PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
SKANDAL MENGHEBOHKAN


__ADS_3

"Pak, katanya Anda mau cuti bulan madu, kenapa malah berangkat ke kantor?" Tomi yang sedang membereskan dokumen di ruangan Melvin terkejut melihat atasannya itu tiba-tiba datang ke kantor siang itu.


"Jangan sampai keceplosan membahas ini di kantor! Hanya kamu dan Meka yang tahu tentang hal ini." Melvin meletakkan tas di atas meja, menaruh jas di kepala kursi kerjanya, lalu duduk dengan nyaman di sana.


Melvin memang berencana tidak masuk kantor satu minggu ini. Ia juga meminta Ruby untuk cuti, tapi istrinya itu melarangnya libur. Katanya takut kalau ada orang lain yang curiga. Alhasil, ia tetap berangkat kerja dan Ruby yang harus mengambil cuti kerja.


"Karena Bapak hari ini masuk, apa jadwal rapat tetap bisa dilaksanakan sesuai jadwal?"


"Ya, kamu atur saja seperti rencana semula."


Tomi menyodorkan berkas-berkas yang perlu ditandatangani oleh Melvin. "Ini ada beberapa dokumen yang harus Anda tanda tangani, Pak. Saya sudah mengecek seperti yang Anda minta."


Melvin mengecek secara sekilas berkas yang Tomi berikan. Meskipun Tomi orang kepercayaannya, ia tetap harus mengecek ulang sebelum menandatangani sesuatu. Pengalaman bekerja di luar negeri memberikan ia pelajaran agar tetap hati-hati, sekalipun ada orang yang sangat ia percaya karena hati seseorang mungkin saja akan berubah.


Klek!


Pintu ruangan terbuka. Meka masuk ke dalam ruangan itu dengan ekspresi wajah yang panik dan cemas. Melvin dan Tomi sedikit kaget karena Meka masuk tanpa mengetuk lebih dulu. Ada sesuatu yang ingin disampaikannya.


"Maaf, Vin. Aku buru-buru masuk ke sini saat tahu hari ini kamu masuk kantor."


"Ya. Duduklah! Apa ada hal penting yang ingin kamu katakan?" Melvin sudah bisa menduga dari cara bicara Meka yang menanggalkan keformalannya di kantor. Sepertinya ia ingin berbicara tentang masalah pribadi.


"Kamu kemarin benar sudah menikah dengan Ruby?" tanyanya untuk memastikan.


"Iya. Aku semalam kami sudah menikah di rumah Ruby."


"Apa ada orang yang tahu tentang hal itu selain aku dan Pak Tomi?"


Melvin merasa heran dengan pertanyaan Meka. "Tidak ada. Acaranya dibuat tertutup. Hanya kalian berdua saja yang aku beri tahu."


"Para karyawan sedang heboh membahas tentang kalian. Kamu dituduh sebagai penyebab kegagalan pernikahan Ardi dan Ruby. Beritanya banyak bertebaran di internet.


Meka membuka ponselnya, mengetikkan kata kunci pencarian tentang berita viral yang menghebohkan kantor sejak pagi tadi. Ia memberikan ponselnya kepada Melvin agar lelaki itu bisa melihatnya sendiri. Melvin memperhatikan secara seksama judul berita yang memenuhi beranda browser itu. Semua judul memojokkan dirinya dan Ruby serta perusahaan.


'CEO Perusahaan GoodFood ternyata memiliki hubungan spesial dengan GM.'


'Penyebab gagalnya pernikahan Ardi Syauqy: Ada Lelaki Idaman Lain.'

__ADS_1


'Inilah potret CEO perebut hati tunangan Ardi Syauqy.'


'Belum lama ibunya meninggal, tunangan ditikung teman: Ardi Syauqy pengusaha yang malang.'


'Tunangan Ardi Syauqy lebih memilih duda.'


'Ardi Syauqy dan CEO GoodFood ternyata bersahabat.'


'Hampir menikah, tunangan Ardi Syauqy lebih memilih bos di perusahaannya.'


'Hubungan terselubung di kantor: Pertunangan akhirnya batal.'


'Foto mesra tunangan Ardi Syauqy dengan CEO GoodFood.'


Melvin masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Apalagi saat ia melihat foto-foto kebersamaan dirinya dengan Ruby di kantor bisa bertebaran di internet. Sepertinya ada yang memotret mereka secara diam-diam.


Baru saja semalam ia bahagia, hari ini sudah ada masalah besar yang telah menantinya. Ruby tak akan suka jika mengetahui berita itu. Ia harus membereskannya sebelum masalahnya melebar dan semakin besar.


