PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
MENIKMATI MALAM ROMANTIS


__ADS_3

"Sayang, kamu masuk dulu ke kamar, ya. Jangan lupa mandi. Aku sudah menyuruh Tomi untuk mempersiapkan kamar kita. Baju ganti, alat make up, skincare, semua sudah ada di dalam. Aku akan menyusul setelah urusanku selesai." Melvin mengecup kening Ruby sebelum meninggalkannya.


Malam ini, Melvin mengajaknya menginap di sebuah hotel mewah. Setelah menjalani konferensi pers yang cukup melelahkan, meladeni setiap pertanyaan dari wartawan, akhirnya mereka bisa beristirahat. Melvin memutuskan untuk menyewa salah satu kamar presiden suite agar tidak perlu kelelahan pulang ke rumah Ruby atau apartemen Melvin yang lumayan jauh.


Ruby mengikuti seorang pelayan hotel yang bertugas mengantarnya ke kamar. Pelayan itu membantu membukakan pintu dan menyalakan lampu yang ada di dalam kamar. Setelah semua tugasnya selesai, pelayan itu kembali ke tempatnya.


Ruby melangkah masuk ke dalam kamar super luas itu. Baru masuk saja dia sudah disugihi pemandangan romantis yang menakjubkan. Ada banyak bunga-bunga yang menghiasi setiap sudut kamar. Ketika ia melongok ke dalam kamar utama, di atas ranjang ada hiasan bunga yang ditata membentuk hati serta dua buah handuk yang dibentuk seperti angsa yang sedang berciuman.


Riby senyum-senyum sendiri melihat Melvin menyiapkan kejutan itu untuknya. Memang, sebagai pasangan pengantin baru, hubungan mereka masih dikatakan sangat romantis. Melvin bahkan hampir tidak mau masuk kantor hanya karena ingin menghabiskan waktunya sebagai pengantin baru.


Berhubung besok akhir pekan, menginap di hotel bukanlah ide yang buruk. Melvin sengaja menyelesaikan urusannya dengan klien lebih dulu sebelum menikmati waktunya bersama istri tercinta.


Ruby mengingat pesan Melvin untuk mandi terlebih dahulu. Ia berjalan menuju area kamar mandi yang luas dengan view pemandangan kota. Bathtube di dalamnya sudah diisi penuh dengan air serta taburan bunga mawar yang menutupi permukaan airnya. Ia menanggalkan pakaiannya, masuk ke dalam bathtube, merendam tubuhnya di dalam air hangat yang menenangkan sembari menikmati pemandangan malam.


Menikah baginya merupakan pengalaman yang paling menyenangkan. Setelah menikah, ia bisa memeluk tubuh lelaki yang dicintainya setiap hari. Ia bisa bermanja-manja sembari menceritakan keluh kesah yang dirasakannya.


Apalagi setelah konferensi pers itu selesai. Ruby merasa lega. Ia sudah bisa lagi berjalan dengan menegakkan kepala. Ardi sudah mengatakan semuanya, sehingga ucapan orang yang menyakitkan terbantahkan begitu saja.


Selesai mandi, Ruby membalut tubuhnya dengan bathrobe yang disediakan pihak hotel. Ia berjalan ke arah meja rias, menyalakan hair dryer untuk mengeringkan rambutnya. Setelah itu, ia menggunakan rangkaian skincare malam yang tersedia di sana. Tubuhnya diluluri dengan lotion serta parfume agar menjadi harum.


Waktunya memilih pakaian tidur yang manis untuk tidur. Saat membuka lemari, Ruby tercengang karena hanya menemukan satu pakaian di dalamnya. Lingerie warna hitam yang menerawang dan sek*si tergantung di sana.

__ADS_1


Seumur-umur ia belum pernah memakai pakaian semacam itu. Baju tidur yang biasa ia kenakan setelan baju panjang. Ruby mengambil baju itu dari dalam lemari, memperhatikannya dengan serius. Saat ia berpakaian tertutup saja Melvin selalu tergoda untuk menyentuhnya, apalagi kalau dia memakai pakaian semacam itu. Suaminya pasti akan langsung menerkamnya.


