
"Sepertinya saya menyerah untuk menjadi pengacara Anda, Nyonya."
Teresa membeku mendengar pernyataan yang dilontarkan oleh pengacaranya sendiri. "Apa kamu sudah gila?" tanyanya dengan nada meninggi.
"Anak tiri Anda sepertinya sudah diam-diam bergerak sejak lama untuk mengambil kembali apa yang menjadi haknya. Semua harta peninggalan suami Anda telah diambil alih oleh notaris yang mengurus hak waris Tuan Pradita Kusuma. Anda telah jatuh miskin."
Teresa mengeratkan giginya seraya mengepalkan jemarinya. Dua minggu lamanya ia bersabar mendekam di balik jeruji besi memakai pakaian berwarna jingga bertuliskan 'tahanan' menunggu usaha pengacaranya agar bisa membebaskannya. Semua yang dimilikinya dalam sekejap mata hilang. Orang-orang yang awalnya royal satu persatu pergi meninggalkannya. Bahkan, pengacara yang menjadi harapan satu-satunya turut mundur dari jajaran orang yang mendukungnya.
"Pak Bahtiar, usahakanlah apapun agar aku bisa keluar dari sini. Aku janji akan memberikan imbalan yang setimpal padamu."
Pengacara itu terlihat menghela napas. Ia memang punya balas budi yang besar kepada Teresa di masa lalu. Namun, melihat kondisi saat ini, ia tak bisa membela Teresa jika tidak mau ikut terlibat pada masalahnya yang serius.
"Kemungkinan Anda akan tinggal lebih lama di sini, Nyonya. Ada seseorang yang memberikan rekaman CCTV rumah saat Anda memberikan obat kepada Nona Gita. Dokter hewan yang menjadi langganan Anda membeli obat tersebut juga sudah mengaku. Saya tidak bisa membantu."
Air mata Teresa mulai terjatuh. Ia menangis tersedu-sedu menerima beban yang dirasakan begitu berat untuknya. Masa mudanya telah dikorbankan demi menikahi lelaki paruh baya, denvan sabar ia terima cemoohan teman-temannya karena dituduh gila harta sampai mau menikahi lelaki yang jauh lebih tua. Ia tahan perasaan kesal itu selama bertahun-tahun, hingga akhirnya sang suami meninggal dan kesempatan menguasai hartanya bisa lebih besar.
Hambatan lain datang dari anak tirinya yang susah diatur. Ia sampai rutin memberikannya obat untuk anjing agar anak tirinya jadi gila sampai ia sendiri hampir mati di tangan Gita. Tinggal selangkah lagi usahanya berhasil, tapi tiba-tiba Gita membawa pacarnya yang bukan orang sembarangan.
Seandainya Teresa tahu akhir ceritanya akan menjadi seperti itu, ia pasti akan lebih memilih Teresa bertahan dengan Jimmy. Biarkan saja hidup Gita menderita jika berpasangan sengan lelaki seperti itu. Daripada Gita mendapatkan ganti yang jauh lebih baik, membuat kehidupannya ikut susah dibuatnya.
"Pak Bahtiar ... tolong ...." Teresa masih menangis tersedu-sedu. Ada rasa tidak tega di dalam hati lelaki itu, namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Saran saya, Nyonya jalani saja proses persidangan ini dengan baik. Jika Anda bisa menjaga sikap, saya yakin vonis yang dijatuhkan bisa lebih ringan."
Teresa belum bisa menerima nasihat dari pengacaranya. Ia merasa tidak bersalah dan tidak pantas mendapat hukuman. Seharusnya Gita yang meringkuk di penjara karena pernah berusaha membunuhnya.
"Kalau nanti Anda bebas, saya akan membantu Anda untuk bangkit, Nyonya. Saya tidak akan melupakan jasa-jasa Nyonya selama ini."
__ADS_1
Pikiran Teresa sudah kosong. Ia tak lagi bisa menerima nasihat atau kata-kata manis. Yang dia inginkan hanya satu, yaitu bebas dari sana.
"Saya pergi dulu, Nyonya. Jaga diri Anda baik-baik."
Bahtiar keluar dari ruang jenguk tahanan meninggalkan Teresa yang masih duduk termenung di sana. Ia tak bisa mengandalkan siapapun. Tak ada yang bisa dipercayai selain dirinya sendiri.