"Apa yang harus kita lakukan, Pak?" Tomi ikut panik setelah melihat berita yang masih hangat beredar di internet.


Melvin berpikir keras. "Aku rasa ini ulah keluarga besar Ardi," ucapnya.


"Mereka pasti sangat kecewa pernikahan Ardi dan Ruby gagal. Sebab, mereka mengharapkan dengan pernikahan mereka bisa memperkuat posisi bisnis keluarga mereka," jawab Melvin.


"Banyak yang terkejut kalau sebenarnya Ruby putri pengusaha Haidar Wijaya. Mereka tidak menyangka putri pengusaha besar seperti dirinya bisa bekerja di perusahaan ini mulai dengan jabatan yang tidak terlalu tinggi," ujar Meka. "Ada yang aneh dengan merebaknya berita ini. Terutama foto-foto kebersamaan kalian di kantor. Aku rasa ada salah satu karyawan yang sengaja memata-matai hubungan kalian," lanjutnya.


Melvin kembali memperhatikan foto-foto dirinya dan Ruby. Bahkan ada foto saat mereka berciuman di ruangan Ruby. Apa yang dikatakan Meka kemungkinan benar.


Drrtt drrtt


Ponsel Tomi bergetar. Ia ambil ponselnya dari dalam saku dan memperhatikan nama penelepon di layar. "Pak, ada telepon dari Sekertaris Perusahaan D," ucap Tomi kepada Melvin.


"Kamu angkat saja."


Tomi mengangguk seraya menerima telepon itu. "Halo, selamat siang?"


"Selamat siang, Pak Tomi. Saya ingin menyampaikan bahwa rapat perusaan kami dengan GoodFood harus ditunda. Sepertinya perusahaan kalian memiliki permasalahan yang harus diselesaikan lebih dahulu. Kita bisa mendiskusikan ulang kerjasama perusahaan jika masalah di perusahaan Anda sudah bisa diselesaikan."

__ADS_1


Tomi terdiam. Ia sudah menduga bahwa berita itu juga akan berimbas kepada perusahaan.


"Baik, Pak. Nanti akan saya sampaikan kepada pimpinan kami."


"Terima masih."


"Kenapa, Tom?" Melvin bertanya karena melihat wajah murah Tomi setelah mematikan teleponnya.


"Perusahaan D ingin menunda pertemuan kerjasama dengan perusahaan kita, Pak."


"Apa gara-gara berita ini?"


Tomi mengangguk.


Melvin menggigit pulpen yang tadi ia gunakan untuk menandatangani dokumen. "Ya sudah, santai saja! Nanti kalau berita ini sudah mereda, mereka pasti akan kembali mencari kita."


"Anda ingin membiarkan berita ini?" Tomi agak kecewa mendengar keputusan bosnya.


"Apa yang bisa kita lakukan? Pernikahan Ardi memang gagal karena aku. Bahkan, sekarang calon istrinya sudah menjadi istriku. Meskipun opini yang di bangun dari berita-berita itu negatif, intinya tetap sama." Melvin merasa tak perlu mencemaskan berita semacam itu.


"Menurutku kamu harus tetap mengusutnya, Vin. Ini menyangkut nama baik kamu, Ruby, dan perusahaan," saran Meka.


"Mengusut masalah ini juga butuh waktu panjang, Meka. Saat sekua terbongkar, aku rasa berita ini juga sudah akan menghilang."


Melvin memijit keningnya. Perusahaan itu belum lama ia ambil alih. Meskipun jika perusahaan jadi bangkrut karena berita itu, ia tidak terlalu dirugikan. Hanya saja, usaha yang sudah dilakukan sejauh ini akan terasa menjadi sangat sia-sia.


"Sepertinya aku mencurigai seseorang, Vin."


Melvin kembali menatap ke arah Meka. "Siapa?"


"Dia orang yang sepertinya menyukai Ruby juga."


Melvin menyipitkan matanya. "Apa maksudmu Jonanthan?"


Meka mengangguk.


Melvin mengepalkan tangannya erat. Lelaki itu juga yang dulu hampir berniat buruk kepada Ruby. Kalau saat itu dia tidak datang, mungkin Ruby sudah ditiduri olehnya.

__ADS_1


"Tom, cek semua CCTV yang mengarah ke ruanganku dan ruangan GM. Cari tahu siapa yang sering berkeliaran di sekitar sana dalam waktu lama!" perintah Melvin.


__ADS_2