PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
CINTA BEDA IMAN


__ADS_3

Silakan baca ulang bab 'Keluarga Selena' yang baru diperbaiki 🙏🏻


 


"Mau apa datang lagi ke sini? Livy tidak mau bertemu denganmu lagi." Oma Maya memasang muka masam ketika melihat Reino mendatangi rumahnya.


Saat ini Livy memilih tinggal di rumah neneknya daripada ikut ayah atau ibunya. Sejak hubungannya bermasalah dengan Rei, Livy menjadikan rumah neneknya sebagai tempat menenangkan diri. Livy sudah tidak mau bertemu dengan Rei. Bahkan untuk sekedar membalas pesan atau menerima teleponnya ia tidak mau.


"Setidaknya beri kesempatan saya bertemu Livy, Oma. Saya ingin menyelesaikan masalah di antara kami dengan baik." Rei tetap berdiri di depan gerbang mansion mewah itu.


Oma Maya mematikan selang air yang sejak tadi digunakan untuk menyiram tanaman. Ia berjalan ke arah Rei meninggalkan tanaman yang sedang dirawatnya. "Masalah apa lagi yang mau kamu selesaikan? Gara-gara kamu cucuku jadi sering menangis. Padahal Livy bukan anak yang cengeng."


Rei terdiam sejenak. Ia sadar bahwa apa yang Livy alami tak lepas dari kesalahannya. Livy pergi begitu saja meninggalkan dirinya setelah bertemu dengan ayahnya. Setelah Rei bertanya kepada ayahnya, mereka pernah membahas tentang masalah perbedaan agama.


Livy tak pernah memberitahu apa masalah yang dihadapinya. Ia menghilang tanpa kabar berbulan-bulan. Bahkan keluarganya sampai mencarinya.


"Saya ingin meminta maaf kepadanya, Oma."


"Aku rasa itu tidak perlu! Lebih baik kamu pergi dan jangan menemui dia lagi." Oma Maya tetap kekeh pada pendiriannya.


"Saya tidak bisa melepaskan Livy sebelum berbicara baik-baik dengannya."


"Kak Rei!" seru Livy. Ia berlari dari arah rumah menuju gerbang menjumpai Rei yang ada di sana.


Wajah Rei berubah bahagia. Senyumannya merekah saat melihat kehadiran Livy. Entah sudah berapa bulan mereka tidak bisa bertemu.


"Livy, masuk!" perintah Oma Maya.

__ADS_1


"Maaf, Oma. Aku mau bicara sebentar dengan Kak Rei. Nanti aku akan segera pulang setelah selesai bicara."


"Apa lagi sih yang mau kalian bicarakan? Bukankah semua sudah jelas, kalian tidak bisa bersama lagi." Oma Maya tampak keheranan dengan cucunya.


"Sudah, Oma. Aku pergi dulu, ya." Livy mencium pipi neneknya lalu membuka gerbang menjumpai Rei.


Rei mengajak Livy berjalan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari gerbang. Saat ia hendak memeluk Livy, wanita itu menolak, membuat Rei terkejut.


"Kita bicara di pantai dekat sini, ya," pintanya.


Rei mengalah. Ia membukakan pintu mobilnya untuk Livy lalu memutari mobil kembali ke kursi kemudinya. Rei mengemudikan mobilnya menuju tepi pantai tak jauh dari kediaman nenek Livy.


Pantai di sana sangat bersih dan terlihat sepi. Mungkin karena masih jarang terdapat rumah penduduk dan belum ada pengelolaan tempat wisata, tempat itu masih sangat terjaga keasriannya.


Meskipun siang hari, angin yang berhembus sepoi-sepoi memberikan hawa sejuk. Pohon-pohon cemara yang tersebar di sepanjang pantai semakin menambah suasana sejuk. Pasirnya berwarna putih terlihat berkilau terkena pantulan sinar matahari. Ombak di lautan menciptakan buih-buih yang berkejaran ke tepian pantai.


Rei melirik ke arah wanita di sebelahnya yang terlihat lebih cantik dengan rambut panjangnya. "Livy ...."


"Kak Reino apa kabar?" tanya Livy. Mata mereka saling bertemu.


