PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
KOKI BARU


__ADS_3

Ruby meregangkan tubuhnya. Matanya perlahan terbuka lalu menggulingkan badannya. Ia memandang sekelilingnya. Seperti ada yang janggal.


Ia terkesiap bangun saat mengingat seharusnya ia berada di rumah sakit menemani Tante Sukma. Tapi yang ada, ia justru terbangun di ruang kamar yang tampaknya sudah tidak asing lagi.


Ia layangkan pandangan ke sekeliling, di atas meja terpasang foto dirinya bersama Melvin. Dia tidur di kamar Melvin. Pakaian yang dikenakannya juga sudah diganti. Ia hanya mengenakan kaos berukuran besar yang panjangnya sampai menutupi setengah pahanya. Sepertinya itu pakaian Melvin.


Ruby menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia turun dari ranjang mengenakan sandal yang tergeletak di lantai.


Dari arah dapur terdengar suara berisik alat masak yang begesekan. Ruby mengernyitkan dahi, rasanya tidak mungkin kalau Melvin yang sedang memasak di dapur.


"Kamu sudah bangun?" Melvin memberikan senyuman termanisnya. Dengan semangat ia melanjutkan kembali kegiatan masaknya.


Ruby terbengong. Rasanya aneh melihat lelaki berwajah bule dengan tubuh jangkung mengenakan celemek sedang memasak di dapur. Tampilannya seperti koki ganteng yang ada di film.


Ia tidak menyangka kalau Melvin telah banyak berubah. Selain pandai berbisnis, sekarang lelaki itu ternyata sudah pandai memasak. Bagaimana Ruby tidak kagum dengan perubahannya di mantan anak manja itu?


"Duduk dulu, Sayang ... sebentar lagi sarapannya siap," pintanya.


Ruby berjalan mendekat ke arah dapur. Ia tidak duduk di meja makan, melainkan mendekati Melvin yang sedang memasak.


Matanya melongok ke arah penggorengan. Melvin sedang konsentrasi meletakkan nasi goreng di dalam telur dadar. Lelaki itu sedang mencoba membuat omurice, makanan khas Jepang untuk sarapan.


Cup!


Melvin mencuri waktu mencium pipi Ruby tanpa mengalihkan alat masaknya. "Kamu sudah lapar?" tanyanya.


"Mencium aroma masakan Kakak aku jadi lapar sekarang," gumam Ruby sembari mencium aroma masakan di hadapannya. Masakannya sangat wangi dan menggugah selera.


"Aku tidak menyangka kalau Kakak sekarang sudah jago masak."


Melvin hanya tersenyum, "Sudah aku bilang, dulu aku pernah jadi orang miskin. Mau tidak mau harus bisa melakukan segala hal sendiri."


Ruby memeluk Melvin dari belakang. Rasanya pagi ini ia juga ingin bermanja. Melihat ia dibuatkan sarapan, sisi kekanak-kanakkannya jadi muncul.

__ADS_1


"Kalau mau menggodaku, tunggu sampai aku selesai memasak, Sayang. Nanti aku bisa kena panci penggorengan yang panas." Melvin berusaha tetap fokus memasak meskipun di belakangnya ada wanita yang sedang menempel padanya dengan tangan yang tidak bisa diam, meraba-raba area perutnya.


Setelah penuh perjuangan, akhirnya Melvin berhasil menyelesaikan dua porsi omurice untuk sarapan mereka.


Melvin membalikkan tubuhnya, menghadapi orang yang sejak tadi mengganggunya memasak. "Kamu harus bertanggung jawab, ya! Aku jadi ingin bermesraan denganmu pagi ini."


Tanpa menunggu lama, Melvin langsung mengangkat tubuh Ruby yang tampak ringan seringan kapas. Ia bawa ke ruang tengah lalu direbahkan di atas sofa. Ciuman bertubi-tubi ia daratkan menyusuri setiap jengkal area wajah Ruby hingga ke area telinga dan leher. Meskipun berkali-kali ia meminta ampun karena kegelian, Melvin sepertinya masih tak ingin menghentikannya.


"Aduh, stop! Aku tidak kuat lagi!" Sekuat tenaga Ruby berusaha menyingkirkan lelaki itu dari atasnya.


"Tidak kuat apa? Kamu mau apa?" nada pertanyaan Melvin sangat menggoda. "Mau lanjut ke tahap yang lebih seru?" lanjutnya.


