PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
CEO BARU


__ADS_3

"Pak, ada apa ini? Kenapa kita semua tiba-tiba dikumpulkan?" tanya Ruby sembari berusaha menyamakan langkah kaki Pak Adimas, CEO perusahaannya.


Semalam ia secara mendadak mendapat pemberitahuan dari pihak kantor, tepatnya sekertaris CEO, untuk datang tepat waktu ke kantor. Pagi ini akan diadakan rapat mendadak dan sangat penting. Seluruh Manager diharapkan bisa hadir tepat waktu karena pentingnya pertemuan tersebut.


"Nanti juga kamu akan tahu sendiri." jawab Pak Adimas tanpa menghentikan langkahnya.


Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor perusahaan menuju ruangan rapat. Ketika memasuki ruangan, sebagian besar manager telah hadir. Pak Adimas duduk di kursi paling depan, sementara Ruby duduk di bangku samping kanannya.


"Selamat pagi, semua .... "


Pak Adimas mulai membuka rapat pagi itu setelah semua jajaran manager telah datang memenuhi undangan. Tidak seperti biasanya mereka menghadiri rapat yang diberitahukan secara mendadak dan dilaksanakan sepagi itu.


"Terima kasih telah memenuhi undangan kami. Pasti Anda sekalian bertanya-tanya, ada masalah apa sampai perusahaan memberikan undangan rapat yang mendesak."


"Tidak perlu khawatir karena kondisi perusahaan baik-baik saja."


"Hari ini saya akan menyampaikan sebuah kabar gembira berkenaan dengan perusahaan kita ini."


"PT GoodFood telah resmi melakukan merger dengan salah satu perusahaan di luar negeri seperti yang kita harapkan."


Berita dari Pak Adimas mendapat sambutan tepuk tangan yang meriah. Mereka senang jerih payahnya selama ini akhirnya membuahkan hasil. Perusahaan merek bisa go internasional dan bisa mengembangkan bisnisnya lebih luas lagi.


"Saya juga ingin menyampaikan bahwa mulai hari ini, saya akan berhenti sebagai CEO di perusahaan ini."


Perkataan Pak Adimas berikutnya membuat orang-orang saling berpandangan dan bertanya satu sama lain. Menurut mereka, kinerja Pak Adimas cukup baik dan kompeten, tidak seharusnya dia diberhentikan atau dimutasi ke daerah lain.


Ruby juga terkejut dengan kabar itu. Ia tidak tahu kalau Pak Adimas akan berhenti menjadi CEO. Pak Rosano, meskipun sifatnya yang kurang baik, tapi pekerjaannya juga lumayan. Dia juga dipindahkan ke kantor cabang di luar daerah sehingga dirinya yang menggantikannya.


"Saya tidak dipecat ... saya hanya dipindahkan ke kantor cabang lain, yang ada di luar negeri. Jadi kalian tidak perlu sedih." ucap Adimas sembari senyum-senyum. Dia sangat tahu bahwa mereka sebenarnya mengkhawatirkannya. Setelah mendengar penjelasannya, kini mereka berbalik meratapi diri mereka sendiri.


"Untuk menggantikan saya yang akan pergi ke luar negeri, ada seseorang yang datang dari jauh yang akan menduduki jabatan CEO baru. Kalian tentunya harus mematuhi siapapun atasan yang akan memimpin kalian."

__ADS_1


"Sebuah perusahaan akan menjadi besar dan berkembang apabila antara pemimpin dan yang dipimpin memiliki tujuan dan cita-cita yang sama. Jangan sampai kalian memiliki arah yang berbeda."


Tok tok tok


Terdengar suara pintu diketuk. Seketika suasana menjadi hening.


"Oh, sepertinya orang yang kita nanti-nantikan telah datang." Adimas memberi kode kepada sekretarisnya untuk membukakan pintu.


Ketika pintu terbuka, dua orang berpakaian rapi masuk ke dalam. Penampilan mereka yang berkharisma langsung menarik perhatian.


Terutama Ruby. Nafasnya seakan berhenti mengetahui siapa yang masuk ke dalam ruangan rapat. Tatapan matanya seolah melekat tak bisa lepas dari sosok lelaki itu. Pandangan mata mereka bertemu. Lelaki itu menyunggingkan senyum nakalnya seolah ingin pamer kepada dirinya bahwa dia keren. Melvin Andrea Adinata.


