
"Yakin, mau melakukannya?" Melvin masih berusaha menahan diri setelah melakukan ciuman panas dengan istrinya.
Dari ruang kerja mereka sudah beralih ke tempat tidur. Kelakuan Ruby tentu saja menggoyahkan pertahanannya. Padahal Melvin sudah bertekad tidak akan menyentuh istrinya karena takut membahayakan kondisi janin di dalam perut Ruby. Ia sengaja menyibukkan diri dengan bekerja agar melupakan hasratnya. Dalam kondisi hamil dan perut buncitpun, Ruby tetap mempesona di matanya. Apalagi kelakuan nakalnya yang membuat Melvin semakin gemas.
"Kata dokter boleh kok, Kak, asalkan hati-hati." Wajah Ruby sudah memerah. Ia juga sudah sangat merindukan sentuhan suaminya. Hamil justru membuatnya semakin ingin memanja berada di pelukan suami sepanjang waktu.
"Kalau kamu berkata seperti itu, aku sudah tidak bisa mundur lagi."
Melvin mulai melepaskan kancing kemejanya satu persatu. Ruby menggigit bibirnya sendiri menyaksikan tubuh suaminya terbuka. Apalagi saat ia melepaskan celananya, sesuatu yang lama dirindukannya ada di sana. Rasanya semakin membuatnya tidak sabar.
Melvin hanya tersenyum melihat istrinya malu-malu memandanginya. "Aku bantu lepaskan pakaianmu, ya ...."
Ruby mengangguk. Dress dengan tali spagetti di pundaknya dilepaskan oleh Melvin lalu ditariknya selembar pakaian itu lewat bawah. Dua bukit indah langsung menyembul di sana. "Sayang, kamu tidak pakai br*a?"
"Sudah tidak ada yang muat. Juga rasanya tidak nyaman." Ruby malu-malu tubuhnya ditatap suaminya sendiri.
"Ternyata bukan hanya perutmu yang tumbuh, Sayang. Yang ini juga kelihatan semakin besar."
Melvin antusias melihat perubahan tubuh istrinya. Ini pertama kalinya ia melihat setelah beberapa bulan berpuasa. Tubuh istrinya sudah sangat berubah, lebih berisi dan menggoda. Ruby semakin malu saat pay*udaranya disentuh. Ada sensasi menyenangkan yang seakan menyengat sekujur tubuhnya.
"Sayang, benar tidak apa-apa kan, kalau kita melakukannya?" tanya Melvin lagi.
Ruby tak menjawab. Ia langsung membuktikan dengan perbuatan. Diraihnya tengkuk sang suami seraya memberikannya ciuman. Melvin tak tinggal diam. Ia membalas ciuman itu dengan mesra.Tangannya bergerak menyusuri lekukan tubuh sang istri yang seakan baru ia kenali. Setiap bagian tubuhnya lebih berisi menjadikannya semakin bersemangat untuk merengkuhnya.
Kondisi hamil tak menyurutkan api gai*rah kedua pasangan suami istri yang dimabuk cinta. Meskipun tak sepanas biasanya, kein*timan yang terjadi menciptakan lengkuhan-lengkuhan manja yang teralun di ruang kamar kedap suara milik mereka.
__ADS_1
Melvin lebih lembut dan berhati-hati memperlakukan istrinya. Memilih posisi bercinta yang membuat istrinya nyaman dan tidak menyakitkan. Kecupan-kecupan ringan serta sentuhan lembut ia berikan untuk menyiapkan tubuh istrinya menerima penyatuan.
Ketika tubuh mereka saling menyatu, jemari keduanya bertautan, ada perasaan bahagia yang muncul di hati. Kerinduan yang terpendam selama beberapa bulan seakan terbayarkan dengan kepuasan yang diperoleh. Bunga-bunga cinta merekah, momen yang mereka lalui masih seindah saat malam pertama sebagai pengantin.
"Sehat-sehat di dalam sampai waktunya keluar ya, Sayang ...." Melvin mengelus perut buncit istrinya seraya mendaratkan kecupan sebagai bentuk rasa sayang kepada kedua calon anaknya. "Terima kasih ya, Sayang." Kini giliran istrinya yang mendapat hadiah kecupan darinya. Dengan tubuh yang masih sama-sama polos dengan selembar selimut yang menutupi, mereka saling berpelukan.
