
21+
"Kenapa wanita sepertimu justru terlihat lebih galak kepada tamu? Bukankah itu aneh? Kamu sudah dibayar." Ardi menatap Elen dengan tatapan tajam.
Elen tak bisa membalas kata-katanya. Ia teringat sebelumnya sudah gagal melayani tamunya dengan baik. Jika kali ini dia diusir lagi dari kamar itu, maka namanya akan di-blacklist dimana-mana. Uang yang ingin ia dapatkan juga hanya angan-angan.
Elen memutuskan untuk melupakan harga dirinya. Bahkan, sekalipun lelaki yang ada di hadapannya merupakan calon suami temannya, ia hanya perlu berpura-pura tidak tahu. Ia mengangkat wajahnya, menatap Ardi dengan tatapan pasrahnya.
"Maafkan aku. Memang tidak seharusnya aku banyak bicara ataupun bertanya sebagai seorang wanita sewaan. Tolong, lupakan keangkuhanku yang tadi." Nada bicara Elen melembut, gaya bahasanya menjadi santai, tidak seformal sebelumnya.
Tangan Elen bergerak memegangi handuk yang melilit di pinggang Ardi. Rasa gugup ia abaikan, Elen hanya mengikuti apa yang seharusnya ia lakukan.
"Tunggu." Ardi menahan tangan Elen. Lelaki itu agak heran dengan perubahan sikap wanita itu kepadanya. "Bukankah tadi kamu bersikeras menolak? Kenapa sekarang tiba-tiba ingin melepaskan handukku?"
Sebenarnya Ardi sejak datang ke dalam kamar sudah merasakan sesuatu yang tidak membuatnya nyaman. Disamping rasa mabuk yang sedikit ia rasakan, miliknya sedari tadi sudah menegang. Ardi rasa teman-teman laknatnya yang telah memberikan sesuatu kepadanya.
Ardi terpaksa masuk ke dalam kamar mandi dengan niat agar bisa menenangkan miliknya. Nyatanya, setelah mandi, miliknya belum juga lemas malah semakin menegang akibat menjumpai wanita cantik berbalut gaun tipis itu. Apalagi ketika ia berdiri berhadapan dengannya, kedua bukit kembar yang menyembul dari balik gaun membuatnya semakin tidak tahan.
Saat mendengar nama Ruby terlontar dari mulutnya, Ardi menjadi kesal. Tidak seharusnya wanita itu menyebut nama Ruby. Membuatnya ingin segera menghukum wanita itu agar menjerit di bawahnya karena telah berani membuat dia marah.
Lalu, sikap wanita itu membali berubah dari yang semula garang bagai singa menjadi seekor kucing yang patuh.
"Sejenak aku melupakan tujuanku masuk ke kamar ini karena kamu adalah putra dari mantan pasienku dan juga calon suami temanku. Sebagai seorang wanita sewaan, aku sedikit merasa bersalah kepada mereka. Tapi, ini adalah pekerjaan. Aku harus profesional melayani siapapun tanpa harus tahu bagaimana latar belakang mereka. Aku benar-benar minta maaf untuk itu."
"Lelaki yang sebelumnya telah menolakku. Aku harap kamu tidak akan menolakku. Sekalipun kamu tidak menyukaiku, tolong ... tetap gunakan jasaku. Aku tidak mau pasaranku di sini menjadi anjlok hanya gara-gara ditolak oleh dua lelaki dalam semalam." Elen menunjukkan ekspresi wajah memelasnya.
Ardi berpikir sejenak tentang ucapan Elen. "Baiklah, kalau begitu, aku juga akan menganggap baru mengenalmu malam ini. Aku hanya akan memberimu kesempatan satu kali untuk kabur. Jika tidak, aku akan mengurungmu semalaman di kamar ini."
Ardi melepaskan tangannya dari pintu. Ia memberi kesempatan agar wanita itu keluar dari kamarnya jika ia tidak menginginkan hubungan mereka malam ini.
Elen berbalik, bukannya membuka pintu dan kabur, ia justri mengunci pintu tersebut. Kemudian, ia kembali menghadap Ardi.
__ADS_1
Ardi menyunggingkan senyum, "Salam kenal, namaku Ardi Syauqy. Kamu bisa memanggilku Ardi."
"Namaku Selena Talitha, kamu boleh memanggilku ... Sayang."
Ucapan Elen sejenak membuat Ardi tertegun lalu tertawa kecil. Wanita di hadapannya ternyata lumayan bisa menggombal. "Baiklah, aku akan memanggilmu 'sayang,' sepanjang malam."
