PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
MAMA SUKMA SADAR


__ADS_3

"Kak ... " sapa Ruby.


Ardi mengalihkan pandangannya dari kaca jendela ke arah pintu. "Oh, Ruby, kamu sudah datang."


Ruby berjalan masuk ke dalam, meletakkan makanan di atas meja makan lalu beralih ke arah ranjang Tante Sukma. Ia memandangi Tante Sukma yang masih belum sadar.


"Kak, aku bawakan makanan untukmu. Kakak belum makan siang, kan?"


"Iya, belum. Terima kasih." Ardi berjalan mendekat ke arah Ruby.


"Kenapa Tante belum sadar juga, ya .... " Ruby menghela nafas. Ia kembali merasa bersalah melihat kondisi Tante Sukma.


"Kata dokter efek obat penenangnya masih ada. Kamu tidak perlu terlalu khawatir." Ardi menepuk puncak kepala Ruby. "Mending temani aku makan, ya!"


Ruby mengangguk. Ia mengikuti Ardi ke meja makan.


"Kamu beli apa ini?" Ardi membuka bungkusan yang Ruby bawa.


"Cuma nasi padang di restoran depan kantor. Semoga Kakak suka."


Saat jam istirahat kantor tiba, Ruby langsung bergegas pergi. Kalau dia meminta izin Melvin mungkin dia tak akan mengizinkannya apalagi kalau alasannya mau menemui Ardi di rumah sakit. Sebelum datang ke sana, Ruby menyempatkan diri membeli makanan di restoran depan kantor sebanyak 5 porsi.


"Hm, aku tipe pemakan segala, jangan khawatir," jawab Ardi sembari mengulaskan senyum. Ia mengambil piring dan sendok dari dalam lemari lalu memberikan salah satunya kepada Ruby.


"Kenapa kamu belinya banyak sekali?" tanya Ardi.


"Sekalian untuk pelayan yang biasanya menemani Tante Sukma dan juga Om Raharja. Tapi kok hanya Kakak yang ada di sini?"


"Papa pergi ke kantor hari ini karena ada pertemuan bisnis penting. Kalau dua pelayan mama sedang pulang dulu ke rumah."


"Kak .... " Ruby berniat berbicara di sela-sela acara makan mereka.


"Hm?" Ardi menyimak perkataan Ruby sambil mengunyah makanannya.


"Aku minta maaf, ya ... Tante Sukma jadi seperti ini karena aku." Meskipun Melvin bilang tidak apa-apa, tapi ia belum lega jika belum meminta maaf secara langsung.


"Kenapa minta maaf segala? Ini bukan salah siapa-siapa. Kondisi mama memang kurang baik."


"Tapi, Tante Sukma kemarin langsung pingsan setelah melihat aku jalan dengan Kak Melvin. Beliau pasti berpikir yang macam-macam." Raut wajah Ruby tampak cemas. Ia sempat menoleh ke belakang melihat kondisi Tante Sukma.

__ADS_1


"Berhenti merasa bersalah, Ruby. Sejauh ini kamu masih mau berpura-pura di depan mama saja aku sudah sangat berterima kasih."


"Mama tidak pernah seceria saat kita mencoba gaun pengantin waktu itu."


Ruby semakin merasa bersalah karena apa yang ia perlihatkan hanya kebohongan semata.


Mereka melanjutkan kembali menikmati makan siang sembari membahas beberapa masalah yang berkaitan dengan pekerjaan. Karena sama-sama bekerja di perusahaan yang berbeda, mereka jadi jarang bertemu. Hanya awal-awal perjodohan saja mereka dekat. Setelah Ruby memutuskan tidak bisa mempertahankan perjodohan mereka karena Melvin, Ardi berusaha menjaga jarak.


Rasanya sangat tidak adil untuk Ardi. Dia selalu gelisah sendiri setiap kali ingin bertemu dengan Ruby. Ia tahu, wanita itu tak memiliki perasaan padanya. Hatinya telah menjadi milik Melvin sepenuhnya. Akan tetapi, ada kalanya ia ingin bertemu dengan wanita itu, memeluknya dan berbagi keluh kesah tentang masalahnya.


Terkadang muncul suatu pemikiran bahwa tidak apa-apa Ruby tetap bersamanya hanya karena rasa iba terhadap kondisi ibunya . Ia ingin mempertahankan Ruby di sisinya selama mungkin.


"Kak, aku pamit, ya. Jam istirahat kantor sudah lewat," izin Ruby.