"Tidak mau!" tegas Ruby.


"Halah! Kalau dituruti juga pasti akan ketagihan."


Ruby menjulurkan lidahnya mengejek. "Kakak cocok sekali memakai apron ini." Ruby memandang kagum ke arah koki barunya.


"Kalau kamu suka, aku akan memasakkanmu setiap pagi." Mendapat sedikit pujian, Melvin langsung menyetujui untuk menjadi koki selamanya.


"Memangnya kenapa? Toh aku tidak pernah bertemu tetangga di sini. Aku tidak keberatan untuk membuatkanmh sarapan setiap pagi, karena sekarang aku bisa melakukannya. Aku juga bisa beberes rumah, juga mencuci." Melvin mengatakan bakat barunya dengan rasa bangga.


"Aku rasa Kakak selama di luar negeri sudah banyak belajar menjadi pembantu rumah tangga." Ruby geleng-geleng kepala tidak percaya.


"Itu namanya kemandirian, Sayang." Melvin mendaratkan satu ciuman di pipi Ruby.


"Sekarang Kakak sudah mandiri, nanti aku yang akan jadi manja kalau Kakak semua yang lakukan." Ruby memegangi apron warna biru yang menurutnya bentuknya lucu.


"Itu tidak masalah untukku. Asalkan bisa bersama kamu terus, aku rela memasak atau beberes rumah. Yang penting kalau malam ada yang kasih pelayanan." Melvin mengerlingkan sebelah matanya.


"Ada maunya juga ternyata!" Ruby mendorong tubuh Melvin sehingga ia bisa duduk dengan benar. "Kita makan dulu ya, Kak! Sayang kalau makanan yang sudah dibuat jadi dingin."


"Oke!"

__ADS_1


Melvin membali mengangkat tubuh Ruby. Ia membawanya kembali ke arah meja makan lalu mendudukkannya di bangku. Omurice yang tadi ia buat dihidangkan di depan Ruby dan dirinya.


"Mau aku suapi lagi seperti semalam?" tanya Melvin menawarkan.


"Tidak, aku mau mencicipi makananmu sendiri."


Ruby mulai menyendok makanan di piringnya. Ketika ia mengunyah omurice itu, rasa lembut dari telur serta gurih dari nasi goreng berbaur menjadi satu menghasilkan cita rasa yang luar biasa lezat. Ia tidak menyangka kalau hasil masakan Melvin akan selezat makanan di restoran Jepang.


"Aku belajar membuat ini langsung dari orang Jepang. Cara membuatnya sangat praktis, hanya bermain pada bumbu saja supaya menghasilkan rasa yang lezat. Kamu suka?"


"Suka sekali. CEO Perusahaan GoodFood memang tidak perlu diragukan lagi," ucap Ruby sembari menikmati makanannya.


Suapan demi suapan, rasa yang memenuhi seluruh rongga mulutnya tak bisa membohongi kalau masakan Melvin sangat enak.


"Sepertinya nanti perusahaan kita harus membuat produk baru omurice instan. Aku akan menjadi orang pertama yang memborong satu dus untuk stok dikala malas memasak!"


"Untuk apa repot-repot membeli kalau bisa mendatangkan langsung kokinya." Melvin menyibakkan rambut dengan gaya.


Ruby sampai lupa kalau ada lelaki bucin yang bersedia memasak untuknya setiap pagi.


"Oh, iya, Kak! Berarti semalam Kakak menggendongku dari rumah sakit ke apartemen?' Ruby mulai teringat kejadian kemarin.


"Iya. Tidurmu sangat nyenyak sampai susah untuk dibangunkan."


"Lalu, siapa yang menjaga Tante Sukma?"


"Ardi. Dia sudah pulang."


Raut wajah Ruby kembali berubah masam. Ia merasa bersalah kepada Ardi.


"Nanti aku mau bolos kerja. Aku harus menjelaskan semuanya kepada Kak Ardi." pinta Ruby.


"Aku sudah mengatakan semuanya kepada Ardi." kilah Melvin. "Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa kepadanya, aku sudah menyelesaikannya dengan Ardi."

__ADS_1


"Dia juga tidak marah kepadamu."


Meskipun Melvin telah berkata demikian, namun Ruby tetap merasa tidak enak hati.


__ADS_2