PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
MEMILIH PERGI


__ADS_3

"Sudah selesai berberes?" tanya Ferdian menengok ke dalam kamar anak-anak untuk melihat Meka yang sedang menata pakaian ke dalam koper.


"Sebentar lagi selesai," jawabnya.


"Kamu bawa apa saja sampai sebanyak ini?" Ferdian cukup tercengang melihat ada dua koper besar hanya untuk pakaian Davin dan Callista.


"Mereka anak-anak, gampang gerah, makanya perlu bawa banyak baju."


Rencananya Ferdian ingin mengajak anak dan istrinya liburan ke Bali selama satu minggu. Ia sengaja menyisihkan waktu di sela-sela kesibukkan kerja sebagai hadiah untuk Meka yang sudah merawat anak-anak di rumah. Katanya, wanita perlu diajak liburan supaya tidak stres. Meka sudah menuruti kemauannya agar berhenti bekerja. Meskipun Meka juga sudah dijatah puluhan juta setiap bulan, ia jarang bisa memberikan waktu liburan kepadanya.


"Kita bisa beli di sana, cukup bawa satu koper saja. Kita mau liburan, Sayang, bukan mau pindahan ...."


"Sayang uangnya, Di. Mereka juga sebentar lagi besar dan bajunya nanti jadi tidak terpakai. Aku bawa juga banyak baju baru yang belum pernah dipakai."


Ferdian geleng-geleng kepala. "Aku bahkan bisa membelikan toko pakaian untuk kalian, jangan seperti orang susah!"


"Daripada uangmu untuk membeli toko pakaian, mending berikan padaku saja!" Meka mengulurkan tangannya.


Ferdian hanya bisa berdecak dengan kelakuan istrinya. "Ya sudah, terserah kamu saja! Ayo turun sekarang." Lelaki itu akhirnya mengalah.


Meka menutup Koper kedua yang ingin dibawanya. Ia berikan satu koper untuk dibawa Ferdian dan satu koper dibawa sendiri. Mereka menaiki lift dari lantai tiga ke lantai bawah.


"Ferdian!" Terdengar suara seruan dari arah pintu depan. Wanita itu berjalan dengan langkah cepat menghampiri keduanya yang baru turun dari lift.


Renata. Setelah sekian lama terbaring koma, akhirnya kini ia bisa pulih kembali. Berkat perawatan yang intensif sampai keluarganya berkali-kali mengganti dokter agar Renata bisa bangun kembali.


Ferdian dan Meka terkejut melihat kehadiran Renata. Kehidupan damai yang baru saja mereka mulai sepertinya akan kembali terguncang. Terutama Meka yang sadar hanya menjadi pengganti selama Renata terbaring sakit.


Plak!


Renata melayangkan tamparan keras kepada Meka. Ia sudah mendengar semua cerita dari pihak keluarganya. Selama ia sakit, Meka tidak tahu diri menjadi istri kedua Ferdian dan menguasali Callista, putri kesayangannya.

__ADS_1


"Apa-apaan kamu, Renata!" Ferdian maju menghadapi Istri pertamanya agar tidak melukai Meka lagi.


"Kamu juga sama! Kamu tega denganku! Pengkhianat!" Renata memaki Ferdian dengan nada penuh kekecewaan.


"Aku bisa menjelaskan semuanya ...." Ferdian tak menyangka Renata yang sepertinya sudah tidak memiliki harapan hidup akhirnya bisa tersadar. Ia menarik tangan Renata agar ikut dengannya ke area ruang tengah.


"Kamu sama sekali tidak membantah atau mengelak. Jadi, apa yang aku dengar dari keluargaku ternyata benar, kan ...." Tatapan mata Renata penuh kebencian. "Kamu suami paling kejam yang tega membuang istrimu sendiri untuk menikahi wanita murahan itu!" Nada bicara Renata semakin meninggi.


"Aku tidak pernah membuangmu!" Ferdian menimpali dengan nada yang lebih tinggi. Renata langsung terdiam. "Sejak kamu koma, aku yang selalu merawatmu. Aku bayar dokter dan perawat untuk menjagamu 24 jam di rumah, sembari merawat Callista yang harus terpisah darimu. Orangtuamu sendiri yang memaksa membawamu pergi dariku."


"Itu karena kamu tidak serius mengobatiku. Jangan-jangan memang keinginanmu untuk bisa menikahi Meka tanpa seizinku."


Ferdian terkekeh mendengar perkataan Renata. Segala pengorbanannya selama ini dianggap tidak berguna hanya karena omongan keluarga Renata. "Keluargamu pasti sudah banyak menjelek-jelekkan tentang aku, ya? Sejak kapan kamu jadi percaya kepada mereka?"


