PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
BERITA MENGEJUTKAN


__ADS_3

"Uhhh ...." Elen tersadar dari pingsan. Ia memegangi kepalanya yang masih terasa berat.


"Indra, buatkan teh manis hangat di sana!" perintah dokter cantik itu.


Indra segera berjalan ke arah pantry yang ada di klinik kampus itu. Sementara, dokter wanita itu duduk di sebelah Elen.


"Saya ada di mana?" tanya Elen.


"Jangan bangun dulu!" dokter itu melarang Elen yang mencoba bangkit dari tidurnya. "Kamu ada di klinik kampus, tadi Indra yang membawamu ke sini."


Elen kembali mengingat semua hal sebelum pingsan. Ia ada di perpustakaan, lalu Indra datang seperti biasa. Saat akan pergi, Indra tetap mengikutinya dan tiba-tiba kepalanya terasa berat, setelah itu ia tak mengingat apapun.


"Ini tehnya, Dokter." Indra memberikan teh yang baru dibuatnya.


Dokter itu membantu Elen duduk lalu menyuruhnya untuk meminum teh hangat.


"Permisi ...."


Mereka menatap ke arah pintu masuk klinik. Ada Ardi berdiri di muka pintu. Lelaki itu mencari sosok istrinya yang kata teman kuliah Elen tadi dia pingsan.


"Mas Ardi ...," panggil Elen.


Ardi berjalan mendekat ke arah Elen. Tatapannya sempat bertemu dengan mata Indra yang memandang ke arahnya dengan perasaan tidak suka. "Kamu kenapa, Sayang? Kalau merasa kurang sehat, seharusnya tidak perlu memaksakan diri masuk kuliah." Ardi memberikan pelukan dan mengusap kepala Elen dengan penuh kasih sayang.


"Anda suaminya?" tanya dokter wanita itu.


"Benar, Dok. Istri saya kenapa?"


"Dia hanya pingsan. Sepertinya karena kelelahan atau banyak pikiran dan kurang makan. Tekanan darahnya rendah. Kalau bisa kondisinya lebih dijaga lagi mengingat Elen sepertinya sedang hamil."


Ardi dan Elen saling berpandangan. Indra turut terkejut mendengar ucapan dokter barusan.


"Istri saya hamil, Dok?" tanya Ardi memastikan. Elen tidak bicara apapun tentang kondisinya. Ia benar-benar tidak tahu.


"Sepertinya kalian terkejut? Untuk memastikannya, kalian bisa cek langsung ke dokter kandungan. Mahasiswa hamil itu tidak apa-apa asalkan sudah ada suaminya. Selamat, ya ...."


Elen cukup terkejut mendengar kehamilannya. Meskipun Ardi tidak masalah jika pernikahan mereka akan menghasilkan anak, Elen memilih diam-diam mengkonsumsi pil KB untuk mencegah kehamilan. Mungkin saja dokter itu salah diagnosa.

__ADS_1


"Em, apa saya bisa pulang sekarang?" tanya Elen.


"Iya, kamu boleh pulang sekarang. Jaga kesehatanmu, ya." dokter itu menyunggingkan senyum.


Ardi membantu Elen turun dari ranjangnya. Mereka hanya melirik ke arah Indra ketika berjalan melewatinya. Lelaki yang biasanya memilih berdebat dengan Ardi itu hanya terdiam di tempatnya.


Sebelum pulang ke rumah, Ardi benar-benar mengajak Elen ke dokter kandungan. Hasil pemeriksaannya menunjukkan bahwa Elen memang sedang hamil 12 minggu, artinya usia kandungannya sudah memasuki 3 bulan. Elen sama sekali tidak merasakan tanda-tanda kehamilan. Ia kira selama ini tidak mendapatkan siklus bulanannya karena masih mengkonsunsi pil KB, bukan karena hamil.


"Kenapa sejak tadi kamu kelihatannya terus murung?" Ardi memberanikan diri bertanya setelah mereka sampai rumah. Selama di perjalanan, Elen hanya diam dan ekspresi wajahnya seakan tidak senang padahal berita yang mereka dapatkan pagi ini merupakan berita yang seharusnya sangat menggembirakan.


"Aku tidak apa-apa, Mas." Elen berusaha mengelak.


Ardi tak begitu saja percaya. Dihadapkannya tubuh istrinya agar menatap wajahnya. "Katakan, apa masalah? Dokter tadi bilang kalau kamu sepertinya juga mengalami stres. Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku."


Elen memang selama ini merasa cukup tertekan dengan perasaannya sendiri. Meskipun Ardi selalu memperlakukannya dengan baik, ia belum sepenuhnya yakin jika Ardi telah mencintainya. Ardi orang baik, dia bisa saja baik dengan siapapun, termasuk dirinya. Setelah mereka bercerai, maka cinta itu akan langsung hilang. Elen sangat mengkhawatirkan hal itu. Apalagi tatapan suaminya kepada Ruby masih saja belum berubah.


