PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
141 " Fakta mulai terkuak "


__ADS_3

Rumah besar dan dengan adanya kemewahan yang ia dapatkan memang berhasil telah ia miliki. Tapi kenapa dengan cinta, keperdulian, ketulusan tidak pernah berpihak pada laki-laki tampan ini.


Bahkan seorang Istri yang biasanya akan memberikan sikap tulus untuk mencintainya nyatanya cinta itu tidaklah mungkin untuk ia dapatkan sadar jika rumah tangga yang telah dibimbingnya telah berporak poranda akibat hubungan terlarang yang dilakukan istrinya sendiri pada Pria lain.


"Sekarang aku sadar Rev! Berubah sifat sampai berlagak aku sangat bodoh nyatanya memang benar jika perubahan kamu ada tindak penipuan yang berniat ingin kamu lakukan, tapi untungnya Tuhan masih baik sebelum semua itu terjadi aku sudah tau semuanya sebelum kamu membohongiku!"


Berada dalam kamar yang mewah nyatanya kamar ini tidak pernah menjadi saksi akan kebahagiannya. Jam yang sudah menunjukkan pukul 08:00 tapi tak ada satu pun orang yang menemaninya ia hanya hidup layaknya dalam kurungan kesendirian.


Anak kecil usia 6 tahunan tiba-tiba datang dan memberikan pelukan kehangatan pada sang Papa yang akhirnya Gibran pun terlihat kembali bisa tersenyum merekah setelah kehadiran Putranya.


"Papa kenapa? Kenapa Rasya perhatikan ayah seperti ada masalah Papa tidak apa-apa kan?"


"Papa baik-baik saja kok, Papa juga tidak lagi ada masalah itu hanya perasaan Rasya aja oh iya mana Mama kamu?"


"Mama tadi pergi pagi-pagi sekali Pah, mungkin Mama lagi ada keperluan?"


"Iya dan keperluan untuk menemui selingkuhannya,"batin Gibran.


"Pah!"tanya Rasya.


"Iya sayang,"balas Gibran sembari dirinya yang memeluk Rasya.


"Maafkan Papa Rasya ... Maafkan Papa karena Papa belum mampu menjadi pembimbing untuk Rasya, semua ini tidak akan terjadi dan tidak akan mungkin Rasya yang akan jadi korbannya maafkan Papa ...,"batinnya yang terus saja memeluknya.


"Pah?"


"Iya?"


"Apa Papa tau, disekolah Rasya, Rasya punya sahabat baru dia memang umurnya jauh sama Rasya tapi Rasya sangat bahagia bisa punya sahabat seperti dia?"


"Apa dia baik dan tidak pernah jahat atau pun berkata kasar pada Rasya?"


"Dia anak baik Pak, bahkan Papa juga tau jika teman Rasya ini Mamanya juga teman Papa sendiri?"


"Mamanya teman Papa? Siapa?"


"Tante cantik? Dokter Putri cantik yang dulu pernah merawat Rasya waktu Rasya habis jatuh dari tangga, dialah Mama dari Rasyel Pa!"


"Kenapa dalam kehidupan baru pun kita tambah semakin sering didekatkan? Bahkan anak kita pun tanpa dugaan kita ternyata sudah saling kenal bahkan sekarang bersahabat?"batin Gibran


"Pah?"


"Iya sayang?"


"Ngomong-ngomong Tante cantik itu ternyata sangat baik ya? Selain cantik Tante Putri juga memiliki hati yang sangat baik karena kamu mengakui Rasyel menjadi anak kandungnya sendiri bahkan bukan hanya Rasyel, tapi adik Rasyel pun Tante baik akui juga sebagai anak kandungnya?"


"Tante Putri memang seperti itu orangnya? Dia memang sangat baik dalam segala hal, dulu waktu Papa berteman Papa juga senang dan sangat bahagia bisa bertemu dengannya."


"Pasti dulu Tante Putri banyak yang suka ya? Selain cantik dan baik gitu pasti banyak orang yang akan suka pada Tante dan Rasya bisa menebak jika Papa dulu juga pasti sempat suka kan?"

__ADS_1


"Anak kecil tidak boleh ngomongin soal cinta-cintaan,"balas Gibran yang meledek putranya.


"Iya Rasya memang yang kamu katakan memanglah benar jika Papa juga salah satunya orang yang mengagumi akan kesempurnaannya itu? Selain wajah cantik yang ia miliki kebaikan dan keperduliannya itulah yang membuat Papa sangat mencintainya dulu, bahkan Papa akui sekarang Papa merasa hati Papa ada yang aneh tapi Papa tidak paham itu?"batinnya yang memberikan pelukan pada Putranya.


Berbeda dari tempat lain, seseorang yang berada didalam satu ruangan sendirian, seorang Wanita datang menghampirinya dan sesaat pandangan Pria itu pun berpaling darinya.


"Revi ada apa? Apa yang membuat kamu berani menemui ku seperti ini?"


