan perilakunya bersama Ferdian dilakukan untuk melupakan penderitaannya. Meka tahu hubungan Renata dan Ferdian sejak lama. Ia menyembunyikan kenyataan itu rapat-rapat bahkan setelah Renata mulai menjalin hubungan dengan Melvin.


Akan tetapi, suatu keburukan pada akhirnya akan terbongkar. Melvin mengetahui sendiri bahwa Renata berselingkuh dengan Ferdian. Akibat kesalahpahaman, Meka dituduh sebagai orang yang membocorkan rahasia itu kepada Melvin. Padahal ia tak melakukan apapun.


Hubungannya dengan Ardi harus kandas. Ferdian menjadikannya budak sebagai bentuk balas dendam karena Renata pergi darinya. Tak pernah Meka diperlakukan dengan baik. Ia hanya dijadikan sebagai pemuas naf*su ferdian belaka. Kapanpun lelaki itu menginginkannya, Meka harus menurutinya. Sampai akhirnya Meka hamil, ia dibuang begitu saja.


Entah apa yang membuat keadaan begitu berubah. Ferdian yang awalnya sangat membencinya, kini justru menjadi lelaki yang paling mencintainya. Seorang Meka menjadi pujaan Ferdian, sungguh hal yang sulit dipercaya.


Meka berdiri di depan rumah megah yang pernah ia tinggalkan. Callista berada dalam gendongannya, sementara Davin digendong oleh Ferdian. Pelayan berjajar di ruang tamu menyambut kedatangannya kembali. Wajah mereka tampak senang melihat kehadiran Meka.

__ADS_1


Selama Meka tinggal di sana, para pelayan mendapat perlakuan yang ramah. Meskipun posisi Meka sebagai istri dari Ferdian yang tak perlu bersusah payah mengurus rumah, ia kerap kali terjun langsung membantu pekerjaan para pelayan. Meka juga tak sepenuhnya menyerahkan anak-anak kepada pengasuh. Wanita itu masih meluangkan waktu untuk bermain, menyuapi, bahkan mengganti popok.


Ayah dan ibu mertuanya turut hadir menyambut kedatangan Meka. Mereka memeluk hangat kembalinya menantu kesayangan sebagai ganti dari Renata. Meskipun Meka bukan berasal dari keluarga yang derajat sosialnya tinggi, namun menilai dari perilakunya, tentu saja keluarga Ferdian mau menerimanya dengan tangan terbuka. Apalagi Meka telah melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan, yang kelak mampu meneruskan bisnis keluarga.


"Selamat datang, Sayang. Aku harap kamu tidak akan lagi meninggalkan rumah ini," ucap ibu Ferdian.


"Terima kasih atas sambutannya, Ma. Maafkan Meka juga pernah mengecewakan Mama." Meka tidak enak hati karena dulu pernah pergi tanpa pamit. Saat ibu Ferdian memintanya untuk kembali, ia juga terus menolaknya.


"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Kita lanjutkan saja kehidupan dengan lebih baik. Renata sudah tidak ada di sini, tidak ada yang perlu menjadi beban dalam pikiranmu lagi."


"Apa kepergian Renata tidak berpengaruh pada bisnis keluarga, Ma? Orang tua Renata kan ...."


Ibu Ferdian menyentuh pundak Meka. "Kami sudah mengatasinya, Renata cukup sadar diri untuk mengakui kondisinya. Ia juga sudah membuat surat kuasa kalau yang berhak mengasuh Callista adalah Ferdian, orang tuanya tak boleh ikut campur. Jadi, tolong cintai Callista seperti anakmu sendiri."


"Sekarang, naiklah ke atas. Tidurkan Callista dan kamu juga perlu istirahat. Pasti melelahkan setelah memikirkan masalah yang cukup pelik ini."


Meka tidak menyangka akan mendapatkan ibu mertua sebaik itu. Ia pikir ibunya Ferdian tipe yang kejam terhadap menantu, ternyata sebaliknya. Bahkan ibu Ferdian lebih baik dari pada ibu kandungnya sendiri yang bahkan tidak peduli dengan keberadaannya jika bukan karena uang.


Meka menaruh Callista di tempat tidurnya. Davin sudah lebih dulu tidur di sana saat Meka masuk. Anak itu pasti kelelahan setelah bermain-main kembali dengan pengasuhnya.


Ia menutup pintu kamar anak-anak lalu beralih ke kamarnya. Ferdian sudah berada di atas ranjang sembari tersenyum melihat kedatangannya.

__ADS_1


"Kemarilah, Sayang," pintanya.


Meka berjalan lurus ke arah ranjang. Ia naik ke dan tubuhnya langsung ditarik ke dalam pelukan Ferdian. "Aku sangat mencintaimu," ucapnya sembari mendaratkan kecupan di pipi Meka. Tentu saja Meka senang mendengar pengakuan seperti itu. Baru kali ini lelaki itu mengungkapkan perasaannya.


"Kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Meka.


Ferdian membelai rambut panjang meka seraya menatap dalam-dalam matanya. "Maafkan perbuatanku yang dulu. Aku berjanji akan berusaha menjadi suami dan ayah yang terbaik untukmu, Davin, dan Callista. Mari, kita mulai lembaran hidup baru yang indah."


"Aku sudah lama memaafkanmu, Di. Tapi, bagaimana dengan Renata? Dia sedang sakit ...."


Mood Ferdian agak terganggu mendengar nama Renata disebut. "Kita percaya saja kalau dia pasti bisa mengurus dirinya sendiri. Dia pasti bisa melakui hari-harinya dengan baik. Kita juga harus berusaha menjalani pernikahan kita dengan harmonis. Aku tak mau berpisah denganmu."


Ferdian memajukan bibirnya, melu*mat bibir Meka dengan ringan. "Bagaimana kalau malam ini kita mengulang malam pertama sebagai peringatan kita kembali tinggal bersama?" pintanya tanpa malu-malu. Justru Meka yang jadi merona mendengar permintaan Ferdian.


"Aku sedang meminta persetujuanmu, kenapa kamu malah jadi diam?" Ferdian membelai pipi Meka yang tampak merona. Wanita itu terlihat tak berani menatap wajahnya.


"Biasanya kamu tidak pernah meminta pendapatku," ucapnya lirih.


"Makanya mulai sekarang aku akan lebih banyak meminta pendapatmu. Aku akan berusaha memperlakukanmu dengan lebih baik karena kamu istriku."


Meka mengangkat wajahnya. Ia turut membalas tatapan suaminya. Ini pertama kalinya mereka bicara dari hati ke hati. Meka rasa, kali ini ia akan bisa membina rumah tangga dengan baik.

__ADS_1


Ferdian mulai kembali mendekatkan wajahnya. Meka melakukan hal yang sama. Bibir mereka saling bertaut mesra menghasilkan bunyi decapan yang saling bersahutan. Satu per satu pakaian yang melekat di tubuh mereka terlepas hingga tak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuh mereka. Malam semakin larut. Cahaya temaram lampu kamar menambah kesan romantis malam mereka.


__ADS_2