PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
MENJADI SUAMI ISTRI


__ADS_3

"Sudah, Yah. Ini sudah larut malam. Kasihan Melvin butuh istirahat dan kita juga harus segera pulang." Kania berusaha membujuk suaminya.


Kennedy melirik ke arah Melvin, "Vin, cepat berikan ayah dan ibu cucu, ya! Yang banyak pokoknya. Bawa main ke rumah kami."


Melvin hanya tercengang dengan perkataan ayahnya. "Aku baru menikah, Yah!"


"Kalau di sini tidak bisa cepat punya anak, pindah saja ke rumah ayah dan ibu."


"Hah! Kamu pikir aku mertua yang akan menindas menantunya?" Wijaya kembali bicara.


"Siapa yang tahu, kan?"


"Aduh, kenapa jadi bertengkar seperti ini. Ayah, ayo kita pulang sekarang!" Kania memegangi lengan suaminya.


"Aku panggilkan Ruby dulu." Melvin hendak naik ke atas memanggil istrinya.


"Tidak usah, dia pasti masih repot menghapus riasannya. Tadi juga kami sudah berpamitan." Kania melarang Melvin.


"Jaga diri di sini, Vin. Perlakukan istrimu dengan baik." Kania memberikan pesan seraya memeluk Melvin.


"Iya, Bu. Hati-hati di jalan."


"Ayah juga pulang dulu." Kennedy gantian memeluk putranya.


Reino juga ikut berpelukan dengan Kania dan Kennedy. Saat Kennedy berjabatan tangan dengan Wijaya, mata mereka saling menatap tajam. Keduanya masih belum ada yang mengalah sama-sama ingin tinggal bersama pengantin baru itu.


"Akhirnya kita jadi satu keluarga lagi, Rei," ucap Melvin ketika mereka berjalan menaiki tangga menuju lantai atas.


Malam sudah semakin larut, orang tua Melvin memutuskan untuk pulang menuju hotel yang telah disewa untuk menginap. Beberapa wanita turun dari lantai atas berpapasan dengan mereka. Sepertinya Ruby sudah selesai menghapus dandanan dan melepaskan gaunnya.


"Kita memang ditakdirkan sebagai kakak adik. Setelah terpisah, kita jadi kakak adik lagi."


Rei menarik bibirnya, "Tapi ingat ya, sekarang aku kakak iparmu, bukan adikmu lagi. Jadi, mulai sekarang biasakan untuk memanggilku 'kakak'."


"Enak saja! Umurku lebih tua darimu." Melvin menolak.


"Tapi aku Kakaknya Ruby."


"Kamu bukan kakaknya tapi saudara kembarnya."


"Kalau begitu, aku juga tidak mau memanggilmu kakak. Aku kan hanya iparmu, bukan istrimu."


"Eh ... anak ini sialan!"

__ADS_1


Setelah Pak Wijaya dan Pak Kennedy bertengkar, kini giliran Melvin dan Rei meributkan panggilan. Setibanya di lantai atas, ada dua kamar yang saling bersebelahan.


"Ini kamar Ruby, kalau yang di sana kamarku. Apa kamu mau masuk kamarku?" Rei menawarkan kamarnya.


"Amit-amit masuk kamarmu."


Klak!


Pintu kamar di depan mereka terbuka. Melvin tercengang melihat wanita yang keluar dari balik pintu itu. Ruby mengenakan baju tidur berbahan satin berwarna pink dengan model tanktop dan bawahan celana pendek. Reflek Melvin langsung menutupi Ruby agar Rei tidak melihatnya.


"Cepat masuk kamar, Rei!" perintahnya.


"Ck! Lebay! Aku sudah sering lihat." Rei menjawab dengan santai.


Melvin melotot kepadanya.


"Aku masuk dulu." Sebagai ipar yang sangat pengertian, Rei mengalah untuk pergi meninggalkan mereka berdua.


"Kata Bi Minah, Om Ken dan Tante Kania sudah pulang? Padahal aku belum sempat berpamitan." Wajah Ruby sedikit cemberut.


"Tidak apa-apa, tadi kamu juga sudah berpamitan dengan mereka."


Melvin mendorong Ruby masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintunya. Ruby mengerjap-ngerjapkan mata keheranan dengan kelakuan Melvin.


"Kenapa kamu memakai baju seperti ini di luar kamar?" Melvin tampak kesal memperhatikan penampilan Ruby. Meskipun ia suka melihatnya seperti itu, tapi ia tidak rela orang lain melihatnya juga, termasuk Rei.


