PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
SALAH LANGKAH


__ADS_3

"Oh, ternyata kamu ada juga di tempat ini."


Langkah kaki Meka terhenti kerika mendengar kalimat dari orang yang sangat familiar di telinganya. "Pak Jonathan?" Ia tidak menyangka akan bertemu Jonathan di sana.


Lelaki itu memberikan senyuman mengejek kepada Meka. "Penampilanmu terlihat berkelas. Sepertinya ada mangsa kelas kakap yang berhasil kamu dapatkan."


Meka diam dan tersenyum mendengar ejekannya. Semakin dipikirkan, ia merasa memang Jonathan sangat ingin menjatuhkannya. Kalau bukan karena Ruby, Meka pasti sudah lama disingkirkan olehnya. Karyawan teladan yang cerdas dan cakap bisa berubah menjadi monster yang angkuh saat keinginannya tidak tercapai. Sungguh sangat mengerikan.


"Apa lelaki yang memodalimu tahu siapa dirimu yang sebenarnya?" Jonathan menggoyang-goyangkan gelas berisi wine di tangan lalu meminumnya.


"Berita di internet itu, pasti kamu yang membuatnya," tebak Meka.


Jonathan tertawa, "Berterima kasihlah aku belum membongkar identitas asli wanita yang pernah bekerja di GoodFood dengan menyembunyikan statusnya sebagai wanita murahan yang memiliki anak tanpa menikah. Untung saja kamu sadar dan mengundurkan diri lebih cepat dari sana." ia kembali meneguk wine di tangannya sampai habis tak bersisa. Gelas kosong itu ia letakkan di atas meja dekat tempatnya berdiri.


"Saya bekerja untuk menghidupi diri sendiri dan anak saya, Pak Jonathan. Lagipula, meskipun saya memiliki anak, tapi saya tetap berusaha bekerja sebaik mungkin untuk perusahaan. Apa yang membuat hal itu menjadi sangat mengganggu Anda? Apa Anda merasa dirugikan dengan kebohongan saya?"


Ucapan Meka entah mengapa sangat menyinggung dirinya. Memang sebenarnya Jonathan tidak memiliki alasan yang jelas untuk membenci Meka. Setelah Ruby menolaknya, orang-orang yang ada di sekitar Ruby terlihat sangat menyebalkan baginya. Ia ingin mereka semua merasa menderita seperti dirinya.


"Kamu masih bisa berbicara santai karena aku belum membongkar rahasiamu."


"Anda ingin melakukannya? Silakan lakukan saja. Bukankah Anda memang sudah berniat untuk menghancurkan saya sejak lama?" Bukannya takut, Meka justru menantang ucapan Jonathan.


"Jangan menyesal! Aku pastikan lelaki yang ada di sampingmu saat ini akan pergi meninggalkanmu," ancamnya.


"Aku hanya memiliki satu saran untuk Anda. Berhenti dan meminta maaf, mungkin saya bisa melupakannya." Meka mulai serius. Kekesalannya sudah semakin bertumpuk mendengar penghinaan yang terus dilontarkan olehnya.


"Hahaha ... meminta maaf pada wanita murahan sepertimu?" Ejekan kembali dilontarkan oleh Jonathan. "Aku jadi semakin tidak sabar melihat nasibmu ke depannya saat semua orang tahu betapa murahannya dirimu."

__ADS_1


Jonathan telah memiliki banyak fakta tentang Meka yang ia kumpulkan ketika rasa keingintahuannya muncul sejak bertamu ke rumah Meka. Dia tahu bahwa kehidupan Meka sangat miris sampai tidak diterima keluarganya sendiri karena hamil di luar nikah.


"Kesabaran seseorang ada batasnya, Pak Jonathan. Anda salah jika menganggap saya lemah dan bisa mudah menjatuhkan saya."


Jonathan menertawakan kepercayaan diri Meka yang terlampau tinggi. "Jangan merasa sombong jika kedatanganmu di sini hanya sebagai pendamping tamu undangan."


"Meka, kenapa masih ada di sini?"


Kedatangan Ferdian menghentikan percakapan di antara keduanya. Lelaki itu menggendong Davin yang memakai setelan jas rapi seperti dirinya. Wajah Ferdian terlihat senang setelah membawa putranya berkeliling menyapa para rekan bisnisnya.


"Pak Ferdian," sapa Jonathan. Ia tersenyum kaku melihat kedatangan Ferdian tiba-tiba.


"Oh, Jonathan. Ternyata kamu datang juga. Selamat datang di acara ini, semoga jamuannya memuaskan."


"Terima kasih, Pak," balasnya.


