PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
PERCAKAPAN MENYENANGKAN


__ADS_3

Memperhatikan gaya makan Gita seperti orang yang sudah lama tidak makan. Cara menyuapkan makanan ke mulutnya sama sekali tidak elegan, seperti kuli bangunan. Rei jadi semakin penasaran, benarkah wanita seperti itu pernah tinggal di istana keluarga ternama? Kelakuannya mirip seperti orang biasa. Bahkan tidak menunjukkan kalau dia pernah bekerja di posisi yang cukup baik di perusahaan. Namun, melihat caranya bekerja sebagai petugas kebersihan memang jelas terlihat kalau dia memang tidak pernah kerja berat.


"Tidak usah buru-buru makannya, kalau masih kurang, nanti aku belikan lagi."


Gita langsung memperlambat makannya. "Tidak usah, Pak. Ini sudah cukup, Kok." Ia menyunggingkan senyum dengan pipi tembem penuh makanan.


"Aku kalau melihatmu jadi kasihan." Rei terus memperhatikan tingkah lucu wanita yang ada di sebelahnya.


"Kalau kasihan, jangan kasih makanan, Pak. Kasih jabatan."


"Pfftt!" Rei menahan tawanya. Gita memang konyol. Jawabannya saja bisa membuat dia ingin tertawa.


"Serius, Pak. Baru dua mingguan bekerja di sini rasanya mau pingsan setiap hari," keluhnya.


"Sudah saya bilang kalau tidak kuat berhenti saja. Sepertinya pekerjaan ini memang tidak cocok untukmu."


"Kalau saya tidak kerja nanti saya mati, Pak. Saya milih pingsan deh daripada mati." Gita menyedot minuman dingin yang menyegarkan tenggorokannya.


Rei kembali menahan tawanya. "Sekarang kamu tinggal dimana? Katanya kan apartemenmu diambil pacar?"


"Mantan, Pak ... mantan." Gita menegaskan kata-katanya. Dia sudah tidak sudi lagi mengingat lelaki yang sudah mengkhianatinya itu.


"Ya, maksudku mantan pacarmu."


"Saya tinggal sementara dengan bestie, Pak. Kebetulan bestie saya punya suami Bang Toyip yang jarang pulang, kerjaannya di pelayaran, pulang setahun sekali. Makanya saya bisa numpang. Tapi, katanya dua bulan lagi suaminya pulang. Aku harus siap-siap hengkang dari sana."


"Mudah-mudahan sebelum suami bestie pulang saya sudah diterima kerja."


"Memangnya kamu sudah memasukkan lamaran ke perusahaan lain?" tanya Rei.


"Tentu saja sudah, Pak. Sambil menunggu panggilan saya numpang mengais rezeki di sini ya, Pak. Pokoknya jangan pecat saya."


"Kamu juga memasukkan lamaran ke perusahaan ini?"


Gita menoleh ke arah Rei. Ia menatapnya serius. "Di sini kan tidak membuka lowongan sesuai dengan kompetensi saya. Apa Bapak mau membukakan lowongan untuk saya?" Matanya berbinar penuh harap.


"Tidak."


"Yah." Jawaban Rei merusak ekspektasi tinggi yang telah dibangunnya. Ia kira bosnya itu merasa kasihan dan mau menolongnya memberikan pekerjaan yang lebih baik.


"Selamat menunggu pengumumannya, ya. Mudah-mudahan kamu diterima di salah satu perusahaan yang kamu masuki lamarannya."


Gita membuang muka. Rasanya sudah tidak mood untuk meneruskan pembicaraan. Ia benar-benar kecewa dengan ekspektasinya sendiri.

__ADS_1


Rei senyum-senyum sendiri sembari memakan makanannya. Membuat wanita itu kesal menjadi hiburan tersendiri untuknya. Ia ingin lebih lama menggodanya.


"Kenapa kamu kalau jam istirahat selalu menyendiri di sini? Kenapa tidak makan dengan teman-temanmu?"


"Kok Bapak bisa tahu?" tanya Gita santai. Dia sedikit heran bosnya selalu ada dimanapun ia berada.


Rei mati kutu sendiri dengan peetanyaan Gita. Tidak mungkin ia menjawab kalau sebenarnya selama ini ia sering memperhatikan Gita secara diam-diam. Ia tidak ingin harga dirinya jatuh karen kejujurannya. Apalagi hanya untuk wanita aneh seperti Gita.


"Kebetulan saja beberapa kali lewat aku kira tempat ini berhantu dan kamu jadi penunggunya. Untunglah hanya manusia biasa."


Minuman di tangan Gita habis. Ia mengambil minuman Rei yang masih tersisa tanpa permisi lalu meneguknya.


"Besok akses ke tempat ini mau saya kunci."


