
"Terima kasih ya, untuk seharian ini," ucap Ardi ketika mereka sampai di parkiran apartemen Ruby.
"Sama-sama, Kak. Malam ini juga sangat menyenangkan untukku." Ruby menyunggingkan senyum.
Cup!
Ruby membelalak ketika Ardi tiba-tiba mencium pipinya. "Kak ...."
"Maaf, ya. Aku tidak tahan melihat tingkahmu yang menggemaskan. Kalau mau membalas boleh kok ..., " godanya sembari menyodorkan pipinya.
"Ah, sudahlah! Berhenti bercanda. Aku mau masuk dan istirahat." Ruby membuka pintu mobil sampingnya.
Ardi mengikuti Ruby turun dari mobil.
"Sudah, Kak. Antar sampai di sini saja. Biar aku naik sendiri." Ruby menghentikan niat Ardi yang ingin mengantarnya.
"Aku akan mengantarmu sampai depan pintu karena aku tidak merasa tenang sebelum melihatmu masuk ke dalam apartemen." Ardi menolak kemauan Ruby.
"Ya sudah, terserah Kakak."
Ruby membiarkan Ardi menemaninya masuk ke dalam lift. Malam itu cukup sepi, tak ada orang yang naik lift itu selain mereka.
"Apa pekerjaanmu di kantor lancar?"
"Semuanya lancar."
"Padahal aku berharap tidak lancar."
Ruby memandang heran ke arah Ardi.
"Supaya kamu bisa pindah ke perusahaanku dan kita bisa lebih sering bertemu," jawab Ardi.
Ruby tertawa kecil. "Ada-ada saja."
"Tapi, Meka sepertinya mendapat banyak masalah setelah aku naik jabatan."
"Benarkah?"
Ruby agak heran mendengar respon Ardi. Dia kelihatan datar menanggapinya. Padahal Ruby pikir Ardi akan khawatir kepada Meka seperti dirinya.
"Manajer di divisinya orang yang angkuh dan keras kepala. Semua mantan anak buahku disusahkan olehnya." Ruby memijit keningnya sendiri. Jika ingat tentang kejadian rapat yang lalu, dia jadi ikut pusing.
"Kenapa tidak kamu pecat saja dia? Bukankah jabatanmu lebih tinggi darinya?"
__ADS_1
"Ada HRD yang berhak menilai kinerjanya, Kak. Kesalahan sekali biasanya akan dimaafkan dengan mudah. Apalagi kalau alasannya adalah ketegasan seorang pemimpin."
Ting!
Pintu lift terbuka, mereka telah sampai di lantai apartemen Ruby.
"Ah, kenapa lift-nya cepat sekali sampai. Aku masih ingin lebih lama menemanimu," keluh Ardi.
"Pulang, Kak! Ini sudah sangat larut," pinta Ruby.
"Baiklah, aku akan pulang sekarang. Sekali lagi, terima kasih untuk hari ini."
Ardi memeluk Ruby sebelum melepaskannya masuk ke dalam apartemen. Ketika hendak mencium wanita itu, ada seseorang yang menarik tubuhnya sehingga pelukannya terlepas. Tanpa bisa dihindari, orang tersebut melayangkan pukulan hingga ia jatuh.
"Kak!" pekik Ruby seraya memegangi tangan Melvin yang hendak maju kembali menghajar Ardi.
Matanya menatap nyalang ke arah Ardi seakan ia ingin menghabisinya saat itu juga. Betapa ia sangat marah Ardi menyentuh wanitanya dengan begitu leluasa.
"Bang*sat!" umpatnya.
Ardi masih terpaku di tempatnya. Ia tidak tahu kalau Melvin akan tiba-tiba muncul di sana dan langsung menghajarnya. Sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah.
"Sudah, Kak!" Ruby berusaha menenangkan Melvin yang emosinya masih meledak-ledak. Dia juga tidak menyangka kalau Melvin datang ke apartemennya.
"Kamu membelanya?" tanya Melvin dengan tatapan kemarahan pada Ruby. "Apa ini bukan kepura-puraan? Jangan-jangan kamu juga menikmati hubungan yang awalnya hanya akting di depan Tante Sukma." Melvin bertambah marah saat mengatakannya.
"Kak Ardi, sebaiknya kamu pulang. Terima kasih sudah mengantarku," ucapnya kepada Ardi.
Dia menarik tangan Melvin agar mengikutinya menuju pintu apartemen. Ruby menempelkan kartu akses sehingga pintu apartemen terbuka. Segera ia bawa lelaki itu masuk ke dalam sebelum membuat kekacauan yang lebih besar.
"Kakak mau minum apa?" Ruby melepaskan blazernya lalu berjalan ke arah dapur.
