
"Gita, tolong kamu buang sampah itu ke tempat yang ada di depan!" perintah Ibu Suti, kepala bagian tenaga kebersihan perusahaan.
"Baik, Bu." Gita menghela napas sebelum membawa dua kantong hitam berisi kertas -kertas bekas yang sudah tidak terpakai.
Ia melewati koridor ruangan lalu masuk ke dalam lift menuju lantai bawah. Di area lobi, ada banyak karyawan berlalu lalang tak menghiraukan keberadaannya. Ia hanya memandangi mereka, terkadang ada rasa rindu ingin kembali mengenakan seraham yang sama seperti mereka, menjalani pekerjaannya sebagai pegawai kantoran.
Apalah daya, kini ia hanya mengenakan seragam tenaga kebersihan yang mungkin orang tidak akan sudi untuk menyapanya. Apalagi di tangannya menenteng kantong berisi sampah yang membuatnya terlihat seperti pemulung.
Ia segera menyadarkan angan-angannya. Gita harus kembali pada dunia nyatanya. Apapun yang ada di hadapannya harus ia lalui dengan semangat. Roda pasti berputar, nasibnya pasti bisa berubah jika dia berusaha.
Sesampainya di tempat semacam kotak terbuat dari besi, tempat menampung sampah sementara milik perusahaan, Gita menuangkan kertas-kertas dalam kantong ke tempat itu. Saat sore hari, biasanya ada truk sampah yang akan membawa sampah itu ke tempat pembuangan akhir sampah.
"Coba kita lihat, siapa yang kita temui di sini."
Gita terdiam sesaat. Ia merasa familiar dengan nada bicara orang yang ada di belakangnya. Saat ia berbalik, benar saja, wanita yang sangat ia kenal ada di sana bersama mantan pacarnya yang bernama Jimmy.
"Hai, Gita ...." sapa Glenka dengan nada mengejek dan merendahkan. Wanita itu memeluk mesra tangan Jimmy seolah ingin pamer kemesraan di depan Gita.
Gita menatap Jimmy, lelaki yang ingin sekali dia pukuli sampai mati. Gita hanya bisa membisu, melampiaskan kekesalannya dalam angan-angan. Lelaki yang dulu sangat ia cintai kini sudah ia benci sampai ke akar-akar.
Nilai apartemen dan tabungan yang Jimmy ambil darinya tidak sebanding dengan sakitnya pengkhianatan yang ditorehkan di hatinya. Melihat keberadaan mereka berdua, seakan memutar kembali ingatan saat memergoki mereka sedang bermesraan di kamar yang ia berikan untuk Jimmy.
Tanpa sehelai benangpun, mereka mengeluarkan suara-suara mesra yang membuat hatinya menangis pilu. Hubungan yang sudah terjalin hampir tiga tahun Kandas hanya karena ia tak mau berhubungan se*ks dengannya sebelum menikah.
Sudah ketahuan selingkuh, tetap Gita yang dipersalahkan. Jimmy memang lelaki tidak tahu diri yang seharusnya musnah dari muka bumi ini.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Jimmy dengan nada datar. Dari tatapan matanya jelas sekali lelaki itu marah dan kesal melihat keberadaannya. Sepertinya Jimmy malu melihat kondisi Gita.
__ADS_1
Gita hanya bisa terkekeh. Sangat lucu melihat ekspresinya. Seharusnya setelah semua yang ia lakukan, Jimmy tidak perlu menjumpainya atau menyapanya lagi.
"Aku sekarang bekerja di sini sebagai petugas kebersihan. Kalian ada urusan apa datang ke sini? Apa ingin menemuiku?" Gita berusaha bersikap tenang menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya. Jika dia menangis, ia yakin Glenka akan semakin mengejeknya.
"Apa kamu tidak punya harga diri sampai mau bekerja sebagai karyawan rendahan?" Ucapan Jimmy terdengar menyakitkan.
Ingin rasanya Gita menghujatnya. Kehidupannya jadi hancur juga gara-gara lelaki itu. Ia harus bekerja keras dari bawah karena dirinya.
"Aku memang sudah tidak punya harga diri. Memangnya kenapa? Apa ini menjadi masalah untukmu? Kamu malu memiliki mantan pacar yang berpakaian seperti ini?" Gita turut menatap tajam ke arah Jimmy.
