PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
GIBRAN DAN PUTRI TERKUNCI.


__ADS_3

Semakin mendekat mahluk itu menghampiri Putri hingga ia pun berhasil merayap tepat ditangan mulus yang tergeletak dilantai.


Putri yang baru aja menimpali pembicaraan Gibran barusan. Seketika perkataanya pun terhenti setelah ia menyadari jika ada sesuatu yang menyentuh tangan kirinya.


Sesosok mahluk kecil berwarna putih dengan bulu halusnya yang berhasil mengendus-endus tangan kirinya hingga dirinya pun terkejut setelah melihat makhluk apa yang sedang menggodanya saat ini.


"Tunggu, kok ada yang aneh ya di tanganku ini. Seperti berbulu?"tanya Putri yang tanpa berkata lagi, ia pun menengok ke kiri dan ternyata.


"Ahhhhh tikus...tikus...pergi. pergi kamu...hus..hus..."


Dengan berusaha Putri mengusir si tikus itu, tapi bukan malah menjauhinya si tikus malah semakin mendekati Putri. Hingga Putri yang sudah dipenuhi ketakutan ia pun menaiki meja sebagai pelindungnya


Melihat ekpresi yang ditunjukkan Putri saat ini, membuat Gibran yang melihatnya ia pun tidak bisa menahan tertawanya yang sampai cekikikan.


"Kamu? Dari pada kamu tertawa tidak jelas seperti itu, cepat singkirkan tikus itu dari pandanganku cepat!"teriak Putri dengan dirinya yang menaiki sebuah meja.


"Gak, ngapain juga aku harus mengusirnya bukannya kamu sendiri yang berkata kalau kamu inggin menginjak tikus mungil ini, jadi cepat injak-lah aku inggin lihat?"tantang Gibran dengan cekikikan secara terus menerus.


"Aku mohon aku ngaku kalau aku telah berbohong tadi, jadi aku mohon tolong..tolong cepat singkirkan tikus itu dari sini, cepat...aku mohon.


"Iya.. iya..aku akan menyingkirkannya, tapi kamu turun dulu, kamu gak mau pegang sekali aja.


"Aku bilang cepat singkirkan itu!"teriak Putri sambil melempar sesuatu ke arah Gibran tapi tidak mengenainya.


"Iya...iya!"timpal Gibran yang kemudian ia pun menghampiri tikus tersebut.


Dengan perlahan Gibran pun menangkap tikus berwarna putih yang sangat mungil , dan ia pun menjauhkan tikus itu dari jarak agak jauh agar tikus tersebut tidak menganggu Putri lagi.


"Sudah aku sudah membuangnya, jadi cepat kemari lah apa kamu mau dihampiri lagi sama emaknya si tikus itu?"ledek Gibran.


"Jangan sampai itu terjadi, anaknya aja sudah bikin geli seperti itu, apalagi emaknya ataupun bapaknya yang ada aku bakal pingsan lagi?"


"Tapi gak bakal ada lagi kan tikus disini?"ucap Putri sembari melihat kanan kiri, dan mulai turun dari atas meja.


"Ya tergantung kalau kamu mau bersanding denganku. Aku rasa gak bakal ada yang mengganggumu. Karena aku akan selalu melindungimu!. Timpal Gibran yang seketika membuat pandangan Putri beralih menatapnya.

__ADS_1


"Apa seperti itu cara kamu menggoda seorang wanita. Dan ada berapa banyak wanita yang berhasil kamu goda?".


"Maksud kamu apa? Aku tidak pernah menggoda siapa-siapa?"timpal Gibran kemudian.


"Oh kamu tidak pernah menggoda seorang wanita, terus apa yang kamu lakukan tadi bukannya kamu baru aja menggodaku?" sahut Putri secara langsung.


"Sekarang aku tanya sama kamu? Apa kamu serius sama sekali gak ingat sama siapa aku, apa kamu gak ingat sama sekali kenangan kita waktu dulu?" tanya Gibran dengan tatapan seriusnya.


"Maksud kamu apa? Memangnya kita pernah ada hubungan. Bukannya kamu itu playboy yang akan menggoda banyak wanita cantik, dan tidak menghargai kekasih kamu sendiri aku tahu lagi?"


"Kekasih, darimana kamu tahu soal kekasihku? Siapa yang bilang?" timpal Gibran dengan pertanyannya barusan.


"Revi sendiri yang bilang kepadaku kalau kamu itu laki-laki playboy yang akan menggoda banyak wanita. Bahkan dia sendiri juga bilang kalau kamu itu sama sekali gak pernah menghargainya dia sebagai kekasih kamu, kamu itu ternyata gak ada bedanya sama seorang bajin*an ya?"


"Revi, jadi dia yang ngasih tahu kamu kalau aku ini laki-laki playboy. Dasar! Sudah terserah kamu mau mengatakan apa karena pada kenyataanya suatu saat nanti lo juga bakal tahu sendiri siapa aku.


