PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
KEMBALINYA FERDIAN


__ADS_3

Klek!


"Siapa, ya .... " Baru saja ingin bertanya, mata Meka membelalak dan tubuhnya membeku seketika melihat tamu yang datang ke rumahnya malam-malam.


"Lama tidak bertemu, Meka." Lelaki itu menyeringai.


Ferdian Pramudya, lelaki bang*sat dan pengecut yang telah mencampakannya ketika mengandung Davin. Lelaki yang bahkan tidak menginginkan kehadiran Davin ke dunia. Meka masih ingat segala perkataan yang terlontar dari mulutnya, bahwa ia menginginkan anak itu diaborsi. Ferdian tak mau bertanggung jawab atas kehamilannya.


Gara-gara lelaki itu, ia menjalani kehidupan yang sulit. Hamil dan membesarkan anak sendiri tanpa dukungan siapapun bahkan keluarganya sendiri. Meka dibuang karena hamil di luar nikah dan sudah tidak berguna bagi keluarganya. Keluarga yang telah menjadikannya seakan-akan sebagai pela*cur pribadi Ferdian hanya demi kelancaran bisnis.


Meka tak mau bertemu atau berhubungan lagi dengan orang-orang yang telah mencampakannya. Ia hanya akan hidup berdua dengan putranya saja.


Meka berniat untuk menutup kembali pintu rumahnya. Ia tak mau menerima kehadiran Ferdian. Akan tetapi, lelaki itu menjegal celah pintu dengan kakinya sehingga Meka gagal untuk menutupnya.


"Lebih baik kamu pergi dari sini! Aku tidak mau bertemu denganmu!" Kata-kata Meka sangat tegas meskipun diucapkan dengan nada lirih. Ia tak ingin Davin mendengar pembicaraan mereka.


"Oh, sekian lama tak bertemu sekarang sudah berani menjadi pembangkang?" Ferdian sedikit terkejut dengan respon Meka. Biasanya wanita itu akan menurut saja apa yang menjadi kemauannya.


"Kamu sendiri yang sudah membuangku! Jangan pura-pura lupa!" Meka menatapnya dengan tatapan yang tajam sembari menjaga pintu itu agar tetap tertutup.


"Aku akan mengganti masa-masa berat yang sudah kamu lalui. Biarkan aku masuk dan kita bicarakan di dalam."


"Pergi! Aku tidak sudi berhubungan lagi denganmu!" tegasnya.


Ferdian berubah geram. Ia menjadi orang yang tidak sabaran. "Meka, kamu pasti sudah tahu siapa aku. Buka pintunya secara baik-baik atau aku akan memakai cara kasar?" ancam Ferdian.


Meka tetap bergeming di tempatnya. Ia tidak rela jika Davin bertemu dengan sosok ayah yang bahkan tidak pernah hadir semasa hidupnya.


"Mama ... kenapa Mama lama membuka pintu?"


Baik Meka dan Ferdian sama-sama terkejut mendengar suara Davin. Terlebih Ferdian, suara anak kecil itu membuat senyuman di wajahnya merekah. Ia menatap Meka dengan bahagia. Berbeda dengan wanita itu yang tampak lemas karena Davin berbicara saat ada Ferdian di sana.


"Apa itu anak kita?" tanya Ferdian antusias.


"Hah! Berani sekali mengatakan tentang anak kita. Apa kamu sudah lupa dulu pernah menyuruhku untuk menggugurkannya." Meka kesal.


"Dulu aku memang masih kekanakkan. Makanya aku bilang ingin menggantikan setiap momen yang hilang selama aku tak ada. Aku pastikan kamu dan anak kita akan hidup bahagia."

__ADS_1


"Kami tidak perlu kehadiranmu. Aku bisa membesarkannya dengan baik tanpa kamu maupun keluargaku!"


Ferdian memberikan tatapan tajam kepada Meka. "Buka pintunya, atau kamu ingin anak kita melihat adegan kekerasan di sini?" ancamnya lagi. "Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku." ucapan Ferdian sangat memprovokasinya.


Akhirnya, Meka menyerah untuk membuka lebar pintu rumahnya.


Ferdian terdiam sejenak melihat makhluk kecil yang berdiri di hadapannya dengan penampilan yang sangat berantakan dan kotor terkena noda makanan. Anak lelaki kecil yang memiliki wajah yang mirip dengannya.


"Mama, siapa Om itu?" tanya Davin polos.


"Aku papamu," sahut Ferdian dengan percaya diri yang tinggi.


