
Selepas mengantarkan Ruby ke rumah sakit, Ardi memenuhi janjinya kepada Gita untuk mengajak nonton dan jalan-jalan. Mereka lebih dulu pulang kembali ke apartemen untuk mengganti pakaian, mengingat pakaian yang Ardi kenakan juga kotor berlumuran darah. Elen bahagia Ardi masih memikirkannya setelah apa yang terjadi.
Mereka memilih untuk menonton film bergenre action romantis yang bercerita tentang kehidupan mafia. Porsi adegan berkelahi di film yang mereka tonton lebih sedikit dibandingkan dengan adegan romantis antara dua pemeran utama. Beberapa kali ada adegan yang cukup membuat hati mereka berdebar-debar saking menegangkannya. Tangan mereka berpegangan erat. Elen merebahkan kepalanya pada lengan Ardi. Melihat adegan kemesraan di film membuat ia malu sendiri. Apalagi menonton bersama pasangan.
“Kenapa? Mau?” bisik Ardi. Ia memperhatikan tingkah Elen yang terus menempel padanya sepanjang film terutama saat adegan yang cukup intim.
Elen semakin malu mendapat pertanyaan seperti itu.
Cup!
Ardi memberiakan ciuman kilat yang membuat Elen sampai melebarkan matanya. “Mas ... tempat umum. Kalau orang lihat malu,” protesnya. Meskipun begitu, sebenarnya dia sangat menyukai apa yang baru saja Ardi lakukan.
“Tidak apa-apa, kita kan sudah menikah. Semua orang sedang fokus ke film, aku tidak bisa fokus menonton. Apa kamu sengaja memilih film seperti ini agar aku cepat-cepat ingin membawamu pulang dan masuk kamar?”
Elen kira hanya dirinya yang jadi berpikiran kotor selama menonton film dewasa itu. Ternyata suaminya juga merasakan hal yang sama. Pengambilan gambar dalam film itu sangat bagus, dari sisi cerita sampai cuplikan adegan dewasa yang ditampilkan.
“Mas Ardi pengin?” tanyanya polos.
“Pegang sendiri ya, supaya tahu ....” Ardi hampir menarik tangan Elen untuk memegang sesuatu, namun Elen menolak. Untung saja mereka duduk di barisan pojok belakang yang jumlah penontonnya sedikit.
Film masih terus berlanjut bahkan pada bagian yang cukup panas. Elen sampai tidak berani menatap layar bioskop karena perbincangan mereka juga tak jauh-jauh dari hal itu. Ingin sekali ia mempercepat filmnya supaya tidak terus-terusan melihat adegan seperti itu.
Ardi tersenyum melihat tingkah malu-malu Elen. “Sesekali nanti coba seperti itu, kamu yang di atas,” goda Ardi.
“Mas ... apa-apaan, sih!” ia jadi kesal karena digoda.
“Kamu pintar sekali memilih film. Ternyata bisa untuk belajar juga menjadi istri yang lebih menarik untuk pasangan. Meskipun bukan mafia, ya ....”
Elen tidak menyangka kalau film yang dipilihnya cukup banyak adegan dewasanya. Pantas saja orang yang menonton rata-rata adalah pasangan. Kalau menonton sendiri, mungkin akan mati kutu di dalam bioskop. Elen hanya memilih film yang sedang hangat menjadi perbincangan. Baru tahu ternyata isi filmnya seperti itu.
“Mau kemana lagi setelah ini?” tanya Ardi.
__ADS_1
“Aku mau ke taman hiburan dan pasar jajanan tradisional. Apa nanti tidak terlalu larut kita pulang?”
“Kenapa takut kemalaman? Kamu pergi dengan suamimu sendiri. Pulang tengah malam juga tak akan ada yang melarang.”
“Bukan begitu maksudku, Mas Ardi kan besok harus bekerja. Kalau kesiangan bagaimana?”
“Tidak apa-apa, aku kan bosnya. Lagipula besok tidak ada agenda rapat. Kamu juga besok ada kuliah, kan?”
Elen menggeleng. “Jadwalnya diganti, dipadatkan minggu depan. Jadi, besok aku tidak ada kuliah.”
“Kalau begitu, malam ini kita menginap saja di luar.”