"Kenapa tidak bolos saja, kerja setengah hari. Toh sudah kenal sendiri siapa bosnya."


"Hahaha ... yang ada gajiku akan dikurangi kalau ketahuan." Lebih dari itu, Ruby rasa Melvin akan menatapnya dengan kesal karena dia pergi menemui Ardi tanpa sepengetahuannya.


"Baiklah, terima kasih sudah menyempatkan diri datang."


"Kalau ada waktu, aku akan datang lagi ke sini."


Ardi mengangguk, membiarkan wanita itu berlalu dan menghilang di balik pintu.


"Kenapa aku tidak menyukainya sejak pertama kali bertemu ... kenapa harus Melvin yang jadi tertarik padanya .... " gumam Ardi.


Ia mengingat kembali pertemuan pertama dengan wanita yang tidak pernah ia sangka akan menjadi calon istri pura-puranya. Dulu, Ruby bukanlah siapa-siapa di matanya. Wanita itu tampak tak memiliki sisi apapun yang istimewa kecuali wanita nekad yang berani melawan Melvin.


Sekarang dia baru paham darimana asal keberaniannya. Ternyata Ruby bukan anak sembarangan, dia putri dari seorang pengusaha ternama. Bahkan, saudara kembarnya ternyata adalah Rei yang tak lain adalah sahabat baiknya.


Dulu, dia terlalu sibuk dengan pikirannya berharap Meka mau kembali padanya. Sampai sekarangpun wanita itu tak mau menerimanya.


Bahkan hatinya kini sudah tidak lagi menempatkannya di tempat yang istimewa. Tempat itu sudah tergantikan dengan Ruby, wanita yang tak kalah rumit untuk ia cintai.


"Euh ... euh .... "


Ardi terkesiap dari duduk mendengar suara yang datang dari arah ibunya. Ia langsung berlari mendekatinya. Sukma mulai bisa bersuara dan menggerakkan tangannya. Ardi merasa lega. Ia genggam tangannya dengan lembut.


"Mama ..., " katanya.

__ADS_1


"Ardi .... " Suara Sukma masih terdengar lemah namun ia bahagia melihat putranya ada di sampingnya.


"Iya, Ma. Ardi ada di sini." Ardi merasakan tangannya digenggam balik oleh ibunya. "Apa Mama sudah merasa lebih baik?"


Sukma mengangguk pelan, "Mama merasa baik, hanya saja kepala masih terasa pusing."


"Apa perlu Ardi panggilkan dokter?"


Sukma menggeleng, "Mama tidak apa-apa. Mama kira tidak akan lagi bisa melihatmu lagi."


"Mama ini bicara apa ... Ardi minta maaf karena kemarin harus bekerja ke luar kota. Papa juga sama, jadi Mama pasti kesepian." Ardi menciumi tangan ibunya dengan hangat.


"Ruby tadi baru saja kemari membawakan makan siang untuk Ardi. Dia pasti sangat senang kalau tahu Mama sudah siuman."


Raut wajah Sukma berubah masam. Ia teringat kembali peristiwa yang dilihatnya sebelum terbaring pingsan. Ruby dan Melvin jalan bersama membawa seorang anak laki-laki sembari menunjukkan hubungan hangat di antara mereka.


"Ardi .... "


"Iya, Ma?" Ardi menatap mata ibunya dalam-dalam.


"Apa hubunganmu dengan Ruby baik-baik saja?"


Ardi tersenyum. Ia sudah menduga bahwa ibunya akan menanyakan tentang hal itu juga. "Tentu saja hubungan kami baik, Ma. Satu bulan lagi kan kamu akan menikah." Ardi berusaha menunjukkan sikap santai agar ibunya tidak punya banyak pikiran.


"Mama sedikit ragu .... "


Ardi mengernyitkan dahi, "Ragu kenapa?"


"Sebelum pingsan, mama melihat Ruby jalan berdua dengan Melvin. Mama lihat Melvin mencium Ruby."


"Kenapa Melvin bisa seperti itu kepada calon istrimu? Bukankah kalian sudah sangat lama berteman?"


"Mungkin Mama salah lihat ... Melvin tidak seperti itu."


*****


Sambil menunggu update selanjutnya, jangan lupa mampir ke sini ya 😘


Judul : Ayahku Manusia Terkuat di Bumi

__ADS_1


Penulis : Lord Eclipse Venerable



__ADS_2