PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
JANGAN MEMINTA CERAI


__ADS_3

21+


"Kamu mau pulang kemana?" tanya Rei.


Gita masih terlihat murung setelah keluar dari rumahnya. Ia masih memikirkan ucapan ibu tirinya, takut menjadi kenyataan. Meskipun ia ingin hidup bebas, namun jika ada orang-orang yang pernah berjasa untuk keluarganya akan kehilangan sumber penghasilan, ia jadi tidak tega.


"Kemana lagi kalau bukan ke rumah Ririn. Memangnya boleh kalau saya pulang ke rumah Bapak?" ucap Gita dengan nada setengah kesal. Pertanyaan Rei seakan sedang meledeknya sebagai gelandangan yang tidak memiliki tempat tinggal.


"Pak, kita langsung pulang ke apartemen saja," pinta Rei kepada sopirnya.


"Baik, Pak," jawab sang sopir.


Gita membulatkan mata. Ia memandangi Rei dengan penuh tanya. "Pak Rei serius mau membawa saya ke apartemen Bapak?" tanyanya memastikan.


"Benar. Memangnya kenapa?" Rei menjawab dengan nada santai. Gita itu aneh. Dia sendiri yang menantang untuk membawanya pulang ke rumah, tapi dia sendiri yang takut.


Gita tersenyum kaku. Ia malu juga kepada dua orang lelaki yang duduk di bangku depan, ada Pak Dodi sang sopir dan Markus kepala keamanan keluarga. "Saya hanya bercanda, Pak."


"Serius juga tidak apa-apa. Aku pusing kalau kamu hilang, jadi lebih baik kamu aku rawat di rumahku saja. Jangan menghilang lagi dan membuatku susah!"


Gita tercengang, "Bapak menganggap saya sebagai hewan pungutan? Oh, Ya Tuhan ... ini sih penghinaan tingkat tinggi." Ia tidak menyangka bosnya memandang dirinya lebih buruk daripada manusia gelandangan.


"Memangnya aku bicara seperti itu? Bukankah yang berkata dirimu sendiri?" ledek rei.


"Hu ... jahat!"


"Aku hanya bercanda. Kamu bisa tinggal bersamaku selama keadaan masih belum stabil, ya. Gratis, kok. Aku tidak akan memotong gajimu sebagai imbalan sudah tinggal di rumahku."


Gita memandang haru Rei. Bosnya itu memang yang terbaik. Ia salut dengan kebaikan yang diterima dari Rei.


"Terima kasih ya, Pak. Anda baik sekali. Sampai rela datang ke rumah bertemu dengan ibu tiriku."


"Sebagai gantinya kamu yang harus bersih-bersih dan berberes di rumah, ya! Itu pekerjaan yang sangat mudah, kan? Kamu sudah punya pengalaman sebagai tenaga kebersihan."

__ADS_1


Baru saja Gita memuji, lelaki itu sudah kembali membuatnya kesal. "Iya, iya! Sepertinya Bapak memang tujuannya mau menyiksa saya!" ia membuang muka kesal.


"Hahaha ... jadi masih lebih baik di rumahmu yang lama dengan ibu tiri cantik itu?" Rei semakin ingin meledek Gita.


"Amit-amit, Pak!"


*****


Meka membukakan pintu rumahnya jam sepuluh malam. Ternyata yang datang adalah Ferdian. Lelaki itu langsung memberikan pelukan ketika melihat Meka keluar. Membuat wanita itu tertegun sejenak dengan perlakuannya.


"Di, kenapa datang malam-malam begini?"


Ferdian tak langsung merespon pertanyaan Meka. Ia lebih dulu mendorong masuk Meka lalu menutup kembali pintu itu dan menguncinya dari dalam. "Apa anak-anak sudah tidur?" tanyanya.


Renata akhirnya membiarkan Callista tinggal bersama Meka. Anak itu masih terlalu kecil untuk dipisahkan dengan ibu susunya. Meka heran sendiri Renata seakan tidak lagi terlalu peduli pada Callista, padahal sebelumnya wanita itu menjelek-jelekkannya karena telah menyusui anaknya. Mungkin Ferdian punya cara yang jitu untuk menakhlukkan Renata.


"Mereka sudah tidur."


Mendengar jawaban Meka, tanpa panjang Ferdian langsung menghujani istri keduanya itu dengan ciuman bertubi-tubi. Meka sampai kewalahan mengikuti kemauannya. Tubunnya terdorong sampai mentok ke arah dinding.


"Di ...." Meka kembali memberikan peringatan ketika Ferdian hendak melanjutkan perbuatannya.


"Aku ingin bermesraan denganmu, kenapa kamu terus membahas tentang Renata?" Ferdian agak kesal karena ditolak.


"Dia istrimu, istri yang sangat kamu cintai. Dulu kamu menikahiku hanya sebagai penggantinya. Sekarang, dia sudah sembuh. Kembalilah padanya seperti dulu dan ceraikan aku," pinta Meka.


"Aku tidak akan menceraikanmu. Kamu sangat berdosa sudah menolak melayani suamimu sendiri." Sisi egois Ferdian selalu muncul setiap kali membahas tentang perceraian. Ia tak tahu lagi apa itu cinta.


