
Rei duduk termangu di balkon atas sembari membuka-buka isi galeri ponselnya. Di sana masih ada banyak foto Livy saat masih menjalin hubungan dengannya. Sesekali ia tersenyum saat mengenang hal-hal lucu yang terjadi saat dulu.
Rei belum sepenuhnya bisa melepaskan Livy pergi. Meskipun hubungan mereka telah berakhir, terkadang ia berharap ingin bisa bersama lagi. Livy wanita pertama yang mampu membuat dunianya menjadi menyenangkan. Ada banyak hal-hal seru yang mereka lalukan bersama.
Rei menjadi pribadi yang lebih menyenangkan karena pengaruh kepribadian Livy yang begitu mudah bergaul. Sayangnya, kisah mereka tidak berlabuh indah karena perbedaan keyakinan.
Saat foto-foto itu semakin ia gulir ke depan, giliran foto Gita yang terpampang di sana. Petugas kebersihan yang bodoh dan tidak bisa kerja itu terkadang menjadi hiburannya di kala kebosanan kerja. Membuat wanita itu marah seakan menjadi kesenangan tersendiri yang tidak bisa ia lewatkan.
"Sudah move on?"
Ruby tiba-tiba saja muncul di belakang Rei. Tablet yang ada di tangan Rei sampai terjatuh saking kagetnya. Buru-buru Ruby menyerobot tablet itu dan membawanya berlari untuk melihat lebih jelas foto yang sedang dipandangi oleh saudaranya.
"Ruby, kembalikan!" Rei beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Ruby dengan raut kesal.
"Siapa ini? CEO suka sama cleaning service kantor? Baru tahu kembaranku suka ambil foto orang diam-diam. Hahaha ...." Ruby tertawa puas seakan menemukan hal menarik yang baru ia ketahui dari Rei.
"Aku bilang kembalikan itu!"
Ruby berlari saat Rei hampir mendekatinya. Dia terus menggulir foto memperhatikan detil wajah wanita yang kini mampu menarik perhatian Rei. Meskipun pekerjaannya hanya sebagai petugas kebersihan, tapi wajahnya memang cantik.
"Ruby ...." Rei semakin kesal karena Ruby tidak kunjung mengindahkan kata-katanya. Akhirnya terjadi kejar-kejaran antara mereka berdua.
"Kak Melvin ... tolong ... Rei menganiayaku! Sayang ... tolong aku ...." Ruby berteriak kencang saat Rei berhasil menangkapnya dan berusaha merebut tablet yang dipegangnya.
"Berisik! Kembalikan punyaku!" Rei terus berusaha merebut kembali miliknya.
"Sayang ... tolong aku ...." Ruby tidak menyerah. Ia terus memanggil Melvin agar membantunya.
"Rei, berhenti!" Melvin langsung datang setelah mendengar suara istrinya. Ia langsung menarik Rei menjauh dari Ruby.
__ADS_1
Ruby menjulurkan lidahnya meledek Rei di balik tubuh Melvin. Ia merasa menang masih bisa mempertahankan tablet milik Rei.
"Istrimu mengambil barangku. Aku butuh untuk menyelesaikan pekerjaanku." Rei berusaha menjelaskan duduk permasalahannya. Melvin tidak suka dia dekat dengan Ruby saking besarnya rasa cemburu terhadap istrinya. Melvin belum sepenuhnya bisa menerima jika keduanya adalah anak kembar yang telah lama terpisah.
"Aku cuma pinjam sebentar kok, Kak. Rei menyimpan foto wanita yang sekarang disukainya. Kak Melvin mau lihat?" Ruby menunjukkan foto Gita kepada Melvin.
Rei hanya bisa menepuk dahinya. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan fakta bahwa sekarang ia memang sedang tertarik dengan wanita bernama Gita Ayunda.
"Aku kira foto Livy Hartadi," gumam Melvin saat melihat foto yang Ruby tunjukkan.
"Bukan, ini beda lagi. Sepertinya cleaning service di kantor Rei. Namanya Gita Ayunda." Kedua suami istri itu sibuk berdiskusi tanpa memperdukikan keberadaan Rei di sana.
"Apa dia sama sepertimu dulu, anak orang kaya yang pura-pura jadi orang miskin? Kalau dilihat dari wajahnya, dia tidak kelihatan seperti orang kesusahan." Melvin mulai menebak-nebak.