"Maaf Lex! Bukan maksudku ingin menganggu kamu tapi ini sangatlah penting aku tidak bisa terus menundanya lagi. Tujuan ku datang kesini ada sesuatu yang ingin aku kasih tau sama kamu?"


"Apa yang ingin kamu kasih tau apa kamu ada masalah? Ataukah Gibran tau hubungan gelap kita ini?"tanya Alex yang fokus pada pekerjaannya.


"Ini!" Memberikan benda putih panjang bertanda tanda garis dua, pandangan Alex nampak tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Ini apa maksudnya? Kenapa kamu malah memberikan tespek ini?"


"Haruskah aku menjelaskan semuanya pada kamu tentang tespek ini? Apa kamu sungguh-sungguh tidak tau apa itu tespek? Aku hamil anak kamu! Jadi aku ingin kamu mempertanggung jawabkan perbuatan kamu! Aku ingin kamu menikahiku!"


Mendengar ucapan yang dilontarkan Revi terlihat sangatlah serius, jawaban berbeda ditunjukkan pada Alex, bahkan dirinya tak terlihat akan menganggap serius masalah ini. Bahkan tawa yang tiba-tiba muncul sekejap Revi yang melihatnya tidak paham apa maksudnya


"Kenapa kamu hanya bisa tertawa apa kamu tidak bisa menganggap serius ucapan ku ini? Aku berkata serius aku sedang hamil anak kamu apa kamu tidak percaya?"


"Revi ... Revi ... Apa sebodoh ini kamu bisa membodohi-ku? Aku tau janin yang kamu kandung itu bukanlah anakku tapi itu anak suami kamu apa kamu bersungguh-sungguh berniat ingin membodohi ku?"


"Alex! Apa dari tatapan mataku ini terlihat kalau aku sedang membodohi mu? Apa aku sungguh-sungguh akan mempermainkan masalah ini aku sungguh-sungguh mengandung anak kamu mana janji kamu yang pernah bilang kalau kamu mau bertanggung jawab Mana!"


"Sekarang aku tanya Jika kamu memintaku untuk menikahi mu karena anak ini apa kamu bersedia menceraikannya? Aku tau jelas kamu aslinya juga mencintainya bukankah dengan cara membohongi kamu juga akan dapat tangung jawab dari Pria itu biar pun itu bukanlah Papa kandung dari anak yang kamu kandung ini? Bahkan rahasia besar yang selama beberapa tahun ini kamu sembunyikan darinya kamu tidak takut jika aku akan membongkarnya?"ancam Alex dengan senyum sinisnya.


"Darimana kamu tau rahasia itu? Siapa yang memberitahunya?"


"Kamu lupa selain Pria hidung belang yang sudah mencicipi tubuhmu akulah salah satu Pria yang sering melihat tubuh polos kamu bahkan mendengar kamu mengakui semuanya disaat kamu sedang mabuk aku tau semuanya Rev apa kamu sungguh-sungguh tidak percaya? Ataukah kamu ingin mendengarkan langsung ungkapan dari kebenaran yang berhasil aku rekam waktu itu?"


"Apa mau kamu? Jika kamu sungguh-sungguh tidak mau mengakui anak yang aku kandung ini tidak apa-apa tidak masalah! Tapi soal rahasia itu apa kamu akan membongkarnya pada Gibran dan memberitahu semuanya padanya?"


"Kamu pastinya tau apa yang aku mau. Aku bisa saja membongkarnya tapi aku lupa anak yang kamu kandung ini pasti butuh Papa yang sangat pengertian dan perduli padanya nanti, jadi aku serahkan anak itu untuk kamu gunakan sebagai senjata untuk membodohinya selama kamu tidak memintaku untuk bertanggung jawab kamu tenanglah rahasia kamu aman sama aku, jadi tenanglah!"


"Aku pegang omongan kamu, rahasia ini aman karena hanya aku yang mengetahuinya tapi jika suatu saat nanti rahasia ini terbongkar dan Gibran tau siapa Rasya sebenarnya maka orang pertama yang akan aku hancurkan adalah kamu paham!"


"Ancaman yang sangat menakutkan?"ledeknya yang hanya menertawakannya.


Pergi dari hadapan Pria yang yang hanya mampu menertawakannya, Revi yang merasa kesal dirinya segera pergi tanpa memperdulikannya. Sedangkan disisi lain seseorang yang mendengar akan ucapan keduanya dari benda hitam kecil yang ia pasang pada kupingnya, pandangan bahkan tatapannya seketika beralih, tatapan mata yang tadinya tak terlihat akan buliran air, kini tatapan itu berubah menjadi tetesan air mata yang mulai menjatuhi dari kedua sudut matanya.


"Ini tidak mungkin? Apa yang barusan aku dengar pasti tidaklah mungkin Rasya ... Dia ... Dia bukan anakku? Tidak! Ini tidak mungkin?"