"Apa aku harus mengatakan kalau aku baik-baik saja setelah kamu tinggalkan?" Perasaan Rei campur aduk antara ingin marah dan ingin meluapkan kerinduannya yang menggebu-gebu. Ia merindukan Livy. Ia ingin memeluknya dan menciumnya saat mereka bertemu. Namun, Livy menolak. "Apa kamu bahagia setelah pergi tanpa kabar selama berbulan-bulan? Puas mengabaikan pesan dan teleponku?"


Livy merasa sedang dimarahi. Ia menunduk. Pandangannya sengaja dialihakan ke tempat lain karena matanya sudah berkaca-kaca karena hampir menangis.


Hubungan mereka sudah berlangsung cukup lama. Meskipun awalnya terlihat seperti kisah percintaan dua remaja yang sedang beranjak dewasa, semakin mereka bertumbuh, ada keinginan untuk memiliki hubungan yang lebih serius ke depannya.


"Kita berdua yang memutuskan untuk menjalin hubungan, kenapa kamu mengambil keputusan sendiri tanpa berdiskusi atau meminta mendapatku? Apa setelah pergi masalah kita terselesaikan?"

__ADS_1


"Sudah cukup!" Livy mengusap air matanya yang mengalir di pipinya. Setiap kali memikirkan tentang rasa cinta dan perkataan yang pernah Pak Wijaya katakan padanya, membuat hasrat dan akal sehatnya berbenturan.


Ayah Rei memang orang baik. Nasihat yang diberikannya semata-mata untuk kebaikan mereka berdua. Akan tetapi, tetap saja sisi perasaan halusnya merasa sangat sakit. Ia tak bisa meninggalkan Rei maupun bertahan di sisinya. Perbedaan mereka hanya satu, namun membuatnya serasa berada di dunia yang berbeda yang tak mungkin menyatu.


"Apa yang sudah papaku bilang padamu?"


Livy terdiam. Rei hanya mendengarnya sesekali menghela nafas sambil menahan isakan tangis.


"Livy ...."


"Kita beda agama, Kak! Sudah, masalahnya hanya itu. Jangan ditanya lagi." Livy berkata dengan nada sedikit meninggi.


"Sebelum memutuskan menjalin hubungan denganmu, aku juga sudah tahu. Kita sudah sama-sama tahu. Aku sering mengantarmu ke gereja setiap minggu dan kamu sering duduk di teras masjid menungguku shalat. Kita sudah menjalaninya selama 5 tahun lebih. Itu bukan waktu yang singkat. Kenapa saat ada masalah justru kamu memilih menghindar? Bukankah kuta bisa menyelesaikannya bersama?"


"Apa Kakak mau pindah agama demi aku?" Livy menatap serius kepada Rei. Air matanya sudah meleleh di pipi. "Atau Kakak mengharapkan aku yang pindah agama untuk menyelesaikan masalah di antara kita?" Rasanya sangat sakit membahas perbedaan yang sebenarnya tidak mereka inginkan. Cinta mereka sama, hanya iman mereka yang berbeda.


Rei terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Livy. Beberapa kali memang Livy membahas tentang perbedaan di antara mereka. Namun, Rei selalu menghindar. Jika Livy mulai membahasnya, Rei akan marah dan mengakhiri perbincangan mereka.


Livy juga berharap untuk tidak membahas hal semacam itu ketika mereka berdua. Akan tetapi, ketika ia bertemu dengan Pak Wijaya, hatinya menjadi terbuka. Bahwa tidak mungkin menyatukan menyatukan dua keyakinan dalam satu bahtera pernikahan.


"Kamu dan Rei sudah cukup lama dekat. Kalian sudah saling mengenal sifat masing-masing dan keluarga masing-masing. Tapi, apakah kalian sudah saling mengenal siapa Tuhan kalian?" Pertanyaan Pak Wijaya kala itu tak bisa dijawab oleh Livy.


"Bagi orang yang beragama, keberadaan Tuhan sangat penting dalam kehidupannya. Setiap langkah yang ditempuh pasti akan selalu mempertimbangkan apakah hal yang akan dilakukannya benar sesuai aturan dari Tuhan atau tidak."


"Dalam ajaran agama yang keluarga kami yakini, pernikahan adalah bentuk ibadah terpanjang dalam kehidupan manusia. Sedangkan menikah dengan pasangan yang berbeda keyakinan akan dianggap sebagai zina seumur hidup."


"Apakah orang yang saling mencintai akan tega menjerumuskan pasangannya ke dalam perbuatan dosa?"

__ADS_1


__ADS_2