"Halah! Memangnya Kakak bisa membedakan orang miskin asli dan palsu? Dulu saja tidak bisa mengenaliku." Ruby meledek suaminya yang dulu bahkan pernah mem-bully-nya.
"Justru karena sudah pernah berpengalaman, makannya sekarang bisa membedakannya."
"Mana aku tahu! Memangnya aku harus peduli dengan semua karyawanku?" Rei yang kesal membuang muka, pura-pura tidak peduli dengan pertanyaan Ruby.
"Tidak harus semua, satu juga cukup, apalagi karyawannya cantik. Pantas saja rajin masuk kantor," sindir Ruby.
Rei agak menyesal pulang ke rumah. Ia tidak tahu kalau pasangan suami istri itu akan menginap juga di rumah ayahnya. Sungguh menyebalkan dengan keberadaan mereka di sana.
"Sudahlah, mengaku saja ... aku justru senang kalau kamu mulai menyukai wanita lain. Sebentar lagi Livy kan mau menikah."
Ucapan Ruby membuat suasana hati Rei menjadi buruk. Belum lama ini ia mendengar kabar jika Livy akan menikah dengan lelaki lain yang memiliki keyakinan sama. Mantan pacarnya dijodohkan oleh Oma Maya dengan putra pemilik perusahaan taksi terkemuka di tanah air. Beritanya juga sudah cukup santer terdengar di kalangan pengusaha.
"Sayang, kenapa kamu membahas hal itu?" Melvin mengelus lembut bibir Ruby yang baru saja menanyakan hal sensitif kepada Rei.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kami sudah memutuskan untuk berpisah secara baik-baik. Di antara kami sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi selain pertemanan."
"Kamu yakin, Rei? Undangan dari Livy ada di bawah, loh. Dia mengundang aku dan kamu. Apa nanti kamu mau datang ke acara pernikahan Livy?" Ruby agak sanksi jika Rei telah melupakan Livy.
Rei menyunggingkan senyum. "Aku pasti akan datang untuk memberinya ucapan semangat," ucapnya mantap.
"Aku kira kamu mau menangis, Rei," ledek Melvin.
"Apa kamu sedang membicarakan dirimu sendiri? Dulu kamu menangis karena menikah dengan Renata, kan? Hahaha ...." Rei puas bisa membuat Melvin mati kutu. Ruby ikut menahan tawa mendengar fakta yang baru ia dengar.
"Siapa Gita sebenarnya, Rei?" desak Ruby. Ia kembali fokus pada rasa ingin tahunya terhadap wanita yang ada di galeri ponsel Rei.
"Dia putri dari Almarhum Pradita Kusuma, pengusaha ekspor impor yang terkenal dari Kota A. Dia bekerja sebagai cleaning service karena kemauannya sendiri. Mungkin sedang iseng. Aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya."
"Aku dengar hubungannya dengan ibu tirinya kurang baik," sahut Melvin.
"Kamu tahu juga?" Rei penasaran dengan apa yang Melvin ketahui.
"Sekarang istrinya yang masih muda itu yang melanjutkan bisnis. Dulu aku pernah bertemu sekali dengannya saat di luar negeri. Rumor mengatakan kalau dia hampir dibunuh oleh anak tirinya sendiri."
"Heh, dia mau membunuh ibu tirinya?" Ruby melebarkan matanya.
"Kabarnya seperti itu. Mungkin karena tidak suka. Namanya juga hubungan anak dan ibu tiri," jawab Melvin.
"Dia tidak seperti itu." Rei membantah ucapan yang dilontarkan oleh Melvin.
"Aku hanya menyampaikan yang aku dengar dari orang-orang, Rei." Melvin tak mau disalahkan.
"Wanita itu depresi ya, Rei?" Ruby jadi agak takut saudara kembarnya berhubungan dengan wanita seperti itu. Kalau bisa, ia akan menarik kata-kata pujiannya bahwa wanita itu cantik. Ia takut wanita yang sekarang Rei suka adalah psikopat.
__ADS_1
"Tidak, dia wanita yang normal. Sekarang kembalikan tabletku, aku mau lanjut bekerja!" Rei mengulurkan tangannya meminta Ruby mengembalikan benda miliknya. Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Rei langsung pergi menuju kamarnya.