Mendengar ucapan Putri yang menuduhnya sebagai seorang playboy, Gibran lebih memilih terdiam dan tidak mengatakan apapun.


"Yahh kenapa malah dia yang jadi ngambek?"ujar Putri yang akhirnya ia pun kembali duduk membelakangi Gibran.


Putri yang pada saat itu sedang melihat-lihat, pandangan pun tertuju pada sebuah jendela tanpa menunggu ia menghampirinya.


"Astaga ternyata ada jendela disini?"gumam Putri yang akhirnya mengangkat kursi untuk dia naiki.


"Kamu, apa yang inggin kamu lakukan?" tanya Gibran yang melihat Putri yang sedang hendak inggin menaiki kursi.


"Tanpa kita sadari disini ada jendela, mungkin disinilah jalan keluar bagi kita agar kita bisa keluar dari tempat ini?"balas Putri yang kemudian ia pun perlahan-lahan menaiki kursi kayu tersebut.


Melihat tindakan apa yang dilakukan Putri saat ini, Gibran yang melihatnya ia malah memberikan reaksi yang berbeda yaitu menertawakannya secara langsung.


"Kenapa kamu malah tertawa, apa ada yang lucu!"tanya Putri dengan menunjukkan tatapan sinisnya.


"Hey apa kamu lupa kita ini berada dilantai dua, jadi mana mungkin ada jendela yang berlanjut menuju ke koridor sekolah, jadi kalaupun ada jendela yang ada pasti bawahnya sudah pasti los langsung terjun kebawah. Apa kamu inggin terluka apa!.


"Gak, aku gak percaya!"timpal Putri yang tidak mau mempercayai perkataan Gibran.

__ADS_1


Setelah berhasil menaikinya rasa kesal pun menghampirinya, lantaran ternyata memang benar yang dikatakan Gibran tadi jika luar jendela ini tidak ada tangga yang akan menyangganya.


"Kenapa wajah kamu terlihat kusut gitu?"


"Ternyata memang benar, diluar langsung loos. Sekarang apa yang harus kita lakukan, apa kita akan terkunci sampai besok disini?" ujar Putri yang terlihat bersedih.


Melihat Putri yang terlihat kehilangan keseimbangan untuk bisa turun dari kursi tinggi, Gibran pun lantas menawarkan diri.


" Apa kamu butuh bantuan, kelihatannya kamu sedang kesusahan?"tawar Gibran.


"Tidak, aku bisa sendiri!"timpal Putri lagi.


"Baiklah, tapi ingat kalau lo sampai jatuh gue gak bakal nolongin lo?"


"Terserah, lagian aku juga bisa jaga diri!"


Baru juga Gibran selesai berkata, Putri pun kehilangan keseimbangan yang akhirnya kursi yang ia injak pun oleng. Gibran yang melihat hal itu ia pun spontan langsung berdiri dan menangkap tubuh Putri yang sudah oleng ke samping.


Jatuh kelantai tepat diatas dada Gibran membuat pandangan mereka pun seketika tidak bisa teralihkan. Detak jantung yang seketika berdegup kencang membuat Putri pun tidak mampu mengucapkan sepatah katapun lagi, hingga kesadaran kembali sesaat Gibran yang mencoba meledeknya.


"Ternyata ada untungnya juga ya lo jatuh diatas badan gue. Jadi lo bakal kena benturan yang kedua kalinya. Dan apa yang sedang kamu pikirkan sekarang?"


Sontak Putri yang mendengar ucapannya itu, iya pun bergegas bangkit dari atas tubuh Gibran, rasa malu pun tidak bisa ia sembunyikan lantaran kedua pipinya yang seketika memerah.


"Astaga perasaan apa itu yang aku rasakan tadi, kenapa sekarang hatiku jadi berdegup kencang seperti ini?"batin Putri dengan ekpresi yang masih terlihat kebingungan.


"Kamu, kenapa kamu jadi terdiam apa kamu sedang memikirkan sesuatu?"tanya Gibran yang kemudian ia pun perlahan-lahan mulai menghampiri Putri, Putri yang menyadari itu, ia pun seketika menjadi panik dan teringat akan perkataan yang diucapkan oleh Revi pada waktu itu soal lelaki playboy.


"Astaga apa yang inggin dia lakukan, kenapa dia menatapku dengan tatapan seperti itu!" batin Putri yang akhirnya ia pun perlahan-lahan memundurkan diri kebelakang.


"Apa yang inggin kamu lakukan, jangan coba-coba cari kesempatan.


Mendengar ancaman yang diucapkan oleh Putri, tidak membuat Gibran menghentikan niatnya tersebut. Dan semakin dekat ia pun akhirnya mendekatkan wajahnya tepat berhadapan dengan wajah Putri.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2