
Elen duduk di kursi sembari menatap pantulan dirinya dalam cermin. Memandangi riasan wajah serta gaun indah yang membalut tubuhnya. Hari ini ia akan menikah dengan Ardi. Pernikahan berjangka waktu yang akan berakhir saat ia lulus kuliah nanti.
"Ah, kenapa kamu punya pemikiran seperti ini, Elen ... ingat, pernikahanmu hanya sementara." Elen menepuk-nepuk kepalanya.
Meskipun ia sadar tentang makna pernikahannya, ada rasa sedih saat memakai gaun yang pernah Ruby pakai. Elen pernah melihat foto Ardi bersama Ruby mengenakan gaun itu. Sampai saat ini bayangan itu masih terngiang-ngiang di kepalanya.
Tujuannya menikah agar bisa menyelesaikan kuliah. Akan tetapi, semakin ke sini dia menginginkan hubungan yang lebih dari sekedar pernikahan kontrak. Elen telah jatuh cinta sejak pertama bertemu dengan Ardi.
Tak berapa lama kemudian, ibu Elen datang menemuinya dan mengajak Elen untuk keluar karena acara akad nikah akan segera dilaksanakan. Elen menghela napas panjang, mencoba menegarkan hatinya menerima pernikahan itu.
Suasana cukup ramai ketika Elen keluar dari ruangannya. Ia duduk di sebelah ayahnya, sementara di hadapannya ada Ardi bersama Pak Raharja. Ketika tangan ayah Elen dan Ardi saling berjabatan, lalu ikrar ijab qobul ucapkan, serta kata-kata sah dari para saksi menjadi penguat, mulai saat itu Elen sudah resmi menyandang tugas baru sebagai seorang istri.
Air mata haru menetes di pipi sang ayah setelah menikahkan Elen. "Semoga kamu bahagia, Nak." ucap ayah Elen sembari memeluknya. Sebagai seorang ayah, ia memiliki rasa bersalah karena tidak bisa memberikan hal terbaik untuk Elen setrlah usahanya bangkrut. Mendengar putrinya akan menikah dengan seorang pengusaha muda yang sukses, ia merasa bersyukur.
Setelah acara akad nikah selesai, dilanjutkan dengan sesi foto bersama tamu undangan. Elen dan Ardi berdiri di pelaminan menerima ucapan selamat dari pihak keluarga dan kerabat. Tiba giliran datang Ruby memberikan ucapan selamat, ketika wanita itu memeluk Ardi dengan senyum manisnya, serta binar mata yang terpancar dari mata Ardi, wajah Elen berubah murung.
Selamat ya, Kak." Ruby memberikan pelukan kepada Ardi. Ia turut bahagia melihat lelaki sebaik Ardi akhirnya bisa menemukan tambatan hatinya. Di mata Ruby, Elen merupakan wanita yang baik, sama baiknya dengan Ardi. Keduanya sangat cocok bersanding sebagai pasangan suami istri.
Tatapan yang memiliki arti lain dari Ardi kepada Ruby membuat lelaki itu sejenak lupa ada hati yang harus ia jaga. "Terima kasih." Tanpa sadar ia menepuk lembut kepala Ruby.
"Ehm!" Suara deheman Melvin langsung menyadarkan Ardi.
"Vin! Terima kasih sudah mau datang." Ardi berganti memeluk Melvin.
"Elen, selamat, ya ...." Ruby memeluk Elen.
__ADS_1
"Terima kasih." Elen berusaha menampilkan senyumannya. Kalau boleh jujur, sebenarnya ia ingin sekali menangis saat itu juga.
Sejak dulu Ruby sudah menjadi pusat perhatian. Selain kaya, Ruby juga pintar dan cantik. Ia mudah bergaul dengan siapa saja. Ibaratnya, Ruby adalah paket lengkap seorang wanita idaman. Setelah keluarga Elen mengalami kebangkrutan, hanya Ruby yang tidak mengolok-oloknya. Saat kembali bertemu, Ruby juga tetap bersikap baik padanya seperti dulu.
Mungkin akan sulit menghilangkan bayang-bayang wanta sebaik Ruby di mata Ardi. Akan tetapi, Elen bertekad untuk berusaha sebaik mungkin agar bisa dianggap oleh Ardi. Selena ingin membuat Ardi bisa mencintainya dan pernikahannya bisa bertahan selamanya.
"Rei, kenapa datang sendiri?" tanya Ardi seraya memeluk sahabatnya itu.