***
“Pemirsah, CEO perusahaan jasa periklanan Next Agency, Alben Rahadi, meninggal terkena tembakan peluru polisi. Diketahui sebelumnya, Alben melakukan usaha penculikan dan penganiayaan terhadap pasangan suami istri Melvin Andrea Adinata dan Trisia Ruby Wijaya. Alben Rahadi juga diduga sebagai pelaku penganiayaan yang dialami oleh Reino Ahmad Wijaya dan Haidar Wijaya. Sementara ini kasusnya masih terus diusut untuk mencari keterlibatan pihak-pihak lain dalam peristiwa tersebut. Sampai berita ini diturunkan, polisi belum bisa memastikan siapa saja yang terlibat selain Alben Rahadi sebagai otak dari peristiwa tersebut.”
Pak Wijaya mematikan siaran televisi di ruangannya. Ia sudah bosan melihat hampir seluruh stasiun televisi memberitakan tentang keluarganya. “Edgar, tolong kamu atasi berita yang beredar. Usahakan secepatnya mereka menghentikan pemberitaan,” pinta Wijaya kepada sekertarisnya.
Pak Wijaya tidak terlalu suka keluarganya terekspose ke media. Meskipun berita itu benar dan mampu menambah popularitas perusahaannya, Wijaya tak ingin kehidupan pribadinya diketahui orang lain. Tanpa berita itu pun ia bertekad untuk terus mengusut masalah yang ditimbulkan oleh Alben terhadap keluarganya. Sayangnya, pelaku sudah lebih dulu mati. Kalau Alben masih hidup, Wijaya pasti akan membuat kehidupan Alben menderita perlahan-lahan.
Kemarahannya meninggi mengetahui jika sebenarnya Alben sudah mengganggu putrinya sejak lama, bukan akhir-akhir ini saja. Bahkan, saat Ruby kuliah di kota sebelah, putrinya hampir menjadi korban pemerkosaan oleh Alben. Wijaya tak akan melepaskan orang-orang yang terlibat.
Termasuk juga keluarga Alben yang masih hidup, mereka harus ikut menanggung perbuatan yang pernah dilakukan oleh Alben.
“Buat bangkrut Next Agency dan perusahaan keluarga Alben lainnya. Pastikan tidak ada pengusaha yang mau bekerjasama dengan mereka lagi.”
“Baik, Tuan.”
Wijaya mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Langit di luar sana terlihat sangat cerah. Ia tidak sabar mendengar berita kehancuran dari keluarga Alben.
“Meskipun aku terkenal sebagai orang yang tenang dan diam, aku tidak akan pernah memaafkan siapapun yang mengusik keluargaku,” gumamnya.
__ADS_1
“Pa ... “ Melvin melongok dari balik pintu. “Ruby sudah sadar.”
Pak Wijaya tampak sumringah mendengar kabar yang dibawakan oleh menantunya. “Edgar, tolong bantu aku turun dari ranjang,” pintanya.
Edgar segera mendekati Pak Wijaya, membantu lelaki paruh baya itu turun perlahan dari ranjang perawatannya. Edgar memegangi lengan Pak Wijaya. Meskipun kondisinya sudah semakin membaik, ia takut atasannya itu akan pingsan sewaktu-waktu.
Edgar menuntun Pak Wijaya menuju ruangan Ruby. Wanita itu tersenyum melihat kedatangan ayahnya. Tampaknya ia lega kondisi ayahnya sudah semakin pulih.
“Bagaimana kondisimu, Sayang?” Pak Wijaya mencium kening putrinya.
“Aku baik-baik saja, Pa. Papa sendiri bagaimana?”
“Papa? Tentu saja sudah sehat.”
“Hahaha ... Papa jalan saja masih dibantu Edgar berani bilang sudah pulih.”
“Edgar memang suka berlebihan, padahal Papa kuat jalan sendiri.” Pak Wijaya duduk di sisi ranjang Ruby sembari menggenggam tangan putrinya. Di sana juga ada Melvin dan Rei yang menemani.
“Aku pikir aku akan mati, Pa ....”
“Kalau kamu seperti itu terus, kamu bisa mati. Lain kali jangan gegabah bertindak sendiri, ada banyak penjaga yang Papa bayar untuk menjagamu. Heran Papa bisa punya anak bodoh sepertimu.” Pak Wijaya berkata setengah kesal. Ruby sejak dulu selalu membuatnya khawatir.
“Pa, nanti Ruby aku bawa pulang ke apartemen saja. Ruby sudah tidak betah di sini.”
“Kalau mau pulang, pulang ke rumah Papa. Di sana lebih banyak orang daripada apartemenmu. Papa juga mau pulang kalau Ruby minta pulang.”
“Lah, Papa kok ikut-ikutan?” ledek Ruby.
“Memangnya ada yang berani melawan Papa?” tantang Pak Wijaya.
“Ya jelas tidak ada, Pa. Papa kan yang paling top!” Ruby mengacungkan kedua jempolnya.
__ADS_1