Davin terkejut sebentar. Selama ini ia belum pernah bertemu dengan ayah kandungnya.


"Papa .... " Davin berlari menghampiri Ferdian dengan senang. Ia memeluk laki-laki yang mengaku sebagai ayahnya.


Meka terkejut melihat sikap Davin. Biasanya dia tidak akan mudah untuk menempel kepada orang yang baru dikenal.


"Davin .... " Meka berusaha untuk menasihati Davin agar tidak asal memeluk orang. Akan tetapi, Ferdian memberi kode agar Meka diam.


"Apa benar kamu papaku?" tanya Davin meminta kepastian.


Ferdian sepertinya sudah menganggap rumah itu sebagai rumahnya sendiri. Tanpa permisi, ia menggendong Davin ke arah dapur, lalu membersihkan kotoran yang menempel pada wajah dan baju Davin dengan air mengalir. Meka mengikutinya di belakang.


"Mama, Mama ... ini Papa, kan?" tanya Davin lagi.


Mela hanya bisa menghela nafas.


"Kenapa Papa tidak pernah pulang?" kali ini Davin bertanya pada Ferdian.


"Ini, papa sudah pulang. Mulai sekarang, kamu akan bersama papa terus." Ferdian mengusap sisa-sisa air di wajah Davin dengan tisu.


"Papa sudah tidak sibuk kerja, ya?"


Ferdian mengerutkan dahinya.


"Kata Mama, Papa orangnya sibuk bekerja sampai tidak bisa pulang. Tapi Davin senang, akhirnya Papa bisa pulang. Davin kan mau punya Papa juga seperti teman-teman yang lain." Davin mencurahkan isi hatinya.

__ADS_1


"Hm, jadi namamu Davin, ya?" Ferdian mencubit hidung mungil yang lucu itu.


"Iya."


Meka hanya bisa terdiam sembari menyandarkan punggungnya pada dinding. Beberapa kali Davin merengek meminta seorang ayah padanya. Di tempat penitipan anak, ia sering melihat teman-temannya dijemput oleh ayahnya. Sedangkan Davin tidak pernah tahu seperti apa ayahnya.


Sebagai ibu, ia berencana untuk merahasiakan tentang ayah kandung Davin selamanya. Ayah seperti Ferdian sangat tidak patut ia ceritakan. Ferdian tidak pantas mendapat julukan sebagai seorang ayah.


"Davin, ikut mama, ya ... sudah waktunya kamu untuk tidur." bujuk Meka.


"Aku masih mau sama Papa!" Davin semakin mengeratkan pelukannya kepada Ferdian.


Lelaki itu juga tampak senang melihat anak yang baru ditemuinya bisa sangat lengket kepadanya. Ia tak menyangka jika bertemu dengan darah dagingnya yang dilahirkan oleh Meka membuat dia merasa bahagia. Kalau tahu seperti itu, mungkin dulu ia akan memutuskan untuk tetap menikahi Meka.


"Kenapa kamu berambisi sekali untuk memisahkan kami? Ikatan darah itu sangat kental, kamu tidak bisa mengingkarinya."


Ferdian membawa kembali Davin ke arah depan, melewati kekacauan yang dibuat oleh Meka karena dia tadi sibuk membuat kue.


"Apa sekarang kamu jadi penjual kue?" tanya Ferdian.


"Tidak. Aku sengaja membuatnya agar besok bisa dibagikan kepada teman-teman satu kantor."


"Ck!" Ferdian berdecak meremehkan. "Kenapa kamu tidak beli saja? Lain kali kalau ingin sesuatu katakan padaku. Akan aku belikan apapun yang kamu mau."


Meka sangat terkejut mendengar perkataan itu. Lelaki yang pernah meninggalkannya tanpa sepeserpun harta, tiba-tiba berkata ingin memenuhi segala kemauannya. Menurut Meka itu merupakan hal yang sangat konyol.


"Aku minta kamu pergi saja dari rumahku, itu sudah cukup!" tegasnya.


"Aku akan pergi. Tapi dengan membawa Davin bersamaku!" ancam ferdian. Sejak dulu keahliannya memang mengancam orang demi mendapatkan segala sesuatu yang diinginkannya.


Antara Ferdian dan Meka sama-sama ngotot. Tak ada yang mau mengalah.


*****


Sambil menunggu update selanjutnya, bisa mampir ke sini ya 😘


Judul : Unperfect Wife

__ADS_1


Author : Disca Nasty



__ADS_2