Ruby memang tidak bersalah, Elen hanya merasa cemburu saja dengan kehangatan tatapan yang diberikan Ardi kepada Ruby setiap kali mereka bertemu. Sebagai seorang istri sementara, sebenarnya ia ingin mengeluh, tapi seakan ia tak berhak bersuara. Ardi telah membayarnya dan menanggung kebutuhan sehari-hari dirinya dan keluarganya.


"Perutmu masih sangat terlihat rata. Aku tidak menyangka di dalam sudah ada anak kita." Ardi mengelus perut Elen sembari tersenyum bahagia. "Bagaimana caranya agar aku bisa membuatmu tersenyum? Ini berita yang sangat membahagiakan, tapi kamu malah murung."


"Tentu. Katakan saja apa yang ingin kamu katakan. Aku akan mendengarkannya." Ardi menuntun Elen agar duduk di tepi ranjang. Tangannya ia genggam. "Kamu kelihatannya lebih kurus. Selama hamil harus lebih rajin makan, apapun yang kamu inginkan, katakan saja. Aku akan berusaha memenuhi kemauanmu. Supaya kamu sehat, bayi kita juga sehat." Ia mengelus lembut pipi Elen.


"Sebenarnya selama ini aku KB, Mas."


Perkataan Elen membuat senyum di bibir Ardi seketika lenyap. "Jadi, kamu tidak menginginkan kehamilan ini?" tanya Ardi.


Elen menunduk. "Aku takut kalau melahirkan anak nasibnya bagaimana kalau kita telah bercerai."


Ardi cukup kaget dengan perkataan Elen. "Kita sudah membahas hal itu, aku tetap akan bertanggung jawab kepadanya, bahkan kepadamu sampai nanti kamu mendapatkan suami baru."


"Aku tidak mau," tegas Elen. "Aku tidak mau punya anak yang terpisah dengan salah satu orang tuanya karena perceraian."


"Jadi, maumu bagaimana? Kamu mau menggugurkan anak ini?"


Elen terdiam tak bisa menjawab. Ardi juga tak bisa berkata-kata lagi dengan keputusan sepihak Elen. Baru saja ia merasa bahagia dengan berita kehamilan itu, Elen sudah kembali membuatnya hampir meluapkan emosi.


"Elen ...." Ardi mencoba membujuk istrinya. "Aku tahu tidak bisa memaksamu untuk hamil atau tidak, itu memang hakmu. Tapi, tolong dipikirkan lagi tentang hal ini. Apa yang harus aku lakukan agar kamu mengurungkan niatmu?" Ia berbicara sungguh-sungguh agar Elen tidak melakukan tindakan yang mungkin akan disesalinya.

__ADS_1


Air mata Elen meleleh. Ia tak bisa meluapkan perasaannya. Seperti ada yang tercekat di dalam hati untuk bisa berkata jujur.


"Kenapa malah menangis? Apa aku selama ini kurang baik memperlakukanmu?" Ardi mengusap air mata yang meleleh dari sudut mata Elen.


Elen menggeleng.


Ardi mengerutkan dahinya. Memahami seorang wanita memang sesulit itu. "Lalu kenapa? Aku tidak akan tahu kalau kamu tidak mengatakannya."


"Seperti yang aku bilang, Mas. Aku tidak ingin punya anak yang orang tuanya bercerai."


"Kalau begitu, kita tidak usah bercerai. Beres, kan?" jawab Ardi simpel.


"Mas Ardi bilang pernikahan kita hanya kontrak sampai aku lulus kuliah."


"Itu hanya perjanjian di awal, kan? Kalau kita saling cocok, kenapa kita harus bercerai?"


Elen menatap wajah suaminya. "Bukannya Mas Ardi tidak mencintaiku?"


"Kapan aku bilang seperti itu?" Pertanyaan Elen semakin aneh menurut Ardi.


"Mas Ardi menikah hanya untuk menghapus rasa bersalah saja karena dulu pernah meniduriku."


Ardi mengusap kasar wajahnya. "Dulu memang seperti itu, Elen. Tapi sekarang beda. Aku kira kita sudah sama-sama saling mencintai. Apa sekarang kamu yang sangat menginginkan perpisahan?"


Elen menggeleng. "Aku sangat mencintaimu, Mas. Sampai aku takut sekali kalau suatu saat kita akan bercerai. Aku bahkan tidak terlalu bisa konsentrasi dalam perkuliahan terutama jika Mas Ardi ada kerjaan di luar kota." Ia berkata dengan air mata yang terus bergulir membasahi pipi.


"Oh, kamu cemburu?"


Elen mengangguk.


Ardi merasa lega karena penyebab tingkah aneh Elen sebenarnya hanya karena cemburu. Ia tarik tubuh Elen ke dalam pelukannya. "Tidak ada wanita lain yang aku dekati setelah kita menikah. Aku sudah terbiasa mencintaimu sampai lupa kalau kita pernah membuat kontrak pernikahan itu. Jadi, pertahankan bayi kita yang sedang tumbuh itu. Aku akan tetap berada di sampingmu untuk membesarkannya bersama."


*****


Sambil menunggu update bab selanjutnya, mampir ke sini ya 😘


__ADS_1


__ADS_2