PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
111


__ADS_3

Setelah mendengar kabar jika pangeran kesayangannya masuk Rumah sakit karena habis saja terjatuh dari tangga, Gibran yang tadinya di Kantor dengan bergegas ia pun melajukan laju kendaraannya dengan kecepatan cukup tinggi lantaran pikiran yang sudah dipenuhi dengan kecemasan.


Tak menunggu waktu lebih lama. Akhirnya ia pun telah sampai juga di Rumah sakit Hospitality record, mengetahui berapa nomor kamar rawat yang dipakai Putranya, ia lebih mudah menemukannya. Setelah masuk ia pun langsung memeluk Rasya yang pada saat itu sedang terbaring di atas brangkar dengan perban yang melilit kening Putranya.


"Sayang kamu gak kenapa-kenapa kan. Apa kamu merasakan sakit, mana yang sakit sayang?"tanya Gibran dengan pertanyaan bertubi-tubi.


"Papa tenang saja Rasya baik-baik saja kok, untung saja tadi ada Dokter baik dan cantik yang menolong Rasya jadi Rasya baik-baik saja,"balas Rasya yang kemudian Gibran pun memeluknya lagi dengan sangat erat.


"Sayang, maafkan Papa..maafkan Papa kalau Papa tidak memperhatikanmu, maafkan Papa?"ucap Gibran yang inggin rasanya ia menangis.


"Iya Pa,"balas Rasya yang tanpa banyak berkata.


"Suster gimana keadaan Putra saya dia gak ada luka yang serius kan, dia baik-baik saja kan?"tanya Gibran pada Suster yang sedari tadi disampingnya.

__ADS_1


"Bapak tenang saja Putra anda baik-baik saja, dia hanya menggalami luka memar dan benturan kecil nanti juga akan sembuh dengan sendirinya,"balas Suster.


"Apa dia sudah boleh dibawa pulang?"tanya Gibran lagi.


"Iya Putra anda sudah boleh dibawa pulang.


"Maafkan saya Tuan, maafkan saya semua ini kesalahan saya, maafkan saya?"ucap Bibik yang terus-menerus berkata maaf sembari berlutut dilantai, yang akhirnya Gibran pun dengan segera langsung mendirikan Bibik kembali.


"Bibik jangan berkata seperti itu, saya tahu semua ini bukanlah kesalahan Bibik jadi Bibik jangan berkata seperti itu ya?"


"Baik Tuan!" balas Bibik.


Putri yang pada saat itu habis mengecek keadaan korban yang kemaren. Dan dia yang berniat inggin menjenguk Rasya kembali, langkahnya pun seketika terhenti setelah ia melihat siapa orang yang baru aja keluar dari ruangan itu dengan berpenampilan jas biru tua yang masih melekat pada tubuhnya yang ternyata Seseorang itu adalah Gibran.

__ADS_1


Berada tak jauh dari hadapannya, akan tetapi Gibran yang pada saat itu tidak melihat kearah Putri lantaran fokus pada pandangannya yang lain yang kemudian ia pun berbelok ke kanan lantaran berniat inggin kebagian administrasi untuk membayar biaya Rumah sakit ini.


Langkahnya yang tiba-tiba terhenti. Dan mulut yang seketika terkunci dan tidak mampu untuk mengatakan sepatah kata pun lagi yang akhirnya ia pun memutuskan untuk berbalik arah setelah ia tahu siapa Rasya yang sebenarnya.


"Apa? Jadi...jadi anak kecil itu adalah Putra mereka?"batin Putri yang tiba-tiba air matanya pun terjatuh, bergegas ia pun berputar balik.


"Dokter ada apa? Apa Dokter sakit?"tanya salah satu Dokter Wanita yang kebetulan melihat Putri yang tiba-tiba meneteskan air mata.


"Tidak, saya tidak kenapa-kenapa kok Dok, ya sudah saya tinggal dulu."


"Baik Dok."


"Ada apa dengan Dokter Putri kenapa dia jadi terlihat sangat sedih seperti itu?"gumam Dokter dengan pandangan yang masih penasaran dan menatap kearah Putri.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2