
Jonathan duduk dengan tenang di hadapan Melvin. Meskipun mendapat tatapan mata tajam, ia tetap tak terlihat ketakutan.
"Apa kamu tahu kenapa aku memanggilmu ke sini?" Melvin sudah lama mengincar Jonathan. Sejak peristiwa yang terjadi pada Ruby, mengetahui lelaki itu ada di kantor yang sama dengan wanita kesayangannya, ia selalu memasang sikap waspada.
Melvin tak bisa begitu saja memecat Jonathan. Dia sudah cukup lama bekerja di perusahaan dan memiliki rekam jejak yang sangat baik. Jonathan karyawan teladan beberapa tahun beberturut-turut. Ia juga karyawan kesayangan di bagian HRD.
"Saya tidak tahu, Pak."
Melvin sudah menduga lelaki itu akan berpura-pura tidak tahu. Ia langsung saja menekan tombol remot yang langsung menampilkan rekaman CCTV pada layar proyektor yang ada di hadapan mereka.
Melvin memutarkan beberapa rekaman saat Jonathan terlihat mondar-mandir di sekitar ruangannya, sesekali melongok ke dalam. Begitupula saat ia melewati ruangan Ruby. Memang, Jonathan tidak sampai masuk ke dalam. Akan tetapi, berkeliaran tanpa kepentingan di wilayah yang seharusnya tidak ia lewati merupakan sesuatu keanehan.
"Apa yang kamu lakukan di sekitaran wilayah ini? Kamu sedang memata-mataiku?"
"Tidak, Pak. Mana berani saya seperti itu. Sebenarnya hanya kebiasaan saya saja mencari tahu apakah di setiap ruangan ada orangnya atau tidak."
Melvin tertawa mendengar alasan yang tidak masuk akal.
"Apa Anda sedang menuduh saya atas berita yang beredar luas di internet?" tanya Jonathan.
"Seharusnya kamu sudah tahu arah pembicaraanku."
"Saya tidak tahu menahu tentang hal itu." Jonathan tetap mengelak.
Melvin kembali menampilkan potongan video terakhir yang ia punya. Jonathan tampak sedang mengintip ke dalam Ruangan Ruby saat pintu itu sedikit terbuka. Ia mengambil ponselnya, menjulurkan tangannya ke dalam seperti orang yang sedang merekam atau mengambil foto.
Kali ini Melvin yakin Jonathan sudah tidak bisa lagi mengelak. Lelaki itu tampak diam memperhatikan rekaman yang ada si layar proyektor. Raut wajahnya berubah sedikit panik.
"Apa kamu masih mau mengelak?" Melvin merasa ia telah menang. Dari gestur tubuhnya Jonathan sudah terlihat bersalah.
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau hal itu benar, Pak? Semua orang butuh tahu kalau di antara kalian ada hubungan. Ruby juga bukan sepenuhnya wanita baik-baik yang bisa mendua saat hari pernikahannya sudah di depan mata." Jonathan menutupi kegugupannya dengan berbicara kenyataan.
Ia menyeringai, "Anda pasti sangat sibuk menerima telepon pembatalan kerjasama saat ini. Bukankah lebih baik untuk fokus pada perusahaan dari pada mengurusi permasalahan kecil ini?"
Sifat asli Jonathan semakin terkuak. "Kamu tahu resikomu melakukan hal seperti ini?" Melvin mencoba menegaskan sanksi yang akan diberikan perusahaan.
"Anda akan mengeluarkan saya karena melanggar aturan perusahaan?" Untuk orang yang dituduh, Jonathan tidak ada rasa takut-takutnya.
"Itu sudah hal yang harus aku lakukan."
"Lalu bagaimana dengan karyawan yang bernama Meka? Anda pasti mengerti apa yang saya maksud."
Melvin terdiam sejenak. Tiba-tiba Jonathan membawa-bawa nama Meka juga dalam masalah mereka.
"Saya dan Meka sama-sama memiliki kesalahan. Namun, kesalahan Meka akan terus kalian tutupi karena kalian berteman. Saya sudah tahu Meka memiliki anak tanpa suami. Bukankah hal itu juga aib bagi perusahaan?"
"Kalau saya dipecat, berita itu juga akan segera keluar."
