PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
PEMAKAMAN TANTE SUKMA


__ADS_3

Wajah Ardi terlihat sayu. Matanya sembab dan terlihat seperti orang linglung. Ia berdiri di depan bersama Fero memikul keranda jenazah ibunya. Sementara di bagian belakang ada Melvin dan Rei yang turut membantu. Mereka mengantarkan Tante Sukma ke peristirahatan terakhir.


"Ardi, apa kamu kuat? Jenazah ibumu tidak boleh terkena air mata," ucap paman Ardi.


"Aku bisa, Om." Ardi mencoba menegarkan diri. Ia ingin menuntaskan kewajibannya sebagai seorang anak dengan mengurus sendiri ibunya sampai di tempat peristirahatan terakhir.


Ayahnya sendiri sampai tidak kuat berbicara dengan siapapun saking syoknya. Beliau hanya termangu duduk menyaksikan istrinya hendak dikebumikan.


Ardi masuk ke dalam liang lahat berukuran 2 x 1 meter yang akan digunakan untuk menguburkan jenazah ibunya. Ia turun bersama pamannya, adik kandung dari ibunya. Beberapa orang di atas membentangkan kain menutupi lubang kubur, sementara beberapa orang lainnya menurunkan jenazah Tante Sukma agar diterima oleh Ardi dan pamannya yang ada di dalam liang kubur.


Seperti ada hantaman bertubi-tubi yang menyasar hatinya ketika jasad sang ibu diterima di depannya. Ketegarannya hampir runtuh. Ia ingin menangis sejadi-jadinya. Akan tetapi, ia harus menahannya. Ia harus menjadi seorang anak yang berbakti sampai akhir.


Perlahan Ardi dan pamannya menurunkan jenazah Tante Sukma, memposisikan jenazah di sebelah barat lubang, lalu memiringkan dan menghadapkannya ke arah kiblat. Ardi meletakkan bulatan-bulatan tanah di beberapa titik agar posisi jenazah tidak berubah.


Ardi melepaskan simpul-simpul kain kafan sebelum menutupnya dengan papan-papan kayu yang diletakkan miring menutupi jenazah. Ia kumandangkan adzan terakhir untuk ibunya dengan suara yang bergetar. Pada akhirnya tangisan Ardi tak tertahankan lagi.


Setelah menuntaskan tugasnya, Ardi dan pamannya naik kembali ke atas. Orang-orang mulai menimbun liang kubur dengan tanah bekas galian.


Melvin meraih tubuh Ardi seraya memeluknya. Tanpa berkata apapun, keduanya saling tahu bahwa mereka sama-sama berduka. Fero dan Rei turut serta berpelukan. Mereka berempat sama-sama menangis.


Meskipun terkadang hubungan mereka tak selalu baik, namun saat salah satu di antara mereka bersedih, sebagai sahabat mereka akan ikut bersedih. Rafa tidak bisa hadir karena masih berada di luar negeri.


Sementara, Ruby ada di dekat mereka pada jarak beberapa meter. Ia memeluk ayahnya sendiri sembari menangis sesenggukan.


Tante Sukma orang yang baik dan lembut hatinya. Bertemu dengannya serasa ia memiliki sosok ibu yang telah lama meninggalkannya. Kehilangan Tante Sukma sama menyakitkannya dengan saat ia harus kehilangan ibunya.


Kondisi mereka saat meninggal hampir sama, mereka sama-sama sakit dan terbaring di rumah sakit.


Pagi itu menjadi pagi yang sendu bagi semua orang yang turut hadir di pemakaman.


Sampai malam menjelang, Ardi dan ayahnya masih menerima ucapan bela sungkawa dari orang-orang. Selesai mengadakan pengajian, teman-teman dekatnya masih menemani di sana. Bahkan Fero menginap di rumah Ardi karena dia datang dari luar kota.


Kakak-kakak Ardi tidak ada yang datang. Mereka sudah dikabari, namun mungkin masih sibuk sehingga tidak bisa menghadiri pemakaman mamanya. Keluarga dari pihak ibunya datang semua, keluarga dari pihak ayahnya sebagian besar datang, itupun karena ada Ruby yang dikenal akan menjadi calon menantu di keluarga mereka.


"Kak .... " Ruby menyapa Ardi yang sedang termenung di teras atas.

__ADS_1


"Hm, ada apa?" Ardi berusaha mengulaskan senyum di wajahnya.


"Jangan lupa istirahat, Kak. Kemarin malam kamu sudah tidak tidur sama sekali." Ruby berusaha menasihati. Ia khawatir dengan kondisi Ardi yang masih tampak bersedih hati.


