PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
APA TINDAKAN KITA?


__ADS_3

"Tadi aku sudah berbicara empat mata dengan Gita. Kamu jangan kaget dengan apa yang akan aku katakan."


Rei sengaja membawa Melvin duduk di area taman yang sedang sepi pengunjung. Ia butuh tempat privasi untuk membahas tentang masalah Ruby. Sebenarnya tidak apa-apa kalau ayahnya juga tahu, masalah akan cepat selesai. Hanya saja, jika ayahnya yang bertindak, sepertinya masalah akan melebar kemana-mana. Rei berharap bersama Melvin bisa menyelesaikan masalah itu secara diam-diam.


"Apa katanya?" Melvin jadi tidak sabar untuk mendengar apa yang akan Rei sampaikan.


"Gita bilang Ruby hampir diperkosa oleh Alben."


Melvin membelalakkan mata mendengarkan perkataan Rei. Gigi-giginya saling bergesekkan serta urat lehernya tertarik. Emosinya seketika memuncak.


Ruby tidak mau mengatakan yang sebenarnya telah terjadi. Ia hanya dia dan memeluknya saat ditanya. Istrinya seperti orang ketakutan tapi tidak mau memberitahukan sumber ketakutannya.


"Si bang*sat itu sepertinya memang harus dibunuh!" umpat Melvin.


Sebelum kejadian itu, Ruby juga pernah bilang sempat bertemu Alben di lokasi pembuatan iklan produk perusahaan mereka. Melvin sudah berinisiatif untuk mengganti Ruby di bagian promosi dengan orang lain. Dia kira semua akan berjalan dengan baik, Ruby tak perlu berurusan dengan Alben.


"Aku rasa dia sudah sangat terobsesi dengan Ruby. Kamu harus lebih menjaganya secara hati-hati. Sudah tahu kan, seperti apa mantan dosen itu dulunya?"


Melvin semakin mantap untuk melarang Ruby bekerja. Memang, tempat teraman Ruby adalah di rumahnya sendiri. "Apa menurutmu aku harus melaporkannya ke polisi? Dia hampir mencelakai istri dan calon anak-anakku."


"Aku rasa itu terlalu ringan untuknya. Hukuman yang bisa diberikan paling sebatas percobaan pelecehan. Kalau mau menjeratnya dengan hukuman yang lebih berat, kita harus mengumpulkan kesaksian korban-korban Alben."


Melvin berpikir sejenak. Sejak zaman kuliah juga dia sudah berusaha untuk membongkar kejahatan Alben. Akan tetapi, saat semua bukti dan saksi mulai terkumpul, biasanya para saksi mengurungkan diri, tidak berani memberi kesaksian. Akhirnya kasus dihentikan tanpa hasil. Alben adalah salah satu kebanggaan kampus, pandai menjaga reputasinya.


Kali inipun sama. Jika hanya mengandalkan saksi, rasanya Alben akan kembali bisa berkilah. Ia harus mengumpulkan bukti-bukti yang lebih berat agar bisa menjerat Alben.


"Kalau tidak bisa mendapatkan keadilan, mungkin aku harus mengambil tindakan sendiri."


"Jangan gila kamu!" bentak Rei. "Ingat, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah. Jangan sampai terlibat dalam tindakan kriminal, apapun alasannya. Kamu itu juga bukan mafia!"

__ADS_1


"Aku akan meminta bantuan Papa."


"Itu lebih gila lagi!" Rei sengaja mengajak Melvin diskusi justru untuk menghindari keterlibatan ayahnya. "Aku yakin Papa akan langsung membunuh Alben kalau tahu putri kesayangannya hampir diperkosa. Kita diam-diam saja menyelesaikan semua masalah ini. Aku juga akan berusaha membantu. Sampai Alben bisa kita jebloskan ke dalam penjara atau rumah sakit jiwa, jaga Ruby. Alben sudah berani sejauh ini, kedepannya dia bisa lebih nekad."


Melvin tampak bingung. Entah apa yang seharusnya ia lakukan. Alben tidak boleh dibiarkan berkeliaran.


"Aku mau pulang sekalian mengantar Gita."


"Gita itu ... putrinya Pradita Kusuma, ya?"


"Iya. Bukankah kamu sudah tahu?"


Melvin menggaruk kepalanya. "Orangnya agak berbeda dilihat secara langsung. Aku hampir tidak mengetahuinya." Padahal Melvin pernah melihat di ponsel Rei, tapi dia malah tidak sadar. Sepertinya Ruby juga lupa.


