PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
GODAAN MALAM


__ADS_3

"Kelihatannya sekarang kamu sudah jadi orang yang lebih serius, Ar. Apa pengaruh karena terlalu sibuk bekerja?"


Rafa yang sudah menetap di luar negeri kembali menikmati masa liburannya di tanah air. Seperti biasa, ia akan mengajak Fero dan Ardi untuk minum-minum. Sebenarnya dia juga sudah menghubungi Melvin dan Rei, tapi keduanya bilang tidak bisa karena ada urusan.


Saat ibu Ardi meninggal, Rafa juga sempat pulang meskipun ketinggalan tidak mengantar Tante Sukma ke tempat peristirahatan terakhinya. Ia beberapa hari bersama Fero menginap di rumah Ardi untuk menemaninya.


"Aku heran dengan Rei dan Melvin. Sekarang mereka sangat susah diajak berkumpul." Rafa meneguk segelas tequila yang dituangkan oleh wanita di sampingnya.


"Kalau Rei sejak dulu kan memang tidak akan mau datang ke tempat seperti ini," ucap Fero.


"Oh, iya. Aku sampai lupa. Tapi, jagoan mabok kita, Tuan Muda Melvin Andrea Adinata, kenapa tidak pernah mau lagi minum-minum dengan kita?" Rafa merindukan masa-masa menyenangkan saat dulu. Apalagi jika ada Melvin yang ikut bersama mereka, dia pasti akan membayar semua minuman bahkan wanita-wanita yang biasa ia sewa.


"Melvin sudah berhenti minum," jawab Ardi. Ia ikut meneguk segelas tequile seperti teman-temannya.


"Hm, dia sudah taubat? Pasti gara-gara Ruby," gumam Rafa. "Kamu sendiri bagaimana, Ar? Bukankah menyebalkan melepaskan Ruby demi Melvin?" lanjutnya.


Ardi kembali meneguk minumannya. Mengingat kembali telah merelakan Ruby pergi sedikit membuatnya merasa sedih. Setelah kehilangan ibunya, ia juga harus kehilangan wanita yang mulai dicintainya. Setiap momen bersama Ruby masih jelas dalam ingatannya.


"Aku tidak melakukannya demi Melvin, tapi demi Ruby." Seandainya Ruby bisa membuka hati untuknya, sekalipun harus bersaing dengan Melvin, akan ia lakukan. Rasa sesak kembali muncul setiap mengenangnya. Ia kembali meneguk minumannya seakan hanya itu cara untuk menghapus kesedihannya.


"Lalu, bagaimana dengan Meka? Aku dengar dia sudah punya anak." Rafa kembali bertanya.


"Kamu apa-apaaan sih, Raf. Kebanyakan tanya kayak wartawan. Nanti Ardi jadi malas kumpul dengan kita." Fero yang sedari tadi asyik menggoda wanita di sebelahnya ikut menyahut.


"Kamu terganggu dengan pertanyaanku?" tanya Rafa.


"Tidak, santai saja. Aku dan Meka tidak ada hubungan apa-apa lagi. Dia sudah bahagia dengan jalan hidup yang ia pilih sendiri."


"Kamu tidak ada niat untuk balikan dengannya? Yah, meskipun dia sudah punya anak."


"Raf .... " Fero mencoba mengingatkan kembali agar Rafa tidak kebablasan berbicara.


"Maaf, maaf .... "


"Dulu aku sempat ingin balikan dengannya, tapi Meka menolak. Sekarang aku tidak punya perasaan lagi padanya." Hati Ardi masih dipenuhi oleh Ruby. Entah berapa lama ia akan tersiksa karena belum bisa melupakan wanita itu. Wanita yang bisa mengambil hati ibunya dan dirinya.

__ADS_1


"Lupakan saja, Ar! Hidup memang lebih menyenangkan dijalani apa adanya, tidak perlu terpaku pada hubungan dengan wanita." Fero yang menjalani hidupnya dengan penuh kebebasan seperti Rafa mencoba memberi saran. Ardi, meskipun lama berteman dengan mereka, tapi tidak separah mereka. Dari mereka berlima, yang paling bebas kehidupannya memang Fero dan Rafa.


Ardi semakin memperbanyak minumnya. Kepalanya sudah mulai berat. Suasana hati yang kurang menyenangkan seakan membuatnya ingin terus minum.


"Apa malam ini kamu mau bersenang-senang?" Rafa menawarkan sesuatu yang menyenangkan.


Ardi menyunggingkan senyum sembari meneguk minumannya.


"Malam ini aku memesan seorang wanita. Kata pemilik klab, dia orang baru. Mungkin masih malu-malu sesuai tipemu. Aku lebih suka yang lebih berpengalaman."