"Dia juga pernah bekerja di GoodFood, Pak."


"Oh, iya. Aku sampai lupa." Ferdian sendiri yang menyuruh Meka berhenti bekerja agar lebih fokus mengurusi kedua anak mereka. Sebagai gantinya, dia akan memenuhi semua permintaannya.


"Sayang, sejak tadi dia terus mengancamku."


Pandangan mata Jonathan dan Ferdian langsung beralih kepada Meka. Keduanya sama-sama terkejut dengan panggilan 'sayang' yang diucapkannya.


Ferdian mengerutkan dahi, "Mengancam?" Ia tidak paham dengan perkataan Meka. Ferdian mengenal Jonathan karena dia karyawan baru di perusahaannya yang kini menduduki posisi Manager HRD atas saran dari sekertarisnya. Jonathan memiliki kartu As untuk menghancurkan perusahaan milik Melvin. Tentu saja Jonathan dengan senang hati menerima kedatangannya. Baginya, musuhnya musuh adalah teman.


"Dia orang yang menyebarkan rumor wanita murahan di PT GoodFood. Orang yang dia maksud adalah aku." Meka begitu tenang mengucapkannya di depan Ferdian. Ia menatap Jonathan dengan tatapan yang menyiratkan bahwa ia tak akan tinggal diam kali ini.

__ADS_1


"Ini juga kesalahanmu, Sayang." Meka menyalahkan Ferdian. "Gara-gara kamu tidak cepat menikahiku, aku harus menerima hinaan dari orang-orang karena melahirkan Davin tanpa suami. Dia bilang aku wanita murahan dan Davin anak haram." Tatapan mata Meka tampak seperti orang yang ingin membalas dendam dengan cara yang elegan.


Ferdian mengarahkan tatapannya pada Jonathan. Baru beberapa waktu ia bangga dengan lelaki itu yang berhasil menggoyahkan perusahaan GoodFood kini ia merasa kesal padanya.


Jonathan menelan ludahnya. Ia sama sekali tidak tahu kalau ternyata Meka adalah istri dari Ferdian, bos barunya. Ia juga baru menyadari jika anak lelaki yang ada di gendongan Ferdian adalah Davin, anak Meka yang pernah ia temui. Seketika ingin rasanya ia menghilang. Apalagi Meka sudah berhasil menyulutkan rasa benci di mata Ferdian.


"Hahaha ... Pak, sepertinya ada kesalahpahaman di sini." Jonathan berusaha menyelamatkan dirinya. Ia baru mendapatkan posisi jabatan yang bagus, ia tidak mau kehilangannya.


"Dia ingin mengungkapkan identitasku, Sayang."


"Itu tidak benar!" bantah Jonathan.


"Aku selalu dipersulit selama bekerja di GoodFood. Memangnya siapa orang ini sampai kamu mengundangnya ke pesta keluarga kita?" Meka semakin memancing perkara.


Jonathan mulai berkeringat dingin. Kedepannya ia perlu banyak belajar lagi untuk mencari tahu sesuatu sampai detil agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Dia manajer baru di perusahaanku." Ferdian menjawab tanpa melepaskan pandangannya dari Jonathan. Artinya, ia benar-benar telah menentukannya sebagai sasaran.


"Ah, mudah sekali kamu menerima karyawan sekalipun dia sudah membuat kehidupan anak dan istrimu terasa berat. Apakah karena bosnya adalah dirimu jadi tingkah laku kalian sama saja?" Meka sekaligus berniat untuk menyindir Ferdian.


"Pak! Saya rasa ucapannya sangat berlebihan." Jonathan kembali berusaha mengendalikan siruasi.


Tentu saja Ferdian tidak terima perilakunya disamakan dengan Jonathan. Dia yang sekarang sudah merasa menjadi seorang suami yang baik dan bertanggung jawab. Siapapun yang berani merendahkan anak dan istrinya, tidak akan ia lepaskan begitu saja.


"Meka, bawa Davin ke tempat Mama." Ferdian menyerahkan Davin dari gendongannya kepada Meka. Ia kembali menatap tajam kepada Jonathan. "Ikut aku!" perintahnya.


Dengan langkah kaki memburu, ia berjalan meninggalkan Meka. Jonathan menyusulnya di belakang dengan perasaan tidak tenang. Baru kali ini ia merasa menyesal dengan perilakunya sendiri. Ia tahu, Ferdian tidak mungkin akan mau melepaskannya dengan mudah. Ia bisa diterima di perusahaannya karena membawa sesuatu. Jika dia tidak merasa dibutuhkan, ia akan kembali dibuang.

__ADS_1


__ADS_2