Melvin mengikutinya dari belakang. "Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan! Aku masih marah dengan kejadian yang tadi." Ia mencegah tangan Ruby yang hendak membuka pintu kulkas.
Tubuhnya ia rapatkan sampai bagian punggung Ruby menempel padanya. Tangannya ia lingkarkan merengkuh pinggang yang tampak begitu kecil itu.
"Aku sudah lama menunggumu pulang di luar," ucapnya. "Melihatmu berpelukan dengannya membuat aku jadi marah." Perkataannya berbeda dengan kelakuannya. Ia mengatakan marah, tapi tingkahnya bergelayut manja kepada Ruby.
Ruby memutar tubuhnya, memandangi lelaki yang sedang bertingkah seperti anak kecil di hadapannya. "Maaf, ya ... sudah membuatmu marah."
Satu ucapan itu meredakan amarah Melvin. Otot-otot di wajahnya yang semula menegang kini telah kembali normal.
"Kakak mau minum apa?" tanyanya dengan nada menggoda. Sepertinya Ruby sangat tahu cara meluluhkan singa jantan itu.
__ADS_1
"Kalau minta susu, boleh?" Melvin sangat bersemangat menjawab tawaran Ruby.
"Boleh, tunggu sebentar."
Ruby hendak berbalik untuk membuka kulkas di belakangnya, mengambilkan susu yang diminta oleh Melvin.
"Maksudku bukan itu .... " Melvin mencegah Ruby.
Sejenak Ruby terdiam keheranan. Saat melihat tatapannya mengarah pada dadanya, ia sudah langsung paham maksud dari Melvin.
"Sepertinya kamu memang sedang mengajak perang." Ruby mendorong Melvin dan berjalan ke arah ruang tengah seraya merebahkan tubuhnya di sana.
Melvin mengikutinya sampai di sana. Ia kembali memeluknya dan bermanja-manja.
"Aku lelah, Kak .... " Ruby merasa sedikit terganggu dengan tingkah Melvin yang terus menempel padanya.
"Memangnya aku menyuruhmu apa?" Melvin tidak mendengarkan perkataan Ruby. Dia tetap melakukan apa yang dimaunya, menciumi seluruh wajah wanita itu dengan gemas.
"Kakak tidak pulang? Ini sudah sangat malam. Kamu perlu istirahat karena besok masih hari kerja."
"Aku mau menginap di sini."
Ciuman Melvin semakin menurun ke arah leher. Membuat Ruby sesekali mengeluarkan suaranya yang sek*si.
"Di sini tidak ada baju ganti untukmu." sekuat tenaga ia menahan reaksi tubuhnya terhadap perbuatan Melvin kepadanya.
"Aku biasa tidur tanpa pakaian."
"Stop! Tidak boleh lebih jauh lagi." Ruby menghentikan tangan Melvin yang mulai menyusup ke dalam pakaiannya.
"Kenapa? Dulu juga sudah pernah, kan?" goda Melvin.
"Katanya bisa sabar sampai menikah .... " Ruby memegang kedua pipi Melvin lalu memberikan ciuman singkat di bibirnya.
"Aku sudah pulang untuk segera menikahimu, tapi Si Bang*sat Ardi masih saja menahanmu."
"Mau bagaimana lagi? Coba dulu kamu langsung menikahiku, bukan menikahi Renata lebih dulu." sindir Ruby membuat Melvin langsung mati kutu. Ia bangkit meluruskan duduknya lalu menyalakan TV.
Melvin menghela nafas. "Hm, selalu itu yang dibahas kalau mau membalasku. Aku benar-benar tidak suka melihat kalian dekat, apalagi Ardi sepertinya punya perasaan yang lain padamu. Aku tidak yakin kalau dia juga menganggap hubungan kalian sebatas pura-pura."
"Kalau kondisi Tante Sukma semakin membaik, kita akan mengatakan yang sejujurnya. Setelah itu, Kakak bisa menemui papaku untuk melamarku." Ruby mengarahkan pandangannya ke arah televisi. Ia fokus menonton acara yang ditampilkan layar berukuran 51 inchi itu
"Kalau kondisinya tidak seperti yang kalian harapkan bagaimana?" Melvin masih ragu dengan keputusan Ruby. Akan menjadi berat baginya menyaksikan kedekatan mereka berdua.
__ADS_1
"Kakak tidak percaya padaku?" tanyanya.
"Aku percaya padamu, tapi tidak dengan Ardi." Melvin mulai punya keyakinan kalau sahabatnya itu juga sebenarnya menyukai Ruby. Bisa saja Ardi menggunakan ibunya untuk menahan Ruby lebih lama di sisinya.