"Orang yang kamu bilang mau membunuh ibu tirinya sudah menyelamatkan istrimu," sindir Rei.


"Aku kan hanya menyampaikan apa kata orang, Rei. Sialan! Kenapa malah menyindirku!" gerutu Melvin.


"Pa, aku mau pulang sekarang, ya! Sekalian mengantar Gita." Pamit Rei.


"Ya, pulanglah! Suruh sopir mengantarkan Bi Minah ke sini."


"Oke!" jawab Rei.


"Ruby, aku pulang dulu, ya."


"Iya, Gita. Terima kasih sudah merepotkanmu hari ini. Kalau ada waktu, jenguk aku lagi, ya!" pinta Ruby seakan mereka sudah berteman dekat.


"Hahaha ... aku usahakan kalau pekerjaanku tidak banyak. Semoga lekas sembuh .... " Gita melambaikan tangan seraya berbalik badan mengikuti Rei yang akan pulang.

__ADS_1


"Papa mau ke toilet dulu."


"Iya, Pa."


"Sayang, apa kamu kenal Gita?"


Ruby mengerutkan dahi. "Mana aku kenal, Kak. Aku baru bertemu dengannya hari ini."


"Dia yang pernah kamu lihat di ponsel Rei, cleaning service di perusahaan Rei. Masih ingat?"


Ruby sampai ternganga. Bisa-bisanya ia lupa dengan wanita yang pernah dicurigai sedang dekat dengan kembarannya. "Hah! Bagaimana bisa aku lupa? Pantas saja Rei dan Gita kelihatannya sudah sangat akbrab ... oh, ya ampun ... ternyata aku ditolong oleh calon iparku. Hahaha ...." Ruby terkekeh sendiri membayangkannya.


*****


"Hah!" Alben membanting kasar tas kerja miliknya. Emosinya sudah pada di taraf maksimal yang ingin ia keluarkan. Dasi yang melilit di lehernya ia lepas dengan kasar lalu membuangnya sembarang.


Alben berjalan ke arah kamar mandi. Ia memandangi dirinya dalam cermin besar yang ada di sana. Wajahnya penuh luka lebam akibat perbuatan dua wanita agresif yang menyerangnya.


Bukan luka itu yang membuatnya geram, melainkan usahanya yang kembali gagal untuk mendapatkan Ruby. Dilepaskannya kemeja lusuh serta celana yang ikut kotor akibat perkelahian sebelumnya. Kembali ia memandangi wajahnya di dalam cermin. "Aku ini sangat tampan dan berkharisma," gumamnya. "Aku juga cerdas, berpendidikan, serba bisa. Apa lagi ng kurang dariku?"


Pandangannya beralih pada dinding sebelahnya. Di sana banyak terpasang foto-foto Ruby yang ia kumpulkan dari berbagai sumber, termasuk media sosial yang Ruby gunakan. Ada satu foto paling besar yang menjadi pusat dari foto-foto kecil di sekitarnya.


Alben kembali mengingat momen-momen manis saat Ruby masih menjadi mahasiswanya. Hubungan mereka dulu pernah dekat. Ruby mahasiswa pertama yang membuatnya senantiasa terngiang-ngiang.


Ada banyak mahasiswi yang jatuh hati padanya, bahkan rela menyerahkan tubuhnya hanya untuk kepuasan sementara. Ruby, mahasiswa baru dengan sifatnya yang ceria itu, bahkan tidak sedikitpun tertarik padanya. Padahal, Alben hanya memberikan perhatian khusus untuk Ruby.


Mungkin kesalahannya sendiri yang terlalu tergesa-gesa untuk mendapatkannya. Ia sampai harus melewati waktu dua tahun di luar negeri untuk menebus sikap gegabahnya. Tidak Alben sangaka, Ruby, permata hatinya, akhirnya menikah dengan lelaki kasar seperti Melvin.


"Aku lebih baik darinya," ucap Alben.

__ADS_1


Dengan tubuh polosnya, ia masuk ke area mandi. Dinyalakannya shower yang mengucurkan air membasahi seluruh tubuhnya. Sembari menikmati mandi, ia memandangi potret Ruby yang juga terpasang di sana. Karena Ruby, minatnya kepada wanita lain hilang. Hanya Ruby yang ingin ia jadikan wanita satu-satunya. Akan ia ambil Ruby sekalipun harus menghadapi Melvin.


__ADS_2