"Dia memang sejak dulu keras kepala. Wajar saja kalau kamu meninggalkannya, Sayang ...." Glenka memandang sinis ke arah Gita. Sementara, Gita dan Jimmy beradu tatapan mata.
Gita mengharapkan suatu saat Jimmy akan meminta maaf atas segala perbuatannya kepada dirinya. Namun, hingga kini kata-kata itu tak pernah keluar. Yang ada, Jimmy selalu memojokkan dan menyalahkannya untuk semua hal.
"Untuk apa kalian masih ada di sini? Apa kalian tidak takut dihinggapi kuman penyakit jika dekat dengan tempat sampah?"
Gita kembali tertawa. "Kamu pasti berharap aku jadi gila ya, Glenka. Tapi, maaf ... sangat mudah untuk melupakan perbuatan kalian terhadapku. Aku sudah tidak memikirkannya lagi."
"Benarkah? Aku masih ragu. Mana mungkin secepat itu kamu melupakan Jimmy?" Glenka tampak begitu mencintai Jimmy. Gestur tubuhnya seakan ingin menunjukkan kepada Gita bahwa lelaki itu sekarang adalah miliknya.
"Apa kamu takut kalau aku dan Jimmy akan balikan? Kamu tidak perlu khawatir, itu tidak akan terjadi." Gita sangat muak dengan mereka. Kalau saja membunuh diperbolehkan, mungkin dua orang itu sudah ia habisi nyawanya.
Gita menghela napas, menetralkan emosinya. Dia tidak boleh berpikiran kejam seperti itu. Dia tak ingin kembali seperti binatang yang kehilangan kendali sampai menyerang orang lain.
"Honey, ternyata kamu ada di sini."
Ketiga orang itu menoleh ke arah samping. Rei dengan pakaian kerjanya yang rapi berjalan menghampiri ke arah mereka. Gita tertegun, ia tak mengerti maksud Rei memanggilnya dengan kata-kata sayang.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Rei mencium keningnya lalu memeluk pinggangnya di hadapan Glenka dan Jimmy. Gita terdiam saking terkejutnya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Glenkan dan Jimmy, mereka saling berpandangan, merasa aneh Gita dipeluk oleh pemilik perusahaan besar itu.
"Mereka siapa?" tanya Rei kepada Gita. "Apa dia mantan pacarmu dan pacarnya yang baru?" tebak Rei.
"Iya." Gita menjawab singkat.
"Ada urusan apa mereka datang ke sini? Bukankah kamu masih harus bekerja? Seharusnya kalau mau bertemu teman, atur saat jam istirahat atau jam pulang kerja. Aku saja sebagai bos di sini tidak bisa menemuimu seenaknya."
Gita nyengir. Ia sepertinya tahu bosnya sedang berakting. Ia bingung harus senang atau canggung. Bosnya tidak mungkin mau melakukannya tanpa suatu sebab.
"Anda siapa?" tanya Jimmy. Wajah Jimmy berubah masam. Sepertinya ia tidak suka melihat kedekatan Gita dengan lelaki lain.
"Apa kamu harus tahu? Bukankah kamu hanya mantan pacar Gita saja? Atau jangan-jangan kamu masih menyukai Gita, ya?" sindir Rei. "Kasihan wanita cantik yang ada di sampingmu. Lagipula, Gita juga tidak mungkin mau kembali padamu. Dia mau menikah dengan saya." Rei mengatakannya dengan ekspresi yang serius. Mendengar hal itu, Gita semakin was-was. Entah apa yang akan bosnya lakukan saat mereka sudah pergi.
"Hahaha ... jangan bercanda. Kami belum lama putus, tidak mungkin Gita sudah berpaling kepada lelaki lain apalagi untuk menikah." Jimmy berkata seakan ia paling tahu tentang Gita.
"Waktu perkenalan yang lama bukankah tidak menjamin bisa menikah? Buktinya kalian putus setelah tiga tahun pacaran." ucapan Rei memukul telak Jimmy. Ia tak bisa berkata-kata.
*****
Mampir dulu yuk sambil nunggu up 😘
Judul : Masa Lalu Sang Presdir
Author : Enis Sudrajat
__ADS_1