"Iya, nanti kalau aku sudah mengantuk, aku pasti akan tidur." Ardi menepuk puncak kepala wanita yang berusaha cerewet kepadanya.


"Bukan menunggu kantuk, Kakak harus sudah istirahat maksimal jam 10. Berhenti untuk memaksakan diri."


Ardi tertawa kecil, "Kenapa kamu berisik sekali seperti seorang istri."


"Kak, jangan buat orang yang peduli padamu jadi sungkan menasihatimu." Ruby memasang wajah cemberut.


"Iya, iya. Aku akan menuruti kata-katamu." Ardi mengacak-acak rambut Ruby. "Kamu juga jangan merasa bersalah lagi dengan meninggalnya mama."


Ruby tertunduk. Perkataan Ardi justru membuat air matanya jatuh.


"Yah, nangis lagi .... " ledek Ardi.


Ardi menyadari bahwa dirinya sangat kehilangan ibunya. Akan tetapi, Ruby juga memendam rasa bersalah yang begitu besar dengan kematian Tante Sukma.


"Setelah mamaku meninggal, tugasmu telah selesai, Ruby. Aku berterima kasih kamu sudah menahan diri untuk tetap berpura-pura menjadi calon istriku. Melihat mamaku bahagia semasa hidupnya karena keberadaanmu, itu sudah sangat cukup. Sekarang, kamu bisa tenang untuk pergi dari sisiku."


"Kamu bisa menjalani hubunganmu dengan Melvin secara terbuka. Aku juga minta maaf telah mengganggu hubungan kalian selama ini. Aku berharap kalian berdua bisa bahagia."


"Kak .... " Ruby meraih tangan Ardi dan menggenggamnya.


"Kamu harus berhenti melakukan hal seperti ini padaku, Ruby. Aku akan semakin sulit melepaskanmu. Setiap sentuhanmu padaku membuatku semakin ingin memilikimu." Ardi melepaskan tangan Ruby darinya.


"Aku pernah bilang kalau aku menyukaimu. Dan itu bukan suatu kebohongan. Aku benar-benar menyukaimu." Akhirnya Ardi bisa mengatan isk hatinya yang sesungguhnya dengan jelas. Meskipun Ruby tak akan membalas cintanya, ia hanya ingin merasa lega mengungkapkan apa yang seharusnya ia ungkapkan.


"Kalau bisa, aku ingin mempertahankanmu, membawamu sampai ke pelaminan seperti kemauan mamaku. Tapi, aku sadar. Memaksakan sesuatu kepada orang lain tidak akan menghasilkan kebaikan."


"Kamu harus menemukan kebahagiaanmu sendiri, Ruby. Akupun juga sama, akan mencari orang yang akan bisa memiliki perasaan sama denganku."


"Dengan ini, aku katakan bahwa hubungan di antara kita sudah berakhir."

__ADS_1


"Kalau sudah saatnya, aku akan mengatakan hal ini kepada ayahmu dan ayahku."


"Sekarang, pulanglah! Kamu juga perlu istirahat supaya tidak sakit. Jangan khawatir, aku juga akan tidur seperti nasihatmu." Ardi membali mengusap kepala Ruby.


Ruby secara reflek mendaratkan pelukan kepada Ardi. "Maaf dan terima kasih ya, Kak," ucapnya sekali lagi.


"Sudah aku bilang jangan menyentuhku, Ruby. Kalau seperti ini terus, aku tidak akan mau membatalkan pernikahan kita."


Ruby langsung melepas pelukannya. Ardi tertawa. "Lucu banget sih. Aku kan hanya bercanda," katanya.


"Ya sudah, Kak. Aku pulang dulu, ya," pamitnya.


Ardi mengangguk. Ia menyunggingkan seulas senyuman, "Jangan lupa untuk bahagia, ya. Hati-hati di jalan." pesannya.


Ruby berbalik. Ia berjalan melewati orang-orang yang masih bertahan di sana. Melvin sudah menunggunya di depan pintu.


"Sudah selesai?" tanya Melvin.


"Sudah, Kak. Kita pulang sekarang." jawab Ruby.


"Fer, kamu masih mau di sini?" Melvin bertanya kepada Fero yang sejak tadi menjadi teman bicaranya.


"Ya, malam ini mau menginap lagi. Rafa katanya akan datang ke sini besok."


"Baiklah, aku duluan. Besok, kalau ada waktu, aku akan gabung dengan kalian."


*****


Sambil menunggu update selanjutnya, .ampir dulu, yuk!


Judul : Aku Mafia Bukan Bidadari


Author : Indah Wu


__ADS_1


__ADS_2