"Sayang, ini siang-siang begini kenapa rasanya seperti malam? Aku jadi malas bangun, ingin memelukmu terus." Melvin mengeratkan pelukannya. "Siapa yang mengajarimu nakal, hm? Berani-beraninya mengganggu orang sedang bekerja." Ia mencubit hidung mungil istrinya.
Ruby hanya senyum-senyum karena misinya sudah berhasil. Ia semakin merapatkan didi pada tubuh nyaman suaminya. Bukan hanya Melvin yang rindu bermesraan, dia juga merasakan hal yang sama semenjak hamil. Apalagi kehamilannya kali ini kembar, mereka harus lebih berhati-hati.
"Punyaku bangun lagi," bisik Melvin.
*****
"Tada ...." Gita dengan bangganya memamerkan tempat tinggal barunya kepada Ririn.
"Tinggal berdua pasti asyik ya, di tempat sebagus ini. Kalian sudah ngapain aja di sini?" tanya Ririn sembari berkeliling mengagumi keindahan setiap sudut apartemen itu.
"Memangnya ngapain?"
"Halah! Pura-pura tidak tahu. Mungkin main kuda-kudaan atau apa berdua sama Pak Rei kalau malam. Nggak mau cerita, nih ...." goda Ririn.
Gita mencebikkan bibir, "Mesum banget mentang-mentang suaminya mau pulang. Aku sama Pak Rei nggak ngapa-ngapain, ya ...." Ia membantah tuduhan Gita.
"Mana ada yang percaya, dua insan berbeda gender tinggal dalam satu atap kalau tidak mantap-mantap." Ririn mengacungkan kedua jempolnya.
__ADS_1
Kesal dengan kelakuan Ririn, Gita mencubit pipi tembem Ririn. "Pak Rei tidak tinggal di sini. Dia selalu pulang ke rumahnya. Paling ke sini hanya mampir."
Gita berjalan ke arah dapur. Ia mengambil minuman dingin dari dalam kulkas untuk disuguhkan kepada Ririn. "Minum nih! Biar pikirannya adem." Ia menyuguhkan minuman kaleng kepada Ririn, sementara ia membuka minumannya sendiri lalu membukanya.
"Aku heran, masa Pak Rei nggak tertarik ya melihat wanita. Meskipun nggak cantik-cantik banget, temanku ini lumayan juga lah."
Gita melemparkan bantal sofa ke wajah Ririn. "Aku kan sudah pernah cerita kalau Pak Rei maunya gituan kalau sudah menikah. Katanya nggak mau free se*x."
"Buruan nikahin! Kamu sudah tidak perlu susah payah bekerja, Pak Rei pasti sanggup menghidupimu. Kamu juga tidak perlu takut lagi kalau ibu tirimu mau mengganggu. Ada Pak Rei yang akan melindungimu."
Gita menghela napas. "Aku masih trauma, Rin. Kayaknya aku nggak bakalan bisa komitmen dengan orang lain lagi deh." Ia kembali mengingat kenangan pahitnya dengan Jimmy.
"Aku yakin Pak Rei orang baik, Git."
"Aku tahu. Jimmy juga orang baik, Pak Rei juga orang baik. Saking baiknya Pak Rei, aku jadi berpikir mungkin saja dia memang suka berbuat baik kepada banyak wanita. Aku sudah tidak sanggup lagi memikirkan untuk diselingkuhi oleh pasangan. Melihat orang yang dicintai sedang bercinta dengan wanita lain tepat di depan mata itu rasanya sangat menyakitkan. Dia seakan sudah membunuh kepercayaanku yang berharga. Aku tidak sanggup terluka untuk kedua kalinya."
"Kamu mau jomlo seumur hidup?" tanya Ririn. Ia kasihan dengan Gita. Temannya yang satu itu seakan punya masalah yang tak kunjung selesai.
"Mungkin begitu lebih baik. Aku tidak perlu pusing memikirkan perasaan orang lain. Aku bisa fokus menyenangkan diriku sendiri."
"Yah, kasihan nanti nggak bisa rasain enaknya gituan, Git ... Padahal kalau kamu sudah mencoba, pasti bakal ketagihan."
"Mau gituan nggak perlu nikah dulu kan bisa. Bebas lagi bisa sama siapa saja, nggak usah pusing mikir cemburu karena hanya hubungan sebatas FWB."
"Heh, dosa Git, dosa ... Astaghfirullah ...." Ririn geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Oh, iya. Astaghfirullah ... ingat ucapan pak ustadz, itu dosa."
Keduanya tertawa terbahak-bahak dengan pembahasan random mereka sendiri.