"Kenapa tidak menawarkan padaku, Raf. Aku tipe seperti apa saja mau,"


"Diam kamu, Fer! Kamu kan sudah punya satu."


"Aku bisa lebih dari satu."


"Tidak, tidak ... aku ingin menawarkannya untuk Ardi, bukan kamu." Rafa mengabaikan permintaan Fero. "Mau, Ar? Aku sudah terlanjur membayar mahal, tpi setelah melihat wajahnya, aku jadi tidak berminat. Kalau kamu tidak mau memakai jasanya, bisa kamu suruh untuk jadi teman bicara. Soalnya malam ini aku dan Fero akan sibuk di kamar masing-masing."


"Kalau wanita itu mendapatkan aku atau Fero, sepertinya kasihan, dia akan syok. Lebih baik denganmu, pasti mainnya lembut."


"Uhuk!" Ardi sampai terbatuk-batuk mendengar perkataan Rafa.


"Kenapa kaget begitu, Ar! Seperti perjaka saja," ledek Fero.


"Senjata dianggurin untuk apa, Ar? Harus rajin diasah supaya makin kuat."


"Ayolah, Ar! Aku khawatir malah punyamu sudah mati saking lama tidak di pakai."


"Bahaya Ar, tidak ada yang akan mau menikah denganmu kalau belalaimu tidur. Hahaha .... "


"Sialan kalian!" Ardi menambah minumnya. Ucapan teman-temannya yang juga sudah mulai mabuk membuatnya jadi merasa panas dan tertantang.


"Hitung-hitung sebagai hiburan, jangan memikirkan pekerjaan terus. Bosan aku mendengarnya."


"Sudah, sudah! Malam ini aku akan memakai wanita yang sudah kamu pesan," ucap Ardi. Pengaruh alkohol membuat Ardi tak bisa berpikir jernih. Ia menganggap ejekan temannya sebagai tantangan yang pantang ditolaknya.

__ADS_1


Rafa dan Fero tertawa lebar setelah bisa mempengaruhi Ardi. Jarang dia mau mengikuti kemauan mereka.


"Hentikan minummu, Ar. Kamu tidak boleh sampai mabuk saat tidur bersama wanita. Nanti kasihan partner-mu belum puas tapi kamu sudah ketiduran." Fero menciumi wanita yang ada di sampingnya.


"Bedebah kalian! Aku orang yang paling kuat minum dibandingkan kalian berdua." Ardi kembali meneguk minumannya. Sebanyak apapun minuman yang telah ia minum, rasanya masih saja belum cukup untuk untuk mengosongkan isi pikirannya.


"Heh! Teman kita sepertinya sudah cukup bersemangat malam ini. Ingat Ar, main yang lembut. Aku harap kamu belum lupa cara mainnya."


"Hahaha .... " Rafa dan Fero kembali tertawa meledek Ardi.


"Kita buktikan saja nanti. Aku yakin kalian yang akan tertidur dan ditinggalkan wanita kalian."


"Sok berpengalaman dia, Fer." Rafa meremehkan Ardi. "Jam terbang kita lebih tinggi, berani-beraninya dia sombong. Untuk jalan saja paling dia sudah sempoyongan," ejeknya.


"Cih! Aku masih cukup kuat hanya untuk minuman segini." Ardi bangkit dari duduknya. "Katakan, di kamar nomor berapa wanita itu berada?" tantang Ardi.


Fero dan Rafa saling berpandangan.


"Kamar nomor 39, Ar. Yakin mau ke sana?" tanya Rafa memastikan.


"Bukannya kalian sendiri yang memintanya? Aku pergi dulu." Ardi masih bisa berjalan dengan tegak meskipun telah meneguk banyak minuman. Kepalanya sedikit berat, tapi kesadarannya masih ada.


"Kamu yakin dia akan baik-baik saja?" tanya Fero kepada Rafa.


"Aku juga tidak tahu. Sepertinya dia mabuk sampai mau mendengarkan perkataanku."


"Apa kamu tahu siapa wanita yang akan menemani Ardi di sana?"


"Yang jelas bukan seleraku, makanya aku tinggalkan. Tadi sebenarnya aku hanya bercanda. Tidak aku sangka dia akan menyetujuinya. Tenang saja, wanita yang ada di kamar itu tak jauh dari tipe-tipe kesukaan Ardi."


"Hah! Mana ada wanita lugu di tempat ini." Fero merasa ragu dengan ucapan Rafa.


"Kalau dia tidak seperti itu, mana mungkin aku meninggalkannya."


*****

__ADS_1


Sambil menunggu update, bisa mampir dulu ke sini 😘



__ADS_2