"Dia mau ditinggal nikah pacarnya!" celetuk Melvin. Reflek tangan Reino bergerak memberikan pukulan ke kepala iparnya yang menyebalkan itu.
"Aku sudah lama putus, Ar. Sekarang memang sedang tidak ada pasangan jadi aku ikut datang bersama suami istri sialan ini. Aku ucapkan selamat atas pernikahanmu, tolong jangan sampai menjadi pasangan menyebalkan seperti mereka." Rei berbicara dengan nada kesal menyindir Melvin dan Ruby.
"Hahaha ... biar begitu 20 tahun dia sudah jadi kakakmu, Rei. Sudah lupa ya, kalau dia yang selalu jadi pahlawan untukmu." Ardi mengingatkan tentang masa kecil mereka. Rei yang pendiam sering diganggu temannya. Saat itu, Melvin akan datang untuk membelanya.
"Bisa tidak kalian membahas ini sast aku sudah pergi?" protes Rei.
"Sudah, sudah ... bahaya kalau Rei sudah marah. Lebih baik kita foto bersama dulu." Ardi mencoba mencairkan situasi untuk mengakhiri perdebatan mereka. Selesai berfoto, ketiga teman Ardi itu pamit pulang dan berganti dengan tamu lain yang juga ingin berfoto bersama pengantin.
"Kamu lelah?" tanya Ardi saat tidak ada tamu yang meminta foto dengannya. Ia bisa memberikan sedikit perhatian kepada wanita cantik di sebelahnya.
Merasa diperhatikan, Elen merasa senang. Ia mengembangkan senyum termanisnya seraya menggelengkan kepala. Meskipun sejak tadi kakinya pegal karena berdiri dengan sepatu hak tinggi, mendengar satu pertanyaan itu rasanya langsung hilang rasa lelahnya.
"Sebentar lagi acaranya selesai, kita bisa langsung istirahat. Terima kasih untuk hari ini. Kamu sangat cantik."
Pujian yang Ardi berikan semakin menambah rasa bahagia di hati Elen.
__ADS_1
"Ardi ...." Giliran Meka datang bersama Davin dan Ferdian.
Ardi kurang begitu suka melihat kehadiran Ferdian di sana. Ia hanya mengundang Meka, tidak disangka Ferdian juga ikut datang.
"Selamat ya, Ar. Semoga pernikahanmu langgeng." Doa terbaik teriring dari Meka. Wanita itu merasa bahagia akhirnya Ardi bisa menambatkan hatinya pada wanita yang tepat. Bagi Meka, Ardi juga orang yang sangat baik. "Jangan marah karena aku mengajak Didi, ya. Sekarang dia suamiku." Meka lebih dulu mengingatkan daripada Ardi mengajak Ferdian bertengkar.
"Hah! Cukup kecewa aku mendengarnya. Kenapa harus dengan dia, Meka ...."
"Semua sudah ada porsinya masing-masing, Ar. Aku juga baik-baik saja dengan pilihanku. Mudah-mudahan kamu juga sama sepertiku." Meka menjawab keraguan Ardi dengan tersenyum. Tak ada yang bisa Ardi lakukan jika itu sudah menjadi keputusan Meka.
Saat tiba giliran Ferdian menyapa, keduanya saling melemparkan tatapan mata tajam. Sejak dulu mereka sudah saling tidak suka, sampai sekarang juga masih sama. "Akhirnya kamu menikah juga dan berhenti bermimpi untuk mendapatkan Meka." Ferdian tak memberikan ucapan selamat. Kata-kata yang diucapkannya lebih cenderung untuk mengejek.
"Kalau saja bukan keputusan Meka untuk menikah denganmu, mungkin aku sudah menghajarmu."
"Kenapa? Kamu masih tidak terima?"
"Bukan masalah tidak terima. Bagaimanapun juga, Meka adalah temanku. Kalau kamu berani menyakitinya, aku akan membantunya sebagai seorang teman." Ardi menegaskan ucapannya.
"Tenang saja. Aku akan membuat keberadaanmu tidak diperlukan oleh Meka."
"Kita lihat saja nanti! Jangan sampai aku dengar kamu menyia-nyiakan Meka jika suatu saat Renata kembali bangun."
"Itu tidak akan terjadi!" Ferdian mengatakannya dengan penuh keyakinan.
Kahadiran Ferdian yang cukup membuat Ardi naik darah akhirnya berlalu. Kedua mempelai kembali menerima tamu lain yang ingin memberikan ucapan selamat. Sampai acara berakhir, Fero dan Rafa tidak kunjung datang.
__ADS_1