"Wah, jangan, Pak! Punya dendam apa sih sampai Bapak tidak berhenti mengganggu saya. Kasihan lah, hidup saya sudah banyak masalah, jangan ditambah beban lagi, Pak!" protesnya.


"Memangnya kenapa harus menghabiskan waktu istirahat di sini? Kamu kan bisa duduk di pantry atau di kantin bareng karyawan lain?"


"Saya tidak ada uang untuk membeli makanan, Pak. Malu saya nanti banyak yang menawarkan diri untuk mentraktir saking miskinnya saya."


"Memangnya kamu semiskin itu, ya?"


"Iya, Pak. Makanya beri saya pekerjaan yang bagus." Gita masih berusaha merayu bosnya.


"Bapak kira apartemen yang pernah saya miliki warisan nenek moyang? Saya beli dari hasil kerja, Pak. Setelah lunas dirampok lelaki laknat itu. Tabunganku juga masuk ke investasinya dan ikut lenyap. Jadi, saya memang benar-benar miskin sekarang. Jangan dihujat, ya!"


"Kamu memang benar-benar bodoh."


"Jangan diingatkan lagi, Pak. Saya memang bodoh." Gita tampak menghela napas. Setiap kali mengingat tentang mantan pacarnya, ia jadi emosi dan ingin menghajarnya sampai mati.


"Nih!" Rei menyodorkan beberapa lembaran kertas kepada Gita.


"Apa ini, Pak?" Gita menerimanya, membaca potongan lertas berbentuk persegi panjang itu. Ternyata kupon makan di kantin perusahaan. Ada sekitar 10 lembar yang diberikan Rei kepadanya. "Ini untuk saya?" tanyanya.


"Iya. Biasanya karyawan baru mendapatkan kupon gratis makan di kantin kantor. Kamu belum mendapatkannya dari kepala kebersihan, kan?"


"Belum, Pak."


"Mungkin dia lupa memberikannya. Kamu bisa gunakan kupon itu selama masih menjadi karyawan di perusahaan ini."


Gita tersenyum lebar. Setidaknya kekhawatirannya akan kelaparan sudah berakhir.


"Kalau kamu butuh tempat tinggal, di belakang bangunan ini ada mess yang biasa dipakai oleh pegawai yang berasal dari luar kota. Karena kamu termasuk gelandangan, menurutku layak juga untuk tinggal di sana."

__ADS_1


Gita melirik tajam ke arah Rei. "Pak, Anda mau menolong atau menghina, ya? Bahasanya kasar sekali menyebutku gelandangan."


"Oh, tidak suka, ya? Apa aku harus memanggilmu tuna wisma supaya terdengar lebih halus dan sopan? Atau homeless supaya terdengar keren?" Rei sangat sengaja memancing emosi Gita.


Gita memutar bola matanya malas. "Sama saja itu, Pak!" gerutunya.


"Seharusnya kamu rebut kembali apartemen itu dari mabtan pacarmu. Bukankah sangat bodoh merelakan sesuatu begitu saja?"


"Kalau saya tahu caranya, sudah saya lakukan, Pak. Boro-boro mau menuntutnya mengembalikan apartemenku. Pihak pengelola apartemen saja bisa mengusirku! Sudahlah! Merepotkan untuk terus memikirkan sesuatu yang sudah hilang. Bukankah lebih baik kita kembali berusaha. Harta juga bisa dicari lagi."


"Kamu tidak menyesal kehilangan harta kekayaanku?"


"Tidak, Pak. Itu sudah hal yang biasa."


Rei bangkit dari duduknya.


"Anda mau kemana?" tanya Gita.


"Mau kembali ke ruangan saya. Sebentar lagi ada rapat. Kamu jangan lama-lama di sini, takutnya kesurupan." Rei menyunggingkan senyum setelah meninggalkan Gita.


"Mila, tolong kamu hubungi semua perusahaan yang dimasuki lamaran kerja oleh Gita Ayunda. Suruh mereka menolak wanita itu, jangan sampai ada yang menerimanya!" perintah Rei ketika ia telah kembali ke ruangannya.


"Tapi, kenapa, Pak?" Mila heran dengan permintaan bosnya.


"Tidak apa-apa. Lakukan saja seperti yang aku minta." Rei tak mau menjelaskan alasannya.


"Baik, Pak. Akan saya lakukan."


"Kamu sudah mempersiapkan berkas-berkas untuk rapat kita siang ini?"


"Sudah, Pak. Semuanya sudah beres."


"Kalau begitu, kita langsung ke ruang rapat saja sekarang."


"Baik, Pak."


*****


Sambil menunggu update selanjutnya, mampir sini ya, yang suka cerita-cerita pelakor.


Judul : Istri Tangguh Rasa Pelakor


Author : Uma_Bhie

__ADS_1



__ADS_2