*****
"Pak ...." seru Gita dengan penuh semangat saat ia membuka pintu ruangan Rei. Kebetulan di dalam sana sedang ada staf yang menemui Reindi ruangannya. Terpaksa Rei menyuruh staf itu untuk pergi lebih dulu dari ruangannya.
"Pak ...."
Rei memberi tanda agar Gita tak terlalu dekat-dekat dengannya. Dia jadi merinding sendiri mengingat wanita itu selalu saja ingin menempel-nempel padanya setelah mereka memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius.
Gita bertingkah semakin konyol. Dia seolah ingin selalu memancing Rei melakukan hal-hal di luar batas dalam hubungan sebelum menikah. Wanita itu terlalu agresif dan membuat Rei pusing menghadapinya. Sebagai lelaki, Rei lebih memilih membatasi kontaknya dengan Gita. Ia tidak pernah lagi menginap di apartemennya meskipun Gita selalu merajut beralasan takut sendirian.
"Sudahlah, kalau kita sudah menikah kamu baru boleh melakukan apapun."
"Lama, Pak ... menemui ayah Anda saja belum." Saat ini, Gita dalam mode pacar yang manja. Biasanya kalau di hadapan karyawan, ia memasang sikap wibawa dan tegas. Di depan Rei, dia lebih mirip anak TK.
"Nanti malam kita bertemu Papa. Ada hal lain yang harus aku bicarakan denganmu."
"Apa itu, Pak?" Gita curi-curi memeluk lengan Rei. Lelaki itu langsung menjauhkan diri.
"Kalau kamu masih seperti ini, aku tidak mau bertemu denganmu lagi." Rei melemparkan tatapan tajamnya.
Gita hanya bisa meringis. " Maaf, Pak. Janji nggak diulangi kok."
__ADS_1
Rei menggeleng-gelengkan kepalanya. Pusing mengurusi wanita satu itu. Ia duduk di sofa diikuti oleh Gita.
"Aku sudah menghubungi notaris dan pengacara pribadi ayahmu. Ada surat wasiat yang ternyata ditinggalkan untukmu, menyatakan bahwa seluruh harta kekayaan ayahmu akan diwariskan kepada dirimu. Jadi, semua harta yang sempat diambil oleh ibu tirimu sudah dikembalikan atas namamu."
Rei menyodorkan setumpuk surat-surat berharga peninggalan Pradita Kusuma. Gita membuka lembar demi lembar surat-surat itu. Ia hanya tersenyum.
"Pak, Anda tidak perlu melakukan sejauh ini juga sebenarnya tidak apa-apa. Tanpa harta-harta ini, saya sudah menemukan kebahagiaan saya. Apalagi setelah melewati berbagai penderitaan, akhirnya bisa bertemu dengan Anda. Menurut saya, bisa berjodoh dengan Anda adalah keberuntungan sekali seumur hidup yang sudah saya pakai. Meskipun harus kehilangan segalanya demi menemukan orang seperti Anda, rasanya saya bisa ikhlas."
"Tapi, bukankah lebih baik jika kamu bisa mendapatkan semuanya?" ucap Rei dengan seulas senyum.
"Tentu saja itu lebih baik, Pak ... akhirnya saya jadi kaya lagi. Hahaha ...." Gita memeluk surat-surat itu sambil tertawa kegirangan.
Rei hanya bisa tercengang melihat wanita yang tadi sepertinya sudah pasrah akan kehilangan segalanya jadi girang melihat hartanya kembali.
"Pak, Teresa sudah dipenjara, kan?" tanya Gita memastikan.
"Sudah. Masih dalam proses persidangan. Memangnya kenapa? Kamu mau aku melepaskan dia?"
"Tentu saja tidak, Pak ... kalau bisa, lebih lama dipenjaranya supaya kapok dan tidak menggangguku lagi."
Rei kira Gita akan memaafkan wanita itu. "Kamu senang dia dipenjara?"
"Tidak juga sih, Pak. Biasa saja. Tapi, kalau dia bisa dipenjara ya ... aku bersyukur." Gita tersenyum lebar.
*****
Sambil menunggu update, mampir ke sini ya 😘
__ADS_1