Meskipun Renata sudah kembali, hubungan mereka terasa hambar. Bahkan, saat kembali melakukan hubungan suami istri setelah sekian lama, rasanya tidak semenyenangkan dulu. Ia lebih suka hubungannya dengan Meka. Wanita itu, meskipun sederhana, kelihatannya membosankan, setelah beberapa bulan berumah tangga dengannya, hati Ferdian terasa hangat. Seakan kasih sayang yang dicurahkan oleh Meka terhadap dirinya dan anak-anak bisa merasuk ke dalam hati. Bahkan, keluarganya juga ikut menyayanginya meskipun posisinya hanya sebagai istri kedua.


Ayah dan ibu Ferdian meminta Meka dan Davin agar kembali ke rumah lagi. Renata akan mereka urus jika menolak krhadiran Meka dan Davin. Apalagi Callista sudah sangat dekat dengan mereka.


Setelah bangun dari koma, Renata sudah banyak berubah. Ia lebih banyak menyendiri dan melamun. Jika diajak bicara lebih banyak memilih menghindar seperti malas meladeni orang lain.

__ADS_1


"Di, aku bingung harus memposisikan diriku seperti apa?" Meka serba salah dengan perkataan Ferdian.


"Kamu tidak perlu bingung, jadilah dirimu sendiri seperti yang biasanya. Kita kembali ke rumah. Mama dan Papa juga ingin kamu kembali bersama Davin."


Meka menggeleng, "Tidak mungkin ada dua ratu dalam satu rumah."


"Aku akan membeli rumah sebelah untukmu," Ferdian akan berbuat apapun untuk mempertahankan Meka di sisinya.


"Aku sengaja keluar dari sana untuk menjaga perasaan Renata, Di. Kenapa kamu tidak bisa mengerti? Aku mungkin kuat sekalipun kamu perlakukan tidak baik setiap hari. Bagaimana dengan Renata? Dia baru saja sembuh, perasaannya pasti sangat labil. Apalagi banyak hal terjadi tanpa sepengetahuannya selama ia koma. Kamu harus bersabar menghadapinya."


Ferdian semakin melembut setelah hidup bersama dengan Meka. Ia juga sudah berusaha memahami Renata, akan tetapi wanita itu sangat egois dan keras kepala. Bahkan, beberapa hari ini istri tercintanya itu lebih memilih pulang ke rumah orang tuanya.


"Bagaimana kalau aku menceraikan Renata? Kamu mau pulang ke rumah, kan?"


"Kamu gila?" Meka tercengang mendengar perkataan Ferdian. "Renata baru sembuh, Di. Bagaimana kalau dia stres, depresi, gara-gara ucapanmu seperti itu. Jangan gila!"


Ferdian tertawa kecil. "Kamu itu aneh. Melarang aku menceraikan Renata tapi memintaku untuk menceraikanmu? Sepertinya kamu yang sudah gila, Meka. Apa tidak boleh aku bilang kalau aku juga sangat mencintaimu? Tidak bolehkan aku mencintai istriku sendiri?"


"Di ...."


Ferdian meletakkan jari telunjuknya di bibir Meka. Ia tak ingin lagi berdebat dengan wanita itu. Secara perlahan, ia kembali memeluk tubuh Meka lalu mulai mendaratkan ciumannya di atas bibir lembut yang selalu membuatnya candu.


Meka tak bisa lagi mengelak. Ferdian sangat pintar mencari titik-titik sensitif di tubuhnya sampai ia tak bisa menolak lagi ajakan bermesraan suaminya. "Di, kita lakukan di kamar," ucapnya pasrah.


Ferdian segera menggendong Meka ke kamar lain terpisah dari tempat anak-anaknya tidur. Lama tak bermesraan membuat keduanya terhanyut dalam gai*rah yang tak tertahankan. Seakan keduanya sama-sama rindu dengan sentuhan pasangannya.


Satu persatu pakaian yang mereka kenakan telah terlepas hingga keduanya polos tanpa mengenakan apapun. Ferdian masih menguasai Meka dibawahnya, mencum*bu bibir manisnya sembari memainkan kedua bukit yang padat berisi ASI itu. Sementara, tangan Meka tak tinggal diam turut memanjakan milik suaminya yang telah menegang sempurna.


Suara desa*han saling bersahutan di antara keduanya memenuhi ruang kamar yang tidak terlalu luas itu. Tidak ada lagi pembahasan tentang masalah yang terjadi di dalam rumah tangga mereka. Ketika tubuh mereka saling menyatu, hanya cinta dan kasih sayang yang ada pikiran mereka.


"Meka, jangan lagi meminta cerai padaku. Aku sangat mencintaimu," ucap Ferdian di sela-sela usahanya memasukkan miliknya ke dalam.


Di sela-sela desa*han, Meka hanya bisa memberiakan anggukkan. Ia tak bisa berpikir lagi di saat-saat seperti itu. Rasa cintanya kepada Ferdian seakan tumbuh dengan alami setiap kali mereka bercinta.

__ADS_1


Gesekan penuh kehangatan di bawah sana membuat keduanya berpeluh. Ferdian terlihat bersemangat memacu miliknya. Wanita yang awalnya hanya ingin dijadikan pemuas naf*su sementara saja justru membuatnya begitu ketergantungan. Ia tak bisa lagi lepas dari Meka.


__ADS_2