Jonathan tersenyum. "Saya hanya menginginkan keadilan. Jika wanita yang melanggar aturan perusahaan saja masih Anda pertahankan, kenapa harus memecat saya?"
Melvin merenung sejenak. "Aku sudah mengawasimu sejak kamu menaruh obat perang*sang dalam minuman Ruby."
Jonathan menelan ludahnya. "Apa maksud Anda?" Ia pura-pura tidak tahu.
"Acara gathering perusahaan, di klab xx. Aku punya rekamannya juga."
Jonathan terdiam. Ia tidak tahu kalau bosnya memiliki bukti peristiwa saat itu.
"Apa kamu kehilangan percaya diri sampai harus memakai cara-cara licik? Kamu merasa tidak bisa mengalahkan aku yang lebih tampan dan lebih kaya darimu? Bangun dari mimpi kalau kamu menginginkan istriku!"
__ADS_1
"Istri?" Jonathan sangat terkejut mendengar Melvin mengakui Ruby sebagai istrinya.
"Kaget? Terima kasih padamu karena aku akan segera mengatakan yang sebenarnya kepada publik."
"Sekarang, pergi dan kemasi barang-barangmu! Lakukan apa saja yang kamu inginkan. Aku tidak akan kalah darimu. Keluar!" Melvin mengusir Jonathan dari ruangannya.
Lelaki itu tampak putus asa mendengar fakta bahwa Ruby sudah menikah. Itu di luar skenario yang ia inginkan. Tujuannya ingin menjauhkan Ruby dari Ardi maupun Melvin, tapi justru dirinya yang harus menjauh.
*****
Meka duduk di depan cermin memulaskan make up tipis-tipis di wajahnya. Setelah memutuskan untuk tinggal bersama Ferdian, ia bertekad untuk untuk merubah sifatnya yang dulu. Tidak ada lagi Meka yang lemah dan takut mengambil keputusan.
Meskipun kini hanya menjadi istri kedua, tapi dia tetaplah istri. Ferdian sudah mengurus surat pernikahan mereka dan izin berpoligami. Jadi, pernikahan Meka dan Ferdian tetap sah di mata agama dan negara meskipun berstatus istri kedua. Ferdian mudah mengurusnya dengan alasan istri pertama yang sudah lama koma dan tidak bisa merawat anaknya.
Meka yang kini mengurus Callista. Berkat obat dan bantuan dokter, payu*daya Meka kini kembali dipenuhi ASI. Ia menjadi ibu sambung bagi putri semata wayang Renata. Bayi itu sangat baik, langsung ada ikatan dengan Meka ketika awal disusui.
Meka serasa kembali menjadi seorang ibu. Meskipun tak melahirkannya sendiri, meskipun bayi itu lahir dari rahim wanita yang sudah membuat hidupnya menderita, Meka tetap menyayanginya sebagai anaknya sendiri. Terkadang ia merasa kasihan dengan Callista yang tidak bisa merasakan kasih sayang ibu kandungnya.
Meka beralih ke arah lemari. Ia mengambil salah satu pakaian yang menurutnya bagus. Bukan tanpa alasan Meka ingin tampil semenarik mungkin di rumah. Ia adalah seorang istri yang memang harus tampil baik di hadapan suaminya.
Setelah berganti gaun tidur dan berdandan rapi, Meka keluar kamar menuju kamar sebelah, tempat Renata tertidur untuk waktu yang lama. Jika ada kesempatan, ia datang ke ruangan itu untuk menyapa istri pertama suaminya.
"Kenapa kamu masih belum bangun juga, Ren? Apa kamu tidak takut kalau anakmu nanti lebih dekat denganku? Sekarang dia sudah sangat pandai menyusu padaku."
Meka duduk di bangku samping tempat tidur Renata. Alat bantu pernapasan, infus, serta peralatan medis lainnya masih terpasang di tubuh. Bunyi suara monitor detak jantung begitu jelas terdengar di ruangan yang sunyi itu.
"Aku tidak tahu kalau nanti kamu bangun, apakah akan menyambutku dengan baik? Mengingat aku adalah istri kedua Ferdian. Apa kamu cemburu?"
*****
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca 😘