Elen mulai berani menyentuhkan tangannya meneluduri dada bidang lelaki itu. Dengan berani, ia mengalungkan tangannya di leher Ardi sembari melayangkan tatapan menggoda. "Kalau kamu sendiri, lebih suka aku panggil 'Pak', 'Daddy', 'Tuan', atau 'Sayang'?"
Gestur yang Elen berikan semakin menarik dan membuat Ardi semakin terang*sang. "Aku ingin kamu memanggilku 'Kakak'."
Elen tersenyum. "Baiklah, Kak ... mari kita nikmati malam ini berdua tanpa memikirkan hal lain."
Ardi meletakkan tangannya di pinggang Elen seraya merendahkan sedikit badannya agar bisa memagut bibir wanitanya. Ardi mengecup daging lunak yang manis itu dengan gerakan yang lembut. Elen turut mengikuti ritme ciuman yang diterimanya dengan tenang.
Ardi seperti berusaha memperlakukannya dengan lembut tanpa tergesa-gesa. Meskipun keduanya orang asing, namun romantisme lewat ciuman yang mereka lakukan terbangun dengan sangat baik.
"Lakukan yang sebelumnya ingin kamu lakukan " ucap Ardi ketika ciuman mereka dijeda.
"Hah?" Elen seperti orang yang hilang akal setelah mendapat ciuman intens dengan tempo yang lembut.
Dengan wajah yang memerah karena malu, Elen memberanikan diri untuk melepaskan lilitan handuk yang menutupi bagian bawah tubuh Ardi. Saat handuk itu terjatuh ke lantai, Elen semakin malu menyaksikan milik lelaki dewasa dalam kondisi menegang.
"Peganglah!" pinta Ardi.
Elen tampak ragu menggerakkan tangannya. Ardi dengan sukarela membimbing tangan itu untuk menyentuh miliknya. Sentuhan lembut yang Ardi rasakan sesaat membuatnya meremang.
Ardi kembali mendaratkan ciuman di bibir Elen. Kali ini ciuman yang diberikan lebih agresif dan intens. Ia menyapukan lidah menyusuri rongga mulut Elen. Setiap kali lidah mereka saling bersentuhan, terdengar suara leng*kuhan dari wanitanya. Sementara ia juga merasakan kenikmatan setiap kali jemari lembut itu menggosok miliknya.
Tangannya mulai nakal menyusuri permukaan tubuh mulus Elen mulai dari leher turun ke arah pundak sembari menurunkan tali spagetti lingerie yang elen kenakan.
Saking menikmati ciuman yang mereka lakukan, Elen tidak sadar bahwa area bukit kembarnya kini telah terekspose. Kedua tangan lincah Ardi tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berkunjung di sana.
__ADS_1
"Hng ... Ah!"
Elen tak bisa menahan suaranya ketika pertama kali mendapatkan rang*sangan di area pribadinya. Ardi semakin semangat memainkan kedua bukit kembar itu. Semakin ia mainkan, tangan Elen semakin lincah memegang miliknya.
Tangan Ardi terus bergerilya. Ia meloloskan lingerie yang Elen kenakan hingga kini tubuh mereka berdua benar-benar polos.
"Ah!" Elen terlonjak kaget ketika jemari Ardi masuk ke dalam wilayah privasinya di bagian bawah yang sudah sangat basah.
"Aku akan menyenangkanmu, fokuslah dengan tanganmu dan ciuman kita."
Elen mengangguk. Ia membiarkan Ardi melakukan apa yang diinginkan. Keduanya kembali berciuman sembari menyenangkan satu sama lain.
Elen sangat menikmati setiap sentuhan yang diterimanya. Ardi bagaikan lelaki lembut yang bisa menyenangkan wanitanya dengan sangat baik. Elen mendapatkan pengalaman pertamanya bahwa hubungan in*tim begitu menyenangkan dan membuatnya terlena. Sentuhan dia area dada dan bagian bawahnya membuat Elen seperti ingin meledak. Sekujur tubuhnya bagaikan mendapat sengatan-sengatan listrik.
"Ah ... uhh .... "
"Kenapa, Sayang?"
"Kak, aku sudah tidak kuat." Wajah Elen sudah sangat memerah.
Mendengar ucapan Elen, Ardi menyunggingkan senyum. Ia semakin ingin menggoda wanita itu.
"Ah! Hng ... uhh .... "
Elen semakin merancau. Akal sehatnya serasa hilang, hanya kenikmatan yang ia rasakan. Akhirnya, ia mendapatkan pelepasan pertamanya diiringi tubuhnya yang hampir jatuh jika tidak ditahan oleh Ardi.
*****
Sambil menunggu update berikutnya, mampir ya 😉
Judul : Hidden Baby
__ADS_1
Author : Teh Ijo