Ruby tidak menyangka bahwa CEO baru yang dibahas oleh Pak Adimas ternyata adalah Melvin. Seandainya tidak ada orang di sana, mungkin ia sudah berteriak histeris dan memeluknya erat. Setelah sekian lama ditinggal, akhirnya Melvin kembali pulang.


Pak Adimas bangkit dari tempat duduknya. Ia berdiri menyalami Melvin dan Tomi, lalu memperkenalkannya kepada jajaran pemimpin di PT GoodFood.


"Perkenalkan, pria muda yang masih single ini adalah calon pengganti saya di sini."


Suasana menjadi sedikit riuh ketika Melvin dikenalkan.


"Silakan Anda perkenalkan diri terlebih dahulu." Pak Adinata memnerikan kesempatan bicara.


"Terima kasih, Pak Adinata. Perkenalkan, nama saya Melvin Andrea Adinata. Mulai hari ini akan bergabung di perusahaan ini. Mohon dukungan dan bantuannya, terima kasih." ucapnya singkat.


Melvin melirik ke arah Ruby. Wanita itu pura-pura tidak memperhatikannya karen malu.


Pak Adinata mempersilakan Melvin duduk di tempatnya, sementara ia bergeser duduk di sisi kiri. Melvin perlu menyampaikan rencana kerjanya secara garis besar kepada para calon anak buahnya. Ia ingin mereka tahu bagaimana gaya dia bekerja.


"Ibu Ruby, tolong ke ruangan saya sebentar setelah Anda membereskan semuanya." kata Melvin saat acara rapat selesai.


Aktingnya sangat natural, berpura-pura tidak mengenal Ruby.

__ADS_1


"Baik, Pak." jawabnya.


Melvin dan Tomi berjalan meninggalkan ruangan sementara Ruby masih sibuk mengemasi perlengkapannya. Rekan kerjanya yang lain sudah pergi lebih dulu.


*****


"Permisi, Pak." sapanya ketika masuk ke dalam ruangan CEO.


"Ah!" Ruby memekik.


Melvin menariknya masuk ke dalam lalu menutup kembali pintu itu serta menguncinya. Padahal Ruby sudah jantungan lebih dulu.


Lelaki itu memeluknya erat seakan tak mau melepaskan. Ada aura semacam kerinduan yang baru saja tersalurkan ketika mereka bertemu kembali setelah perpisahan yang lama.


Melvin menatap lekat wajah yang ada di hadapannya, wajah yang membuatnya semangat, setiap hari bekerja keras demi melihat wajah itu lagi.


Melvin sebenarnya memiliki kesempatan untuk mendapatkan perusahaan yang ada di luar negeri. Akan tetapi, karena rasa cintanya kepada Ruby, ia memilih menukar kesempatan itu dengan menjadi CEO di PT GoodFood, yang kini telah merger dengan perusahaannya di luar negeri.


Melvin mengusap pipi mulus Ruby. Perlahan tanganya bergerak ke belakang, ke arah tengkuk. Wajahnya semakin di dekatkan dengan wajah Ruby.


Seakan sudah mengerti bahwa ia akan mendapat ciuman, Ruby membuka mulutnya, membiarkan Melvin melabuhkan bibirnya di sana. Ketika kecupan-kecupan lembut mulai ia rasakan di bibirnya, ada geleyar rasa yang tak mampu ia tafsirkan. Apalagi ketika lidah mereka saling bersentuhan, ada semacam sengatan-sengatan kecil di sekujur tubuhnya yang membuat ia tak mampu menolak kemesraan yang tercipta.


Nafas mereka tersengal-sengal ketika ciuman itu diakhiri. Menghirup udara sebanyak-banyaknya sembari mengatur nafas.


"Ibu GM, sepertinya aku harus memecatmu karena sudah berani menggodaku di hari pertama kerja." ucap Melvin sembari tersenyum-senyum.


Ruby sampai tercengang ingin marah dan memukulnya. "Anda yang menarik saya masuk ke dalam, Pak!" kilahnya.


"Oh, iya? Lalu apa ini?" Melvin memegang ujung rok mini pendek yang bisa memperlihatkan setengah pahanya.


"Pak, ini kan hanya seragam kerja dan menurut saya masih sopan."

__ADS_1


"Sopan kalau hanya aku yang melihatnya." jawab Melvin tegas.


*****


__ADS_2