"Apa memang Kak Melvin mau aku memakai yang seperti ini? Baru tahu ternyata dia sangat agresif setelah menikah. Untung saja waktu masih pacaran aku tidak habis olehnya," gumam Ruby. "Dua minggu menikah belum ada jedanya sama sekali. Aku yakin malam ini juga sama, tidak akan tidur sampai pagi."


Ruby menanggalkan bathrobe yang dikenakannya. Ia menggantinya dengan pakaian tidur itu sembari berkaca memperhatikan tubuhnya sendiri yang tampak sek*si. "Tidur seperti ini sama saja tidur tanpa mengenakan apapun." Ia berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di tepi sembari menunggu suaminya pulang.


Klik! Klik!


Terdengar suara pintu hampir terbuka. Reflek Ruby kaget dan langsung menyembunyikan dirinya di dalam selimut. Tiba-tiba ia malu sendiri untuk memperlihatkan pakaian dinas yang dikenakannya.


"Hah ... hari ini memelahkan sekali." Melvin melepaskan kassr dasi yang melilit di lehernya lalu membuangnya sembarang. Ia melihat sekeliling, cukup puas dengan hasil pekerjaan Tomi, orang kepercayaannya.


"Sayang, apa kamu sudah tidur?" tanya Melvin. Namun, tidak ada jawaban dari wanita yang ada di atas ranjang.


Ia berjalan ke arah lemari, mengambil setelan baju tidur panjangnya. Ia heran saja baju tidur milik Ruby masih ada di sana. Ternyata Ruby salah membuka lemari. Padahal di laci lemari ada lebih banyak baju yang bisa dipilih.


"Akhirnya urusan hari ini sudah benar-benar selesai. Kamu pasti sangat kelelahan, ya?" Melvin duduk di samping ranjang sembari memijit kepalanya yang sedikit pening. "Apa kamu benar-benar sudah tidur? Kenapa kamu menutupi seluruh tubuhmu di bawah selimut?" tanya Melvin penasaran.


Tangannya hendak membuka selimut yang menutupi istrinya, namun ditahan oleh Ruby. Tentu saja dia menjadi semakin heran. "Apa ada masalah? Kamu sedang nangis, ya?" tanyanya khawatir.


"Aku tidak apa-apa. Sudah, Kakak tidur saja. Aku juga mau lanjut tidur," jawab Ruby dari balik selimut.

__ADS_1


"Baiklah, tapi turunkan sedikit selimutmu. Aku khawatir kamu tidak bisa bernapas, nanti bisa mati di dalam."


"Aku biasa tidur seperti ini. Sudah, Kakak tidur saja."


Srak!


Selimut tiba-tiba terbuka lebar oleh Melvin. Terpampanglah tubuh Ruby yang sek*si berbalut sehelai lingerie hitam. "Ah!" teriak Ruby seraya menutup kembali tubuhnya.


Namun sayang, Melvin sudah lebih dulu melihatnya. Ia tertawa terbahak-bahak.


"Baju tidurku memang aneh, kan? Aku sendiri malu untuk memakainya. Jangan menertawakanku! Apa kamu kira ini lucu?" rengek Ruby sembari menahan rasa malunya.


"Aku minta maaf." Melvin menghentikan tawanya. Ia memandangi wajah kesal yang diperlihatkan oleh Ruby.


"Ini lebih tepat disebut sebagai saringan tahu daripada pakaian. Apa selera Kakak memang baju-baju yang seperti ini? Kakak suka dengan wanita-wanita yang sek*si, ya?"


"Aku hanya menyukaimu, mau pakai baju seperti apapun aku tetap menyukaimu. Toh, apapun pakaiannya, semua akan lepas pada waktunya. Tapi, kenapa kamu malah menyalahkanku? Semua yang mempersiapkan ini Tomi dan pihak hotel, aku tidak tahu menahu."


"Tetap saja kamu yang sudah menyuruhnya." Ruby memanyunkan bibirnya.


"Apa kamu sebegitu tidak suka dengan pakaian yang kamu kenakan? Bukankah seharusnya aku yang menentukan suka atau tidak suka?"

__ADS_1


"Sudahlah! Lupakan. Kakak sendiri kenapa tidak mengancingkan pakaian dengan benar?" Ruby mengintip suaminya dari balik selimut. Baju tidur yang dikenakan sama sekali tidak dikancingkan sehingga bagian dada bidangnya yang sek*si terekpose begitu saja.


__ADS_2