"Siapa lagi yang harus aku percaya selain mereka? Apa aku harus percaya padamu yang sudah menikah dengan wanita lain saat aku koma?"


"Aku menikah dengan Meka demi kebaikan semuanya." Ferdian berusaha memberikan alasannya.


"Ya, itu termasuk! Aku lelaki normal yang perlu menyalurkan hasrat biologis. Tidak mungkin aku menggaulimu yang sedang sakit!" Ferdian tak mengelak tuduhan Renata. Dengan terang-terangan ia katakan alasannya menikahi Meka. Melihat kehadiran Renata dalam kondisi sehat, awalnya membuat Ferdian senang. Tapi, terus menerus disudutkan oleh wanita yang paling dicintainya itu, membuat Ferdian merasa muak.


"Meka juga wanita yang sudah melahirkan putraku, Davin. Dia ibu yang penuh kasih sayang, bahkan sepenuh hati mau merawat dan menyusui Callista selama kamu tidak bisa melakukan hal itu untuk Callista. Seharusnya kamu berterima kasih padanya sudah membantu menjaga Callista yang alergi susu sapi."


Renata semakin sakit hati mendengar Ferdian seakan memojokkannya dan lebih membela Meka. "Kalau aku tahu, aku tidak akan sudi membiarkan anakku disusui oleh wanita seperti dia!"


"Ren!" bentak Ferdian.


"Sudah, sudah ... aku yang salah." Meka yang sedari tadi diam angkat bicara. Ia mendekat ke arah Ferdian dan Renata yang sedang bersitegang. Sejak awal dia sudah tahu posisinya, Ferdian juga dengan jelas mengatakan posisinya hanya untuk menggantikan Renata selama sakit.


"Kami punya perjanjian. Setelah kamu sembuh, pernikahan kami akan berakhir."


"Meka ...." Ferdian tak suka Meka ikut bicara.

__ADS_1


"Maafkan aku, Ren. Tidak usah bertengkar lagi dengan Didi. Aku yang akan pergi dari sini."


Ferdian bangkit dari duduknya dan menghampiri Meka. "Kamu apa-apaan? Siapa yang memberimu izin untuk mengambil keputusan." Ia memegangi lengan Meka.


"Jangan pura-pura lupa dengan perjanjian di awal pernikahan kita, Di. Aku akan membawa Davin pergi bersamaku. Tapi, kamu juga bebas jika ingin mengunjunginya sesekali." Meka melepaskan tangan Ferdian. Ia berjalan menghampiri Davin yang sedang bermain bersama para pengasuh, memperhatikan keributan orang tua mereka sejak tadi.


"Davin, ayo ikut Mama." Meka mengulurkan tangannya. Davin menyambut uluran tangan ibunya. Para pengasuh hanya bisa menunduk tak berani ikut campur dengan masalah yang dihadapi majikannya.


"Kita mau kemana, Ma?" tanya Davin.


"Kita akan pulang ke rumah, Sayang."


"Tapi, ini kan rumah kita."


Meka tersenyum. "Tidak, Sayang. Kita hanya sebagai tamu di sini. Sekarang saatnya kita pulang ke rumah kecil kita dulu."


"Adek Callista diajak?" tanya Davin lagi.


Meka menolrh ke arah Callista, bayi yang selama ini ia susui itu sudah tumbuh semakin besar. Anak kecil itu mengulurkan tangannya seakan mrmberi kode minta digendong olehnya. Hatinya sudah menjerit. Meskipun bukan anak kandung, tapi berpisah dengan Callista membuat batinnya sakit.


"Callista sudah ada mamanya, Sayang. Dia akan dirawat oleh mamanya."


"Terus, apa Papa akan ikut kita pergi juga? Apa Papa akan tinggal bersama kita?"


"Iya, nanti Papa akan menyusul." Meka hanya mrnenangkan Davin agar ia mudah diajak pergi.


"Meka." Ferdian menahan tangan Meka. Matanya sudah berkaca-kaca saat Meka akan meninggalkannya. Apalagi mendengar suara tangisan Callista yang tak mau ditinggalkan oleh ibu sambungnya, semakin membuat Ferdian hancur.


"Selesaikan dulu urusanmu dengan Renata, Di. Kamu tahu dimana harus mencariku, aku tidak akan kabur lagi kali ini." Meka mrlepaskan tangan ferdian. Ia berjalan dengan mantap sembari menggandeng tangan Davin bersamanya.


Hidup kini bukan hanya sebatas urusan cinta. Hal yang membuat Meka kuat adalah selalu berpegangan pada realita kehidupan dan tak perlu bergantung kepada orang lain secara berlebihan. Sekalipun ia harus pergi meninggalkan semua, ia tak perlu merasa terbebani. Dulu, dia juga berawal dari sendiri dan tak memiliki apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2