
Ferdian menatap wanita yang ada di sampingnya. Kedua mata mereka bertemu. Ia selipkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik itu. Ada rasa penyesalan di hatinya mengingat perlakuan yang pernah ia berikan kepada Meka di masa lalu. Ia merasa bodoh bisa menyia-nyiakan wanita sebaik dia.
Untunglah ia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki perlakuan yang pernah diberikan. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan berusaha membahagiakan wanita itu dengan seluruh hidupnya. Tidak akan lagi ia biarkan mata indah itu meneteskan air mata kesedihan. Akan ia hujani hati wanita itu dengan kebahagiaan yang tak berkesudahan.
Pandangannya turun sedikit ke bawah memandangi dua gundukkan yang sintal. Ia julurkan tangannya meraih benda yang seukuran dengan genggaman tangannya itu. Melihat perubahan wajah Meka yang merona membuatnya kian berhasrat.
Tangannya hanya digerakkan menyusuri permukaan kulit istrinya yang halus. Dari area dada semakin turun mengelus pinggang ramping serta perut yang rata. Bagian belakang Meka tak kalah berisi. Ini pertama kalinya ia mengagumi keindahan tubuh sang istri. Pantaslah tubuh itu selalu membuatnya candu.
Meka hanya terdiam malu membiarkan suaminya menjelajahi tubuhnya. Malam itu serasa pertama kali baginya menghabiskan waktu dengan Ferdian. Wajahnya semakin memerah ketika tangan nakal suaminya semakin turun ke bawah mengusap lembut miliknya. Satu jari perlahan terselip perlahan di dalam sana, membuat suara lengkuhan yang sedari tadi tertahan akhirnya keluar.
"Di ...." Ada rasa malu saat menyadari Ferdian tersenyum ke arahnya. Seolah lelaki itu memang sengaja menghodanya untuk melihat respon di wajahnya.
"Cantik." Pujiannya semakin membuat Meka merasa malu. Apalagi jari yang terselip di dalam sana secara perlahan digerakkan, membuat dirinya tak bisa tenang. Rona wajah yang semakin memerah serta desa*han manja yang keluar membuat Ferdian semakin ingin menggoda wanita itu. "Aku ingin melewati malam ini tanpa tergesa-gesa. Kamu tidak mau mencoba pegang punyaku juga?"
Meka membulatkan mata. Ia menggeleng.
"Kenapa? Bukankah bagus mencoba sesuatu yang baru? Kamu belum pernah, kan?" goda Ferdian.
__ADS_1
"Di, jangan aneh-aneh. Lakukan seperti biasa lalu tidur. Aku sudah mengantuk," tolak Meka.
Ferdian menyeringai. "Aku tidak akan membiarkanmu tidur malam ini."
Dipagutnya bibir milik Meka sembari menarik tangannya agar memegang miliknya membuat Meka membelalakkan mata terkejut. Wanita itu tak bisa melawan. "Ini yang sering masuk ke dalam milikmu," ucapnya dengan nada mesra.
Baru pertama kali bagi Meka menyentuh benda panjang yang telah menegang milik suaminya. Ia tak menyangka benda sebesar itu yang selama ini menembus masuk dalam kepemilikannya. Selama ini ia hanya pasrah setiap kali Ferdian mengajak bercinta. Hari ini lelaki itu membuatnya melakukan hal yang baru dan membuat deg-degan.
Tangannya dibimbing maju mundur memijit benda itu. Ia memberanikan diri menatap mata suaminya yang tampak menikmati sentuhan tangannya. "Teruskan, Sayang," perintahnya dengan mata pandangan yang meremang.
"Ah!" Meka menjerit saat jari di bawah sana mulai bergerak lincah.
Meka kembali menggerakkan tangannya di atas benda hangat itu. Sementara, tubuhnya bergerak gusar dan sesekali mengeluarkan desa*han merasakan gerakkan jari suaminya yang semakin liar.
"Di, sudah, aku tidak tahan ...." Meka menunjukkan ekspresi wajah memelas. Ia ingin segera dipuaskan dan mengakhiri sesi bercinta mereka.
"Keluarkan saja. Jangan hentikan gerakkan tanganmu."
__ADS_1
Gerakkan jari di bawah sana semakin liar membuat Meka tak tahan. Seluruh tubuhnya menegang dan akhirnya mencapai puncak kepuasan pertama. Napasnya tersengal-sengal. Tubuhnya melemas tak berdaya.
"Enak?"
Pertanyaan itu membuat Meka malu. Meskipun kenyataan, ia tak kuasa mengakui hal itu di hadapan suaminya. Ia hanya bisa menelusupkan kepala ke dada bidang Ferdian.
Usai memberikan jeda waktu agar Meka kembali meraih tenaganya, Ferdian menindih tubuh wanita itu di bawahnya. Ia lebarkan kedua kaki Meka memposisikan miliknya yang sudah sangat siap masuk. Ia pagut kembali bibir manis itu membari memasukkan miliknya perlahan. Kedua tangannya tak bisa diam memainkan kedua bukit kembar yang berisi itu.
Napas mereka berpadu. Suara desa*han berpautan setiap kali Ferdian menggerakkan miliknya. Malam terasa sangat indah dilewatkan dengan sesi bercinta yang berjalan lambat dan santai.
Ferdian membalikkan tubuh mereka hingga posisi keduanya bertukar. Meka ada di atasnya tampak kebingungan. Ia bimbing istrinya agar duduk di atasnya seperti orang yang sedang menunggangi kuda. Dengan malu-malu ia mulai menggerakkan tubuhnya. Keduanya sama-sama terhanyut dalam permainan yang mereka ciptakan sendiri. Meka mengerang penuh kenikmatan. Sama halnya dengan Ferdian yang ada di bawahnya. Hingga akhirnya tubuh mereka limbung setelah mencapai puncak kepuasan bersama.
Ferdian menutupi tubuh polos mereka dengan selimut sembari memeluk istrinya. "Terima kasih, Sayang," ucapnya.
Meka merapatkan tubuhnya. Ia bisa merasakan kehangatan dan ketulusan cinta yang diberikan oleh Ferdian. Hati yang dulu sempat membeku seakan kini mulai kembali terisi dengan bunga-bunga cinta. Ia rasa mulai benar-benar mencintai Ferdian. Meka sudah banyak melihat perubahan positif dalam diri Ferdian.
*****
__ADS_1
Sambil menunggu update selanjutnya, bisa mampir ke sini ya 😘