PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
MINUMAN YANG TERTUKAR


__ADS_3

Hawa di sekitar mereka terasa semakin panas. Keduanya tak lagi bisa membendung keinginan yang seolah datang secara alami untuk saling bermesraan. Mereka seperti lupa jika keduanya sama sekali tak memiliki hubungan spesial. Hal yang mereka lakukan untuk saling mendapatkan kepuasan satu sama lain.


Rei bangkit dari atas Gita. Dilepaskannya kemeja yang dikenakannya di hadapan wanita itu. Ia juga melepaskan celana yang menutupi bagian bawahnya. Melihat Rei melepas pakaiannya, Gita mengikuti. Apa yang mereka lakukan seolah mengikuti naluri. Rasa malu telah hilang tersamarkan oleh naf*su.


Rei membantu Gita melepaskan pakaian yang menutupi tubuhnya. Ditatapnya tubuh polos yang indah itu. Ini pertama kali untuk Rei melihat bentuk tubuh wanita secara langsung. Begitu indah dan semakin membuat has*ratnya semakin menggebu.


Gita tak sabar lagi menantikan tubuhnya dijamah. Rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya hanya bisa didinginkan dengan sentuhan yang Rei berikan. "Pak ...." Wajah Gita sampai tampak memelas menunggu Rei yang masih termangu menatapnya. Ia butuh sentuhan dan pelukan lelaki itu secepatnya.


Rei menelan ludahnya. Ia tak bisa lagi mundur. Miliknya sudah menegang sempurna dan ingin sepenuhnya dipuaskan. Rei kembali memagut bibir Gita dengan lembut. Pagutannya dibalas mesra.


Wanita itu menjadi semakin agresif. Tangannya sudah berkelana kemana-mana menjelajahi permukaan tubuh Rei hingga akhirnya mendarat di bagian yang paling membuat Rei ingin mengerang. Gita nakal. Titik tersensitifnya sudah dikuasai dengan lincah.


Seakan tak mau kalah, Rei memindahkan ciumannya ke arah sisi leher wanita itu semakin turun hingga sampai pada bukit indah dengan ujung yang mencuat. Naluri menuntunnya untuk melu*mat salah satu puncaknya sementara puncak yang lain dimainkan tangannya. Suara yang keluar dari mulut Gita terdengar merdu serta gerakan tangan yang memanjakan miliknya membuat ia seakan merasa di awang-awang.


Tring ... tring ... tring ....


Dering ponsel cukup mengganggu kesenangan keduanya. Mereka berusaha mengabaikan, namun ponsel gita terus berdering, padahal aktivitas mereka sedang berada dalam tahap yang paling menyenangkan.


"Angkat dulu teleponnya," pinta Rei yang mengalah bangkit sejenak dari atas tubuh Gita.

__ADS_1


Terpaksa Gita meraih benda yang menjadi penyebab gangguannya. Ternyata Ririn yang menghubunginya. Ada lima panggilan yang tak terjawab darinya.


"Halo, Rin. Ada apa?" Gita mencoba berbicara dengan nada biasa. Ia menahan suara saat Rei menghampirinya dan memeluknya dari belakang. Kedua tangan Rei dengan isengnya memainkan area dadanya saat ia menerima telepon dari Ririn.


"Kamu sedang apa?" tanya Ririn.


"Ah, aku sedang di kamar, mau tidur." Gita menggigit bibirnya sendiri. Kelakuan Rei sangat mengganggunya sekaligus membuat dirinya merasakan kenikmatan.


"Waktu tadi ke rumahku, apa kamu mengambil bungkusan berisi jus jeruk warna kuning di meja kamarku? Yang isinya 10 botol kecil?"


Gita agak bingung Ririn meneleponnya hanya untuk menanyakan oleh-oleh yang sudah diberikan padanya. Ditambah kelakuan Rei yang mendudukkannya di atas pangkuan sembari bergerilya menjamah tubuhnya, membuat Gita sekuat tenaga menahan suaranya. Rei ikut mendengarkan percakapan mereka.


"Iya, Rin. Katanya aku boleh ambil jus jeruk dari Finlandia yang dibawa pulang suamimu."


"Aduh, Git ... kamu salah ambil ... maksudku, jus jeruk yang ada di meja ruang tengah, bukan di kamarku." suara Ririn terdengar cemas.


"Memangnya kenapa? Bukankah sama saja?" Gita menoleh ke belakang. Ia kecup lelaki yang masih memeluknya dari belakang.


"Jus yang kamu bawa belum diminum, kan? Jangan sampai diminum pokoknya! Itu minuman penambah stamina untuk suami istri yang mau aku dan suamiku minum malam ini malah kamu bawa pergi!"

__ADS_1


Gita tercengang dengan informasi yang Ririn berikan. Posisinya sudah sangat nanggung. Ia tak menyangka jika dorongan untuk bercinta berasal dari jus pemberian Ririn.


Rei yang mendengarnya ikut tertegun. Ia kira keinginannya merupakan bentuk cinta mendalamnya terhadap wanita itu. Ternyata, kelakuan di luar batas kewajaran akibat pengaruh dari minuman yang terasa basi itu.


"Besok aku datang ke apartemenmu untuk menukar jusnya. Lain kali jangan sembarangan ambil barang!"


Gita mematikan sambungan telepon dari Ririn. Ia cukup syok. Akan tetapi, gai*rah yang ada di dalam dirinya belum padam. Rei sudah melepaskan tangannya. Ia mundur menjauh dari Gita.


"Pak ... nanggung ...," Rengek Gita dengan raut wajah yang memelas ingin Rei menuntaskan aktivitas mereka.


Rei mengusap kasar wajahnya. "Ini tidak benar, Gita. Kita di bawah pengaruh obat. Aku tidak ingin ada penyesalan setelah malam ini."


Gita menggeleng. "Saya tidak kuat, Pak. Tolong teruskan yang tadi. Punya Bapak juga masih berdiri."


Rei langsung menutupi miliknya. Gita memang wanita gila, begitu terbuka dengan perasaannya, membuat Rei justru jadi takut dengan keagresifannya.


*****


Sambil menunggu update selanjutnya, bisa mampir ke sini 😘

__ADS_1



__ADS_2