"Kalau di kamar boleh, keluar kamar jangan! Tidak lihat tadi ada Rei? Atau bisa juga ada pelayan, sopir atau tukang kebun yang akan melihatmu seperti ini."


"Tapi inikan biasa, tidak terlalu terbuka." Ruby merasa penampilannya tidak ada yang salah."


"Pokoknya, mulai sekarang jangan lagi keluar kamar seperti ini."


"Oke, baiklah." Ruby memilih untuk mengalah.


Melvin mengusap lembut pipi Ruby. Tatapan mata mereka bertemu. Keduanya saling tersenyum.


"Aku tidak mau berbagi makhluk cantik ini dengan siapapun," ucapnya.


"Hahaha ... dasar aneh." Ruby hanya menertawakan kegombalan Melvin.


Melvin memeluk pinggang Ruby, "Kita tidur, yuk! Sudah larut malam," ajaknya.


"Eh, Kakak sudah gila, apa? Di rumah ini kan ada Papa dan Rei ...." Ruby sampai melotot terkejut saat diajak tidur oleh Melvin.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" Melvin heran niatnya mendapat penolakan.


"Nanti Papa bisa marah lagi ... tahukan kalau Papaku marah seperti apa?"


Melvin mengerutkan dahinya. "Tapi kita kan sudah menikah."


Ruby menutupi mulutnya yang reflek ternganga. "Oh iya, ya. Aku lupa kalau kita sudah menikah. Hahaha .... " Ia menertawakan kekonyolannya sendiri. Ruby benar-benar lupa kalau mereka sudah menikah. Rasanya masih seperti mimpi, tidak terasa seperti pernikahan.


"Hahaha .... " Ruby tak bisa menghentikan tawanya. Ia memeluk tubuh Melvin seraya berucap, "Apa kita benar-benar sudah menikah, ya? Aku masih belum bisa percaya."


Melvin menyunggingkan senyum, "Apa perlu aku buktikan supaya kamu percaya?" godanya.


"Hm?" Ruby tampak bingung.


Melvin secara tiba-tiba mengangkat tubuh Ruby, membuat wanita dalam gendongannya terkejut. Ia membawanya ke arah ranjang, merebahkannya secara perlahan. Jarinya menyapu permukaan bibir lembut itu.


"Akhirnya aku punya istri ...." gumam Melvin sembari menatap lekat wajah wanita di bawahnya.


"Sudah, jangan bilang begitu lagi. Aku jadi ingin tertawa kalau mendengar kata suami istri."


"Kita memang sudah menikah, Sayang. Kamu memang perlu diberi bukti supaya cepat sadar.


Melvin mendaratkan ciuman di atas Bibir Ruby. Secara mengejutkan, Ruby melingkarkan tangannya di leher Melvin seraya mengimbangi ciuman lembut yang Melvin lakukan. Malam ini, ia tak ingin terburu-buru melakukannya.


Ciuman yang awalnya ringan semakin intens dan dalam. Kedua lidah mereka saling bertautan sehingga menimbulkan sensasi luar biasa yang membangunkan hasrat di dalam tubuh. Melvin merasakan miliknya telah terbangun.


Tangan nakalnya mulai tak bisa diam. Dengan serakah keduanya langsung menyusup ke dalam pakaian milik Ruby menyusuri area perut yang rata naik ke atas menguasai gundukan dengan puncak yang telah menegang.


"Ah! Kak, jangan!" Ruby mendorong Melvin dengan nafas yang masih tersengal-sengal akibat ciuman.


"Sayang, lupa lagi? Kita sudah menikah."


Ruby terbengong seperti orang kebingungan. Dia sudah menikah, tapi rasanya masih sama seperti saat pacaran. "Maaf, Kak. Aku hanya kaget." Ruby mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Jadi, apa suamimu ini boleh memegangnya?" rayunya.


Ruby mengangguk.


Selama lima tahun Melvin sudah berusaha menjaga agar tidak menyentuh Ruby. Malam ini, sepertinya pertahannya tidak akan lagi bisa membendung hasratnya. Sekalipun Ruby akan menangis, ia bertekad untuk terus maju.


Melvin melepaskan jas yang dikenakan lalu membuangnya sembarang. Lilitan dari ia tarik asal serta kancing kemeja satu per satu mulai ia lepaskan. Ruby memandanginya dari bawah dengan wajah yang tegang. Sebagai wanita yang mendapatkan status baru dalam hidupnya, tentunya ada keresahan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


*****

__ADS_1


Mampir dulu ya ke sini 😁



__ADS_2