PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
MATI LISTRIK


__ADS_3

Malam semakin larut. Rei dan Gita masih terpaku menatap film horror yang ditayangkan di layar televisi. Makanan ringan yang disajikan tanpa terasa hampir habis mengikuti durasi film yang hampir habis.


Gita tidak merasa takut dengan film yang sedang ditontonnya. Ia memang cukup suka genre horror, thriller, dan action. Ia lebih takut dengan apa yang saat ini dirasakan oleh tubuhnya. Duduknya mulai tidak tenang, serasa ada yang menggelitik di bagian bawah miliknya. Tanpa sebab yang jelas, mulai muncul dorongan ingin bercinta dengan orang di sebelahnya. Padahal, film yang mereka tonton sama sekali tidak vulgar.


Gita mengepalkan tangannya. Ia merasa dirinya sangat mesum bisa memiliki keinginan untuk bercinta dengan Rei. Keringat mulai keluar di dahinya, menahan hasrat yang seolah ingin meledak dalam diri.


Ia memberanikan diri melirik ke arah Rei. Lelaki itu juga sepertinya sedang resah, terdengar dari suara helaan napasnya. Wajahnya memerah dengan tatapan yang pura-pura fokus ke arah layar. Gita ingin segera pergi dari sana, namun rasanya aneh jika tiba-tiba ia pergi padahal film belum selesai.


Klak!


"Ah!" Gita terhenyak kaget. Listrik di apartemen tiba-tiba mati. Tanpa disadarinya, ia kini telah memeluk erat Rei saking takutnya dengan gelap.


"Pak, ini kenapa? Saya takut gelap ...." Gita semakin memperetat pelukan. Tangannya sedikit gemetar dan matanya terpejam.


Sementara, Rei hanya bisa mematung dengan kelakuan Gita. Sejak tadi ia sudah menahan diri agar tidak menyentuh wanita itu. Akan tetapi, Gita justru melompat ke dalam pelukannya. Rei sedang diliputi hasrat. Sentuhan Gita semakin membuatnya tidak tahan.


"Gita, kamu menjauh dulu. Ini hanya mati listrik, mungkin sebentar lagi menyala." Rei mencoba melepaskan tangan Gita.


"Pak, Saya tidak berani. Saya takut gelap." bukannya menjauh, Gita malah semakin menelusupkan kepalanya ke dada bidang Rei.

__ADS_1


Rei hanya bisa pasrah. Ia biarkan Gita tetap menempel padanya. Hawa di apartemennya serasa semakin panas. Entah apa yang terjadi sampai ada pemadaman di tempat sekelas apartemen mewah itu.


"Aku mau masuk kamar. Sudah, kamu jangan dekat-dekat aku terus, gerah!" Rei kembali mendorong tubuh Gita. Wanita itu tetap tidak mau melepaskan pelukannya.


"Tidak mau, Pak ... saya bisa mati kalau tidak ada cahaya."


"Memangnya kamu laron?"


"Pokoknya sama mau ikut Bapak terus sampai lampu menyala! Kalau tidak, Bapak antar saya ke kamar cari senter!"


Rei menghela napas panjang. "Ya sudah, ayo ke kamarmu!"


Gita sangat mengada-ada. Dalam kondisi gelap gulita, wanita itu sungguh merepotkan. Terpaksa Rei mengakat Gita dalam gendongannya. Wanita itu langsung mengalungkan tangannya ke leher Rei dengan erat. Rei hanya berjalan mengikuti instingnya, mengira-ngira letak kamar Gita.


Memasuki kamar Gita, terlihat samar-samar cahaya rembulan yang masuk melalui celah jendela kaca yang belum ditutup tirainya.


"Sepertinya terjadi black out. Di sini tidak terlalu gelap, kamu bisa tidur sendiri di sini."


"Pak, temani sampai lampu menyala. Ini masih menyeramkan."

__ADS_1


Rei sudah tidak bisa berkata-kata lagi. "Kamu tidak sadar kalau aku seorang lelaki, Gita? Ingat, kita bahkan tidak pacaran, apalagi suami istri." Ia sudah ingin cepat-cepat kembali ke kamarnya.


"Ah!"


Bruk!


Rei dan Gita terjatuh di atas ranjang. Saat hendak menurunkan wanita itu, kaki Rei tersandung sesuatu. Ia jatuh di atas tubuh Gita. Dalam keremangan cahaya bulan, ia bisa memandangi wajah wanita di bawahnya. Jarak wajah mereka sangat dekat. Keduanya saling berpandangan dalam diam. Seolah ada dorongan dalam tubuhnya, Rei memajukan wajahnya. Gita seakan menyambutnya dengan memejamkan mata.


Pertemuan pertama kedua bibir tak bisa dielakkan. Mereka masih sama-sama diam meskipun sudah melakukan hal di luar batas kesadaran. Bahkan mulut mereka saling bergerak memagut daging kenyal satu sama lain.


Tak ada percakapan di antara mereka. Hanya suara decapan bibir dan helaan napas yang terdengar di sela-sela ciuman mereka. Gita mengalungkan tangannya ke belakang leher Rei menuntut ciuman yang lebih mendalam. Mulutnya terbuka memberikan akses lidah Rei menelusup masuk ke dalam.


Mereka kembali bertatapan sambil sesekali memagutkan bibir. Tanpa kata-kata, keduanya seakan meluapkan hasrat yang sejak tadi mereka tahan. Ciuman membuat keinginan keduanya semakin tinggi.


Tangan Rei mulai menelusup ke dalam baju meraih benda empuk yang tersembunyi di dalam selubungnya. Gita tampak tak menolak saat Rei mulai mere*mas perlahan dan memainkan puncaknya. Lengkuhan-lengkuhan kecil mulai keluar di sela-sela aktivitas ciuman yang ikut memanas.


*****


Sambil menunggu update selanjutnya, mampir sini ya 😘

__ADS_1



__ADS_2