Bagaikan tersambar petir pada siang bolong. Gibran yang sengaja memasang perekam suara otomatis pada anting yang dikenakan Revi, hatinya terasa tercabik-cabik setelah mengetahui fakta jika Putra yang sangat ia sayangi melebihi nyawanya sendiri nyatanya bukanlah anak kandung yang ia kira selama ini.


Tak percaya dengan pernyataan apa yang barusan dikatakan Revi tepat di pendengarannya, langkahnya serasa kaku bahkan dirinya yang mencoba berdiri mau pun berjalan serasa tak cukup tenaga lagi untuk mampu menopangnya.


"Papa!"panggil anak kecil yang tak lain Rasya sendiri.

__ADS_1


Seseorang anak tiba-tiba memangil namanya setelah melihat langkah dari Pria yang bergegas keluar dari kediaman ini.


"Jangan mendekat!"cergak Gibran yang menghalangi putranya untuk jangan mendekatinya.


"Papa, Rasya ingin ikut Papa?"


"Jangan mendekat! Apa kamu tidak dengar Papa ngomong apa!"bentak Gibran yang spontan anak kecil itu pun terdiam mematung bersamaan dengan tangisannya yang ikut hadir menyertainya.


"Papa! Ada apa dengan Papa kenapa Papa tiba-tiba membentak Rasya apa kesalahan Rasya? Bibik Papa kenapa? Kenapa Papa tiba-tiba marah dan membentak Rasya kenapa Bik? Papa sudah tidak sayang pada Rasya ... Papa sudah tidak sayang dengan Rasya!"


Tangisannya semakin menjadi, mencekam tubuh Bibiknya menjadikan pundak Bibiknya sebagai penopang dirinya.


"Den Rasya sabar ya, Papa Aden lagi ada masalah jadi tenanglah, jangan nangis ya? Usap air mata Aden usaplah!"


Langkahnya yang sudah mulai pergi meninggalkan kediaman ini, hatinya terasa panas layaknya seperti tercabik-cabik mendengar suara tangisan tersedu-sedu yang dihasilkan oleh Putranya sendiri.


Air matanya tidak bisa berhenti mengalir mendengar suara tangisan itu semakin menjadi, dirinya yang berniat akan pergi kini niatnya seketika buyar. Melangkahkan kakinya masuk kembali dalam kediaman itu, dirinya yang melihat seorang anak berumur 6 tahun yang menangis dengan tersedu-sedu menatap kearahnya dengan tatapan tidak keberdayaan.


Merangkul, memberikan pelukan hangat untuk seorang anak kecil itu akhirnya mampu menenangkan si kecil yang sedari tadi terus menangis memangil nama Papanya.


"Maafkan Papa sayang! Maafkan Papa! Papa lagi ada masalah maafkan Papa! Maafkan Papa!"


"Papa kenapa? Jika Papa ada masalah cerita-lah pada Rasya cerita-lah!"


"Tidak apa-apa sayang, kamu masih sangatlah kecil jadi kamu belum berhak untuk mengetahui semua ini kamu sudah ya jangan nangis hapus air mata kamu anak laki-laki Papa tidak boleh nangis jadi usaplah!"


"Iya Yah, Rasya akan mengusap air mata Rasya, tapi sebagai janjinya Papa jangan nangis ya?"


"Iya sayang Papa tidak akan pergi lagi Papa sangat sayang sama Rasya jadi Rasya juga jangan nangis!"


"Kenapa Rev! Kenapa setega ini kamu membohongiku? Selama hampir enam tahun lamanya aku menganggap Rasya Putra kandungku sendiri? Anak yang lahir dari rahim kamu dan dari darah dagingku sendiri tapi kenapa? Kenapa kamu setega ini membohongiku kenapa?"batinnya yang tetesan air mata yang terus saja menjatuhi pipinya, Rasya yang melihat Papanya masih menitihkan air matanya sesekali Rasya mengusapkannya.


"Papa kenapa menangis Rasya kan sudah tidak nangis lagi kenapa Papa malah yang masih nangis usap ya yah? Usap!"


"Iya sayang Papa akan mengusapnya,"balas Gibran yang kemudian dirinya pun memeluk Rasya.


"Sayang Papa lupa Papa masih ada pekerjaan yang harus Papa selesaikan kamu tidak kenapa-kenapa kan kalau Papa tingal sebentar?"


"Papa janji tidak akan ninggalin Rasya kan?"tanya Rasya mulai cemas.


"Papa tidak akan lama kok. Setelah semuanya selesai, Papa akan kembali untuk Rasya jadi Rasya jangan cemas!"


"Baik Pa, Papa jaga diri Papa baik-baik?"


"Iya sayang ya sudah Papa pergi dulu Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam." Balasan Rasya mau pun Bibiknya, melihat Gibran yang mulai keluar dari rumah Bibik yang sekali melirik kearah Rasya, dirinya lantas menggendongnya.


"Ya sudah Aden sudah waktunya tidur jadi tidur ya?"

__ADS_1


"Baik Bik,"balas Rasya yang kemudian merebahkan kepalanya di atas pundak Bibik.


BERSAMBUNG


__ADS_2